
Untungnya Kalin mikir kalau, dia nggak perlu dandan yang berlebihan cukup pakai dress semi formal dengan rambut yang digerai gitu aja dan polesan make up alakadarnya. Dan ternyata bener, raksa juga pake kemeja yang dilingkis.
"Huuufhh, untung aja gue nggak pake yang aneh-aneh!" gumam Kalin saat keluar menemui tunangan yang menunggu sambil sesekali bercengkrama dengan sang calon mertua.
"Ehm!" Kalin berdehem.
"Eh, baru aja diomongin, udah nongol aja! panjang umur kamu, Kalin!" ucap ayah Diki.
Raksa terpana ngeliat si bocil yang tampak cantik dengan dress dibawah lutut yang nyaman dipandang. Nggak ada yang bakal mengira kalau si bocil ini menyebalkan dan menjadi sumber masalah bagi pasangannya.
"Udah malem! sebaiknya kami berangkat sekarang Om, tante!" Raksa seketika tersadar dan menyalami kedua orangtua Kalin.
Kesopanan Raksa yang membuat ayah maupun bundanya Kalin ngerasa udah tepat menjodohkan anaknya dengan pria yang jauh lebih matang dari anaknya. Mereka nggak tau aja kalau kedua orang itu lebih banyak berantemnya daripada akurnya.
"Kalin berangkat, Yah ... Bun..." Kalin ikutan meraih tangan orangtuanya satu persatu.
Raksa berjalan beriringan dengan kalin menuju sebuah mobil. Mobil milik pak Hendra yang sengaja dipinjam Raksa buat jemput tunangannya.
"Gue kira naik motor!" gumama Kalin saat dibukain pintu dan dia masuk ke dalam mobil itu.
Raksa segera memutar dan ikutan masuk ke dalam kendaraan yang akan memabwa mereka ke suatu tempat.
"Ya kali gue ngajak lo angin-anginan?!" sahut raksa setelah menyalakan mobil.
"Betewe, lo ... ehm, cantik banget!" Raksa menengok ke arah samping.
Yang dipuji pun hatinya langsung berdebar, pipinya mulai memanas saat ucapan yang keluar dari pria disampingnya membuat hatinya berflower-flower seketika.
Tanpa ragu Raksa menyentuh satu sisi pipi Kalin dengan tangannya, mengagumi pahatan indah yang tuhan ciptakan untuk Kalin.
'Gilaaaakk, nyentuh dia kayak gini aja bikin gue hampir kejang-kejang!' Raksa dalam batinnya.
Wajahnya mendekat.
"Kita lagi di depan rumah gue kalau lo lupa! dan itu pak Abdul nungguin kita keluar..." Kalin nunjuk ke depan.
Ada pak Abdul yang berdiri disisi gerbang, nungguin si tamu pergi membawa anak majikannya.
"Lo belum pasang sabuk pengaman kalau lo lupa! jangan mikir gue bakal cium lo!" kata raksa.
__ADS_1
Klik!
Dia memasangkan sabuk pada Kalin dengan benar, sedangkan Kalin yang mikir kalau Raksa bakal nyosor pun malu.
'Astagaaaa, kenapa gue mikirnya sampai kesitu?!! kepedean banget lo Kaliiiiiin!' kalin merutuki kebodohannya.
Padahal, emang niatan Raksa mau nyosor tapi berhubung kata Kalin ada pak Abdul jadi dia urungkan niat itu dan mencari alasan lain kenapa dia harus sedekat itu dengan Kalin. Meskipun kaca nya agak gelap tapi kalau dari depan mah samar-samar keliatan. Raksa puter otak dan nemu lah sabuk pengaman yang belum terpasang di badan bocil yang duduk disampingnya itu
'Padahal tadi sedikit lagi!' Raksa yang ngedumel.
"Kita berangkat!" ucap Raksa saat kakinya mulai menginjak pedal gas.
Mobil itu pun keluar menuju jalan raya. beberapa kali Farid kirim chat, dia bilang beberapa temen udah nyampe. Tinggal nunggu bos baru yang bakal bayarin mereka.
Raksa ngasih hapenya ke Kalin, "Tolong balesin ke Farid. Bilang kalau kita lagi otewe,"
Kalin pun ngedip-ngedip, dia pegang hape milik Raksa. Dengan rasa canggung, Kalin pun mengetik balasan untuk Farid, persis seperti apa yang disuruh Raksa tadi.
