Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Tania lagi


__ADS_3

Entah angin galau mana yang bawa Farid dateng sepagi ini ke kantor, Raksa ketemu tuh orang persis saaat dia habis setor mukia sama mesin absen.


"Kayaknya ada yang mau dipromosiiin neh, berangkatnya pagi mulu!" Farid nyeletuk.


Raksa nengok, dia liat temennya udah ada di belakangnya.


"Promosiin apaan?! ngarang banget jadi orang?!"


Farid ngelakuin hal yang sama dengan Raksa pada mesin absen, dia deketin mukanya sebelum akhirnya mesin itu bisa mendeteksi siapa orang yang berdiri di depan kamera.


"Ya lo lah!" kata Farid cengengesan, berbalik dan mendekat pada sahabatnya.


"Dalam rangka apa gue dipromosiin?"


"Dalam rangka awal bulan!" sahut Farid.


"Jangan bikin gosip lah!" Raksa ngeloyor menuju lift, ninggalin Farid yang kini ngejar dia.


"Hahhaha, aturan lo senneg. Minimal diaminin! ini malah sewot, gimana sih lo?"


"Ya kalau orang denger nanti nyangkanya malah serius, bahlul! gue gue juga yang malu, dikira halu!" ucap Raksa.


Dan ting!


Kedua pria yang tampan dengan pesonanya masing-masing itu pun masuk ke dalam kotak besi yang sama. Farid inisiatif mencet tombol, dan pintu lift pun tertutup.


"Tapi gue penasaran kenapa lo berangkat sepagi ini," Farid sambil ngecekin jam tangannya.


"Kenapa? berangkat pagi salah, berangkat siang kena tegur? jangan-jangan gue napas aja salah?!" celetuk Raksa kesal.


Ting!


Lift yang membawa mereka ke atas pun terbuka. Kedua cowok ganteng ini pun keluar dengan gagahnya, masing-masing memiliki auranya tersendiri.


Belum baru beberapa langkah, mereka ketemu sama satu sosok wanita. Kalau Farid pasti paham banget siapa wanita ini.


"Tania?!!" panggil Farid.


Wanita yang lagi ngomong sama salah satu office girl pun nengok debgab ekapresibyabg kaget.


"Nanti aja deh kalau gitu!" ucap Tania pada si office girl.


Tania berbalik dan berjalan mendekat pada Farid.


"Loh pagi-pagi dah disini, pasti mau nyari gue ya?" Farid debgan pedenya.


"Ehm, iya? heheheh," Tania senyum tapi matanya agak beda, macam orang yang mau nyolong tapi ketauan duluan.


"Ck ck ck, ada apa ada apa?!" mata Farid beralih pada kotak makanan yang hampir selalu ada di emja Raksa dan kini kotak iru dipegang Tania.


"Itu pasti buat gue ya?!" lanjut pria jangkung itu.


"Hah?" Tania bengonf sepersekian detik.


"Oh iya? hem, nih gue sengaja bawain buat lo!" lanjut Tannia, dia senyum lagi.


Raksa ngelirik sekilas apa yang dibawa Tania, dia kemudian menyela pembicaraan dua manusia ini, "Gue masuk duluan ya? bae-bae loh berdua!"

__ADS_1


"Ini kesempatan lo!" bisik Raksa dia menepuk bahu Farid.


'Semangat!' lirih Raksa sambil berjalan menuju ruangannya.


Sedangkan Tania, dia sempet ngeliatin punggung Raksa yang makin menjauh dari nya.


'Astagaaa, apa yang harus gue lakukan? ancur kan rencana gue kalau kayak gini!' batin Tania.


"Yuk?" ajak Farid.


"Kemana?" Tania nautin alisnya.


"Sarapan bareng!" Farid pun menggandeng wanita itu menuju kantin di gedung itu.


Sedangkan Rahmi melihat adegan tadi dari jauh.


'Astagaaa, beneran kan Tania suka sama Raksa. Kenapa gue jadi ngrecokin gini sih? huuufhhhh," Rahmi membuang nafasnya, ada rasa cenat-cenut di dalam dadanya saat ini.


'Tapi kan Raksa udah punya tunangan. Tania udah tau itu. Atau jangan-jangan dia lanjut pedekatenya sampai dititik dimana dia harus menyerah?' Rahmi nyenderin badannya di tembok. Dia masih bersembunyi.


Dia nggak sadar kalau dirinya melakukan hal yang sama. Memberi perhatian secara diam-diam pada pria yang udah punya pasangan.


Setelah dirasa aman, Rahmi pun diam-diam menuju lift dan kembali ke ruangannya.


Sedangkan Raksa sendiri, dia duduk di mejanya tanpa ditemani box makanan yang biasa ada di mejanya. Tuh makanan udah digondol Farid.


