
Udah sore, Raksa disamperin Farid.
"Yok lah! shut down komputer lo! gue tunggu di parkiran!"
"Hey, gue---" ucapan Raksa terhenti karena Farid udah ngacir duluan.
"Ck, bahlul emang!" Raksa yang menyadari temennya itu udah nggak ada.
Dan saat Raksa mau turn off komputernya, tiba-tiba ada suara pak Tomi.
"Ke ruangan saya!"
Raksa yang kaget pun mengusap dadanya, "Astagaaaa, gue kira setan!"
"Setan itu temen lo Farid yang berisik bae tiap hari," salah satu cewek yang duduk bersebelahan kubikel Raksa menimpali. Dia pun pergi setelah membereskan mejanya.
Sedangkan Raksa yang udah lelah seharian ini, dateng ke ruangan pak Tomi.
"Ada apa, Pak? apa ada masalah dengan pekerjaan saya?" Raksa nggak mau basa-basi.
"Duduk!" pak Tomi nunjuk kursi.
Raksa ikutin aja apa yang disuruh atasannya itu, setelah beberapa saat pak Tomi lalu membuka pembicaraannya.
"Begini, Raksa. Saya mau minta tolong,"
"Minta tolong? minta tolong apa, Pak?"
Pak Tomi yang tadi sempet senderan di kursinya, sekarang duduk lebih tegap, "Begini Raksa,ehm sebenarnya ini tidak ada hubungannya dengan urusan pekerjaan. Tapi saya beneran sudah buntu dan butuh bantuan kamu..."
Raksa masih nyimak, kalau motong takut disemprot kayak yang dulu-dulu. Katanya kalau orang lagi ngomong jangan menyela, padahal dia sendiri yang ngomongnya suka bertele-tele dan suka menjeda kalimatnya lumayan lama, jadi kesannya dia udah selesai dan orang pun akan menyambung atau menimpali apa yang diucapkannya barusan.
"Heh, kok kamu diam saja?! kamu tidak mau bantu saya?!!" bentak pak Tomi.
Raksa lagi-lagi dibikin kaget sama pak Tomi, "Astagaa, sampai kaget saya, Pak!"
"Saya kira pak Tomi belum selesai ngomong, nanti kalau saya menyela dibilang saya nggak tau sopan santun..." lanjut Raksa.
"Ishhhh, intinya kamu bisa bantu saya atau tidak?"
"Bantu dalam hal apa dulu, Pak. Kan tadi bapak bilang ini tidak ada hubungannya soal pekerjaan? kan saya staff bapak kalau di kantor, kalau di luar kan saya manusia bebas pada umumnya," Raksa mencoba menolak secara halus.
"Saya akan mempromosikan kamu, bagaimana?"
__ADS_1
"Waaah, pak Tomi sengaja mau menyuap saya?"
"Shhhhhyyyuut! Mana mungkin saya melakukan hal seperti itu!"
"Dengar Raksa, kalau kamu ingin tau. Dalam kantor ini sesang tidak baik-baik saja. Jadi lebih baik kecilkan suaramu dan bantu aku kali ini," lanjut pak Tomi dengan nada yang super lirih, kayaknya dia takut ada kamera tersembunyi yang ditaruh di ruangannya.
"Iya, kan daritadi saya juga nanya. Bapak minta banntuan apa? kalau di luarburusan kantor, mungkin saya pertimbangkan dulu..." kata Raksa.
"Begini, saya lagi ada masalah dengan istri saya. Dia ngambek sudah seminggu ini, karena saya larang pergi ke luar negeri bareng temennya..." kata pak Tomi.
"Jadi? kamu punya ide? supaya nih istri saya jangan ngambek terus, saya pusing dan nggak bisa konsen kerja," lanjutnya.
"Ya kasih aja sesuatu yang dia suka, Pak!" Raksa males mikir.
"Iya tapi apa?!" pak Tomi gregetan dengan jawaban anak buahnya.
"Ya mana saya tau! kan bapak suaminya, masa bapak nggak tau apa kesukaan istri sendiri, aneh!" Raksa cuma gelengin kepala.
"Lagian, saya juga baru tau kalau pak Tomi udah punya istri," lanjut Raksa.
