Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Nungguin Suami Kerja


__ADS_3

Setelah mengobrol cukup lama, akhirnya Raksa dan Kalin pun pamit. Rahmi dan juga Zaki pun bilang kalau besok atau lusa mereka akan terbang ke Indonesia karena sepertinya kondisi Rahmi sangat sulit untuk diajak jalan-jalan.


Terakhir Rahmi ngucapin trima kasih untuk kebaikan hati kedua orang sempat dia ingih pisahkan.


Ternyata dengan memaafkan, hidup menjadi tenang dan lebih bahagia.


"Aku mau kerja dulu. Kamu aku antrin ke rumah ya?"


"Aku tungguin," kata Kalin.


"Nanti kamu bete," kata Raksa.


Kalin menggeleng, "Nggak lah! kan aku sambil makan eskrim disana. Lagian selama ini kan kamu selalu anter jemput aku ke kampus, udah mirip Mamang Ojol. Cuma bedanya kalau ini nggak ada bayarannya dan jemputnya nggak pake motor, tapi pakainya jalan kaki,"


"Nyindir neeh? ya gimana ya? takut istri dicolong orang jadi ya harus dijagain, lagian kita disini warga asing, jadi ya pinter-pinternya kita aja jaga diri," ucap Raksa.


"Jadi udah clear kan?"


"Apanya?" Kalin menatap suaminya, dia berjalan sambil memeluk lengan Raksa.


"Bayinya..."


"Iya udah nggak usah dibahas lagi," kata Kalin.


"Tapi untung kamu salah paham, aku jadi tau kalau istriku ini pintar ,menyambut suami..."


"Diih, jangan ngomong disini!" kalin membekap mulut suaminya, padahal kalau mereka ngomong pun nggak ada yang tau karena mereka menggunakan bahasa asing.


Raksa ngerasa kalau kehidupannya hampir sempurna karena Kalin yang udah lulus, mantan yang udah menemukan kebahgiaannya dan juga orang jahat uyang kini sudah berbalik menjadi orang yang baik dan malah menjadi salah satu bagian dari keluarganya. Ya, pak Galang berubah drastis saat menikah dengan tante Atha. Dia bisa menjadi orang yang sangat perhatian bahkan bukan hanya pada tante Atha tapi pada mertuanya juga yang harus sering check up kesehatannya.


Saat ini Kalin dan Raksa sudah sampai di restoran tenpat Raksa bekerja.


"Kamu nggak apa-apa nungguin aku berjam-jam?" tanya Raksa.


"Udah nggak apa-apa, lagian aku bakalan bete di rumah sendirian. Takut juga," ucap Kalin.


"Halah tumben banget takut, biasanya juga pengen berangkat sendiri ke kampus. Nggak suka diikutin,"


"Mau ribut disini? yakin?" tanya Kalin.


"Nggak nggak. Aku udah ditungguin. Kamu tunggu disini, nanti aku bawain eskrim!"


Kalin mengangguk, sementara Raksa masuk ke dalam sebuah ruangan. Dia mengganti pakaiannya dan mulai mengerjakan pekerjaannya.


Niat hati pengen nganterin makanan buat istri, tapi apa daya Kalin sendiri yang udah ngantri. Dan kebetulan atau nggak Kalin menlihat ada teman satu kampusnya bernama Arvin. Ini Arvin yang asli karena begitu dia dilepaskan bsatu sampai dua minggu kemudian dia mulai terbang ke Manchester buat lanjutin kuliahnya. Tentu dia menceritakan tragedy yang dia alami, beruntung pihak universitas bisa memahami dan memberikan solusi terkait nilai-nilai yang harus dia kejar.

__ADS_1


Kalin yang melihat Arvin pura-purangak ngeliat dan pura-pura sibuk dengan layar. ketika memilih metode pembayaran dia pilih membayar di kasir.


"Kan aku bilang nanti aku anterin,"Raksa setengah berbisik.


"Nggak apa-apa. Aku juga capek duduk terus," ucap Kalin, dia mengedipkan satu matanya saat menerima pesanan dari tangan suaminya.


Raksa hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat Kalin yang bersikap seperti bocil, sekrang mulai menunjukkan tanda-tanda kedewasaannya. Batu juga duduk dan mau melahap makannaya, dia mendengar sanar-samar ada customer yang lagi ngomongin Raksa, mereka bilang kalau wajahnya sangat asia dan tampan.


"Mereka nggak tau aja. kalau aku ini pemilik dari orang yang mereka bicarakan," ucap Kalin.


Dia duduk dengan sesekali menyuapkan eskrim ke dalam mulutnya, matanya masih mengawasi bagaimana suaminya bekerja. Dilihat dari segala arah emang Raksa ini ganteng banget, jadi wajar banyak yang memuji ketampanannya.


"Kalin? kamu makan di tempat ini juga?" tanya Arvin dengan kacamata yang besar.


"Gue duduk disini, ya?" lanjut pria itu yang main duduk aja.


"Kamu bisa ke meja lain. Disana kayaknya masih kosong," Kalin menunjuk salah stau sudut.


"Kejauhan, lagipula kita satu kelas jadi nggak apa-apa ya gue duduk disini," kata Arvin.


'Nggak apa-apa menurut lo! Nggak tau apa, tuh suami gue jadi ngelirik mulu ke arah sini!' Kalin ngedumel dalam hati.


Tapi Arvin cuek aja, dia makan begitu lahap seperti orang yang seminggu nggak dikasih makan. Raksa melirik ke arah Kalin sambil memberi kode kalau 'Mataku mengawasimu!'. Dan Kalin hanya bisa mengendikkan bahunya, tanda kalau dia juga nggak ngerti kenapa nih bocah duduk seenak jidatnya.


