
Kalin nggak bisa berkutik sampai tuh orang udah molor lagi. Gadis itu dengan perlahan melepaskan tangan dan kaki Raksa yang mengunci dirinya.
"Isshhh, emang dia kira gue ini apaan?" Kalin yang segera turun dari tempat tidur, dan mengikat rambutnya kemudian pergi ke kamar mandi.
Kalin menggosok gigi, dia mengusap bagian mulutnya dengan kencang. Berharap dia bisa menghapus ingatan tentang sosoran dari Mamang Raksa.
"Ternyata, semua bisa diembat sama dia?! cih," Kalin berdecih, saat mengingat tontonan dari hape milik mantan pacar si Mamang.
Kalin hanya menatap wajahnya dengan tatapan kasihan, "Dulu sama Reno gue mentok pegangan tangan. Punya hubungan sama orang dewasa ternyata nggak ubahnya berhubungan sama setan!"
"Mungkin ada benernya, harusnya gue ini sama yang seumuran!" ucapnya.
"Aiiishhhh?!!" Kalin mengetuk kepalanya sendiri.
"Kenapa gue jadi terpengaruh omongan si jelangkong itu?!!" Kalin menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran-pikiran jelek.
Kalin pun jadi ingat saat Rahmi bilang kalau dia punya sesuatu yang lebih dari itu, tapi dia takut kalau menunjukkannya pada Kalin, itu akan merusak mentalnya.
"Emang mereka pernah apa? apa seperti adegan di film-film?" gumamnya.
Tok tok tok!
"Gue masuk, ya?!" ucap Raksa yang bikin Kalin kaget setengah mati.
"Bener-bener, ya!" Kalin segera membersihkan sisa busa pasta gigi di mulutnya dan membenarkan handuknya sampai ke dada, dan mendobelnya dengan handuk kimono.
Ketika Raksa masuk, gadis itu segera menerobos keluar.
"Kenapa tuh bocah?" gumam Raksa yang bangun dengan mara yang masih setengah terpejam.
Sedangkan Kalin, memanfaatkan ini untuk segera ganti baju. Dia sengaja buka pintu lemarinya supaya menghalangi pada saat dia memakai bajunya.
"Gue jadi nggak bebas di kamar sendiri! kenapa tuh orang main nyelonong aja ke kamar ini?! emangnya nggak ada kamar lain? kalau dia tidur disini, mending gue yang pindah! ogah banget, gue sekamar sama orang udah berhianat sama gue!" Kalin mengusek kepalanya yang masih basah dengan handuk.
Nggak lama Raksa keluar dengan wajah yang segar. Dia bergerak ke arah kopernya lalu masuk lagi ke kamar mandi. Dan itu sama sekali nggak menarik perhatian Kalin, dia sengaja menganggap suaminya itu tembok yang bergerak.
Kalin sibuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan mesin pengering rambut. Kalin hanya pakai bedak tipis dan juga pemerah bibir berwarna membuat wajahnya kian segar, bagaikan bunga yang mekar dan sayang untuk dipetik.
Kalin yang udah cantik pun berdiri berbarengan dengan Raksa yang keluar dengan hanya memakai handuk.
"Aaaaaaaakkkh!" Kalin menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa? kamu kenapa teriak begitu?!"
Tapi Kalin nggak menjawab, dia malah bergumam, "Dasar Om-Om edaaan!"
Dia melewati Raksa begitu saja, dengan tangan yang menghalangi pandangannya ke samping.
Brakkk!
Kalin membuka lalu menutup pintu dari luar.
"Huufhh, gue nggak bisa satu ruangan sama tuh manusia purba! Dia pikir itu kamar siapa? itu kamar gue dan bisa-bisanya dia keluar cuma pakai handuk doang!"
__ADS_1
Kalin turun ke bawah buat sarapan, dia beneran udah kesel banget sama kelakuan suaminya.
"Eh, Kalin? udah bangun, Sayang?" tanya bunda.
"Udah, Bun!"
"Raksa mana?" tanya bunda.
"Ada!" sahut Kalin singkat.
"Kok jawabnya ketus gitu?" bunda merasa aneh dengan jawaban Kalin yang terkesan ogah ditanya.
"Mulut Kalin lagi ngunyah, Bun! takut keselek loh tadi," Kalin ngeles lagi.
Tiba-tiba ayah dateng.
"Nih tiket pesawatnya, sesuai keinginan putri ayah!" kata ayah menyerahkan tiket untuk Kalin.
"Tiket pewasat kemana?" bunda yang nanya.
"Inggris, Bun! kata Kalin dimajukan keberangkatannya, katanya ada yang harus diurus disana sebelum aktif masuk kuliah," jelas ayah.
"Kok Bunda baru tau? Kalin nggak cerita sama bunda?"
"Kemarin Kalin juga cuma nelfon ayah, Bun!" jelas Kalin.
"Pas Kalin pulang, kepala Kalin kliyengan. Jadi langsung naik ke atas, dan sampai malam kan nggak ketemu sama bunda. Kalin tidur terus, Bun. Baru bagun tadi pagi," kata Kalin.
"Semuanya udah disiapin?" tanya bunda.
Dan nggak sadar percakapan mereka disadap oleh telinga Raksa yang tajam.
