
Buru-buru, Raksa yang biasanya nggak ikut makan siang. Ini malah ngibrit duluan sebelum yang lain pada turun ke kantin. Farid yang ngeliat Raksa keluar ruangan pun cuma naikin alisnya.
"Tumben keluar?" gumam Farid yang kemudian bergerak ke mesin fotocopy.
Sedangkan Raksa langsung keluar menuju lift, disana dia papasan sama Tania.
"Buru-buru banget, mau kemana lo?" tanya Tania yang entah ada keperluan apa kok ada di lantai yang sama dengan Raksa.
"Farid ada di ruangannya!" sahut pria itu yang kini hilang saat pintu besi itu tertutup.
"Huuuuwfhhh," Raksa buang napas, jantungnya deg-degan saat tau dia disamperin sama tunangannya yang masih bocil. Antara takut dicengin dan kepo kenapa tuh anak sampai dateng ke kantornya, heran aja gitu.
Pria yang gantengnya nggak kaleng-kaleng itu pun ngeliat angka yang bergerak-gerak menunjukkan lantai yang udah dilewatinya sampai akhirnya pintunya kebuka saat dia sampai di lantai lobby.
Raksa langsung keluar dan nyariin tuh bocil ke sekeliling arah, "Itu dia!" Raksa mendekat ke arah sofa tunggu.
Sedangkan Kalin, lagi ditemenin sama satu cowok yang kalau diliat sih itu bocah magang dari divisi marketing. Keliatan dari kalungĀ ID cardnya yang beda sama dia. Kalin ketawa-ketawa,sampai nggak nyadar kalau Raksa udah ada di depannya, saking leher nengok ke samping mulu.
"Ehenmm, Kalin!" Raksa berdehem.
Kalin yang dipanggil lantas nengok, "Eh, Mas Raksa!" dengan senyuman yang sama yang dia kasih ke cowok yang disebelahnya. Kalin berdiri, begitu juga si cowok dengan rambut yang ditata rapi dan baju yang pas body.
"Oh, ini kakaknya? ya sudah aku kerja dulu ya, Kalin. Sering-sering main kesini," kata cowok tadi.
'Sering-sering main?!! emang ini perusahaan nenek moyang lu?!!!" batin Raksa.
"Daaahh kak Bimaaa! maksih ya udah ditemenin!" Kalin lambaikan tangannya.
Hap.
Tangan Kalin ditangkap raksa supaya nggak dadah-dadah mulu.
"Ih, kenapa sih?" tanya Kalin.
"kenapa-kenapa?! Lo yang kenapa?!!" Raksa jutek seketika.
Satu sudut bibir Kalin naik satu, dia ngelirik sinis pada tunangannya.
Raksa yang ngeliat Kalin yang cantik dengan over all yang dipakainya pun akhirnya mennayakan, "Ngapain ke sini? ini kantor bukan tempat bermain?!"
"Kalau bukan disuruh bunda, gue juga ogah kesini. Udah dateng bukannya disenyumin malah dijutekin," Kalin setengah nyindir.
__ADS_1
"Terus itu buat siapa?" tanya Raksa, yang ngeliat satu tangan kalin membawa sesuatu.
"Makan siang, dari bunda..."
"Dari lo kali?!" Raksa nuduh, tapi tangannya menerima pemberian Kalin.
"Dihhh, mana ada gue punya kepikiran buat ngirimin lo makan siang?! enakan juga di rumah, nonton drakor!"
"Terus ini kenapa isisnya dua kotak? hem?" Raksa naikin alisnya.
"Emang dua? nggak tau gue. Nggak ngecek!"
"Ini loh, kotaknya dua susun begini!" Raksa kemudian duduk diikuti sama Kalin.
"Kotak susun?" gumam gadis itu.
Raksa kemudian membuka jinjingan yang kini diletakkan di paha nya, "Lo sengaja kan bawa dua supaya bisa makan sama gue?" Raksa dengan pedenya.
"Ini bukan dua kotak, ini namanya mini rantang. Udah modern jadi tempatnya ya kayak gini. Dua susun itu satu buat nasi, atasnya baisanya lauk! kayak gitu aja nggak tau!" kata Kalin.
"Ck, dasar bocah nakal!"
"Rahmi?" gumam Raksa.
