Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Kerupuk Letoy


__ADS_3

Sebenarnya Raksa dan Kalin disuruh untuk berdiam di villa, itung-itung liburan tapi raksa ngerasa kalau dia perlu menemui Tania. Kenapa tania bertindak sejauh itu.


"Kenapa?" tanya Kalin saat menyadari kalau daritadi Raksa ngelamun aja kerjaannya.


Mereka lagi duduk bersantai ngeliat kolam renang yang view nya pemandangan hutan.


"Nova kemana?" tanya Raksa, biasanya kan Nova selalu menempel pada Kalin.


"Lagi nemenin ibuk ngobrol di kamar, kayaknya disuruh mijitin kaki tadi..."


"Oh,"


"Kayaknya bang Farid sama Nova lagi ada masalah ya?" tanya Kalin.


"Nggak tau! iya kayaknya, Farid kan nyebelin jadi wajar orang yang ketemu dia jadi pada bad mood,"


"Maksudku bukan itu, tapi kayaknya mereka lagi ada something!" tanya Kalin.


"Ya,"


"Ya apa?" tanya Klain penasaran.


"Tanyain langsung aja sama Nova, kan kalian sahabatan,"


"Lagi susah ditanyain!"


"Ya udah nunggu. Ntar juga dia cerita sendiri," kata Raksa.


"Kamu kenapa, sih?"


"Aku? kenapa? aku cuma lagi kepikiran orang yang menyamar jadi Arvin. Dia masih jadi buron. Kayaknya kita harus ke kantor polisi besok," kata Raksa.


"Kamu udah nggak apa-apa kan kalau kita kesana?" lanjutnya nanya.


"Aku mah nggak apa-apa. Yang apa-apa kan kamu, Mang!"


"Mamang lagi? please deh, Kalin!"


Kalin cuma ketawa ngeliat suaminya kesel karena dipanggil Mamang. Dia manggil mas hanya dalam keadaan terdesak aja.


"Besok kita kesana ya? aku dalam keadaan kayak gini juga nggak bisa liburan, otakku tetep aja tegang, Kalin. Aku nggak akan tenang sebelum orang yang menyamar menjadi Arvin itu tertangkap. Dan kamu, lebih aman bersama orangtua,"


"Aku lebih aman sama kamu," ucap Kalin.


"Setelah dari kantor polisi, kamu ke rumah bunda. Di kompleks perumahan kamu kan katanya sekarang udah lebih ketat penjagaannya, jadi setelah dari kantor polisi kamu sementara nginep di rumah bunda, ya?" ucap Raksa.


"Terus kamu?"


"Kenapa sama aku? kenapa? sekarang kamu nggak bisa tidur tanpa meluk aku?" ucap Raksa nggak tau diri.


Sementara Kalin mleyotin bibirnya, "Pede banget!"


"Pede lah, kan aku suami kamu!"


Nggak lama Nova datang dengan satu makanan yang bikin Raksa ngerutin keningnya.

__ADS_1


"Nih makan dulu, lanjut ngobrol!" ucap Nova.


"Lah jajanan apa nih?" tanya Kalin.


"Bukannya kamu lagi mijitin ibu? kapan kamu perginya,"


"Bukan gue yang beli. Temen abang Raksa yang beli. Lo jangan makan sebelum bang Raksa makan, takut ada apa-apa!" ucap Nova kesel.


"Lah kenapa jadi gue yang jadi bahan percobaan?"


"Nggak ada apa-apa Nov, ya Allah! Suudzonan banget sih?" Farid muncul dari arah dalam dengan membawa tentengan, kayaknya dia habis belanja.


"Ntar gue makan deh! kagak ada apa-apaan deh, sumpeh!" lanjutnya.


"Dicoba nih aku coba!" Farid ngambil satu kerupuk letoy yang dibumbu seblak. Rasa yang pedes dan seger bikin mata farid pun melek.


"Enak gini kok!"


"Ini makanan apaan, Rid?" tanya Raksa.


"Kerupuk letoy!"


"Kok mirip lo, Rid?" ledek Raksa.


Sedangkan Farid yang diledek masih mencoba untuk tetap sabar, karena ada Nova yang lagi menjadi target utama. Kalin sendiri ngeliat makanan itu pun jadi kepengen.


"Takut ada apa-apanya, Lin!" cegah Nova.


"Ada apa nya emang? masa iya bang Farid mau nyelakain gue, Nov?"


"Gue nggak gitu, Nov!" ucap Farid, ngadepin bocah cilik ternyata lebih sulit. Pantesan aja Raksa sering ngeluh kepalanya sakit. Ternyata begini toh rasanya kalau bocil lagi ngambek, Farid baru bisa ngerasain.


