Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Maksa Nova Buat Balik


__ADS_3

Nova galau, abangnya nggak bales WA dia yang terakhir tadi.


"Ya ampun, masa abang nggak bales lagi? padahal dia jelas-jelas lagi online!" Nova menggerutu.


"Nih," Kalin ngasih minuman mineral dingin buat Nova. Dia habis dari kantin.


"Kok cuma aer?" tanya Nova.


"Kantin penuh, Nov! yang jualan aja sampai nggak keliatan, kalau gue maksa ikutan masuk, yang ada gue kecempet sana sini!" ucap Kalin.


"Gimana? perut lo udah mendingan? atau mau gue anterin ke UKS?" Kalin ngeliatin wajah Nova yang makin pucet.


"Nova gelengin kepala, "Nggak usah, Lin! udah dikasih minyak kayu putih aja udah mendingan..."


"Makanya jangan kebanyakan makan bakso,"


"Lo kayak ibuk gue aja sih? ngomelnya tentang bakso, orang gue lagi datang bulan. Nggak ada hubungannya sama bakso!" Nova sambil meringis menahan sakit.


"Lagi sakit masih aja ngeyel!" Kalin sengaja bikin Nova tambah jengkel.


"Bukan karena itu, Kaliiiiin..." Nova pegangin perut da krpala dia glerakin di atas meja.


Kalin yang tadinya menggalau, dudum termenung. Harus rela jalan karena si Nova yang ngeluh perutnya nyeri.


Pas Nova mau buka air minum dan mau dikokop tuh botol bening tiba-tiba kalin inget!


"Jangan, Nov!!" Kalin ngerebut air dari tangan Kalin.


"Ya ampun kenapa lagi?" Nova makin pucet dan Kalin nggak tega ngeliatnya.


"Kalau lagi datang bulan mending minym yang abget jangan dingin kayak gini. Udah, lo gue anter pulang aja, Nov! muka lo kayak orang tipes!" Kalin ngeberesin buku Nova yang masih ada di meja.


"Tanggung, Lin..."


"Tanggung apaan si? baru juga jam 12, udah mending pulang aja daripada lo disini tapi nggak konsen, pelajaran!" Kalin berdecak ngeliat Nova yang masih lengket dengan kursi duduknya.


Kepala yang tadinya digletakin di meja, sekarang diangkat, Nova duduk bersandar.


"Kenapa, Nov? lo sakit?" tanya temen cewek yang lain, yang baru keluar juga dari kantin.


"Gue mau anterin Nova dulu, kasian dia..." Kalin ikutan beresin tasnya juga.


"Ayo, Nov!" Kalin maksa temennya itu buat bangun dan pakai tasnya.


Sedangkan tanpa sadar, percakapan Kalin itu nggak sengaja terekam voice note di hape Nova yang kini baru di masukin ke kantong.


Raksa yang lagi sibuk dan mengabaikan ajakan Farid buat makan di kantin pun agak terganggu dengan bunyi 'clung' yang berarti ada pesan masuk ke hapenya.

__ADS_1


Dia lihat, ternyata yang kirim WA si Nova.


"Nggak nyerah juga nih bocah!" Raksa nfeluat layar hapenya denfan kening yang mengerut.


"Voice note? ngapain dia pakai ngirim suara kresek-kresek begini?" Raksa deketin hapenya ke telinganya.


"Sakit?"


Raksa bisa dengerin kalau Kalin nyuruh Nova buat balik. Karena banyak bunyi kresak-kresek, akhirnya Raksa pun menghentikan VN yang dia dengetin dan masukin hapenya lagi ke kantong.


Punggung lebarnya kini bersandar pada kursi, "Nova Novaaa, udah tau lagi sakit perut. Ngapain juga dia berangkat sekolah? kayaknya semenjak berteman sama bocah yang namanya Kalin itu dia jadi sering ngrepotin orang!" gumam Raksa yang kini megangin kepalanya.


Sedangkan di sebuah kantin kantor.


"Lo sendirian? Raksanya mana?" Tania nanya.


"Masih di atas, kayaknya masih banyak kerjaan!" Farid mulai makan.


"Tapi dia jadi ikut nonton sama kita, kan?" Tania mastiin.


