Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Ramuan lagi


__ADS_3

Malam itu nggak terjadi sesuatu yang berarti. Mungkin karena kecapean juga dan masih jetlag membuat Raksa pengen bener-bener istirahat. Mereka sepakat buat ngebicarain rencana ke depannya nanti aja lah. Toh mereka baru datang dan masih ada waktu buat membicarakan semuanya.


Pagi harinya, ternyata bu Selvy dan juga pak Hendra sudah datang ke rumah Oma. Entah dari jam berapa, yang jelas jam 8 pagi, Bu Selvy udah ngobrol-ngobrol bareng Oma Nilam di meja makan. Malahan ikut sarapan bareng. Sedangkan pak Galang udah melesat ke akntor, katanya sih ada rapat penting. Dia sudah nggak kerja di perusahaan yang sedang dirintisnya. Dia pengen pergi dari bayang-bayang suasana kantor lama. Dia ingin menjadi pak Galang yang baru.


Terlepas dari itu, pak Galang masih menjadi sosok yang tegas dan galak seperti biasa. hanya pada tante Atha dan Oma Nilam saja, dia berlaku seperti kucing yang penurut. Nggak mungkin juga dia galak sama mertuanya, bisa dikutuk jadi tutup panci yang ada.


Setelah koper sudah dinaikkan ke mobil, Raksa dan Kalin pun pamit pada Oma dan juga tante Atha.


"Pokoknya pesan Oma, cuma satu. Jangan menunda punya anak , dan jangan lupa sering tengokin Oma kemari. Oma merasa lebih sehaat kalau lihat wajah kamu, Kalin..." ucap Oma.


Kalin memeluk Oma NIlam, "Iya, Omaaaa..."


Kalin nggak sadar kalau hanya dengan jawaban 'Iya' itu menjadi sebuah janji yang wajib dipenuhi olehnya. Raksa pun menyalkami tangan Oma dan juga tante Atha dia pamit dan berterima kasih, begitu juga dengan Kalin.


"Kami pamit, oma..." ucap Raksa yang mewakili keluarganya buat pamit dari rumah itu.


Sedangkan Oma merasa kalau misinya ini akan berhasil, melihat Kalin dan raks ayang sudah minum ramuannya, meskipun yang namanya anak itu ya hakikatnya keajaiban dari Tuhan. Tapi tetap manusia wajib berusaha. Seperti Oma Nilam yang nggak pernah putus asa sewaktu menemani tante Atha berobat ke luar negeri.


Di mobil sudah jelas, bu Selvy banyak bicara dengan kalin saat mereka berdua duduk di tengah. Sedangkan Raksa disuruh nemenin bapaknya duduk di kursi depan.


"tadinya hari ini Nova mau ikut ke sini, tapi mendadak dia disuruh dateng ke kampus, katanya ada urusan yang belum selesai terkait dengan sidang skripsinya.


"Loh bukannya Nova ada panggilan kerja? Nova belum lulus?"


"Panggilan kerja? bukan panggilan kerja tapi panggilan buat magang. Ibu aja sudah pusing mikirin Nova..." kata bu Selvy.


"Perasaan dulu raksa nggak begini banget kuliah. Lulusnya Raksa juga cepet, tapi ini Nova boro-boro cepet, yang ada dia ndat-ndet,"


"Jangan dimarahin terus, Buk! yang ada dia nggak lulus-lulus..." celetuk Raksa.


"Kalau nggak dimarahin apalagi, Raksa! yang ada dia lulusnya nanti 5 tahun kemudian..." ucap bu Selvy.


Raksa nggak akan bisa menang debat dengan ibunya, mending dia diam dan pura-pura nggak denger soal Nova yang katanya macet nyusun skripsinya.


"Udah tau Nova nggak bakat dihitung-ghitingan, disuruh kuliah akutansi! ya bablaasss lah!" gumam Raksa.


"Ngomong apa kamu, Raksa?! kuping ibu masih bisa denger lho!" ucap bu Selvy.


"Aaaaaawwwwkkk!!!" Raksa merasakan rambutnya dijambak dari atas.


"I-iya Bukkk, ampuuun!" Raksa berusaha menyelamatnya rambutnya dari cengkraman tangan ibunya, yang sebenernya nggak kuat juga. Cuma Raksa aja yang lebay.


"Ya ampunn, rambutku bisa rontok berjamaah ini!" ucap Raksa menjauh dari sandaran kursi.