Raksa yang ngeliat Farid udah bela-belain beli jajanan segitu banyaknya akhirnya pun agak kasian, dia mulai icip makanan yang dibumbui seblak yang pasti Nova suka. kan dia demen jajanan beginian.


"Enak, Nov! gue aman, nggak kejet-kejet. Gue nggak kenapa-napa!" ucap Raksa.


"Lo beli dimana , Rid?"


"Jauh! lo nggak akan nemu!" ucap Farid kesel, dia ambil kursi dan ikutan duduk dan ngeluarin beberapa jus adan makanan lain yang dia beli.


"Wah macam-macam seblak! Nov?!!" mata Kalin berbinar melihat makanan yang sangat dia gemari bersama Nova.


Nova yang nggak tahan dengan baunya akhirnya pun mengambil satu dan mulai makan. Dan beneran enak banget. Sampai dia lupa kalau dia lagi marahan sama Farid.


"Emang seblak nggak pernah salah. tau gini, gue beli tuh seblak dari semalem!" gumam Farid yang melihat mood Nova jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Bau apa nih?" tanya ibuk dari arah dalam.


"Mampus gue!" Nova mengedip, dia terdiam sesaat.


"Mampus? mampus kenapa?" gumam Farid.


"Novaaaa? bagus yaaaa? jajannya micin lagi micin lagiiiiii?!!!!!" suara teriakan ibu yang membuat semua orang berhenti makan, termasuk Raksa dan juga Kalin.


'Ya ampuuuuuun, salah lagi gueeeeeeee!!!' batin Farid.

__ADS_1


"Makan pedes terus! nanti skait perut kamu, Nova!" ucap bu Selvy.


"Kebanyakan makan micin itu nggak baik!"


"Siapa yang beli?" lanjut bu Selvy nanya.


Dan semua orang menunjuk Farid. Farid pun meringis canggung.


"Ini seblak bukan sembarang seblak, Tante. Ini seblak yang punya artis, nggak pakai micin. Sehat bergizi, nih orangnya!" ucap Farid nunjukin si owner seblak yang dia maksud.


"Wah ini sih seblak Rafaellllll! kudu dicobi ini tatanggaaaaa!!!" bu Selvy dengan raut wajah yang berbeda.


Dia girang bukan main, "Ibu mau ibu mau! ibu stau ya?" ucapnya yang kemudian mengambil dan juga bersiap dengan hapenya.


Sedangkan Nova dan Raksa pun terkejut dengan perubahan mood ibu mereka yang langsung tau seblak yang lagi viral.


"Kmau kok bisa beli seblak ini?"


"Iya tante. Belinya jauh, rame, dan Farid bela-belain ngantri demi beli seblak ini buat Nova..." ucap Farid mendramatisir keadaan.


"Ini baru calon mantu!" ucap ibu yang kemudian mencoba dengan ekspresi mata kedip-kedip. Dia menepuk bahu bidang Farid.


"Enak banget! maksih ya mantu!" ucap ibu kemudian.


"Nuhun tatanggaaa, ihhhhh kumaha ieu dimamamnyaaa!" ibu kemudian aambil membawa makanan itu masuk untuk dibikin story.


Sedangkan Farid pun senang bukan main ketika disebut mantu sama bu Selvy. Dia naikin satu alisnya ngerasa kalau dia keren banget.


"Bisa banget nyuri simpati emak gueee!" gumam Raksa.


Farid tersenyum bahagia, "Kayaknya reatu lo nggak penting, Sa!"


Sedangkan Nova masa bodo amat dengam kedua laki-laki dewasa yang kelakuannya nggak jauh beda sama Nova dan juga Kalin.


"Enak Nov! seger banget!" ucap Kalin yang diangguki sama Nova.


Tangan Farid dan Raksa pun ditamplek saat akan mencoba salah satu makanan yang udah di tata sedemikian rupa.


"Ikut nyobain dong, Sayang!!!" ucap Raksa dengan ekspresi menahan pengen, pengen nyaplok seblak maksudnya.


Nova yang kaget dngan Kalin yang dipanggil sayang pun terbatuk, "Uhukkkk!!!"


Tangannya segera meraih jus yang juga dibeli Farid.


"Makanya kalau makan itu bagi-bagi, jangan diembat sendiri!" ucap Raksa yang ngeluat adeknya dengan tatapan ngeledek.


"Minum minum yang banyak, Dek! jangan dengarkan bisikan setan!" ucap Farid pada Nova.


"Setan pala lo setannnn!!!" Raksa dongkol.


Dan mulutnya yang mau ngajak perang Farid pun segera disumpel dengan kerupuk letoy, "Jangan berisik!" ucap Kalin.


Dan akhirnya Raksa pun bisa merasakan seblak yang sangat enak dan lain daripada yang lain.


"Fix kita nyari seblak ini lagi, Rid!" ucap Raksa.

__ADS_1


__ADS_2