
Pulang kerja. Nggak sengaja Raksa papasan sama Rahmi di lift. Kotak besi yang nggak seberapa besar itu dimasuki beberapa orang, alhasil semua orang harus rela berhimpit-himpitan.
"Sorry," ucap Rahmi saat menggeser posisinya yang ternyata malah sangat dekat dengan raksa.
"Hai, Mi?!!" sapa Farid.
"Hai!" sapa balik Rahmi.
"Tania mana? kok lo nggak bareng dia?"
"Lembur! masih banyak kerjaan katanya!" jawab Rahmi seadanya.
"Perasaan tadi yang naik cuma gue sama lo doang? kenapa jadi satu RT begini?!!" Farid ngelush dengan banyaknya orang yang menaiki lift yang sama dengan diri nya.
"Canda Braayyy?!!" ralat Farid yang berdiri di samping kanan Raksa,.
"Canda elaaaahhh, sensi amaattt?!!" Farid nyengir lagi, dia ngelirik ke arah Rahmi yang berdiri di samping kiri Raksa.
Sedangkan pria yang diapit dua orang yang sedari tadi saling menyapa itu pun hanya diam. Nggak banyak komentar.
"Lo mau ikut jalan sama kita?" Farid nawarin.
"Riiiiddd?" Raksa nengok dan melotot ke arah Farid.
"Makin Rame makin seru?!!" Farid naikin kedua alisnya.
"Boleh?!!" sahutan dari Rahmi bikin Farid tambah semangat.
"Oke, ntar gue telpon Tania. Tar gue jemput dia ke atas! biar dia nggak jadi elmbur!" kata Farid.
Ting!
Pintu lift terbuka, semua orang keluar kecuali Farid.
"Lo sama Rahmi dulu, gue naik lagi ke atas?!! lo berdua jangan kemana-mana, tunggu aja di parkiran!" Farid setengah teriak.
"Astaga, tuh orang bikin gue---" Raksa menghentikan gumamannya.
"Mau nunggu di parkiran?" tanya Rahmi.
"Hah?" pria itu naikin satu alis nya.
"Di parkiran atau di lobby?"
"Lobby aja! parkiran gelap," kata Raksa yang jalan mendahului mantan pacarnya.
"Lo nggak takut kalau ada gosip---"
"Nggak, kan kita nggak ada hubungan apa-apa. jadi bebas aja sih, mau duduk di lobby atau di rooftop sekalipun. Lagian sebenernya gue nggak pernah mempermasalahkan itu..." kata Raksa datar.
"Oh..." lirih wanita yang mencoba menyamai langkah Raksa.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya duduk di sofa lobby kantor. sambil nunggu si jangkung jemput Tania. Tapi kok yang ditungguin kagak nongol-nongol juga batang hidungnya.
Dalam hati Raksa dongkol banget, 'Si farid jemput Tania di Maroko apa di Zimbabwe? lama bener?!!!'
Lantas dia ngotak atik hapenya dan bilang, "Lo kalau kelamaan gue tinggal! gue ada urusan lain setelah ini!" ucap Raksa di telepon.
Rahmi terpaku dengan gerakan rahang tegas Raksa yang naik turun saat dia ngomelin Farid di telepon. Dia terus memperhatikan setiap kata yang terucap dari mulut mantan pacarnya itu.
Raksa pun menutup teleponnya dan diam sesaat sebelum bilang.
"Gue duluan, Farid di atas malah pacaran!" Raksa pun bangkit namun dicegah sama Rahmi.
"Gue ikut!" kata wanita itu.
Raksa pun nengok dan ngeliat ke arah lengannya yang dipegang mantan pacarnya itu.
Rahmi melepaskan tangannya, "Maksudnya, gue ikut ke parkiran! gue takut nunggu disini sendirian. Udah sepi..." kata Rahmi.
Tapi Raksa nggak ngomong apa-apa. Dia berdiri lalu ngantongin hapenya lagi dan pergi menuju parkiran karena Farid yang tadi bilang nyuruh nungguin ternyata malah jadinya nemenin Tania lembur. Sebenernya emang farid sengaja ninggalin Raksa sama Rahmi, supaya mereka bisa ngobrol gitu. Kan makin sering ketemu, makin baik kata Tania. Pokoknya Tania bilang kalau Raksa dan Rahmi belum deket lagi, dia juga nggak mau ngejawab perasaan Farid.
"Emang sadis banget cewek kalau udah ada mau nya!" gumam Farid saat duduk nggak jauh dari Tania.
"Lo ngomong apaan, Rid?"
"Ngomong apa? nggak, gue nggak ngomong apa-apa. Gue cuma ngedumel doang. Ini kenapa cuma lo yang disuruh lembur?" Farid ngeles.