"Tadi sih udah gue tawarin, tapi kayaknya dia lagi ada rencana lain deh. Soalnya bukan Raksa kalau nolak ajakan gue dengan alasan kerjaan. Karena setau gue dia orang yang paling nyantuy sedunia, nggak ambisius ngedapetin jabatan yang lebih dari kang ketik dan kang suruhnya pak Tomi,"


"Kenapa gitu?"


"Ya yang bisa ngimbangin pak Tomi cuma dia, tau sendiri tuh manusia botak kalau nyuruh kan seenak jidat. Mana ada nyuruh orang ke kantor hari sibuk, cuma buat bantuin dia nyusun presentasi buat rapat hari senennya?! ya noh, tumbalnya ya si Raksa. Soalnya yang lain disuruh pada alesan keluar kota lah, sakit lah..."


"Gue kan ngapelin lo, Tan! jadi gue angkat telepon pak Tomi dan pura-pura sambungan keputus," sahut Farid.


Sedangkan Rahmi mengabaikan dua orang yang daritadi nyerocos terus, sampai Farid cerita kalai Raksa habis SP yang kedua. Baru lah Rahmi ngeliat ke arah Farid.


"SP dua? kok bisa?"


Farid dan Tania pun saling pandang saat pertanyaan kepo meluncur dari Rahmi yang daritadi diem-diem bae.


Sedangkan di parkiran sekolah.


"Lo bisa bawa motor kan?" tanya Nova pada Kalin.


Kalin menggeleng.


"Terus?" Nova tambah pusing.


"Ya gue---"


"Oke gue bonceng lo!" serobot Nova.


Dan dari hasil pemaksaan Nova, Kalin sekarang ada di depan dengan tangan memegang stir.

__ADS_1


"Ini gimana, Nov?" Kalin nengok ke belakang, liat Nova yang pucet banget.


"Lo bisa naik sepeda, kan?" Nova dengan lirih.


Kalin ngangguk.


"Nah, naik motor juga sama kaya naik sepeda. Tinggal tarik gasnya. Terus ini buat rem, ini klakson. Pelan-pelan aja," Nova ngasih tau.


"Tapi Nov..."


"Kepala gue, perut gue lagi konslet semua, Lin..."


Kalin pun mencoba maju narik gas tapi...


Anjlukk!


"Duh!" pekik Nova.


Kalin ngerem mendadak, membuat Nova terhentak ke depan, "Ya ampun, jangan mendadak!"


Kalin nengok ke arah Nova lagi, "Nggak ah, Nov! gue nggak berani! gue nggak bisa, kita naik taksi online aja. Gue bayarin dah nggak apa-apa,"


"Terus motor gue gimana?"


"Titipin pak satpam aja," Kalin yang lepas helm dan minta Nova turun dari motor dengan kode badannya.


"Ya ampuun," Nova nyut-nyutan seketika.


"Nov, gimana balikinnya?" Kalin nunjuk motor Nova yabg udah keluarr dari tempat dimana motor berjejer rapi.


Dengan langkah gontai dan lemas, Nova menvoba buat markir ulang motornya.


"Sorry ya, Nov..." ucap Kalin dengan wajah menyesal.


"Hmmmm---" Nova cuma berdehem.


Nova turun lagi dengan badan yang tambah lemes. Akhir-akhir ini rmang tuh bocah seribg sakit. Bukan cuma faktor jajanan yang nggak terkontrol, tapi juga karena tenaga dan pikiran yang tetlalu diforsir buat menghadapi ujian sebentar lagi.


Sesuai janjinya, Kalin yang pesen taksi online. Mereka harus jalan dulu sampai gerbang sekolah, dan itu lumayan bikin capek. Apalagi Nova yang udah kayak batre yang lowbat, tambah pucet dan keringet dingin yang menjalar dari kaki dan kemudian ke seluruh tubuh.


"Dengan mbak Kalin?" tanya si driver saat ada saru orang cewek yang nunggu di depan gerbang sekolahnya.


"Iya, saya!" Kalin pun membuka pintu mobil dan bantuin Nova buat duduk, sebelum dirinya masuk dan ikuran duduk disamping temannya yang makin lama makin lemes.


"Sesuai aplikasi ya, Mbak?"


"Iya! cepetan jalan, Mas! temen saya udah lemes banget!" suruh Kalin.

__ADS_1


Dan mobil itu pun melaju, meninggalkan sekolah dengan gerbang yang menjulang tinggi.


__ADS_2