
Sesuai apa yang dikatakan Raksa, kalau mulai malam itu dia akan berusaha mencintai Kalin, walaupun dalam hatinya sudah menerima gadis itu tapi lagi-lagi pikirannya yang sellau menolak. tapi kali ini, nggak akan ada lagi pertentangan antara hati dan pikirannya.
Seperti pagi ini, Raksa beberapa kali ngecek penampilannya sebelum keluar dari kamarnya. Siapa tau kan dia ketemu si bocil pas sarapan di bawah, jadi penampilannya harus on point terutama badan kudu wangi.
"Gue yakin dia nggak bakal nggak kepincut sama gue?!!" Raksa menyentuh rambutnya sekilas sebelum pergi dan meninggalkan kaca yang daritadi memperlihatkan pantulan dirinya.
Di lantai dua sepi.
"Apa dia masih tidur?" Raksa kepo saat ngelewatin kamar adeknya. Bukan Nova yang dia maksud, tapi Kalin.
lagi celingukan kayak gitu, ada yang keluar dari kamar mandi.
"Abang lagi ngapain, Bang?" tanya Nova yang baru abis mandi, dia gosok tuh kepala pakai handuk.
"Eh, lo udah bangun?!" Raksa salting sendiri.
"Abang cuma..."
"Ciyeeee, kangen sama tunangan yakkk?" Nova langsungĀ ngecengin, seolah tau apa yang abangnya pikirkan.
"Nggak?!! gue cuma mau ngasih tau lo, kalau lo dipanggil tuh sama ibuk. Noh disuruh sarapan di bawah?!"
"Masa sih? soalnya baru aja ibuk telfon katanya udah pergi pagi-pagi sama bapak, katanya nggak keburu nyiapin sarapan. Nah gue lagi nungguin kang bubur ayam bentar lagi lewat?!" kata Nova yang naikin alisnya sebelum masuk lagi ke kamarnya.
Dia ngelongok keluar sebelum bilang, "Kalau mau bohong yang kreatif dikit, Bang! kalau kayak gini kan gampang ketauannya..."
"Novaaaa?!!" tereak Raksa sebelum akhirnya pintu kamar Nova ditutup lagi.
Raksa turun ke bawah, dan iya bener nggak ada makanan apapun di atas meja. Bahkan telor ceplok pun nggak ada, bener-bener bersih. Berhubung masih terlalu pagi buat ngantor, Raksa bikin mie instant. Di rumah ini jarang ada yang suka sarapan pakai roti, katanya kurang kenyang. Jadi mending makan mie instant bisa dicampur sama sayuran yang banyak.
Semangkuk mie pun jadi berbarengan dengan Kalin dan Nova yang turun ke bawah. Kedengeran juga suara langkah yang bikin hati Raksa mendadak bergetar.
"Loh, abang belum berangkat?!!" tanya Nova sekilas.
Ting!
Ting!
Ting!
Suara mangkok sebagai pertanda si kang bubur udah nyampe di depan rumah. Emang di kawasan komplek rumah mereka beberapa pedagang dibolehin masuk, tentu nggak sembarangan. Yang emang udah dipercaya aja yang bisa jualan keliling disitu.
Beberapa saat kemudian, kedua gadis itu masuk ke rumah dengan bawa makanan. Sementara Raksa udah selesai, dia angkut mangkoknya sendiri dan naruh gitu aja di wastafel.
__ADS_1
"Nov, tolong cuciin. Nih buat jajan," Raksa ngeluarin duit dua puluh ribuan, tangannya sekilas pegang kepala tunangannya sebelum dia pergi keluar.
"Abang berangkat kerja dulu, assalamualaikum!" seru Raksa.
Sedangkan kalin nengok ke belakang, ngeliat pria itu makin menjauh sampai akhirnya udah nggak keliatan lagi.
"Udah nggak usah diliatin mulu," Nova nyeletuk.
"Siapa juga yang liatin? leher gue nih pegel, bantalen kali!" Kalin pegangain lehernya sembari peregangan.
Sementara kalin dan Nova sarapan dengan bubur ayam yang spesial pakai sate telor, Raksa harus berjibaku dengan kemacetan sebelum mecapai kantornya.
Dengan gayanya yang sat set licin macam belut, Raksa akhirnya bisa sampai tepat waktu. tapi ada satu hal lain yang membuatnya berhenti saat dia ngeliat Rahmi berdiri di depan lift. dia nengok ke arah Raksa dan kasih senyuman yang biasanya bikin pria itu meleleh. Tapi lagi-lagi Raksa bersikap biasa aja, meskipun dalam hati pasti bertanya-tanya.
'Mungkin lagi kena sawan?!' batin Raksa.
"Tumben pagi?" ucap Rahmi.
"Ehm, lo nanya sama gue?"
"Ya, siapa lagi. Kan nggak ada orang lain lagi selain lo sama gue,"
"Ya kali lo ngomong sama tembok," Raksa datar.
