Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Ciyeeee


__ADS_3

Dan seharian itu percaya deh, Raksa nggak konsentrasi buat kerja. jadi penyakit males kerjanya si Farid, nular sama dia.


"Gilaaakkk kepala gue puyeng banget!" Raksa pegangin kepalanya sendiri. Perasaannya mendadak nggak enak.


Farid curhat, dia bilang Tania berubah. Dan hari itu juga Raksa nemuin fakta kalau Tania yang ngirimin dia kotak makanan setiap hari. Kan nggak mungkin seseorang kirim sesuatu dengan sembunyi-sembunyi kalau nggak ada niat tertentu.


Udah gitu Raksa belum berani liat hape, dia takut nih Kalin atau Nova tau-tau kirim chat WA. Dia ngerasa seolah jadi penguntit anak sekolah. Gilaaaaak, citra Raksa yang cool rusak seketika gara-gara satpam sekolah yang mulutnya kemana-mana.


"Sumpeh, kepala gue?!!" Raksa gagal fokus mulu. Dia ngeliat ke arah hapenya.


"Huffh, " dia menghela nafas sebentar sebelum menyentuh benda itu.


"Anak lakik harus berani!" Raksa menyemangati dirinya sendiri.


Perlahan dia mengusap layar hapenya, dan buka chat-chat an yang masuk. Dan sesuai prediksi, ada banyak chat dari Nova.


Ciyeee, yang tadi ke sekolah! nyemangatin calon istri ya, Bang?


Bang, kalau pulang beliin obat magh! perut gue perih.


Bang, sekalian gue nitip bubur ayam juga.


Bang,obat magh nya yang cair jangan yang tablet. males ngunyah gue, enek juga.


"Konslet lagi tuh bocah?! dibilangin jangan makan pedes, masih aja bandel!" gumama Raksa sambil bales Wa adiknya.


Iya, ntar dibeliin.


Raksa lalu ngecek lagi deretan chat yang masuk. Nggak ada dari Kalin.


"Kenapa gue jadi mikirin tuh bocah?" pria itu gelengin kepalanya, berusaha mengusir bayangan wajah bocah nakal yang sering nyeret dia ke dalam masalahnya.


"Jadi, apa yang harus gue lakuin sekarang? biarin aja seolah gue nggak tau apa-apa, atau gue bilang secara langsung sama mereka berdua?" Raksa bergumam lirih, sekarang pikirannya menuju Tania dan juga Rahmi.


'Kalau Rahmi masih bisa dipahami, mungkin dia masih ada perhatian sama gue karena kita pernah bersama. Nah kalau Tania? nggak masuk diakal gue, ngapain dia bawain gue makan secara diem-diem? ini kalau Farid tau, bisa salah paham dia sama gue!' batin Raksa.


Dia senderin punggungnya di kursinya, tangannya sibuk mijitin kepala.


"Nih!" sebuah tangan menyodorkan sesuatu dari kubikel sebelah.


Raksa nengok.


"Obat sakit kepala!" ucap Siska dengan lugunya.


"Ok, thanks..." Raksa nerima obat itu dengan seulas senyum tipisnya.


Disisi lain, ada seorang cowok yang secara visual ngeliat pacarnya yang udah ngebohongin dia dan ngaku njadi anak orang kaya tapi ternyata bukan.


"Gue kira dia nggak akan berangkat ujian!" batin Reno saat ngeliat Melody yang gendong tas nya keluar dari sekolah.


"Lo ikut kita?" tanya Antony pada Reno.


"Kemana?"


"Ngumpul lah, biasa!" jawab Antony enteng.


"Kepala gue agak berat nih, gue mau pulang. Nggak enak badan gue," Reno menolak secara halus. Karena sejujurnya semalem dia nggak sempet belajar. Dia emang nggak enak badan, banyak hal yang dipikirin bikin nggak bisa fokus belajar apalagi dia juga sering bolos les.


"Tumben?!" Antony memicing.


"Gue duluan," Reno ninggalin temennya itu. Dia balik dengan motornya.

