
Staf yang lain yang ngeliat pak Tomi berdiri di depan ruangannya pun kembali ke meja kerja masing-masing, mengikuti jejak Raksa yang langsung duduk anteng di depan komputer.
Sedangkan Raksa, dia membuka surat yang habis dikasihin sama pak Tomi, "Kalau gue dipecat, perusahaan yang bakal rugi. Karena kehilangan karyawan potensial kayak gue..."
Dia inget betul, dia dapet SP pertama itu karena berangkat telat hampir satu bulan. Saat itudia dipanggil pak Tomi dan dicecar habis-habisan, Raksa nggak bisa membela diri, karena emang kenyataannya dia selalu datang telat. Ya dia terima-terima aja mau dimarahin atau dikasih sanksi. Saking galaunya, surat peringatan itu aja nggak dia baca sama sekali.
Sebenernya bukan karena males dia dateng telat ke kantor, tapi karena hatinya lagi dilanda badai galau dan merana habis diputusin Rahmi. Banyak perbedaan yang mendasari perpisahan itu, mulai dari capek kucing-kucingan dan menyembunyikan hubungan mereka, sampai hal-hal remeh temeh kayak selera makan yang emang agak beda. Raksa suka makan pinggiran jalan, sedangkan Rahmi suka di tempat yang adem yang ada ac nya minimal.
Sebagai cowok, Raksa berani buat keluar dari perusahaan buat mempertahankan cintanya sama Rahmi dan go public biar lebih tenang kalau jalan kemana-mana. Nggak dikit-dikit ngumpet saat nggak sengaja papasan sama temen kantor pas nonton atau ngemall. Tapi sayangnya takdir berjata lain, hubungan mereka nggak direstui keadaan. Setiap mereka jalan, pasti ada aja orang kantor yang mereka temui.
'Gue rasa kita nggak bisa kayak gini terus! gue nggak apa-apa kalau gue harus keluar dari perusahaan, gue bisa cari kerja di tempat lain. Yang penting kenyamanan kita dalam menjalani hubungan ini, Mi...' kata Raksa saat itu.
'Gue nggak mau...'
"Lo nggak mau gimana? lo liat sendiri kan? hampir tiap kita jalan, ada aja orang kantor yang nggak sengaja lagi jalan juga di tempat yang sama. Gue capek, Mii..." ucap Raksa lagi.
'Gue nggak mau, Sa! buat sementara kayak gini dulu aja...'
'Tapi sampai kapan?'
Rahmi diem, dia nggak bisa jawab pertanyaan Raksa.
'Gue tanya? sampai kapan kita harus kayak gini? gue rela loh, Mi. Cari tempat lain dan---'
'Tapi gue nggak, Sa! gue nggak rela kalau lo pergi cuma buat supaya kita bisa go public! gue nggak mau ada yang mengorbankan diri buat kebahagiaan hubungan ini. Gue nggak mau berhutang pengorbanan...'
'Lo itu ngomong apa sih, Mi?'
'Kalau kita nggak bisa satu jalan pemikiran, mendingan kita udahan aja, sa? lo capekk kan ngejalanin hubungan kayak gini? begitu juga dengan gue...' ucap Rahmi yang kemudian ninggalin tempat cafe mereka duduk bersantai selepas pulang kerja.
Dan sampai mereka putus, baik Farid ataupun Tania nggak ada yang tau. Karena kebetulan Farid kayaknya gencar deketin tania dan mulai ngenalin Tania yang temen deket Rahmi ini satu bulan setelah Raksa putus.
Raksa juga nggak 'ngeh' kalau Tania yang ditaksir FaridĀ itu ya Tania temennya Rahmi. Dan jangan kira kalau karena Tania ini berteman sama pacar rahasianya, si Raksa deket juga sama Tania. Nggakk loh, nggak sama sekali.
"Wuoooyyy!! ngelamun aje! ketauan pak Tomi bisa disemprit lagi lo!' tepukan dari tangan Farid bikin Raksa tersadar dari lamunanya.
"Siapa juga yang ngelamun? mata lo aja kali yang siwer,"
"Mata gue belom siwer, keles! gue masih bisa bedain mana orang yang lagi ngelamun, mana yang lagi ngehalu dan mana yang lagi fokus! tatapannya aja udah beda!" Farid keukeuh.
__ADS_1
Raksa cuma senyum doang, mencoba menetralisir perasaannya saat ini.
"Apaan, nih?" Farid ngambil amplop yang ada di meja Raksa.
"Itu cek, duit 100 juta!" Raksa ngasal.
"Masa?" Farid nggak percaya, dia buka dan liat apa isinya. Matanya melebar saat baca tuh surat.
"Wedyaaaaannn! lo dikasih SP lagi?"
