
Kalin menunggu beberapa jam untuk akhirnya mereka bisa pulang ke rumah sewa. Ya bukannya Raksa menolak kebaikan hati mertuanya tentang dana yang selalu dikirimkan pada Kalin. Tapi, sebagai pria dewasa dia nggak boleh hanya mengandalkan uang dari orangtua. uang yang dikirim ayah Diki itu ya lebih dari cukup buat mereka hidup, tapi Raksa tetap keukeuh buat kerja, meskipun ternyata lebih sulit kerja di negara orang dari pada di negara sendiri.
Raksa pikir, biar uang itu Kalin kelola buat kebutuhan Kalin sendiri. Dia juga nggak pernah mau tau berapa nominalnya dan udah dipakai berapa sama Kalin. Raksa bener-bener nggak kepo dengan saldo rekening istrinya itu.
"Lagi apa?" tanya Kalin saat melihat Raksa duduk di tepi ranjang.
"Ini ngitung duit gajian!"
"Ini buat kebutuhan rumah. Berhubung kamu udah selesai kuliah, jadi mulai sekarang kamu yang bertanggung jawab buat mengelola keuangan di rumah tangga kita..." lanjutnya.
"Mengelola keuangan?"
"Iya. Kan selama ini aku yang belanja, dan mengatur semua pengeluaran kita. Sekarang uang ini aku serahin sama kamu dan silakan kelola dengna baik, istriku..." ucap Raksa.
Kalin menerima uang itu dengan heran, karena untuk pertama kalinya dia memegang uang dalam jumlah yang banyak. Biasanya dia hanya diberi uang jajan saja, ya kayak bocah kuliah pada umumnya. Semua kebutuhan Raksa yang ngurus, jadi Kalin emang hanya fokus belajar, makanya dia bisa melejit meninggalkan temen-temannya yang lain.
"Tapi kalau semua uang ini aku pegang terus Mamang gimana?"
"Aku? aku masih ada kok! itu cuma buat uang makan kita sehari-hari sama kebutuhan rumah tangga yang lainnya. emang nggak banyak, tapi kalau dihitung itu judah cukup kok buat makan sebulan kemudian...."
"Dan sekali lagi kamu panggil aku Mamang, aku cium sampe jontor lhoi!' ancam Raksa.
"Nggak takut! wleee!"
"Beneran ya nggak takuut?!!!" Raksa udah menangkup wajah istrinya.
Drrrrtttt!!!!
Ada telepon masuk, dan itu membuat aksinya kini gagal maning gagal maning son.
"Ada telfon!" ucap Kalin menunjuk pada hape Raksa.
"Rahmi?" Raksa nunjukin hapenya pada Kalin.
"Angkat aja!"
"Halo, Raksa?! ini aku Zaki!"
"Zaki? iya kenapa, Zak?" Raksa mengkode pada kalin kalau yang meneleponnya saat ini adalah Zaki, suaminya Rahmi.
__ADS_1
"Rahmi tiba-tiba pingsan. dan kami sedang berada di rumah sakit!" ucap Zaki.
Mendengar hal itu Raksa mengajak Kalin buat ke rumah sakit sekarang juga, padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Rahmi memang kenapa?" tanya Kalin saat melihat suaminya berganti pakaian.
"Pingsan katanya. Terus sekarang mereka lagi di rumah sakit. Sebaiknya kita kesana, aku yakin Zaki pasti lagi panik banget!" jelas Raksa.
Kalin sih manut aja, cuma dia ngerasa kasian aja sama Raksa yang udah capek kerja dan belum istirahat. Dan Klain baru menyadari bahwa suaminya emang seperhatian itu, dibalik sifatnya yang menyebalkan ternyata tersembunyi hati yang lembut dan penuh kasih sayang. Nggak jarang Kalin ngeliat chat-chatn Raksa dengan adeknya juga si Nova. Kebanyakan sih tentang duit. Ya, Raksa sering mengirimkan adiknya uang, katanya buat jajan. Memang dulu sebelum berangkat kesini juga hal memebri uang jajan nggak asing lagi di telinga Kalin, tapi posisi mereka kan jauh dari orangtua, tapi Raksa masih sempet inget buat ngasih jatah adiknya ya nggak seberapa tapi dia pasti kasih.
"Udah?" tanya Raksa saat Kalin mengalungkan syall di lehernya.
"Udah kok!"
Malam itu mereka mendatangi sebuah rumah sakit, tepatnya di instalasi gawat darurat, sesuai petunjuk Zaki.
"Gimana keadaan Rahmi?" tanya Raksa dengan menggandeng kalin.