__ADS_1


Awalnya, Reno pengen ngikutin kemana Melody pergi, tapi dia udah kehilangan jejak. Sejujurnya Reno penasaran dengan nasib Melody setelah keluar dari rumah itu. Tapi Melody udah nggak ada dan dia juga nggak tau cewek itu pergi kemana. Akhirnya Reno memutuskan buat beneran pulang ke rumahnya.


Selama beberapa hari ini, Kalin fokus pada ujiannya. Nggak keluar kalau nggak penting amat. Kalau orangtua lain support anaknya buat belajar yang rajin, beda sama ayah dan bunda nya kalin. Mereka lebih wanti-wanti supaya Kalin jangan terlalu getol belajarnya. Mereka takut kalau anaknya itu saking semangatnya jadi malah lupa istirahat.


Dan disaat tunangannya ujian, Raksa bener-bener tenang dan nggak ada gangguan sama sekali. Tapi dia malah ngerasa ada yang aneh. Nggak direpotin malah ngerasa ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. Seperti malam ini, Raksa mondar mandir di kamarnya yang di dominasi warna yang hangat.


"Astagaaa, kenapa gue jadi gelisah kayak gini?" Raksa sambil ngeliatin hapenya.


Raksa buka chat WA dan dia scroll ke bawah nyari nama Kalin Caya-caya. Dia buka chat itu dan baca pesan terakhir yang gadis itu kirim.


Online!


Raksa ngeliat kalau ada keterangan sedang online di bawah nama Kalin.


Seketika Raksa close chat dan sakuin hapenya lagi. Dia lalu duduk di ranjangnya yang empuk. hatinya pengen ngetik, nge chat tuh bocah nakal tapi disaat yang sama ada sesuatu yang ada di dalam dirinya yang menahan Raksa buat lakuin itu.


Gengsi!


Tapi rasa gelisah yang nggak kunjung hilang, Raksa yang tadinya duduk di ranjang pun sekarang bangkit dan berjalan keluar menuju kamar adiknya. Tapi baru tangan dia angkat mau ngetok, Raksa mengurungkan niatnya buat. Nggak jadi, gaes!


Raksa ngeliat pintu di depannya dan berbalik. pria itu turun ke bawah, kali ini menuju dapur buat masak aer biar mateng masak aer biar mateng.


"Lagi ngapain kamu, Sa?" tanya bu Selvy yang kebetulan masih belum tidur.


"Bikin teh, Buk!"


"Tumben teh? biasanya kopi..." bu Selvy yang buka kulkas dan ngeluarin buah semangka yang udah dipotong. Wanita itu duduk sambil ngeliatin anak nya yang ganteng.


"Ya pengen aja, Buk!" sahut anak sulung bu Selvy.


"Oh ya, kira-kira Nova masih tidur nggak ya, Buk?" giliran raks ayang nanya sama ibunya.


"Belum kayaknya, kan kalau lagi ujian dia biasanya belajar sampai tengah malem tuh! memangnya kenapa? ada perlu apa kamu sama Nova? tumben-tumbenan nanyain adek kamu?" bu Selvy nanya segambreng.


"Tumben bikinin teh?" bu Selvy ngeliatin raksa dengan alis yang salit bertautan.


"Ya nggak, Buk! hem, hari pertama ujian kan tuh bocah magh buk, minta dibeliin obat segala! dan besok kan hari terakhir dia ujian, ya kali magh nya kumat lagi kan berabe. Jadi kebetulan aku bikin teh ya, mau aku kasih dia juga gitu, Bu..." Raksa alesan.


"gimana nggak magh, lha wong sukanya makan pedes. Ya udah, anterin teh nya, biar jreng tuh matanya nggak ngantuk!" bu Selvy mulai makan buah semangkanya.


"Aku ke atas dulu, Buk..." Raksa dengan dua mug di tangannya.


Raksa jalan dengan penuh kehati-hatian, takut isi air panas yang ada di dalam mug tumpah ke tangannya. tapi pas nyampe di atas dia malah keder, tangannya penuh dan kagak bisa ngetok.


"Nov? Novaaaaa? buka pintunya!" Raksa yang teriakan dari luar kamar adiknya.


"Siapaaa?"


"Pake nanya siapa lagi? emang dia nggak hapal suara abangnya sendiri?" Raksa gregetan.


