Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Anying Emang!


__ADS_3

Rapat selesai, Raksa langsung ngejar pam Tomi ke ruangannya.


Tok!


Tok!


Tok!


Raksa ngetuk pintu yang setengah terbuka.


"Permisi, Pak!" Raksa dengan wajah yang serius.


"Raksa? ada apa? masuk! dan jangan lupa tutup pintu!" pak Tomi pun duduk, dia benerin jasnya.


"Duduk!" kata pak Tomi yang ngeliat Raksa berjalan ke arahnya.


Raksa pun duduk dengan rasa penasaran yang memuncak, "Maaf sebelumnya, pak! apa saya membuat suatu kesalahan? sampai saya harus dimutasi kebagian lain?" tanya Raksa.


Pak Tomi menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan staff nya itu, "Ya gimana lagi? saya nggak bisa berbuat apa-apa. Padahal, sebulan terakhir ini performa kerja kamu itu meningkat. Tapi gimana lagi? lagi pula bukan hanya kamu yang dimutasi, tapi ada beberapa orang lagi yang nasibnya sama dengan kamu. Dan kamu masih untung karena, meskipun kamu dimutasi tapi jabatan kamu naik jadi kepala divisi operasional, harusnya sih kamu senang!"


"Apa ini berkat bantuan calon mertuamu? haiishhhh, kalau lewat jalur orang dalam emang beda ya?! saya saja 7 tahun jadi staff, baru merangkak naik. Itu pun harus bersaing dengan para penjilat di perusahaan ini. Kamu? baru juga kerja kurang dari 5 tahun sudah diangkat jadi kepala divisi,"


"Ckckckck, ngimpi apa kamu, Raksa?!" pak Tomi daritadi ngoceh mulu.


Bukannya seneng, Raksa malah keder. Itu artinya kalau memang iya, posisinya sekarang karena bantuan ayahnya Kalin, berarti sama aja bohong. Bukan prestasi yang pantas dibanggakan.


Raksa kemudian kembali ke meja kerjanya. Pikirannya beneran kacau.


"Selamat, ya? lo udah naik jabatam..." Siska mengulurkan tangannya.


Raksa membalas jabatan tangan Siska, "Thanks," ucapnya.


"Tapi lo kok kayak nggak keliatan seneng sih?"


"Gue? gue cuma masih kaget. Nggak nyangka gue bisa naik jabatan," Raksa dengan senyum kurang bahagia.


"Gue mau fotocopy dulu," kata Siska, dia pergi ninggalin Raksa sendirian. Sebelum beberapa orang menyalaminya, tentunya dengan embel-embel ucapan selamat. Raksa kembali memasang wajah bahagia seadanya, nggak yang somong 'Ini loh gue kepala divisi!' nggak kayak gitu sama sekali.


"Selamat, Bray! akhirnya naik kelas juga!" kata Farid.


"Ikut gue ke kantin!" Raksa narik Farid.


"Buseet, dah! baru juga naik jabatan, udah mau bolos kerja?!" Farid yang mencoba menyamai langkah temennya.


"Nggak usah banyak bachod. Ikit gue, karena otak gue jadi buntu sekarang!" ucap Raksa setelah masuk ke dalam lift dan menekan tombol tutup pintu.


"Kenapa sih lo? kayak orang lagi kebakaran jenggot tau nggak?!"


"Jenggot nenek moyang lo?!" sahut Raksa.


Mereka berdua keluar dari lift dan berjalan menuju kantin.

__ADS_1


"Lo duduk dosini, gue beli kopi dulu!" Raksa menjau buat mesen kopi.


Sedangkan Farid bingung ngeliat Raksa yang cacing dikasih garem, blingsatan banget. Sampai akhirnya tuh orang balik lagi nyamperin dia dengan dua cup kopi di tangannya.


"Buat lo!" Raksa duduk berhadapan dengan Farid.


Farid nyeruput minumannya yang masih panas, digebrak mejanya sama Raksa.


Braakk!


"Gimana nih nasib gue? gue ngerasa kalau start from the buttom gue kayak sia-sia, Rid?!"


"Dasar anying! hampir aja bibir gue melepuh kena air panas! galau sih galau tapi jangan bikin aset gue celaka dong?!" Farid nusap bibirnya pakai tisu yang ada di meja itu.


"Bener-bener punya temen kelakuan kayak setan!" guman Farid.


"Bukannya bersyukur lo bisa dapet jabatan yang bagus, ini malah ngelu! gimana sih, lo?" Farid ngomel.


"Lo tau, divisi operasional ada siapa aja?"


"Ada siapa? Tania?" bola mata Farid bergerak ke kanan dan ke kiri.


"Yap?! Tania, dan juga .. ehm, Rahmi..." kata Raksa.


"Mungkin gue lupa udah cerita atau belum, yang jelas gue sama Rahmi ada history yang kurang enak. Terus gimana caranya gue harus ketemu dia setiap hari? hem?" Raksa tampangnya udah nggak enak banget.


"Maksudnya?" Farid pura-pura nggak ngerti.


"Kok lo nggak kaget?"