Mungkin karena Raksa yang agak mojok, jadi dia nggak begitu keliatan. Tapi dia sendiri bisa ngeliat dengan jelas siapa saja yang keluar masuk di pintu utama yang segede gaban itu.
udah nerima pesanan makanan, Rahmi berbalik dan ketemu lah sama mas Pay. Raksa perhatiin bungkusan pesanan itu.
"Jadi yang kirimin gue soy milk itu Rahmi? pantesan, kok dia tau banget kalau gue lagi nggak makan suka minum soy milk! tapi buat apa? bukannya dia nggak peduli lagi sama gue?" gumaman Raksa kedengeran di telinga Kalin.
"Ehemmm?!!" Kalin ngebales berdehem, kayak Raksa pas ngeliat Kalin duduk sama cowok lain.
Pria itu sontak ngeliatin tunangannya, "kenapa?"
"Kenapa?" Kalin balik tanya, tapi nadanya ngeselin di telinga Raksa.
Mereka akhirnya makan di luar. Nggak di kantin, nanti disana heboh ada bocil masuk kantor. Jadilah Raksa ngajak Kalin buat makan di cafe gitu yang lumayan deket sama kantornya. Tapi tetep ya sebelumnya dia ijin sama pak Abdul, takutnya tuh supir nyariin anak majikannya yang keluyuran di kantor orang dan nggak balik-balik.
Dan sekarang Raksa ngeliatin bocah yang belum kenalan sama pensil alis, "Nggak sekolah?"
"Lagi hari tenang!"
__ADS_1
"Hari tenang kok kelayaban?!" tanya Raksa.
"Nganterin titipannya bundaaaaa, bukan gue yang mau! kan gue udah jelasin!" Kalin mrengut.
Raksa nahan ketawa doang, ngeliat Kalin yang manyun-manyun kayak ikan chupank. Sedangkan Kalin yang dipesenin smoothies pun nyedot minumannya dengan penuh tenaga, haus banget soalnya.
Raksa ngebuka rantang makanan yang sama sekali nggak mirip rantang.
"Nasinya kayak porsi kuli ini mah?!" Raksa komentar. Sedangkan Kalin main budek aja dia.
"Nasi dan masakan daging yang diiris setipis mungkin, persis kayak sisi dompet lu pas pertengahan bulan. Nggak tanggung-tanggung, masakan yang dari baunya aja udah bikin laper itu dikasih irisan bawang bombay dan paprika warna-warni, merah kuning ijo persis kayak lampu merah di perempatan. Seketika bikin Raksa pengen nyendok nasi dan lauknya.
"Segini gue nggak akan habis!" Raksa geser tuh kotak ke tengah, biar Kalin bisa ngeliat dengan jelas.
"Lah terus?" Kalin naikin alisnya, dia masih kesel nggak tau juga apa penyebabnya.
"Lo ikut nyomot lah!"
"Oh, jadi si Om nggak suka makanan bunda? ntar gue---"
Hap!
Bibir Kalin dijepit jari tangan Raksa yang bikin gadis itu berhenti mengoceh, "Siapa yang bilang nggak suka? lagian gue bilang kan lo ikut nyomot?!"
Kalin ngangguk. Beberapa orang ngeliat ke arah mereka yang dirasa sangat berisik.
"Ya udah sini!" Kalin majuin kursinya, supaya bisa lebih deket sama makanannya.
Dan pas ngeliat,' Oh iya porsinya muantep banget! diem-diem ngeri juga nih bunda!' dalam hati kalin.
Raksa hanya nemuin alat makan yang ada di tepak kayak gitu dan hanya ada satu sendok dan satu garpu. Karena ngerasa nggak enak kalau pinjem alat makan di cafe itu, akhirnya Raksa membagi dua alat makan yang berbeda fungsi itu pada kalin.
"Nih, lo pakai sendok, biar gue yang pakai garpu!" Raksa ngasihin sendok pada Kalin.
"Kenapa?"
"Karena cuma ada sepasang ini doang! nggak ada yang lain. Berdoa dulu, baru makan..." Raksa memejamkan matanya dulu, sambil bibirnya komat-kamit baca doa makan yang dipelajarinya sejak SD.
"Selamat makan!" ucap raksa saat mereka mulai menyendokkan makanan ke dalam mulut.
Tanpa mereka ketahui, ada agen mata-mata baru yang langsung ngejepret foto Kalin dan Raksa yang lagi makan siang bareng dan mengirimnya pada majikannya, dengan caption mereka berdua sedang makan siang, Bu.
__ADS_1