
Beruntungnya luka yang dialami Raksa nggak begitu parah, hanya ada luka di kepala yang kini sudah ditangani dengan baik oleh dokter. Mungkin refleknya bagus, jadi ketika dilempar batu oleh Jonathan, Raksa sempat menghindar, jadi apa yang menjadi sasaran jonathan meleset, meskipun begitu Raksa akhirnya pingsan karena hantaman benda tumpul.
"Istri saya dimana, Dok?"
"Apakah anda bisa mendengar suara saya, pak?" tanya si dokter laki-laki.
"Ya..." sahut Raksa lirih.
"Sekarang coba sebutkan ini angka berapa?" si Dokter memperlihatkan jari-jarinya.
"Tiga!" sahut Raksa.
"Dimana istri saya? bagaimana keadaannya? apa ada luka serius?" tanya Raksa.
"Istri anda baik-baik saja, termasuk juga kandungannya. Ibu dan janinnya sehat, sekarang Nyonya Kalin sudah dipindahkan ke ruangan, anda bisa melihatnya nanti..." kata dokter.
"Hah? apa tadi? kandungan? janin?" Raksa mencoba mencerna apa yang dokter katakan, saking kagetnya Raksa sampai terbangun secara tiba-tiba dari tempat tidurnya, dia masih di IGD.
"Arrghh!" Raksa merasakan hantaman sakit yang luar biasa di kepalanya.
"Pelan-pelan saja, Pak! jangan bangun dengan gerakan spontan seperti itu," ucap dokter.
Dokter lalu memeriksa kedua mata Raksa debgan sebuah senter, dia juga menggunakan stetoskopnya untuk mengecek keadaan pasiennya yang satu ini.
"Semuanya normal! tapi karena bapak mengalami hantaman dibagian kepala belakang, besok kami akan melakukan ct scan. Untuk sementara anda akan ditempatkan di ruang rawat!"
"Maaf, tadi anda bilang kalau ada janjin di dalam perut istri saya. Apa itu artinya istri saya sedang hamil?"
"Iya, kehamilannya baru memasuki usia 4 minggu, dan itu sangat rawan..." kata dokter.
"Anda belum tau kalau istri anda sedang mengandung?" tanya dokter lagi.
"Nggak sama sekali, Dok!"
Dokter bilang kalau Kalin sempat mengalami pendarahan, dan doktr melakukan pengecekan secara menyeluruh, dan dari situ diketahui kalau Kalin ini ebenernya udah hamil 4 minggu. Raksa yang mendengar itu antara kaget, senang dan bingung.
Buat dirinya mungkin ini kabar gembira, tapi bagaimana untuk Kalin? apakah kehamilannya ini malah akan membuat Kalin stress karena belum siap punya anak, atau bagaimana? Raksa masih nggak bisa menebak reaksi Kalin nanti kalau tau dirinya sedang mengandung anaknya.
"Saya mau ketemu istri saya, Dok!" kata Raksa satelah mendapatkan ucapan selamat dari dokter jaga yang menanganinya dengan Kalin.
"Sus? tolong antarkan pak Raksa ke ruang rawat Ibu Kalin!"
"Baik, Dok!" sahut salah satu suster.
Dokter itu pergi dan kemudian si suster mencoba membantu Raksa buat duduk di kursi roda, dan langsung nganterin nih pasien bucin ke tempat dimana istrinya berada.
__ADS_1
"Mas?" panggil Kalin lirih saat melihat Raksa saat pintu kamarnya dibuka oleh suster.
Kursi roda Raksa di dorong sampai Raksa bisa menyentuh tangan istrinya yang lagi rebahan di ranjang.
"Suster? sepertinya saya ingin satu kamar saja dengan istri saya," kata Raksa yang minta satu bed tambahan untuknya, agar dia bisa menjaga Kalin.
"Baik, Pak!" suster itu pun pergi meninggalkan dua manusia yang lagi sama-sama sakit.
"Gimana? apa yang kamu rasain? mana yang sakit?" Raksa memegang erat tangan Kalin.
"Nggak ada,"
"Kamu gimana, Mas? gimana keadaan kamu?" tanya Kalin.
"Jangan khawatirin aku. Aku nggak apa-apa. Justru kamu yang harusnya dikhawatirin..." Raksa dengan raut wajah yang kacau.
"Ttolong bilang kalau kamu ngerasain sakit sekecil apapun itu karena---" ucapan Raksa terputus.
