
Di tempat yang lain.
Reno lagi jalan sama Melody. Mereka lagi di pusat permainan.
"Bosen!" kata Melody yang minta udahan.
"Terus lo mau kita kemana lagi?" tanya Reno yang menyelesaikan shoot terakhir di ring basket nya.
"Nonton? gimana? atau lo ada acara lain?" tanya Melody.
"Acara lain gimana? nggak ada! ya udah, kita nonton sekarang," Reno yang kemudian gandeng Melody.
"Ups, sorry!" Reno sontak melepaskan.
"Nggak apa-apa. Yukk," Melody dengan wajah yang ceria.
Mereka waktunya maghrib bukannya ngandang di rumah malah main, apalagi sebentar lagi ujian. Bener-bener real bocah bandel. Kalau Reno, meskipun agak keblinger tapi doi memang pinter. Kalau Melody? buat dapetin nilai 8 aja dia harus kerja keras. Dan buat mencapai sebagai siswa yang pinter kayaknya juga susah.
Jadi setelah dari pusat permainan, mereka lanjut ke bioskop yang ada di mall itu juga. Uang yang Reno bilang buat benerin motor, dia pake buat traktir Melody main dan nonton. Pokoknya hari ini tuh bocah berusaha buat ngedapetin simpatinya Melody, supaya mereka bisa deket. Deuuh, masih bocil aja udah belajar jadi buaya.
"Lo duduk aja disana, Mel!" kata Reno sok gentle.
"Nggak apa-apa, gue ikutan ngantri. Lagian gue jadi bisa milih tempat duduk kita dimana," sahut Melody.
Reno bisa apa kalau si cewek udah bilang begitu. Mereka ngantri sambil ngobrol tipis-tipis, yang bikin orang di depan dan di belakang mereka agak risih.
"Silakan!" kata si pegawai tiket.
Reno mau pun Melody sepakat malam ini mereka mau nonton film action. Pas banget sama kesukaan Reno, dia nggak perlu tersiksa dengan tontonan yang mengharu biru kayak pas nonton sama Kalin, pacarnya.
__ADS_1
Dan nggak lengkap kalau nonton tapi nggak makan popcorn. Dengan sok royalnya lagi, Reno beli popcorn dan minum buat mereka berdua. Ya duitnya ya dari yang dikasih Kalin beberapa jam yang lalu. Dalam hati Reno juga ngitung sisa duitnya, pokoknya buat bayar bimbel dan spp sekolah masih ada. Jadi aman lah, besok dia bisa mengelak dari tuduhan ayahnya.
Kenapa Reno ngeluyur malam ini sebenernya juga bua menghindar biar nggak ketemu sama ayahnya itu, karena ya pasti udah diomelin macem-macem. Padahal sebelumnya Reno ini jauh dari kata barang mewah, karena suatu keadaan yang membuatnya kini berubah.
Saat ini Reno dan Melody masuk ke dalam ruang theater dan menduduki kursi mereka, namun tanpa disangka-sangka. Orang yang duduk di sampingnya kini sesosok manusia yang bikin hatinya selalu kesal, ya dia Arkan.
"Renooo?!" ucap cewek yang duduk di samping Arkan.
"Hai, Vela!" sapa Reno agak sungkan.
"Sama cewek lo, ya?" tebak Vela.
Reno cuma senyum getir aja, dia nggak ngejawan pertanyaan Vela.
"Duduk, Mel..." kata Reno. Dan mereka pun duduk.
Arkan naikin alisnya dia ngeliat ke susi kanannya. Disana dia ngeliat Reno yang menatap lurus ke layar.
"Pindah kemana? semua bangku udah ada yang punya. Udah santai aja," kata Reno yang belum menjelaskan siapa sosok pasangan yang ada disamping mereka.
'Kok bisa Reno nonton kesin?' batin Arkan yang makin hari ngeliat tingkah Reno makin aneh.
Karena dia sering banget nemyin paketan atas nama adiknya, dan sebanyak apa sih duit jajan yang dikasih sama orangtua mereka. Sebanyak-banyaknya nggak mungkin juga bisa bikin Reno hidup dalam kemewahan. Mau jalan nggak mikirin budget, bahkan Arkan yang udah kerja aja kayak kalah hedon dari si Reno.
'Lo kenapa sih, Ren? gue kayak udah nggak kenal lo lagi,' batin Arkan.
"Kenapa, beb?" tanya Vela pada Arkan.
"Nggak, nggak ada apa-apa kok!"
__ADS_1
"Mau popcorn?" Vela sodorin popcorn rasa gurih yang bikin ketagihan.
Sementara Reno yang denger kata 'beb' dari mulut Vela, mendadak bete. Udah duduk diaamping mereka aja udah bikin Reno nggak konsen nonton, dia cuma pura-pura asik aja. Padahal dalam hati, dia kebakar cemburu.
Ya, Vela itu cewek yang disuka sama Reno yang entah gimana caranya bisa Arkan yang ngedapetinnya.
Vela ini tan masa kecil Reno, yang kenal juga sama Arkan. Mereka dulu tetanggaan sebelum Reno dan keluarganya pindah rumah.
Dan seakan alam semesta nggak merestui, meskipun Vela dan Reno ketemuan, bahkan Reno udah kesengsem pada pandangan pertama setelah sekian tahun berpisah dan nggak kontek-kontekan. Malah Vela lebih deket sama Arkan, kakaknya. Dan hal ini yang bikin Reno jadi kehilangan jati dirinya. Dia dikuasai rasa amarah dengan Arkan. Padahal Arkan sama sekali nggak tau kalau adiknya itu suka sama Vela.
Begitu penayangan film selesai, Reno ngajak Melody buat cepetan pergi dari situ.
"Sorry, Mel! gue pengen ke toilet!" Reno cari alesan, dan dia masyk ke toilet cowok.
Padahal disana, Reno cuma duduk diam di kaca depan watafel. Dia memejam sesaat.
Dan begitu buka mata dia ngeliat Arkan dari pantula kaca.
Reno membuka kran dan mencuci tangannya, pura-pura nggak ngeliat penampakan abangnya.
"Bisa ketemu disini ya?" Arkan basa-basi.
Reno nggak mau jawab, dia diem aja.
"Oh ya, tadi sebelum gue pergi. Ayah nyariin lo!" Arkan memulai pembicaraan lagi, tapi sayangnya itu topik yang bikin Reno melayangkan tatapan nggak sukanya pada abangnya itu.
"Nggak usah sok ikut campur!" Reno ketus.
"Gue nggak ikut campur, gue cuma mau ngomong. Kalau lo da masalah, lo bisa cerita sama gue. Gue ini abang lo, Ren! kita saudara, lo bisa cerita apapun sama gue bahkan hal yang paling rahasia sekalipun. Gue bisa lo percaya," Arkan mencoba melunakkan hati adiknya.
__ADS_1
"Halah, nggak usah sok baik. Kalau nyatanya hati lo itu busuk!" Reno melihat nyalang ke arah Arkan, lalu dia pergi begitu saja.