"Biar aja biar rontok sekalian!" sahut bu Selvy.


"Jangan ribut, Buk! bapak lagi nyetir lho ini, jadi nggak konsen!" pak Hendra ikut menengahi.


"Anak di luar negeri aja tiap hari ditangisin, giliran pulang malah dimarahin. Ibuk gimana sih?" lanjut pak Hendra merepet.


"Jadi ibu sedih aku di luar negeri?" tanya Raksa.


"Sedih lah! takut kamu jadi gelandangan dan dideportasi gara-gara menjadi beban negara!" sahut pak Hendra.


"Dokumen kami lengkap dan aku punya pekerjaan. Nggak mungkin lah dideportasi!" ucap Raksa.

__ADS_1


"Ya namanya juga ibuk, Sa!" ucap pak Hendra.


Mereka pun akhirnya sampai di rumah. Dan tanpa di duga Nova dan Farid udah menyambut kedatangan kedua orang yang sudah mereka tunggu daru satu jam yang lalu.


"Selamat datang kakak ipar!" ucap Farid.


"Kakak ipar kakak ipar, masiih jauuuh!!" Raksa pun menyambut pelukan sahabatnya.


"Ya namanya juga usaha!"


"Gimana sehat?" tanya Farid.


"Alhamdulillaah!" ucap Raksa.


"Kaliiiiiiiin?!!" teriak Nova yang berpelukan juga dengan sahabatnya.


"Gila lo yaaaa? nggak pulang-pulang! nggak inget lo sama tanah kelahiran?" tanya Nova.


"Kangen banget sama lo, Nov!"


"Sudah-sudah, ngobrolnya di dalam saja. Nggak enak diliat tetangga! ibu belum bikin nasi kuning soalnya!" kata bu Selvy.


Banyak hal yang harus diobrolin. Raksa sama Farid sesnagkan Nova sama Kalin. Dia cerita kalau tadi sempet dapet panggilan buat magang, dan ternyata itu. kantornya bang Farid. Jadi berhubung udah ketemu disana, mereka akhirnya memutuskan buat kesini sama-sama.


"Jadi pak kepala divisi bolos kerja hari ini?" celetuk Raksa.


"Ijin bentar doang! ntar gue kan balik lagi ke kantor!" Farid alesan.


"Halah!"


Setelah makan siang, Farid balik lagi ke kantor. Kalau Nova sih udah nggak pergi-pergi lagi, dia malah ngajak Kalin ke kamarnya. Mereka lanjut ngobrol.


"Gue nggak nyangka lo bisa cumlaude di Luar negeri. Sedangkan gue yang kuliah di dalam negeri aja terseok-seok. Gue butiran debu tanpa lo, Kalin!" ucap Nova.


"Gue juga terseok-seok juga, Nov. Disana banyak yang lebih pinter dari gue! tapi ya itu ternayta usaha gue yang sering begadang dan jarang main pun akhirnya membuahkan hasil!" kata Kalin.


"Lo juga sebenernya bisa, Nov! cuma lo kurang greget aja..." lanjutnya.


"gregetan yang ada! ibuk udah gregetan banget sama gue yang dibilangnya jauh dibawah bang raksa. Ya kalau abang gue kan emang pinter. Dia juara kelas terus? nah gue kan ranking urutan tengah-tengah aja udah syukur, iya kan? gue juga kan nggak suka itung-itungan, malah disuruh kulaih yang isinya deretan angka semua. Ngitungin duit, duit nggak ada wujudnya aja salah!" Nova ngenens.


"Gue merasa hidup gue stuck dan gue nggak mampu mengakhiri apa yang udah gue mulai, Kalin!" Nova duduk di atas ranjangnya.


Suasana kamar Nova sedikit banyak dirubah. Sudah ada ac dan banyak pernak-pernik yang membuat kesan girly kamar itu, mungkin habis direnovasi soalnya cet temboknya aja baru, masih bersih.


"Lo nggak boleh gitu dong, Nov! lo itu mampu, cuma lo mungkin nggak berada di passion lo aja. Makanya lo ngerasa struggle banget!" kata Kalin.


"Emang gue nggak mampu. Beneran deh. Gue nggak tau gue harus gimana. Kalau udah mentok mending gue udahan aja lah!" kata Nova.


"Eh, jangan gitu! nggak boleh putus asa! Tuhan itu membenci orang yang putus asa, Nov..." Kalin kasih wejangan.


