Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Jambak Aku Lagi Dong, Pak!


__ADS_3

Namun ternyata, rambut itu lepas saat dijambak pak Galang.


Pak Galang pun melotot saat melihat sebuah wig yang dia tarik dengan tangannya sedangkan sosok rambut cepak itu kemudian membuka maskernya, dan kacamatanya.


"Jambak aku lagi dong, Pak?!" ucap sosok itu yang kini memperlihatkan wajahnya yang di dandani ala-ala ABG.


"Farid??" Tania melongo saat orang dihadapannya bukan Kalin tapi Farid.


Pak Galang membuang wig itu dengan kasar, lalu dia mengumpat ke arah bodyguardnya.


"DASAR TOLOLL KALIAN SEMUA! KALIAN ITU SALAH TANGKAP, TAU TIDAK???!!! BODOHHH"


"Gimana, Pak? mau jambak aku lagi? nih nih nih?" Farid dengam absurdnya menyodirkan kepalanya pada pak Galang.


"Heh! apa-apaan, kamu?!" pak Galang kesal dengan staff di kantornya, yang memandangnya dengan tatapan genit.


Raksa yang udah babak belur nggak jelas, seketika geli ngeliat kelakuan sahabat karibnya.


"Ck, daripada Kalin mending saya aja, Pak??" lanjut Farid yang sengaja bikin pak Galang.


"Galang!" panggil salah seorang wanita. Dan itu bundanya Kalin.


Pak Galang menoleh dan melihat sosok wanita yang dulu pernah dia cintai.


"Athalia?"


Bunda Lia menggeleng, "Bukan, Lang! aku bukan Athalia, Aku Emelia!"


"Maaf, Lang! aku---"


"Jangan bercanda! kamu itu Athalia,"


"Aku Emelia, Lang! maafin mbak ku, Lang..." ucap bunda Lia yang nggak menyangka kalau Galang akan sebenci itu dan menyimpan dendamnya begitu lama.


"Kami anak kembar. Athalia sakit, aku disuruh berpura-pura jadi dia. Aku mutusin kamu, karena aku nggak mungkin terus-terusan jadi mbak ku, Lang..."


"Athalia nggak pernah bilang kalau dia punya kembaran,"


"Jelas dia nggak pernah bilang. Karena dia nggak mau kamu ngeliat dia dalam keadaan terpuruk,"


"Lalu dimana dia?"


"Dia sudah nyaman dan sudah sembuh, dan itu kenapa aku bisa menjadi diriku sendiri, menikah dan memiliki anak. Anak yang nggak bersalah, yang menjadi sasaran dendam kamu," ucap bunda Lia.


"Aku Emelia, bukan Athalia..." lanjutnya.


Dan seketika bunda Lia pun bilang lagi, "Aku maafin apa yang udah kamu perbuat. Karena nyatanya anakku nggak kenapa-kenapa. Tapi aku mohon banget sama kamu, Galang. Lebur masa lalu yang nggak mengenakan. Aku bukan Athalia, Athalia mbak ku sudah tenang disana. Aku tau kamu orang yang baik, Galang..." kata bunda Lia.

__ADS_1


"Hahahaha, konyol!!"


"Sedangkan aku nggak mungkin membohongi kamu dan juga diriku sendiri. Aku mencin.tai orang lain, yaitu Diki sahabat kamu sendiri...." kata bunda Lia.


"Kalian sama-sama penghianat! aku nggak akan percaya dengan omong kosong kamu, Lia!"


Namun ternyata, semua bukti pengeroyokan dan juga perencanaan tindak kejahatan pak Galang sudah masuk ke telinga pihak yang berwajib.


Mereka semua dikepung, termasuk Tania.


"Bapak ikut kami ke kantor polisi," ucap salah satu aparat.


"Ck! Saya bisa jalan sendiri!" ucap pak Galang.


Semua orang suruhan pak Galang juga diringkus, mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Tania sempat menengok ke arah Farid yang menatapnya dengan tatapan biasa. Dia pun ikut bersama dengan yang lainnya.


Sementara pak Hendra yang keluar dari mobilnya pun segera menghampiri anaknya.


"Hebat kamu, Sa?! nggak sia-sia bapak suruh kamu ikut bela diri!" kata pak Hendra.


Raksa hanya menggelengkan kepalanya, dia nggak habis pikirĀ  dengan bapaknya yang katanya mantan jawara tapi angrem doang did dalam mobil ngeliatain anaknya digebukin.


Sedangkan Raksa langsung menghampiri ibu mertuanya, "Kalin aman, Bun?"


"Aman insya allah, dia bersama ayah! oh ya sebaiknya kita ke rumah sakit, buat ngobatin luka kamu, Raksa!" kata bunda Lia.