"Nggak!"


"Gue juga! takut ketemu orang jahat gue, ntar gue diculik lagi kan berabe urusannya!" kata Arvin, padahal Kalin juga nggak nanya apa alasan Arvin nggak ikut, tapi paling nggak dia bukan satu-satunya orang yang bakalan mangkir dari acara itu.


"Oh gitu..." Kalin cuma ah oh aja nanggepin Arvin yang sebelas dua belas sama orang yang nyamar jadi dia waktu itu, sama-sama nyerocos bae.


"Habis ini lo mau stay di sini atau balik ke Indo?"


"Balik lah! negara gue butuhin gue," ucap Kalin sok penting.


"Bagus bagus, lo setia sama negara berrati!" ucap Arvin disela makannya, kadang dia minum saat dia seret dengan sesekali menaikkan kacamatanya.


Mata Raksa masih mengawasi gerak-gerik istrinya, dia sesekali mencuri pandang pada Kalin. Kalin hanya menggelengkan kepala, tandanya dia nggak tau caranya ngusir nih orang yang lagi makan. Tapi dari arah pe,bicaraan atau pun dari gesture Arvin, dia bukan orang yang tebar pesona. Obrolannya seputar kampus ataupun rencana ke depan. Mungkin dia lagi bingung dan belum ada pencerahan mau lanjut kuliah atau kerja.


"Kalau gue bingung. Gue dapet beasiswa lagi buat S2! mau gue ambil tapi kantong gue butuh asupan dana, secara gue bukan dari orang berada. Kalau gue lewatin, belum tentu ada kesempatan yang kedua kalinya!" ucap Arvin tiba-tiba membuat Kalin membelalakkan matanya.


"Gimana? beasiswa S2?" tanya Kalin.


"Iya! makanya gue stress berat ini! biasanya ague nggak pernah makan fast food begini, secara gue makan dikit langsung gemuk. Udah susah payah bentuk badan. Tapi karena gue stress parah, gue melipir kesini dulu sebelum ke rumah sewa gue.Gue butuh pencerahan, Lin..." kata Arvin yang sudah menghabiskan makanannya dan meminum sodanya.


"Menurut lo, gue harus ambil tawaran itu atau gue lepasin aja?"

__ADS_1


"Kesempatan nggak dateng dua kali. Kalau kerjaan, selagi lo punya koneksi yang baik kayaknya nggak susah deh buat dapetin kerjaan. Dan menurut gue lo bisa part time dulu, sambil lo kuliah S2. Pasti banyak perusahaan yang akan menerima orang dengan prestasi yang bagus, jadi lo jangan khawatir. Akan ada ruang buat orang cerdas kayak lo, Arvin..." kata Kalin.


Hati Raksa terbakar saat melihat Kalin sekarang ngobrol asik dengan teman kampusnya.


'Ck, ngobrolin apas ih mereka. kayaknya seru banget!' batin Raksa yang harus tetep senyum saat melayani pesanan yang harus diantar ke meja.


Kalin yang tadinya selalu ngeliat ke arahnya, kini fokus ngobrol sama si laki-laki berkacamata. Mungkin kacamatanya mengembun, Arvin pun melepaskan alat bantu bacanya itu dan mengelap nya dengan tisu. Wajah Arvin berkali-kali lipat bertambah kegantengannya tanpa kacamata. Dia memakainya kembali untuk menatap lawan bicaranya.


"Kebanyakan belajar gue! mata gue kayaknya lelah, Kalin..."ucap Arvin.


"Pasti lah! gue juga gitu, makanya gue mau balik dan hidup di negara gue sendiri. Banyak hal yang dikangenin disana ternyata," Kalin mulai terbuka soal pandangannya.


"Huuufhhhh," Arvin menghela nafasnya.


"Lo pikirin aja lagi. kalau menurut gue sih, ambil dulu kesempatan yang ada, daripada ntar nyesel..." kata Kalin.


"Iya juga sih..." Arvin manggut-,manggut.


"Oh ya, gue balik dulu ya? lo masih mau disini?" tanya Arvin kemudian.


"Iya,"


"Ya udah guue duluan,, hati-hati lo baliknya. Lagi rawan kejahatan soalnya!"


"Oke. Lo hati-hati juga..." Kalin senyum ramah sebelum akhirnya Arvin pergi meninggalkan Kalin di meja itu.


"Eheemmmm, seru banget ya yang ngobrol sama temen kuliah!" sindir seseorang yang nyamperin Kalin buat kaish eskrim yang baru, karena eskrim yang dipesen Kalin udah mencair dan nggak berbentuk lagi.


"Sampe cair loh eskrimnya saking nggak dipeduliinnya!" lanjut Raksa.


"Cemburu?"


"Nggak sih, nggak cemburu. Bukan tandinganku dia mah, jauuuh!" ucap Raksa.


Kalin pun senyum ngeliat Raksa jelas-jelas lagi kebakar api cemburu.


"Iya emang jauh, udah jauh dia maksudnya! noh, udah nggak keliatan..." ucap Kalin.


"Ck! bukan jauh orangnya!" Raksa sebel.


"Jangan sebel-sebel ntar gantengnya ilang!"


Raksa menyembunyikan senyumnya, "Ck! bocil ngerti apa soal rayu merayu! dimakan eskrimnya. Aku balik lagi kesana," ucap Raksa yang membawa bekas makan si Arvin tadi buat dia buang ke tempat sampah.


"Selamat bekerja suamiku!" Kalin mengangkat kedua tangannya ke atas kepala membentuk huruf gambar love.

__ADS_1


__ADS_2