"Lembur? ya nggak juga. Gue cuma ngerjain kerjaan buat besok, biar gue agak nyantai aja!"
Ggggubbrraaakkkkk!!
"Raksa gimana? mereka pulang bareng apa gimana?" tanya Tania.
"Ya mana gue tau. Kan gue disini sama lo!" sahut Farid.
"Kan tadi Raksa nelpon lo, Rid!"
"Kan dia nelpon cuma mau ngomel doang! kagak ngasih tau juga, dia bakalan blik sama Rahmi atau nggak. lagian, menurut gue udah susah nyatuin mereka. Dari gelagatnya aja udah keliatan, kalau Raksa udah move on! ngeliat dia sedih aja nggak pernah," Farid ngelus janggut nya.
"yang gue inget malah, dia uring-uringan banget pas tau tunangan bocil nya itu sempet ilang. Nah, itu gue baru tuh ngeliat Raksa panik begitu!" lanjut farid.
Tania matiin komputernya. Dia sedikit nmemutar kursinya supaya bisa ngeliat ke arah Farid.
"Kata lo dia tunangan karena paksaan dari orang tua?" Tania mastiin.
"Ya emang! Raksa sendiri yang bilang sama gue, tapi kan seiring berjalannya waktu---"
"Itu nggak boleh sampai terjadi! kita harus bergerak cepat, Farid!"
"Ini kenapa gue yang jadi ribet, yak? Tania Tania, perasaan gue kek yang lo urusin, jangan si Rami sama Raksa mulu sepi nih hati gueeeeee!" Farid ngenes.
Sreeeeettt!!!
__ADS_1
Tania menggeser kursi beroda nya hingga nempel dengan kursi yang di duduki Farid.
"Syuuuuttt?!!" Tania menempelkan telunjuknya di bibir Farid.
Wajah mereka sangat dekat. Jari tangan Tania dengan kuku panjang yang dicat berwarna nude pun mengusap lembut pipi sang pria.
"Soal kita mah gampang. Tapi kalau mereka? harus ngelewatin halang rintang ini onoh ini onoh banyak banget! jadi, sebagai teman yang baik, kita harus bantu mereka? ngerti?" Tania dengan suara yang berat.
Farid ngangguk, kayak habis kena hipnotis.
Sreeeetttt!
Tania menggeser kursi nya menjauh.
"Kita pulang sekarang, karena gue udah pengen mandi!" kata Tania.
Sementara Raksa pulang nggak bareng sama Rahmi. Lagian, Rahmi kan bawa mobil ke kantot. Mereka aja parkir di lantai yang berbeda.
Raksa pulang setelah langit udah berhias bintang. Jalanan macet luar biasa, hal yang lumrah terjadi di jam pulang kantor. Dan itu yang bikin Raksa mikir-mikir lagi buat beli mobil. Lagian mau ditaruh dimana? Digarasi tetangga? Lha wong garasi rumah nya cuma muat satu mobil, itu juga udah buat jadi tempat boboknya mobil bapaknya. Nggak ada space lagi udah. Motor dia sama motor punya Nova aja himpit-himpitan.
Raksa nggak sadar kalau sedari tadi dia diikuti oleh sebuah mobil yang membawa hati yang tercabik karena sikap dingin sang mantan.
'Apa gue masih punya kesempatan itu, Sa? kalau iya, apa gue bisa bikin lo balik lagi sama gue?' batin wanita yang ngeliatin Raksa yang lagi berhenti di lampu merah.
Drrtttt!
"Mama?" Rahmi menautkan alisnya.
Dia mengangkat telepon itu.
"Halo, ya Mah?"
"Kamu dimana? lagi lembur di kantor?" tanya mama Rahmi.
"Nggak, Mah! ini lagi di jalan, mau pulang!" mata Rahmi masih mengawasi Raksa.
"Ada Pandu di rumah! kamu cepetan pulang ya?" kata mama.
Ting!
Lampu hijau, semua kendaraan mulai jalan lagi.
"Udah dulu ya, Mah! Rahmi lagi nyetir!" Rahmi pun menutyp telepon itu secara sepihak.
Tiiinnnn!
Tiiiinnnn!
Suara klakson.
Wanita itu pun segera menginjak pedal gas nya dan melesat bergabung dengan kendaraan lain di jalan satu arah itu. Namun sayangnyabdia kehilangan jejak Raksa.
__ADS_1
"Huuufhhh, kan? udah nggak ada..." Rahmi mencelos saat matanya udah nggak menemukan sosok Raksa.
Dia nggak sadar kalau dia udah kehilangan sosok itu sejak lama.