Suasana masih sepi, dia duduk ngeluarin dua hape yang hampir mirip bentukannya, lalu dia nyimpen tas kecilnya di laci.


Klik!


Raksa memencet tombol on.


Raksa mengambil hapenya sendiri dan memotret hape yang ada di tangannya.


'Anjirrr, kayaknya otak gue mulai konslet!' Raksa geli sendiri dengan apa yang barusan dilakuinnya.


Pas mau ngehapus, ada suara yang ngagetin dia.


"Tumben jam segini dah ngantor?!" Siska yang kemudian duduk dan lepasin tas nya.


Raksa buru-buru masukin hape miliknya ke dalam kantong celana, sedangkan hape punya Kalin ada di tangannya.


Siska nurunin nautin kedua alisnya, "Casing hape lo unyuk banget?!"


Raksa pun ngelirik hape yang ada di tangannya, 'Astaga, gue aalah ngantongin hape!'


"Ehm, iya! hape gue ketuker sama adek gue! ketuker pas tadi sarapan di rumah, salah ambil hape!" Raksa terpaksa berbohong.


Lagipula, kalau pun dia bilang itu hape milik tunangannya pun kayanya nggak masalah. Tapi entahlah, Raksa seakan masih menyembunyikan pertunangannya itu dengan si bocil.


'Ck, kenapa juga gue harus bohong?' batin Raksa.


Ngeliat ada berbagai macam kue yang Siska bawa, Raksa pun akhirnya basa basi sambil ngumpetin hape Kalin di sakunya yang sebelah kiri.


"Belum sarapan?" tanya Raksa.


"Iya, gue buru-buru..." lirih Siska.

__ADS_1


"Hem, nih ambil kali aja ada yang lo pengen!" Aisa mengambil kotak dari box kertas, dia todongin itu box ke depan Raksa.


Raksa nggak nyangka kalau basa-basi nya malah dianggep serius sama wanita utu.


"Hem, gue ini aja! thanks!" Raksa ngambil satu kue lemper.


"Oke," Siska naruh lagi box di atas mejanya.


Raksa pun membuka makanan yang dilapisi daun pisang itu. Rasanya manis gurih, seperti lemper pada umumnya.


"Air!" tangan Siska kemudian nyelonong, nyodorin air mineral berbentuk mini.


"Astaga, lo bikin gue kaget!" Raksa mengusap dadanya.


"Thanks anyway!" Raksa nerima botol minuman yang masih tersegel itu.


Siska nggak jawab, dia majuin lagi kursinya sampai mukanya nggak keliatan lagi karena terhalang pembatas kubikel.


Sedangkan Raksa bergumam sendiri dalam hatinya, 'Aneh banget tuh orang?!'


Baru selese makan itu lemper, ada chat WA masuk di hapenya.


Raksa rogoh sakunya dan baca siapa yang ngirim WA sepagi ini.


"Om Diki?" Raksa pun mulai membaca pesan yang diterimanya.


Nanti sore ke gym lagi! Om tunggu.


Raksa pun mengetik...


Siap, Om!


Sambil scroll-scroll chat, ternyata ada chat dari Farid.


Gue bahagia banget!


Raksa yang baca pun cuma bisa geleng-geleng kepala. Dalam hatinya sih bersyukur Farid nggak tau kalau kotak makanan yang dia kira di sengaja dibuatkan Tania buat dia, ternyata sebenernya ditujukan bua Raksa.


Pria itu pun mulai fokus pada pekerjaannya yang seakan semakin hari semakin banyak.


"Gue mau mulai darimana coba?! huufhhh?!" Raksa menghbuskan nafasnya kasar.


Sedangkan di tempat lain.


Kalin lagi ngerjain soal demi soal yang nggak terlalu sulit buat dia jawab. Sesekali ekor matanya melirik saat ada yang memanggilnya dengan kode, hembusan nafas.


Gimana caranya, sebuah hembusan nafas menjadi sebuah kode buat nyontek ke temennya yang pinter di ruangan itu.


Kalin ngeliat orang yang paking dekat dengannya memberi kode soal yang mereka tanyakan.


Krekk!


Kalin ngelus rambutnya sebagai kode jawaban untuk 'C'


Baru mau baca soal ada aja yang nanya, Kalin nggak bisa mengabaikan itu. Karena pasti mereka akan bilang kalau Kalin pinter tapi pelit, egois maunya lulus sendiri dan mereka bakal ngejauhin dan musuhin orang yang dianggap nggak setia kawan.


Dia mulai fokus lagi dan mencoba mengabaikan bisikan-bisikan ghoib minta jawaban.

__ADS_1


'Sorry, keadaan nggak memungkinkan!' batin Kalin, saat salah satu pengawas lagi ngider dan dia berhenti tepat di samping tempat duduk Kalin.


__ADS_2