"INI BANG RAKSA! CEPETAN DIBUKAAAAAA?!!!" raksa teriak lagi.


Ban beberapa saat kedengeran suara langkah manusia.


Ceklek!


Nova menyembul dari balik pintu dengan muka yang setengah ngantuk, "Ada apaan?"


"Kasih masuk dulu kek?!"


Nova yang rambutnya awut-awutan pun bukain pintu, "Hoaammm?!!" nova ngikutin abangnya yang udah masuk.

__ADS_1


Tuh orang naruh dua mug di atas karpet bulu yang disitu lagi dijejer buku-buku pelajaran punya Nova.


"Ada apaan, bang?" tanya Nova yang ikutan duduk.


"Ngasih lo teh anget!"


Nova naikin alisnya, "Ngasih teh anget? kan gue kagak mesen!"


Raksa yang dneger celetukan adeknya pun pengen negjitak ubun-ubun adek laknatnya itu tapi nggak jadi, dia berusaha buat sabar dan tabah untuk sesaat.


"Kan gue baik hati. Gue tau kalau lo lagi belajar. Gue lagi pengen nge-teh dan gue bikinin lo satu. Baek kan gue?" Raksa muji dirinya.


"Nova ngeliatin mug berwarna kuning itu, agak curiga.


"Nggak percayaan banget sama abang sendiri? ini tuh teh beneran," kata raksa yang ngangkat salah satu mug dan mulai nyeruput.


"Nih liat? nggak ada apa-apa kan? enak begini kok!" Raksa nurunin tehnya lagi.


Nova yang kreyep-kreyep pun ikutan menyeruput teh yang masih panas itu.


Sluuurrrrppp!


Rasa hangat menjalar di lambungnya.


"Gilaaak enak banget!" ucap Nova yang ngerasain perutnya anget sekarang.


"Nih kenapa buku dijembreng semua kayak gini?!!" Raksa nunjuk buku yang berantakan.


"Mau gue jual?!" Nova ngasal.


"Ya lagi buat belajar lah, kan gue lagi ujian! jadi gue harus belajar supaya nilainya nggak jeblog!"


Raksa manggut-manggut, sejujurnya  pengalamannya sewaktu jadi pelajar, Raksa nggak pernah belajar sampai harus begadang tengah malem kayak Nova.


"Kalau ujian tuh nggak perlu belajar segetol itu! yang ada malah nggak masuk. Iya kalau cuma nggak masuk di otak, lah kalau sampai kebawa stress dan sakit? yang ada rugi sendiri lo!" Raksa yang nutup salah satu buku Nova.


"Ya bagi yang pinter mah belajar sebentar doang udah kelar. lah kalau gue? belajar sebentar yang ada malah ambyar, kagak ada yang disave disini!" Nova nunjuk kepalanya.


"Pasti ketularan temen lo itu ya?" Raksa mancing.


"Temen? temen siapa?" Nova menjadi pikun seketika.


"Ya temen lo yang sering kesini!"


"Kalin? maksud abang?" Nova memicing.


"ya siapa lagi?"


"Ciyeeee, jadi kesini cuma mau nanyain calon istri? ciyeeeeee?!!" Nova nunjuk muka abangnya yang merah seketika.


"Apaan? nggak? siapa juga yang nanyain dia? abang kesini cuma mau kasih kamu semnagat, ujian hari terakhir! kasih kamu teh biar lambung anget dan nggak kumat magh nya lagi!" Raksa gugup.


"Ciyee yang lansgung gugup!" Nova nggak berenti ngeledek.


"Apaan sih lo, Nov!" alih-alih jengkel, Raksa malah salting sendiri. ada sesuatu yang menggelitik saat diledekin adeknya sendiri.


"ck, ngawur kamu! habisin tehnya dan tidur sono, udah malem!" Raksa ngangkat satu mug nya, dan berjalan keluar.


sedangkan Nova nggak berhenti disitu, "Ntar gue sampein semangat dari lo, bang! tenang aja!" Nova setengah teriak


Brakkk!

__ADS_1


Raksa nutup pintu kamar Nova dari luar.


"Bahlul emang si Nova!" Raksa lalu masuk ke kamarnya sendiri.


__ADS_2