"Udah?" tanya pria itu, seseklai menengok.
"Udah!" sahut Kalin.
"Nih?" Kalin ngasihin benda pipih itu namun Raksa menolaknya.
"Pegang dulu, lagi nyetir gue!"
Sesaat mobil mereka harus berhenti saat lampu merah menyala. Raksa pun menarik rem tangannya sembari menunggu 60 detik berlalu.
Dengan kecepatan cahaya.
Badan Raksa terjulur ke arah kiri, dia memegang pipi Kalin dan mendorongnya mendekat.
Cup!
Entah dorongan darimana, dia mengecup pipi gadis itu. Sontak Kalin kaget dan memerah seketika, dia salting. Raksa mengendus pipi itu dengan gemas, seperti mencium bayi yang gemoy.
Dan seeeeettt!
Tatapan Raksa nggak sengaja bertabrakan dengan seseorang yang berada dalam satu mobil berwarna merah. Dengan kaca yang transparan, raksa dengan mudah mengenali siapa pengemudi yang posisinya berada di sebelah kiri mobilnya.
__ADS_1
'Rahmi?' batin Raksa yang sedikit kaget.
Dia memundurkan badannya lagi.
Ting!
Lampu hijau pun menyala, dia segera menekan gas di kakinya. Sementara raksa sempet ngeliat ekspresi wajah Rahmi yang datar.
'Nggak mungkin dia liat! kaca mobil bokap riben! jadi nggak mungkin keliatan dari luar,' Raksa dalam hatinya.
Sementara Kalin menatap lurus ke depan, dalam hati dia berkata. 'Nggaragas amat jadi orang! gue tau gue cantik! tapi gue bukan bayi yang setiap saat harus dia cium!'
Rahmi yang sedari pulang kantor ngikutin kemana Raksa pergi pun sempat menebak bayangan aneh dari kaca mobil yang ditumpangi mantan pacarnya itu.
"Tadi dia ngapain? kenapa kayaknya ada pergerakan dari badannya Raksa?" Rahmi seketika menjaga jarak aman mengintainya.
"Ataga, kenapa gue tadi kebablasan! harusnya gue tetep berada di belakang mobilnya bukan di samping mobil Raksa! ck, kalau kayak gini, dia pasti tau kalau gue ada disitu!" Rahmi memukul stir mobilnya.
Sementara Raksa yang tadi sempet ngeliat ada mobil mantan pacarnya pun, refleks ngeliat ke kaca spion depan.
Dia mencoba ngecek, apakah mobil Rahmi ngikutin dia atau nggak.
'Shiit! ketutupan mobil lain!' umpatnya dalam hati.
Namun ketika dia ngeliat ke arah spion lagi, dia ngeliat kalau mobil merah itu ternayta berjalan serarah dengannya dan itu berarti kemungkinan besar mobil Rahmi sedang mengikutinya saat ini.
'Tapi buat apa?' tanya Raksa dalam hatinya lagi.
Sementara Kalin yang ngerasa kalau Raksa mulai agak ngebut pun menjadi heran, "Ini mau balapan apa gimana? gue nggak mau celaka. Masa depan gue masih panjang!" Kalin ngingetin.
Raksa yang tadinya terbawa suasana pengen kabur dari intaian Rahmi pun nengok ke arah Kalin, "Sorry, tapi kita udah ditunggu!" ucapnya.
"Ya tapi jangan ngebut juga, gue takut!" Kalin terlihat cemas.
"Bukannya lo suka ngebut?! kalau gue pakai motor, nggak pernah lo protes!"
"ya kan kalau keadaan terdesak suasananya beda! kalau di dalam ruang tertutup kayak gini ya agak ngeri juga gue. Mana malem juga, nggak begitu keliatan di luar ada apaan!" jawab Kalin, tangannya memegang sabuk pengaman.
Raksa pun lantas memperlambat laju kendaraannya, "Iya iya maaf!" ucapnya dengan sesekali mengawasi mobil yang ada di belakangnya.
__ADS_1
'Buat apa lo ngikutin gue? nggak mungkin kan ketemu lo di jalan sebuah ketidaksengajaan?' Raksa dalam hatinya.