Ting!
Rahmi sesekali ngeliat ke arah Raksa, "Ehm, lo pasti belum sarapan kan? ini gue ada nasi goreng pakai telor mata sapi. Ada jus mangga stroberry juga di dalemnya," Rahmi nyodorin tempat makan yang dia tenteng pakai reusable bag yang kecil juga.
"Makasih, tapi kebetulan gue udah sarapan tadi!"
Ting!
Lift terbuka, dan beberapa orang masuk. Raksa pun punya kesempatan buat minggir. Jadi sekarang antara Rahmi dan Raksa tersekat oleh orang-oeang yang berdiri diantara mereka.
Raksa keluar saat lift terbuka lagi, padahal dia belum sampai lantai tujuannya.
'Main aman aja udah!' batin Raksa.
Dia buka pintu tangga darurat dan mulai lari menuju lantai atas.
Beberapa hari setelah itu, Rahmi udah terang-terangan kasih Raksa makanan. Dia udah nggak pakai jasa titip OB atau Farid, dia sendiri yang ngasih itu ke meja Raksa.
"Hey?! ck, rrghh!" Raksa yang mau ngomong nggak bisa, Rahmi keburu pergi.
__ADS_1
Dia cuma ngasih itu ke meja Raksa dan nggak nungguin Raksa ngomong, karena dia yakin Raksa pasti akan bilang, 'Gue udah sarapan, buat lo aja!'
Sampai akhirnya, Raksa udah nggak tau lagi. Dia mau nggak mau makan tuh makanan. Dan Harus balikin tempat makanan itu ke pemiliknya. Neneknya selalu bilang waktu dia masih kecil, jangan suka ngebuang nasi. Nasi itu rezeki yang dikasih Tuhan, nanti Tuhan marah dan nggak mau ngasih rezeki kita lagi. Tapi masalahnya tuh nasi dikasih sama mantan yang mau dilupain, Raksa jadi serba salah.
"Rahmi..." Tania nunjuk ke salah satu arah dengan dagunya.
Rahmi pun mutar kursinya dan ngeliat ada Raksa disitu. Senyumnya mengembang.
"Gue cuma mau balikin kotak makanan lo. Oh ya, besok-besok nggak usah masakin gue lagi. Karena gue nggak suka!" kata Raksa yang ngembaliin tentengan yang tadi pagi Rahmi kasih.
Sedangkan Rahmi yang belum jawab apa-apa, cuma bisa ngeliat Raksa pergi.
"Udah nggak apa-apa! lo jangan sedih, yang penting kan makanannya abis, kan?" Tania ngecekin tempat makan yang ada di tangan Rahmi.
"Dia bilang nggak suka, tapi dia makan habis makanan yang lo bikin. Itu tandanya dia suka, dia cuma gengsi!" kata Tania yang memberi Rahmi semangat.
"Makasih ya, Tan?" ucap Rahmi.
Sedangkan Raksa yang baru masuk ke ruangannya langsung nyamperin Farid.
"Rid, lo ngomong tuh sama Tania. Suruh dia bilangin ke Rahmi supaya jangan kirim gue makanan!" ucap Raksa agak kesel.
"Loh, loh lok dia marah sama gue?!" Farid ngeliat Raksa yang balik lagi ke mejanya.
Disisi lain, Raksa pun mencoba buat kembali fokus pada kerjaaannya. Sampai ada satu telfon dari Kalin.
"Ya, ada apa, Lin?" Raksa npelin hape ke kupingnya.
"Gini loh, Mang?!"
"Mang?" Raksa naikin alisnya, dia baru aja mau nyemprot tapi Kalin keburu ngomong lagi.
"Eh, kok Mamang sih? sorry, maksud gue, Sayang..." ucap Kalin malu, dia agak lirih ngomongnya tapi Raksa masih bisa denger. Kedua sudut bibirnya langsung naik ke atas.
"Kenapa?" tanya Raksa dengan nada-bada menggoda.
"Ehm, gue disuruh nganterin makanan dari bunda. Nanti siang, gue tunggu di depan kantor!" kata Kalin cepat, dia lalu nutup telfonnya.
Raksa yang baru aja denger suara tunangannya itu pun mendadak mood nya bagus lagi. Dia bahkan cengar-cengir sendiri.
Siska yang ngeliat Raksa kayak bocah puber yang lagi jatuh cinta pun, menghembuskan nafasnya kasar. Nggak tau kenapa, setelah tau kalau Raksa nggak naksir sama dia, ada rasa kecewa di hati Siska.
'Astagaaa, dia bakal kesini! gue harus cepetan kelarin kerjaaan, biar gue bisa ngobrol agak lamaan sama dia..' batin Raksa.
__ADS_1
Pria itu benerin duduknya dan mulai kerja dengan senyuman yang nangkring di wajahnya, bikin dia yang ganteng tambah ganteng.