"Terus gue harus bilang waoow gitu?! udah basi, gue udah tau!" kata Farid, dia nyeruput minumannya lagi.


"Darimana lo bisa tau?" tanya Raksa.


"Nggak penting darimana nya, yang penting gue udah tau?!!"


"Dari Tania?" mata Raksa menelisik.


"Ehm, yaaaa bisa jadi bisa jadi..." Farid nggak mau ngaku.


Tapi Raksa sih yakin, kalau Farid tau dari Tania, dan Tania tau dari mulut Rahmi, 'Padahal gue udah nyoba buat sembunyiiin, Akhirnya bocor juga kayak gini,' batinnya.


"Balik lagi soal obrolan kita tadi..." Raksa dengan wajah yang cemas.


"Gue nggak siap buat ketemu terus tiap hari," lanjut pria itu


"Kenapa?"


"Ya gue---"


"Takut hati lo bercabang? atau takut CLBK? apa gimana?" Farid langsung ke point utama.

__ADS_1


"Gue nggak enak aja..."


"Ya harus enak! kan lo kepala divisi. Lo tinggal bersikap profesional. Lo bisa tentuin flow dan ngawasin kerjaan staff lo kan? disana bukan cuma Rahmi, inget!" Farid ngomong enteng banget, Raksa sampai pengen nabok mulut jahanam itu.


"Atau hubungan lo dan tunangan lo itu hanya sebatas formalitas doang? atau gimana? kenapa lo sebingung itu satu divisi sama mantan?"


"Mumpung semuanya udah terbuka, gue pengen nanya! sebenernya lo sama Kalin itu gimana? kalau gue liat malem itu si lo kayaknya udah ada hati," Farid nanya sendiri jawab sendiri.


"Ya gue ... ya gue suka! lebih tepatnya gue udah suka, dan kita udah punya komitmen buat saling suka gitu!" kata Raksa.


"Pernah ikut pramuka kan lo?"


"Apa hubungannya sama pramuka, ajojing?!" Raksa kesyel.


"Pramuka kan suka ada halang rintang tuh? Ya udah, anggap aja si Rahmi ini halang rintang buat lo berdua. Kalau emang cinta lo berdua kuat, gue yakin kehadiran Rahmi nggak akan berpengaruh sama sekali," Farid sok nyeramahin, padahal dia juga belum tentu bisa lakuin.


"Udah, lo nggak usah ragu. Gas pol aja!" Farid ngasih semangat.


"Selain itu, gue ngerasa kalau pencapaian gue sampai di posisi ini bukan karena hasil gue sendiri, tapi karena bantuan orang!"


"Ya iyalah bantuan orang masa iya bantuan setan? aneh-aneh aja lo, Sa!" Farid geleng-geleng.


"Mulut lo, bahlul?!!" Raksa pengen nyomot bibir Farid, tapi nggak jadi. Kesel banget dia.


"Ck! maksud gue, astaga lo bisa nggak sih dengerin gue dulu?" Raksa berdecak.


"Ya udah sok eta tah!"


"Tadi pak Tomi nuduh gue pakai orang dalam buat mencapai posisi ini," Raksa ngenes.


"Emang lo pakek orang dalam siapa? kok lo nggak ngajak-ngajak sih? bisa lah gue juga ikut dipromosiin?!" Farid naikin alisnya.


"Bahlul!" umpat Raksa.


"Itu tuduhan pak Tomi. Dan dia nyangkanya gue manfaatin power dari calon mertua gue!"


"Oh, jadi camer lo orkay? orang kaya?! pantesan lo mau dijodohin?!" Farid melebarkan matanya.


"Gue kagak matre bahlu!" Raksa ngetok meja.


"Balik lagi ke persoalan tadi. Kalau iya, gue bisa naik jabatan karena orang dalem. Gue ngerasa ini bukan pencapaian yang gue pengenin!" lanjut Raksa, dia kayaknya ngomong mutar-muter gara-gara Farid nyamber mulu.


"Gini gini! pertama, mau itu berkat orang dalem kek, celana dalem kek! yang penting kan bukan lo yang minta. Anggap aja itu rejeki, udah gitu aja. Jangan terlalu idealis , ntar setres lo!" Kali ini ucapan Farid ngena di hati Raksa.


"Kita emang perlu orang buat naikin kita ke level yang lebih tinggi. Nggak mungkin kan lo nyodorin diri lo sendiri ke atasan! itu jelas nggak mungkin! perkara itu karena kerja keras lo, tetep aja orang yang ngusulin. Entah pak Tomi atau siapa, intinya ya orang. Lo itu nggak usah pake mikirin ini bukan hasil jerih payah lo sendiri atau bukan. Fokus aja cari cuan, udah selese! yang penting lo nggak pernah jadi penjilat!" tandas Farid.


"Posisi udah bagus, pertahanin aja! nggak lengser cepet aja udah untung!" lanjut teman Raksa.


Disitu Raksa terdiam.


'Huufh, yang diomongin Farid emang ada benernya. Tapi kenapa hati gue sulit menerima? ya Allah, semoga gue bukan termasuk orang yang kufur nikmatt!' Raksa dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2