
Tentu saja kabar kehamilan Kalin ini dengan cepat menyebar ke telinga keluarga. Terutama Oma yang sangat mnenantikan kehadiran cicit selama bertahun-tahun. Untungnya Oma Nilam datang setelah nenek dan kakek Dewangga pergi. Kalau nggak? bisa jadi ada peperangan kedua setelah tadi mereka sempat adu mulut di ruang kerja ayah Diki.
Hanya ayah dan bunda yang bertahan sampai malam. tentu beribu pujian Oma layangnkan buat ibu mertua Kalin yang selalu konsisten memberikan apa yang diamanahkan padanya.
"Sekarang kamu bisa lihat? hasilnya sangat nyata, kan?" kata Oma Nilam.
"Kamu memang bisa diandalkan, Selvy!" lanjut Oma memuji ibu mertua Kalin.
Bu Selvy banjir pujian, sementara bunda dan ayah kayaknya dicuekin sama Oma.
"Maaah, udah dong marahnya sama Lia, Maaaah..." ucap bunda yang nggak kuat didiemin terus-terusan sama ibu kandungnya.
Akhirnya Oma Nilam pun tergerak hatinya untuk berdamai dengan anak dan menantunya.
"Mama akan maafin kamu tapi syaratnya harus di rumah tidak boleh bekerja," kata Oma.
"Kalau itu terserah kali mah kita nggak mungkin mengatur semua kehidupan kalian biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan asalkan ada tanggung jawab dan persetujuan dari suaminya," kata bunda.
"Kamu mau mulai lagi?" tanya Oma.
"Ampun, Maaaaa...." ucap bunda Lia.
"Sudah lah, Mah... ini Rumah Sakit kita nggak boleh bikin keributan di sini Nanti yang ada kita diusir," ucap tante Atha.
Raksa dan Kalin hanya bisa diam mendengar mereka berdebat sesuatu yang menyangkut kehidupannya. Sedangkan Ayah Diki hanya diam nggak mau ambil pusing, dia takut kalau ibu mertuanya akan semakin marah padanya.
"Mending kita cari aman dan nggak usah ikut-ikutan!" kata ayah yang mengajak pak Hendra untuk keluar.
"Kalau kamu bagaimana, Raksa? Apa kamu akan mengizinkan kalian untuk bekerja?" tanya Oma pada cucu menantunya.
"Melihat kondisinya sekarang mungkin ada baiknya kalau Kalin di rumah dulu. Kamu setuju kan, kan?" Raksa melihat ke arah istrinya.
"Apalagi, baru saja terjadi kejadian seperti ini. Ada baiknya Kalin di rumah, dan banyak istirahat..." ucap Raksa yang diangguki istrinya. Kali ini Kalin nggak mau membangkang.
"Kalau begitu Bagaimana jika kamu menggantikan posisi Kalin di perusahaan?" tanya Oma yang random banget kemauannya, maklum kalau orang sudah sepuh mungkin begitu, semua ingin dituruti.
"Suami kamu mana, Lia?" tanya Oma yang nggak ngeliat menantunya.
Semua orang nyari keberadaan ayah Kalin, tapi sepertinya ayah sudah mebghilang bersama dengan pak Hendra.
"Perasaan tadi masih disini?" bunda Lia bergumam sambil matanya mencari keberadaaan sang suami.
Bukan hanya Bunda Lia yang mencari keberadaan Ayah Diki tapi Ibu Selvy juga, dia baru sadar kalau suaminya juga nggak ada di situ.
"Mungkin mereka tadi keluar mencari kopi," ucap bu Selvy.
__ADS_1
"Baiklah kita abaikan menantuku Diki! Jadi bagaimana Raksa? apa kamu mau menggantikan posisi istrimu di perusahaan?"
Raksa dan Kalin saling pandang.
"Sebenarnya Ayah Diki sudah Pernah menawarkan Oma rasanya saya belum pantas di posisi itu," kata Raksa.
"Apa yang membuat kamu tidak pantas? kamu itu suaminya Kalin, suami dari cucuku!"
"Oma, mas Raksa ini punya prinsip 3M, tidak Mau Mengandalkan Mertua. Jadi kayaknya susah buat seorang mas Raksa menerima bantuan dengan cuma-cuma. Karena selama nemenin Kalin di luar negeri, mas Raksa itu bekerja banting tulang buat menuhin kebutuhan hidup kita berdua. Dia nggak mau pakai duit ayah---"
"Syyuuut, Kalin?!" mata Raksa membulat, dia nggak mau Kalin membocorkan rahasia mereka.