"Menurut lo?" Raksa nyengir ngenes.
"Nggak bener maksud gue! soalnya, kemaren tuh presentasi pak Tomi dipuji loh dengan segala inovasi yang dia buat. Yang gue yakin itu ide dari lo kemaren," kata Farid. Raksa muterin kursinya dan mengadap temannya itu.
"Masa?"
"Ya, tapi dalam mimpi gue!" Farid cengengesan.
"Semoga hari lo senen terus, Rid!" Raksa kesel abis dikibulin.
"Pinjem, yak?!" Farid narik salah satu kursi yang ada di samping kubikel Raksa.
"Lo boncengan dulu sama yang lain! ada yang mau gue omongin sama Raksa, oke?"
"Dipikir lagi naik motor? boncengan segala?!" perempuan itu pun kesal dan keluar ruangan.
"Sa?!" Farid manggil temennya yang daritadi ngelipet tangannya di depan dada.
"Biasa aja kali mukanya!" Farid neplak angin.
"Gue lagi banyak kerjaan ini,"
"Lo ada acara nggak nanti sore?" Farid mencegah Raksa yang mau geser kursinya.
"Mau kemana? Lo aja lah, gue lagi ribet akhir-akhir ini," Raksa menolak mentah-mentah. Karena Raksa udah tau kemana arah pembicaraan Farid.
"Kan kemaren kita nggak jadi nonton loh, lah akhirnya kita scedule ulang jadwal nontonnya hari ini," Farid tetep mekso.
"Gue lagi nggak minat nonton. Lagian kemarin kan gue bilang kalian aja yang nonton. Dan lagi, lo kan mau pedekate sama Tania, ya udah jalan berdua. Jangan ngajak-ngajak gue terus, yang ada Tania kepincutnya sama gue bukan sama lo! lo mau?" Raksa nakut-nakutin.
__ADS_1
Farid nggeplak lengan temannya, "Jangan coba-coba jadi kang tikung, ya?!"
"Ehem!" suara deheman pak Tomi. Farid pun beranjak dan ngeloyor ke kubikelnya yang lumayan jauh dari Raksa.
Farid pura-pura nggak ngeliat, dia duduk dengan tenang dan seolah nggak ada apa-apa.
Pak Tomi keluar tanpa ada sepatah kata pun, membuat perasaan semua orang menjadi lega seketika. Para staf yang emang kalau pagi nggak tau pernah absen buat ngider gosip pun langsung kicep dan kembali ke tempatnya semula. Takut pak Tomi tiba-tiba nongol lagi.
Sementara Raksa diem lagi, mikirin tawaran si Farid tadi. Tapi nggaj, dia menggeleng tanda dia nggak tertarik buat jalan rame-rame lagi.
"Mau pedekate tapi ngajak temen? nggak jelas banget tuh orang! Ngakunya gentle, pedekate aja ditemenin? dasar cemen!" Raksa bergumam sebelum kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Nggak kerasa, udah tiga jam Raksa bergelut dengan tuts keyboard . Dia ngerasa matanya mulai agak pedes ngeliatin layar komputer
Pria itu pun merogoh sakunya saat ada WA masuk.
"Nova? ngapain Nova WA pas jam sekolah kayak gini?" Raksa bergumam dan segera mengusap layarnya.
Kalin abis diputusin pacarnya, ternyata tuh cowok udah minjem duit jutaan. Abang tolong bantuin Kalin buat dapetin duitnya balik, dong! Please, Abang kan baeekkk.
Raksa segera mengetik...
Abang lo emang baek, tapi abang lo bukan kang tagih utang! yang bener aja kalau minta tolong!
Dan balesan Raksa yang baru aja dikirim langsung dibaca Nova, dia langsung ngelempar balesan WA lagi.
Nova mau minta tolong sama siapa lagi coba kalau bukan sama Abang? Kalin kasian, Bang! Dia jadi kere mendadak. Ini si cowok bilangnya minjem, bukannya cepet ngebalikin eh Kalinnya sekarang malah diputusin. Bantuin lah, Bang. Kasian nih, daritadi kayak orang kena sawan.
Raksa dengan kecepatan cahaya bulan, bales chat dari adeknya.
Minta tolong sama bulan sana! kalau perlu sama matahari.
Raksa nggak mau ribet ngurusin masalah orang, lha wong hidupnya aja lagi ruwet begini.
"Aiiishhh, si Nova bener-bener yaaaaakkk!" gumaman Raksa berhenti saat ngeliat kiriman foto dari Nova, Kalin yang lagi ngelamun!
Kasihanilah sahabat gue ini, Baaaang!
Tulis Nova di caption foto itu. Yang bikin Kepala Raksa seketika tambah nyut-nyutan.
__ADS_1