Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Jurus Milik Raksa


__ADS_3

Jurus menghentikan repetan orangtua itu ya bilang 'iya iya' terus mencoba mengalihkan pembicaraan supaya nggak dibahas terus masalah kerjaan. Siang itu Kalin dibawakan makanan yang katanya mencjadi racikan Oma sendiri.


'Untung gue udah belajar dari Mamang yang kalau ibuk udah merepet pasti dia yang ngedengerin ibuk dan nggak ngelawan, Ternyata jurusnya sekarang kepake banget sama gue!' batin kalin saat oma udah happy lagi.


Dia malah berbagi pengalamannya saat hamil anak kembar.


"Bisa jadi kamu menuruni gen Oma. Punya anak kembar..." ucap Oma.


"Masa sih, Oma? berarti perut kalin bakalan dua kali lipat gedenya dong, Oma?" tanya Kalin yang duduk di sofa bersama Oma Nilam. Dia memperkirakan sebesar apa perut ibu hamil yang anaknya kembar, ya kira-kira seperti satu balon besar yang Kalin aja engep bayanginnya.


"Ya nggak juga, Kalin.Besar sih besar tapi bukan sebesar tangan kamu itu juga..." kata Oma.


"Saladnya enak banget loh, Oma!" Kalin menghabiskan makanan pencuci mulutnya.


"Syukurlah kalau kamu suka!" Oma sembari memperhatikan badan Kalin yang agak kurusan.


"Kamu lagi diet?"


"Nggak Oma! mana mungkin Klain diet? mas Raksa bakalan marah lah, Oma!" ucap kalin polos.


"Kok badan kamu makin kecil? apa kamu kecapean? makanya jangan kerja. Kamu fokus aja dulu sama anak,"


Kalin sampai pengeng itu kuping bahas anak mulu ini si Oma daritadi, udah dibelok-belokin juga pembicaraannya lagi lagi masuk juga kesitu.


"Iya Oma...." ucap Kalin.


"Kenapa Raksa nggak kerja disini aja? nanti Oma yang bilang biar dia nggak usah kerja sama orang!" kata Oma Nilam


'Nah kan apa gue bilang? sebenernya Oma nih sepemikiran sama ayah tapi nggak nyadar ajah! astagaaaa, ribut-ribut ujung-ujungnya Oma juga begitu mikirnyaaaaaaa...' ucap Kalin dalam hatinya.


"Kamu sudah makannya? Oma pulang dulu ya?" ucap Oma


"Kalin bantu ya Oma..."


Kalin membantu Oma buat naik ke kursi rodanya dan mengantarkan dia ke ruangan kerja ayah.


Oma menengok, "Menjadi wanita independent itu suatu kebanggaan, tapi jangan jadikan itu penghambat buat kamu memiliki keturunan! nanti Oma kasih tau bagaimana kamu memanage itu semua!" kata Oma Nila sebelum Kalion membuka pintu.


"Iya Oma..." kalin lirih.


Ceklek!

__ADS_1


Kalin membuka pintu dan ternyata disitu hanya ada bunda, dan tante Atha.


"Loh pada kemana? kok udah bubar aja, Bun?"


"Kakek sama nenek pulang, dianterin sama ayah...." kata bunda Lia.


"Mah..." Bunda Lia berusaha mengambil hati Oma Nilam lagi.


"Mama pulang dulu Lia," Oma Nilam dingin.


"Hati-hati ya, mah..."


"Kakak pulang dulu ya, Ya?" tante Atha bangkit dari duduknya dan mendekat pada Oma Nilam. Bisa dibayangkan gimana puyengnya pak Galang yang harus bersabar ngadepin repetan dari Oma Nilam.


"Oma pulang ya, Kalin...." ucap Oma.


"Hati-hati, Omaa...."


Satu masalah belum kelar, muncul masalah lain yang membuatnya mempunyai beban tersendiri. Kalin duduk sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan. Menjadi wanita memang sulit karena harus dihadapkan pada dua hal yang harus dipilih, karir atau keluarga. Jarang wanita yang bisa memiliki keduanya.


Kalin masih muda, pengen ngerasain gimana sih ritme orang kantoran. Tapi disisi lain, dia yang belum punya anak dituntut untuk memiliki momongan dan itu membuatnya dilema.