"Thanks ya! gue nggak nyangka lo bisa bikin pak Galang geli begitu!" ucap Raksa.


"Tapi acting gue bagus kan ya?" ucap farid.


"Tapi Tania?" Raksa bertanya mengenai perasaan Farid.


"Bukan jodoh gue, Sa! bener kata lo, harusnya gue bersyukur diliatin sekarang. Emang dia kan nolak gue dan ya mungkin jodoh gue emang masih otewe dan gue yakin bis buka hati buat yang lain, yang lebih perhatian sama gue dan lebih menghargai gue, meskipun agak sengklek dikit otaknya!"


"Widiiih, udah dapet penggantinya aja nih!" kata Raksa.


"Ada lah pokoknya!" Farid cenngar-cengir.


Setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit, Raksa menemui istrinya yang sudah tertidur di sebuah kamar dengan suasana pegunungan yang sejuk.


Ya, sekarang mereka sedang berada di sebuah Villa yang sengaja disewa ayah Diki untuk menyembunyikan Kalin. Dia duduk dilantai kayu senbari memandangi wajah Kalin yang sembab, mungkin dia mennagis seharian ini.


Raksa teringat saat perpisahannya di toilet bandara. Raksa memaksa Farid memakai baju jenas dan baju Kalin, sedangkan Kalin berganti pakaian yang berbeda miliknya sendiri.


Sosok yang dibawa Raksa itu kalin jadi-jadian, dia membawa Fraid yang tersiksa memakai celana jeans Kalin yang sempit. Bisa dibayangkan ada sesuatu yang terjepit dan susah untuk duduk. Tapi berulang kali Raksa bilang kalau ini nggak akan lama, tapi nyatanya Farid harus menahan rasa ketidaknyamannanya itu selama dua jam lebih. Sungguh perjuangan yang harus dihargai.


Makanya sampai di rumah sakit, Farid langsung berganti pakaian dengan bajunya sendiri yang dibawakan oleh Nova. Ya Nova juga ikut dalam penyamaran ini, dia yang membawa Klain dari toilet sampai ke mobil ayah Diki. Selanjutnya dia ikut bunda Lia buat ikut melihat keadaan Raksa.

__ADS_1


Dans ekarang mereka semua berada di tempat yang sama, ya itung-itung sekalian healing biar nggak sinting. Farid juga ikut ke villa itu, dia sengaja cuti buat menemani Raksa mengurusi segala keruwetan ini.


Sedangkan Raksa sendiri lagi melihat wajah istrinya dengan seksama, sembari sesekali mengelus pipi yang menggemaskan itu.


Dan tiba-tiba Kalin terbangun saat merasakan pipinya yang disentuh Raksa.


"Mas Raksa? Mamang?" Kalin mengucek matanya, memastikan kalau ini bukan mimpi.


"Astaga, kenapa mesti Mamang, sih? udah bener manggil mas juga!" Raksa pundung.


Namun Kalin nggak peduli, dia bangun dan memeluk kepala suaminya.


"Lin, Kalinn! kecekek nih gueeee!!!!!!" teriak Raksa.


"Kamu jahat, kamu nggak ngabarin aku, kamu jahaaat?! huhuhu" Kalin nangis, dia lega sekaligus kesal dengan suaminya.


"Lin, Lin, sumpeh ini gue kagak bisa napasssss!!!!"


Kalin pun melepaskan Raksa.


"Khawatir sih khawatir, tapi tadi kamu hampir aja bikin suami kamu yang ganteng ini ngap-ngapan. Kayaknya aku butuh napas buatan deh!" ucap Raksa.


"Ih, maunya!" Kalin mengusap air mata yang terjun ke pipinya.


"Muka kamu kenapa?"


"Oh ini, abis kena tonjok!" sahut Raksa singkat.


"Terus tangan yang nonjok nggak apa-apa?"


"Kok tangan yang nonjok sih? harusnya tuh kamu tanya keadaan aku gimana!"


Kalin menyembunyikan tawanya.


"Dih, tadi nangis sekarang ketawa! aneh lo!" kata Raksa.


"Kena denda!" ucap Kalin.


"Astagaaa, kena denda berapa hari ini?" gumam Raksa, dia baru ingat peraturan yang dibuatnya sendiri.


"Jadi, siapa dalang dibalik semua kejahatan ini?" tanya Kalin.


"Pak Galang!"


"Pak Galang? siapa pak Galang?" Kalin mengernyitkan keningnya


"Jadi pak Galang itu...." Raksa mulai cerita dibalik rencana busuk pak Galang pada Kalin.

__ADS_1


__ADS_2