Raksa narik napasnya sebelum memberikan solusi, "Bapak bisa kasih candle light dinner, sejuta mawar atau mungkin beliin perhiasan. Ya yang gitu gitu loh, Pak. Masa nggak paham? wanita suka dengan pria yang penuh dengan usaha dan perhatian," Raksa sok ngajarin padahal kisah cintanya juga beberapa saat yang lalu kandas.
"Ya sudah kalau gitu, bantu saya bikin candle light dinner romantis besok. Duitnya, kamu talangin dulu, nanti saya transfer kalau udah beres semua,"
"Ya ampuuunnn, kamu ini masih muda tapi nggak ada persiapan!" pak Tomi ngedumel.
"Ya udah, pak Tomi minta tolong aja sama yang lain, Farid misalnya..."
"Saya nggak percaya sama Farid! bisa ember dia. Ya sudah, nanti saya transfer, butuhnya berapa. Pokoknya buat seromantis mungkin, supaya hubungan saya sama istri saya emmbaik, kamu ngerti kan Raksa?"
"Saya juga nggak bisa nyiapin acara tapi saya nya harus kerja. Paling pas bikin acara itu ya malem minggu, Pak. Biar kayak manusia lainnya..."
"Malam minggu? kelamaan! kamis malam aja! dan saya kasih kamu satu hari libur extra," suruh pak Tomi.
"Kompensasinya hanya libur, Pak?"
"Ya, lalu kamu mau apa lagi?"
"Ya nggak aneh-aneh sih, pak. Misalnya pencabutan SP dua misalnya..." Raksa ngelipet tangannya di depan dada.
"Astaga, bener-bener ngelunjak ya kamu!" pak Tomi sewot.
"Ya udah, bapak minta tolong aja sama yang lain, Pak..."
__ADS_1
"Iya iya iya, saya setuju! deal yaaa?!!" pak Tomi mengulurkan tangannya.
Raksa pun menyambut uluran tangan itu, "Oke, deal!"
"Kalau tidak ada yang hal lain lagi yang ingin disampaikan, saya pamit pulang, pak! sudah sore," Raksa yang menepuk jam tangannya sekali dengan telunjuknya.
"Ya sudah, kamu boleh pulang!" pak Tomi mengibaskan tangannya.
Raksa pun bangkit dan menunduk sekilas, "Permisi, pak..." ucapnya sebelum pergi keluar dari ruangan horor pak Tomi.
Dan setelah dia baru mau jalan ke kubikelnya sementara orang-orang udah pada pulang, farid nelpon.
"Woy!! dimana lo? gue udah hampir jamuran nih di parkiran!" keluh farid saaat panggialnnya sudah terhubung.
"Ya sabar kali. Ini gue udah mau turun!" Raksa nutup telpon secara sepihak.
Pas dia mau pulang, dia baru nyadar kalau tuh kotak nasi yang sedari pagi nggak dia sentuh tiba-tiba ilang gitu aja.
"Siapa yang ngambil?" raks acelingukan, tapi ruangan itu sepi.
Tanpa Raksa duga, ada satu Ob yang masuk. Mau ngepel-ngepel ruangan kali.
"Mas, pay?! liat orang yang baru keluar dari sini, nggak?"
Mas Pay yang ditanya langsung kayak orang linglung, "Dimana saya? siapa saya?" uicapnya.
Raksa nyododrin duit dari dompetnya, "Buat ngopi,"
"Nggak usah, Mas!" ucap mas Pay yang mukanya berubah agak sungkan, dia ngembaliin duit yang ditemnpelin di tangannya.
Raksa yang nerima itu ya alhamdulillah, disakuin lagi duit plus dompetnya, "Jadi mas Pay liat ada orang yang baru keluar dari sini, nggak?"
"Nggak ada, Mas! saya daritadi nggak liat siapa-siapa. Saya taunya udah pada pulang semua, makanya saya kesini mau negepel. soalnya kalau nggak berih, besoknya pak Tomi pasti ngomel---"
"Ehem, ehem!" suara deheman pak Tomi bikin mas pay ngefreeze sesaat.
"Eh, pak Tomi? belum pulang, pak?" mas Pay basa-basi.
"Ruangan saya dibersihkan besok saja, karena sudah saya kunci!" pak Tomi yang kemudian pergi meninggalkan sang OB dan satu karyawannya itu.
Dan ketika pak tomi udah keluar, seketika ma sPay langsung bisa bernapas lega, "Untung untung, nggak disemprot!"
Raksa pun ketawa negliat wajah mas Pay yang sempet pucat pasi.
__ADS_1