
Setelah balik lagi ke kamar, dan udah pakai baju rumahan yang nyaman dipakai, Raksa mulai rebahan.
"Kemana Kalin?" Raksa nelfon istrinya
Telolet loletttt....
Hape Kalin berdering dan itu bis araksa denger, artinya itu hape ada di kamar ini.
"Berrarti dia nggak jauh perginya..."
Dan ternyata yang dicari nongol juga, Kalin masuk dengan membawa mangkok dan mug. Raksa bangun saat ngeliat Kalin kerepotan.
Dia ngambil nampan itu dan Klain nutup pintu.
"Bubur kacang?" tanya raksa.
"Siapa yang buat?" lanjut nanya.
"Ibuk, katanya ini bagus buat kulit..." kata Kalin.
Cuma ya Raksa nggak begitu aja percaya, dia nyobain dulu apa benar ini bubur kacang yang nggak ada apa-apanya.
Raksa duduk di pinggir ranjangnya, "Nggak ada apa-apa nya sih..." gumam Raksa.
"Nggak ada apa-apanya?" Kalin nggak ngerti apa yang dibicarakan Raksa.
"Nih mau makan?" tanya Raksa.
"Nanti aja, masih panas!" kata Kalin yang nyuruh Raksa taruh aja tuh mangkok di meja.
"Aku tadi mau bikinin kamu teh, tapi dikasih bubur sama ibuk. Katanya itu bagus buat kulit dan kesuburan..."
'Astagaaa, Ibuuuuk. Masih aja usahaaaa!' batin Raksa.
"Ya ampun! jamuuuu!" Kalin mendadak keinget jamu yang dikasih bu Selvy.
"Jamunnya, Mas!" dia melihat ke arah suaminya.
"Emang kenapa?"
"Ya kan tadi pagi ibu kasih jamu, terus belum aku minum. Nanti kalau ibu tanya gimana?"
"Nggak bakalan ditanya. Udah tenang aja," kata Raksa.
"Jamunya kamu buang, Mas?"
"Nggak aku buang tenang aja!" Raksa yang nggak sadar kalau dia terlalu gemas ngeliat wajah Kalin.
"Terus?"
__ADS_1
"Aku minum!"
"Semuanyaaa?!!" Kalin melihat wajah Raksa dengan serius.
"Iya! semuanya, makanya aku pulang telat!! Raksa mengusap perutnya.
"Aku mual banget! habis minum jamu dua botol!"
"Wedyaaannn kamu, Mas! kalau kamu kelebihan dosis jamu gimana?!" Kalin khawatir.
"Jangan-jangan itu yang bikin kamu jatuh ya, Mas? badan kamu nggak seimbang! kayaknya ibu harus tau deh! takut kamu kenapa-napa," Kalin akan prgi tapi ditahan Raksa.
"Jangan! udah nggak apa-apa, aku cuma kasihan aja kalau kamu yang minum! pait dan bikin mual kan? lagian kamu mau kerja, nggak mungkin juga kamu dateng dengan wajah yang pucet karena perut kamu yang trus bergejolak gara-gara minum ramuan itu!" kata Raksa.
"Kamu tau? ramuan itu buat apa?" lanjut Raksa.
"Ibu kasih ramuan warisan itu ya supaya kita cepet punya anak. Makanya mulai sekarang aku aja yang minum, atau kamu buang aja di mana kek! ibu juga nggak bakalan tau," ucap Raksa.
"Orangtua bertindak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan, terkadang mereka nggak nanya dulu sama kita, tentang rencana kita tentang apa yang kita targetkan dalam waktu dekat," Raksa masih terus ngomong.
Menurutnya Kalin harus tau tentang apa yang obunya dan Oma Nilam rencanakan.
"Kamu pengen punya anak?" tiba-tiba aja Kalin bertanya.
"Bukan, aku minum itu bukan buat aku---"
"Setiap laki-laki ya pasti punya keinginan buat punya anak. Tapi aku juga nggak bisa maksain kamu, dan kita udah bicara soal ini udah lama ya, kan?"
Kalin ngangguk.
"Tenang aja. Kerja aja dulu, nikmatin masa muda kamu, jangan menuruti apa yang orang lain mau, karena itu nggak akan selesai. Akan ada permintaan-permintaan lainnya yang nggak mungkin kita wujudkan juga..."
"Tapi aku minta, kamu turuti saja ayah. Dia pengen kamu kerja di perusahaan, turuti saja dulu..." kata Raksa, kasih wejangan supaya Kalin jangan ngelawan keinginan orangtuanya.
"Kata mas tadi kita nggak bisa nurutin semua permintaan orang, kok malah aku disuruh nurutin keinginan ayah yang pengen aku kerja di perusahaannya?"
"Iya, bener. Kamu kan pengen kerja dan kamu juga belum diterima di perusahaan mana pun kan? anggap aja kamu bekerja di perusahaan orang, bekerjalah dengan profesional...."