"Karena apa?" tanya Kalin polos.
"Apa dokter belum bilang kalau kamu lagi hamil?" tanya Raksa.
"Udah,"
Raksa terdiam, dia bingubg harus bersikap bagaimana.
"Kenapa? kenapa kamu malah menyesali apa yang sudah Tuhan berikan?" tanya Kalin.
"Kamu? kamu nggak kecewa?"
"Kecewa apa? maksudnya gimana?" Kalin lemes.
"Kamu kan belum siap buat punya anak," kata Raksa.
"Awalnya, tapi setelah aku tau ada kehidupan disini, aku jadi berpikir lain. Apa kamu menyesalinya, Mas?"
"Bodoh kalau aku menyesal! aku malah sangat bahagia, aku cuma takut kamu belum siap, Kalin. Kan katanya kamu pengen kerja, jadi wanita karir," kata Raksa.
"Ya, nanti itu dipikir lagi, Mas..." Raksa memegang erat tangan Kalin yang lemah.
"Makasih ya, Sayang?" Raksa mengecup kening Kalin bertubi-tubi, sampai Kalin geli sendiri.
"Apa itu artinya kita akan jadi orangtua?" tanya Kalin.
"Iya!"
__ADS_1
Kalin meringis.
"Kenapa? perut kamu sakit? atau gimana? apanya yang sakit?" Raksa panik.
"Sedikit kram!"
"Aku panggilkan dokter, ya?" tanya Raksa.
Kalin menggeleng, dia nggak mau, "Nggak usah, nanti juga baik sendiri kok! mungkin itu karena aku habis jatuh!" kata Kalin.
"Nggak boleh gitu, kamu harus diperiksa..." Raksa sambil mengelus perut istrinya dari luar baju, tangannya sengaja menyingkap selimut yang tadinya menutupi badan Kalin.
"Nggak usah..."
"Bandel banget jadi bocah!" Raksa gemes dengan Kalin yang nggak mau dipanggilin dokter.
"Udah diperiksa, Massss! udah dikasih obat juga...." Kalin membela diri.
Awalnya Raksa mau marahin Kalin yang dengan sembrononya mengikuti pesan yang diterimanya, tapi berhubung Kalin masih lemes dan nggak berdaya, Ralsa pun jadi nggak tega.
"Lain kali kamu harus lebih hati-hati. Apalagi sekarang kamu punya tanggung jawab menjaga dia di dalam sini," ucap Raksa.
"Iya, Mas!"
Dan nggak lama, ayah dan Bunda pun datang ke ruang rawat Kalin. Dia melihat Raksa yang duduk di kursi roda dengan tangan yang saling bertautan dengan istrinya.
"Raksa? Kalin? kalian nggak apa-apa? astagaaa, kalian membuat kami khawatir!" ucap bunda yang berjalan tergesa-gesa dan langsung berhambur ke ranjang dimana Kalin rebahan.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Raksa?" tanya Ayah Diki.
"Ayah ingat? 4 tahun yang lalu saat aku dan Kalin pertama kali pulang dari Manchester. Pesuruh pak Galang yang waktu itu menyamar menjadi Arvin datang kemari, dia dendam karena menjadi buron elama bertahun-tahun. Dan melihat pak Galang bebas tanpa tuntutan apapun dia pun kesal dan berniat menuntaskan perintah yang diberikan pak Galang, meskipun perintah itu sebenarnya sudah nggak berlaku. Aku juga nggak tau kenapa pak Galang nggak menghubungi Jonas,"
"Jonas?" ayah Diki mengerutkan keningnya.
"Nama orang yang menyerang kami, Yah!" jawab Raksa.
"Oh dia? dia sudah ditangkap dan sedang menjalani pemeriksaan di kantor polisi,"
"Sebaiknya ayah telfon pak Galang, beritahu dia kalau mantan anak buahnya sudah tertangkap!" kata Raksa.
"Kasus ini masih di telusuri karena orang itu kabur dan nggak bisa dilacak keberadaannya. Galang sudah mencari mereka, tapi nggak pernah ketemu! mereka bahkan lebih licin dari belut!" kata ayah.
"Tapi syukurlah kalian masih selamat!" lanjut ayah.
"Iya, alhamdulliah anak dan calon cucu ayah masih bisa diselamatkan!"
__ADS_1
"Calon cucu?" Ayah dan bunda kompak memandang Kalin dan Raksa bergantian.