"Jadi Oma Mas Raksa ini orangnya Mandiri dan nggak mau mengandalkan harta dari mertua. Dia lebih milih merangkak dari nol, daripada harus merasakan sesuatu yang instant! orangnya keras kepala, dan susah menerima bantuan orang!" lanjut Kalin, dia sengaja memperlihatkan sisi lain dari Raksa, yang membuat Bu Selvy bangga mempunya anak yang nggak mata duitan.
"Dia jauh dari kata mata duitan Oma..." Kalin membuat semua orang tertawa.
"Menerima jabatan bukan berarti mata duitan, Raksa!" ayah Diki tiba-tiba masuk.
Ayah yang awalnya mau keluar dan menghindar dari pembicaraan yang menegangkan ini akhirnya harus nurut buat balik lagi.
"Sejak kamu menikah dengan Kalin, sejak itu juga kamu menjadi anak kami!" kata Ayah.
"Ini posisi penting daripada diberikan kepada orang lain, lebih baik kamu yang menempatinya. Bantu Ayah mertuamu mengelola perusahaan itu supaya menjadi lebih besar dan berjaya! coba pikirkan lagi Raksa,"
"Semua keputusan ada pada kamu, tapi kalau kamu mau masuk dan membantu ayah. Ayah akan sangat berterima kasih..." lanjut ayah Diki.
"Sudah malam, sebaiknya kita semua meninggalkan rasa dan kalian supaya mereka bisa istirahat," kata tante Atha.
"Padahal Oma masih ingin sekali disini, tapi yang ada kalian nggak bisa tidur. Sehat-sehat ya, Sayang..." kata Oma yang memegang tangan cucunya.
"Tante pulang dulu ya, Raksa? Kalin?" ucap tante Atha.
"Hati-hati ya, Oma..."
Dan bukan hanya Oma dan tante Atha yang pergi, tapi semua orang juga ikutan pergi, termasuk bu Selvy dan pak Hendra.
"Kalay butuh sesuatu, cepet telfon bunda!" bunda Lia yang mengusap kening anaknya, sebelum pergi.
"Iya, Bun..."
"Kami pulang!" ucap bunda.
"Kamu lagi sakit! jangan jelalatan Raksa!" pesan bu Selvy.
"Siap, Buuuk?! masa iya jelalatan, kepala aja lagi benjol kayak gini!" seloroh Raksa.
__ADS_1
"Bapak sama ibuk pulang dulu!" kata pak bu Selvy.
"Hati-hati, Buuuk!" ucap Raksa.
Dan seketika suasana yang tadinya ramai kini menjadi sepi hanya ada Kalin dan Raksa di ruangan itu.
"Mas..." panggil Kalin.
"Hem? kenapa?"
"Kamu nggak pengen?"
"Kamu lagi sakit masa iya aku pengen?" celetuk Raksa, dia naik turunin alis. Sengaja dia tiduran menyamping.
"Ck! itu mas tidur miring kayak gitu nggan kenapa-napa?"
"Emang kenapa?" Rakaa memutar bola matanya, dia mikir.
"Takut agak konslet otaknya!" ucap Kalin.
"Kok konslet, sih? malah tiduran kayak gini kan kealaku yang kena batu jadi nggak ketekan, plus dapet pemandangan indah di depan sini!" Raksa mengombal.
"Jangan-jangan kamu liat aku pakai baju pasien kayak gini? bikin kamu jadi pengen?"
"Iya, pengen nimpuk!" serobot Kalin.
"Maksudku pengen, bukan pengen yang ada di pikiran kamu, Mas! tapi kok aku jadi pengen makan yang seger-seger..."
"Makan yabg seger-seger? emang boleh? kamu kan lagi sakit. Maksudku kita..."
Kalin mencebikkan bibirnya, dia merengut.
"Udah malem, Kalin! lagian pengen apa? bukannya makanan itu banyak banget? dibawain tuh sama Oma..." Raksa menunjuk meja yang penuh dengan makanan.
"Tau ah!" Kalin membalikkan badannya, dia membelakangi suaminya.
"Dih kok ngambek, sih Cil?" Raksa memanggil istrinya.
"Sayang?!!"
Tapi Kalin nggak mau bergeming.
"Kalin? kamu pengen apa?" tanya Raksa.
"Nggak usah!"
__ADS_1
"Oh nggak usah? ya udah kalau gitu!"
Dengan muka yang ditekuk, Kalin berbalik, "AKU PENGEN SEBLAK MAMANG RAFAAAEEEEELLL!" suara Kalin bikin kuping Raksa ngang ngung ngang ngung seketika.