"Dunia ini kejam, Kalin! ayah kamu nggak pengen kamu tertekan kerja sama orang!" lanjut Raksa.
"Apa harus kayak gitu?"
"Dicoba dulu apa salahnya? kayak minum jamu, awalnya pahit dan getir kan? kamu aja kapok buat minumnya, tapi saat jamu itu nggak ada malah kamu nyariin, Padahal udah jelas rasanya kamu nggak suka,"
"Itu kan karena kau takut ditanyain sama ibuk, Mas!"
"Ya sama aja! awalnya kerja di perusahaan orangtua emang berat, tapi lambat laun kamu pasti akan menyadari kaalau perusahaan itu emnag butuh kamu, kamu nggak pengen ngecewain bukan hanya orang tua kamu tapi seluruh karyawan yang menggantungkan hidupnya dengan bekerja disitu..."
"Ya udah kalau gitu..." ucap Kalin.
__ADS_1
'Daripada kamu kerja di tempat lain, malah aku nggak tennag Kalin! aku bakal ngawasin dan mastiin kamu beneran aman!' batin Raksa.
Yang katanya Kalin belum siap punya anak, nyatanya itu nggak lantas mereka nggak menghentikan prosesnya. Nyatanya malam itu Kalin dan Raksa bertarung untuk menjinakkan ular yang suka nggak bisa diajak kompromi. Padahal besok Kalin harus berangkat pagi.
Dan pagi harinya kedua pasangan ini turun dengan rambut yang maish lumayan lembab. Mereka sarapan udah lengkap dengan baju kantoran. Sebenarnya kemarin sore, Farid telfon dan nawarin raks abuat balik lagi ke perusahaan yang lagi gonjang-ganjing, tapi karena ada satu dan lain hal, Raksa bilang kalau akan memepertimbangkan.
Track record Raksa yang udah menjadi kepala divisi, akan dinaikkan satu tingkat di atas posisinya dulu jika Raks amasih mau ikut bergabung di perusahaan, ya itu juga atas desakan pak Tomi sebenernya. Karena akan sangat disayangkan kalau Raksa yang sangat berpotensi itu malah dimiliki perusahaan lain.
"Kamu ada panggilan lagi, Sa?" tanya Ibuk.
"Iya..."
"Yang kemarin apa bukan?"
"Bukan!" sahut Raksa.
"Loh gimana sih? kok kamu malah ntari lagi,"
"Cari yang deal-dealan gajinya gede, Buk! gimana pun nggak mungkin selamanya Raksa numpang di rumah ini, iya kan? Raksa dan kalin juga harus punya rumah sendiri," jawab Raksa.
"Ya terserah kamu aja kalau gitu," bu Selvy nggak jadi sewot perkara raks ayang udah nyebut-nyebut pindah karena fokusnya sekarang pada cucu yang sepertinya terus saja diusahakan anaknya.
"Nasi gorengnya enak banget, Buk!" puji Kalin.
Sedangkan Nova nggak keliatan, Raks acelingukan.
"kemana Nova? nggak berangkat dia?"
"Udah berangkat dijemput Farid!"
"Oh ya ngomong-ngomong soal farid, kemarin kalin bener disuruh dijemput Farid?" tbu Selvy sengaja nanya itu di depan Kalin. Buat dia kalau ada yang ingin ditanyakan ya ditanyakan aja, kalau dia sembunyi-sembunyi tanya sama Raksa malah nanti kalin merasa nggak enak hati dan merasa dicurigai.
"Iya, karena aku ada urusan! dia nganterin sampe rumah kan?" Raksa ngeliat ke arah Kalin.
"Iya..." sahut Kalin lirih.
"kKnapa? kenapa kamu malah nyuruh Kalin dijemp[ut sam aFarid? kamu kan tau kalau Farid itu lagi deket sama Nova, kalau adek kamu ngambek gimana?"
"Nggak lah! ngambek kenapa? nggak bakalan! lagian, itu karena aku kepepet banget, Buk! lagian cuma seklai doang," ucap Raksa.
"Jangan suka meremehkan sesuatu. Kamu juga jangan suka ngeboncengin cewek lain, ada batasan-batasan yang harus dijaga setelah kalian menikah..." Bu Selvy menceramahi kedua pasangan itu.
"Iya, Buk!" jawab Kalin dan raksa kompak.
Setelah sarapan, Kalin pun di bonceng Raksa menuju perusahaan ayahnya. Sementara Raksa sendiri ada tujuan lain dan sampai saat ini dia nggak bisa cerita sama Kalin. tapi tetep, dia akan memilih tempat kerja yang dekat dengan istrinya.
"Aku masuk dulu..." Kalin mencium tangan suaminya sebelum masuk.
"Semangat!" Raksa melambaikan tangan sebelum gas puol menuju tempat lain.
__ADS_1