"Lo bisa ngomong gitu karena lo pinter, Kalin! lo nggak kayak gue yang belajar semalam suntuk pun, belum tentu menghasilkan sesuatu yang 'wow' gitu..."


"Lo sendiri yang mengecilkan diri lo. Lo sendiri yang bilang nggak mampu. Semakin lo bilang nggak bisa, maka lo nggaka kan bisa. Tapi kalau dari diri lo yakin, lo bisa melewati salah satu tahap di kehidupan lo ini, gue rasa lo bisa melampaui ekspektasi lo, Nova!"


"Lo itu punya kemampuan! jangan remehin dan jatohin diri lo sendiri!" lanjut Kalin, dia terus memotivasi Nova untuk terus berusaha.

__ADS_1


"Makasih ya, Lin! emang lo ngertiin gue banget!" Nova memeluk sahabatnya itu.


"Lo bukan anak SMA lagi, Nov! kita udah dewasa, kita harus bisa menyemangati diri sendiri.." Kalin melepaskan pelukan Nova.


"Oh ya, gimana hubungan lo sama Farid?" tanya Klain, dia penasaran dengan kemajuan hubungan Nova dengan sahabat Raksa.


"Gimaa ya? ya gitu lah. Gue udah pacaran sama dia. Cuma berhubung kuliahku bermasalah, jadi kita masih jalan ditempat aja. Gue sama dia memutuskan buat jalani apa yang sekarang ada dulu aja. Soal mengikat hubungan mah nanti, skripsiku aja belum kelar, yang ada gue kali yang diiket  sama ibuk. Bukan dengan tali pertunangan sma aFraid, tapi pakai tali tambang bekas lomba agustusan di kompleks gue kemaren!" ucap Nova.


"Hhahahahhaha, tapi gue nggak bis abayangin lo diiket sama ibuk pakai tambang. Hahhahahaha..." Kalin ketawa lepas.


"Seneng lo buat gue menderita? iya?" Nova naikin satu sudut bibirnya.


Tok tok tok!


Pintu kamar Nova diketok.


"Masuk aja, Buk. Nggak dikunci kok!" seru Nova.


Dan bener, bu Selvy yang masuk ke dalam kamar Nova. Ibu mertua Klain ini membawa nampan yang berisi dua cangkir berwarna putih.


"Nova perasaan nggak pesen minum?!!"


"Pesan-pesen? emang ibu warteg!" serobot bu Selvy.


"Kamu sudah makan kan tadi? ini diminum tehnya..." ucap bu Selvy menaruh nampan di atas meja yang biasa digunakan Nova buat ngerjain tugas.


"Bu Selvy mendekat.


'feeling gue nggak enak nih!' batin kalin.


"Minum teh dulu ya?"


"Teh apa sih? itu satunya buat Nova ya, Buk?" tanya Nova.


"Bukan! itu buat abang kamu! aawas jangan kamu minum!" bu Selvy memperingatkan.


"Sekarang minum, Sayang!" Bu Selvy memebrikan cangkir itu pada Kalin. Dan dari warna dan baunya saja, Kalin bisa hafal kalau itu ramuan jamu yang ada di rumah Oma. Dia kira akan selamat dari minum jamu, ternyata nggak. Kali inin mertuanya sendiri yang mengantarkannya dan mengawasi dia supaya minum.


"Ayo minum, Sayang!"


"I-iya, Buk..." Kalin terpaksa menenggak jamu yang masih anget itu.


Rasa pahit langsung menjalar dari lidahnya, wajah Kalin langsung pucat.


"Pinter!" bu Selvy memuji menantunya yang nggak pakai drama minum jamunya.


Padahal perut Kalin udah mual banget, tapi  dia tahan karena senyuman ibu mertuanya.


"Ya sudah, ibuk ke kmar Raksa dulu ya?" ucap bu Selvy.


"iya, hati-hati, Bu..." Kalin ngomongnya udah mulai ngelantur.


"hati-hati? kenapa hati-hati?" gumam bu Selvy saat membaw akeluar nampan yang dibawanya tadi.


"Woeeeekkk!" Kalin menutup mulutnya sendiri, menahan mual.

__ADS_1


"Hahhaha, lo habis dikasih apa sih sama ibuk?" Nova malah ketaw amelihat Kalin yang sengsara.


__ADS_2