"Apa yang tinggal berangkat?" tanya Raksa yang tiba-tiba muncul.
"Maaf, Raksa nggak sengaja dengar..." lanjutnya yang kemudian duduk di samping Kalin.
"Ini loh, keberangkatan Kalin ke Manchester!" ucap ayah Diki.
"Manchester? memangnya kapan?"
"Besok!" sahut ayah.
"Visa kalian sudah jadi, kan?" tanya Ayah.
"Sudah..?" Raksa dengan memandang sekilas pada istrinya.
"Memangnya Kalin belum cerita soal dimajukannya keberangkatan kalian? ini tiket pesawatnya sudah ayah belikan!" ayah Diki menyodorkan sebuah amplop berwarna putih.
"Oh itu, sudah kok, Yah! Raksa kira berangkat kemana lagi," Raksa dengan senyum palsunya.
"Kalau itu memang aku sudah tau, Yah..." ucapnya lagi dengan hati yang kurang nyaman.
Dia memandang wajah Kalin yang makan dengan begitu tenang. Padahal dalam hati, Kalin juga menyimpan kepalsuan di depan ayah sama bunda nya.
__ADS_1
'Maaf ya, Bun? Kalin harus secepetnya pergi, karena Kalin nggak bisa berpura-pura terus di depan Kalian,' batin Kalin.
'Apa yang lagi lo sembunyiin? kenapa lo terkesan ngehindarin gue? gue salah apa, coba?' Raksa dalam hatinya.
Sementara pagi itu Kalin berusaha buat nggak memantik kecurigaan jeluarganya. Dia menjadi Kalin yang ceria.
Raksa sekarang lagi main catur sama ayah di ruang tengah. Sedangkan Kalin lagi toduran di kamar bunda nya.
"Tumben-tumbenan tiduran disini?" tanya bunda.
"Ya kan nanti Kalin mau pergi, jadi Kalin mau puas-puasin bareng sama bunda..." ucap Kalin.
Namun di rumah Raksa. Bu Selvy dikagetkan dengan ketukan pintu ketika anak dan suaminya baru saja pergi ke supermarket buat belanja bulanan. Sedangkan bu Selvy sendiri, lagi marathon beresin lemari kaca. Dia kalau udah nguplek, suka males buat pergi-pergi. Alhasil kedua pak Hendra dan Nova lah yang menjadi sasaran untuk membeli semua list yang sudah bu Selvy catat di buku kecil.
Tok tok tok!
Ketukan pintu kedengeran lagi.
"Ya, sebentaaaaarr!" suara teriakan bu Selvy yang pasti nyampe ke luar pintu, dan mungkin sampai ke pintu tetangganya juga.
Ceklek!
"Maaf, mbak mencari siapa, ya?" tanya bu Selvy melihat seorang perempuan dengan celana krem dan blouse putih yang ditutup dengan blazer berwarna hijau.
"Permisi, Bu? saya Rahmi. Ehm saya..." ucapan Rahmi menggantung.
'Jadi ini ibunya Raksa?' batin Rahmi.
"Orang asuransi, ya? Maaf, saya sekeluarga sudah punya asuransi. Itu aja iuran tiap bulan tapi jarang dipake," cerocos bu Selvy.
"Hah?" Rahmi hanya melongo mendengar bu Eelvy yang menyangkanya petugas asuransi yang datang mau nawarin produk.
"Mbak mau nawarin asuransi, kan? saya sekeluarga sudah punya. Ke sebelah aja, mungkin mereka berminat," bu Selvy menunjuk tetangga sebelah kiri.
"Oh, maaf, Bu! saya bukan orang dari asuransi. Saya ehm, saya teman satu kantor Raksa. Ehm, maksud saya, saya bawahan pak Raksa. Saya kesini mau minta tanda tangan laporan, ini urgent karena perusahaan sedang ada masalah!"
"Pak?" bu Selvy bingung.
"Ya, Pak..."
"Tapi anak saya karyawan biasa. Dia bukan bos, jadi mungkin mbak salah alamat,"
"Salah alamat? sepertinya tidak, Bu..." Rahmi menyerahkan sebuah alamat disertai nama lengkap Raksa.
"Kemarin pak Raksa mengajukan resign, tapi ada beberapa dokumen yang terlewat saat clearance exit,"
'Raksa bukan karyawan biasa? tapi sejak kapan? kenapa dia nggak cerita?' batin Bu Selvy.
"Ehm, silakan masuk! kita bicara saja di dalam," ucap bu Selvy yang mempersilakan Rahmi untuk masuk dan duduk di ruang tamu yang sengaja pintunya dibiarkan terbuka.
"Jadi? Raksa itu jabatannya apa di perusahaan? setau saya dia hanya karyawan biasa, makanya saya pikir mbak ini salah alamat," kata bu Selvy.
'Jadi, kamu merahasiakannya dari ibumu? tapi kenapa? apa yang kamu rahasiakan, apa yang kamu tutupi, Sa?' Rahmi dalam hatinya.
__ADS_1
"Tolong ceritakan sedikit..." ucap bu Selvy memecah lamunan Rahmi.
"Ehm, baik. Jadi begini, Bu..." Rahmi pun menarik nafas sebelum akhirnya dia akan bercerita.