"Kandungannya lemah! dia harus dirawat disini untuk beberapa hari ke depan sampai kondisinya benar-benar memungkinkan unytuk diajak terbang ke Indonesia!" kata Zaki.
Rahmi tertidur di atas brankar.
"Iya iya! kami akan jagain dia disini, kata Raksa.
"Thanks Raksa, Kalin..." ucap Zaki yang kemudian meninggalkan sepasang suami istri tersebut.
Meskipun zaki berusaha bersikap tenang, tapi Kalin bisa melihat kalau Zaki sangat mengkhawatirkan keadaan Rahmi. Kalin pikir wanita itu sangat beruntung mendapatkan suami yang sangat perhatian seperti Zaki, terlepas dari perbuatan jahat yang pernah dilakukannya.
"Ini bukan karena makan tahu gejrot kan?" bisik Kalin.
"Nggak lah! masa iya gara-gara makan itu? kita kan bikinnya pakai bahan-bahan yang bagus, semua bumbu bawang dan cabenya pun bisa ditakar sendiri, kalau nggak pengen pedes ya kasih bumbunya bawang cabenya dikit aja," kata Raksa.
"Iya juga, sih..."
"Bukan karena makanan kita, kamu nggak usah merasa bersalah.." kata Raksa.
Setelah beberapa saat Zaki kembali dan menemui kedua pasangan suami istri yang berbaik hati mau direpotin.
"Maaf ya. Aku ngerepotin kalian," kata Zaki. karena kau nggak tau lagi mau menghubungi siapa. Aku nggak mungkin ninggalin Rahmi sendirian disini," kata Zaki.
__ADS_1
"It's oke, Zak! Nggak usah ngerasa nggak enak. Terus gimana? udah dapet kamarnya?" tanya Raksa.
"Udah. Bentar lagi Rahmi akan dipindahin. Daritadi dia belum bangun, Sa?" tanya Zaki yang mengusap kening istrinya yang pucar.
"Belum, daritadi dia masih merem kayak gitu,"
"Sayang?" Zaki menggenggam tangan Rahmi dan sesekali dia mengecupnya.
Perlahan mata itu terbuka.
"Mas?" suara berat Rahmi terdengar begitu lirih.
"Gimana? apa yang kamu rasain? masih pusing?"
Rahmi hanya menggeleng. Dan beberapa saat kemudian para perawat menyuruh Zaki dan yang lainnya keluar karena mereka akan memindahkan Rahmi ke bangsal.
Kalin memeluk lengan suaminya sambil mengikuti ranjang yang ditiduri Rahmi di dorong menuju lorong rumah sakit dan berakhir di sebuah kamar. Raksa dan Kalin sengaja menunggu di luar karena Rahmi akan dipindahkan ke tempat tidur yang ada di ruangan itu sekaligus diganti bajunya dengan baju pasien.
Setelah paara perawat itu pergi, baru lah Raks adan kalin masuk ke dalam ruangan itu. Mereka menemui Rahmi yang lagi dielus keningnya oleh Zaki.
"Gimana keadaan kamu, Mi? udah lebih baik?" tanya Raksa.
"Udah. Kalian disini?" tanya Rahmi yang ternyata baru ngeh dengan kehadiran mantan pacarnya itu.
"Iya, kami ditelfon Zaki. Dia bilang kamu masuk rumah sakit. Bukannya tadi siang kita ketemu kamu baik-baik aja?" tanya Raksa.
"Iya. Emang nggak apa-apa. Tapi aku---" Rahmi melihat ke arah Zaki, dia menghentikan ucapannya.
"Hem!" Zaki berdehem tanda bahwa sebaiknya Rahmi menjawab menggunakan alasan yang lain, selain mengatakan kalau mereka melakukan hal lain beberapa jam yang lalu.
"Ya ya ya aku paham!" Raksa menggelengkan kepalanya pada Zaki.
"Ternyata itu akibat gempuran kamu, Zak?!!" tuduh Raksa dan Zaki pun hanya bisa menaruh telunjuk nya di bibirnya sendiri.
Sedangkan Kalin malah bertanya pada Raksa, "Rahmi kena KDRT?" tanya Kalin.
"Mereka lagi punya bayi di perut Rahmi, tapi mau ngadon bayi lagi!" ucap Raksa,
Dan kedua pasangan itu pun nggak bisa nggak bisa menyembunyikan raut wajah malu mereka, sedangkan Kalin ngebatin dalam hati.
__ADS_1
'Ini mah nyari penyakit sendiri namanya! ck ck ck!' Kalin dalam hati sambil melihat Rahmi dan juga Zaki.