Michael datang, dia membimbing apa yang harus dilakukan kalin sebagai direktur utama. Kalin yang dasarnya memnag sudah cerdas, cepat menangkap apa yang dijelaskan Michael yang merupakan kaki tangan ayahnya. Michael bilang kalau perusahaan lagi bagus-bagusnya, tapi meskipun begitu kita tetap perlu waspada kalau saja ada tangan-tangan licik orang yang bisa menghancurkan perusahaan ini. Maka itu, ketelitian menjadi sebuah keharusan dalam pengambilan keputusan apapun.


"Michael? sudah selesai kan? karena aku sudah ada janji..." kata Klain.


"Anda mau kemana Nona?"


"Mau pacaran dulu sama suami!" dia menunjukkan sebuah kertas yang dia dapat dari sebuah paketan makanan.


"Oh begitu?" Michael manggut-manggut, dia menganggap ucapan Kalin sebagai candaan saja. Padahal si kalin emang keceplosan.


"Aku duluan ya," Kalin menyambar tasnya kemudian melesat pergi.


Dengan langkah yang riang gembira dia masuk ke dalam lift, berbarengan dengan seorang Ob yang memakai seragam berwarna biru dan juga topi yang senada dengan celana dongkernya.


'Nggak biasanya OB pakai lift ini?' batin Kalin.


Tapi masa bodo amatlah, mungkin tuh OB baru jadi nggak tau kalau dia harusnya pakai lift satunya. Berhubung Kalin bukan orang yang rese jadi dia pikir kalau dia nggak perlu menegur si OB  yang berdiri di belakangnya.


Beberapa orang menyapanya dan Kalin harus selalu memamerkan senyumnya, sampai bibirnya rasanya pegal karena harus tersenyum ramah.

__ADS_1


"Gue jalan kaki aja kali ya? kan tamannya juga deket! masa iya naik taksi? kayaknya terlalu lebay!" Kalin bergumam.


Tanpa ragu, kalin berjalan keluar dari kawasan perusahaan, Satpam pun bertanya-tanya kemana anak dari CEO nya itu pergi. Karena setau mereka, Klain akan dijemput seorang laki-laki yang menggunakan sepeda motor, mereka kira itu pacar direktur mereka, karena sampai saat ini pernikahan Kalin belum ada yang tau.


Raksa pun yang udah capek seharian kerja, segera membereskan mejanya.


"Gue duluan," seru nya seakan diperuntukkan semua orang yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Okee!!!" ucap beberapa rekan kerja Raksa yang masih berkutat dengan komputernya.


Ketika keluar dari satu perusahaan, kadang nggak mudah juga mendapatkan posisi yang terkakhir dicapai. Seperti Raksa, dia merangkak lagi sebagai staff biasa, karena dia mengejar supaya bisa berpenghasilan dulu. Uang masih ada, tapi kan banyak target yang harus dicapai, seperti rumah dan mobil yang menjadi skala prioritas Raksa saat ini.


Pria itu segera menuju perusahaan yang persis berada di samping gedung kantornya, nggak ada 5 menit Raksa sudah sampai di tempat Klain bekerja.


Sedangkan Kalin yang sudah dberada di taman celingukan mencari suaminya.


"Dimana sih Mamang gue? apa gue telfon aja ya?" gumam Kalin.


Namun....


Ada satu tepukan di pundak Kalin.


Wajahnya berbinar saat merasakan ada sentuhan di bahunya, sontak kalin membalikkan badannya tapi alangkah terkejutnya Kalin saat yang dilihatnya bukan sosok suaminya, melainkan seseorang yang masih menggunakan seragam OB.


"Halo, Kalin? lama nggak berjumpa..." ucapnya dengan tenang, dia mengangkat sedikit topinya, supaya Kalin bisa melihat wajahnya dengan jelas.


"A-Arvin?" pekik Kalin terbata.


"Gue bukan si Culun Arvin! gue Jonas! Apa kabar Sayang?" ucap pria yang masih menjadi buron.


"Nggak mungkin! k-kenapa lo masih bisa---" Kalin mengeglengkan kepalanya, satu langkah kakinya mundur perlahan.


"Gue kangen sama lo, Kalin. Kangen banget!" Jonas memandang Kalin dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Kamu cantik seperti biasanya,"


"Lebih baik kamu pergi, Jonas! atau aku akan telepon polisi!"


"Polisi? memang gue salah apa? apa mengagumi seseorang merupakan tindak kejahatan?" gumam jonas, dia memegang dagunya.


Dia menikmati wajah pucat Kalin.

__ADS_1


"Semakin pucat, kamu terlihat semakin cantik Kalin..." ucapnya dengan senyuman misterius.


__ADS_2