
Malam itu, ayah Diki membeberkan semuanya. Dengan kerjasama yang baik, ternyata pak Hendra bisa membuktikan kalau anaknya ini punya jiwa yang gentle.
Dalam hati Raksa, 'Buju buneeeng, bapak gue ternyata udah ngerencanain ini semua. Jangan-jangan ayahnya Kalin juga tau kalau gue ngatain anaknya bocah setan!'
"Om terima kasih, kamu sudah bantu dari bayarin belanjaan Kalin sampai nganterin ke sekolah meskipun kamu tau kalau hati itu kamu ada meeting penting dan nyaris dapat masalah, tapi Om salut. Kamu nggak ninggalin Kalin sendirian, kamu malah nemenin Kalin seharian..." ucap ayah Diki.
Namun ingatannya sepertinya menangkap sesuatu yang aneh, "Meeting?"
'Astaga, kayaknya gue liat Om Diki di ruang meeting tempo hari!'
"Ya, Raksa. Om liat sendiri kamu masuk ke ruang meeting hanya untuk menyelesaikan tanggung jawab kamu pada atasan," ucap ayah Diki.
Semua emang bisa dibilang nggak 100 persen kebetulan tapi nggak semuanya direncanakan juga. Pokoknya, hari itu perusahaan dimana Raksa bekerja lagi meeting buat menjalin kerjasama buat mengasah soft skill dan juga membangun karakter para karyawan supaya ke depannya peruysahaan itu bertambah maju. Dan Ayah Diki dapet laporan dari orang suruhannya kalau Raksa nemenin anaknya seharian sampai insiden putusnya Kalin dari reno juga nggak luput dari pantauan ayah Diki.
"Yah, Kalin nggak ngerti. Orang suruhan? emang ayah punya uang berapa buat bayar orang suruhan?" tanya Kalin yang cuma tau kalau ayahnya ini menjabat sebagai senior manager di sebuah perusahaan, dan masa iya dia buang duit cuma buat bayar orang buat ngikutin Kalin.
"Sebenernya ayah ini udah naik jabatan udah lama, Kalin. Sekarang ayah udah jadi direktur utama, dan perusahaan yang lagi menjalin kerjasama dengan perusahaan tempat Raksa bekerja itu ya perusahaan lain yang lagi ayah rintis. Dan sebentar lagi mungkin ayah akan mengundurkan diri di tempat ayah bekerja sekarang dan fokus ngebesarin perusahaan yang ayah bangun saat ini," ayah mencoba menjelaskan, tapi Kalin yang masih bocah antara nangkep dan nggak. Dia keder aja pokoknya.
Ayah Diki juga menjelaskan, kalau dia sengaja menjalin kerjasama dengan perusahaan plastik tempat Raksa bekerja buat mantau nih calon mantu kerjaannya gimana. Raksa tambah geleng-geleng kepala.
'Jadi selama ini gue dipantau? buseeetttt...!' batin Raksa.
"Pokoknya setelah melalui banyak ujian dan pertimbangan, kamu lolos jadi calon mantu On, Raksa!" ucap ayah Diki.
"Tapi, yah? Kalin ini nggak pacaran sama abangnya Nova. KIta bukan pasangan!" Kalin mencegah ayahnya buat ngejodohin dia sama Raksa.
"Kamu tau Kalin? kenapa saldo atm kamu kurang dari 10 juta? bahkan hanya ayah isi maksimal 5 juta. Karena ayah belum percaya kamu bisa mengelola keuangan dengan baik. Nyatanya kamu percaya aja sama Reno yang modusnya pinjem duit, padahal dia mau hidup mewah dengan hasil uang dari tabungan kamu. Raksa ini udah paling tepat buat kamu, Kalin..." kata ayah.
"Tapi Yah..." Kalin memelas.
"Iya Om, saya juga nggak---" ucapan Raksa terpotong.
"Haiiishhhh kalian ini. Saling memperdulikan tapi suka pada jual mahal," pak Hendra angkat bicara.
Sedangkan bu Selvy dan bunda Lia hanya melemparkan pandangan satu sama lain.
"Maksudnya bapak gimana?" tanya bu Selvy.
__ADS_1
"Lha wong si Raksa bela-belain mbuntuti si Reno kok! bapak tau itu, orang bapak nggak sengaja ketemu dia di mall dan ngikutin kemana Raksa pergi karena gelagatnya kayak orang yang lagi nguber maling!"
"Nih kalau nggak percaya!" pak Hendra ngasih bu Selvy sebuah foto, dioper juga itu hape ke bu Lia, lanjut Nova dan terakhir ke tangan Raksa sendiri.
Disana terpampang nyata, Raksa yang lagi sembunyi, mengamati Reno dari kejauhan.
'Alaaamaaakkk, gue lagi nguntit Reno ternyata gue dikuntit juga sama bapak gueee? astaaaa, random banget hidup ini ya Allah.' lagi-lagi Raksa cuma bisa nahan malu.
Sungguh, Kalin hanya bisa melongo dengan pertemuan aneh malam ini. Kenapa semuanya yang tersembunyi ternyata terbuka lebar-selebar-lebarnya sampai dia udah nggak tau lagi hal mana ajayang udah diketahui ayahnya.
"Kalau kamu nggak suka peduli sama Kalin, mana mungkin kamu nguntit nih bocah? ngapain kamu tonjok anak orang saat bocah itu menjelek-jelekkan Kalin?" ucap pak Hendra.
"Mungkin saat ini baik kamu dan Kalin belum memiliki perasaan yang sama, tapi dengan seiringnya waktu ayah yakin kalian akan mempunyai rasa itu. Cinta bisa berawal darimana saja, ayah berharap kamu nggak salah langkah lagi, Kalin. Mencari pria yang baik dan bertanggung jawab itu sulit, dan ayah yakin kalian akan bisa menjalin hubungan dengan baik..." ayah Diki ngasih wejangan.
'Hubungan baik darimaneee? kita ketemu aja cakar-cakaran mulu, Yaaahhh? ya ampuuun...' batin Kalin ngenes.
'Kenapa muka tuh bocah ngenes? emang gue mau gitu dijodohin sama dia? yang ada gue emosi mulu tiap hari, lagian dia masih bocil. Lulus SMA aja belom,'Raksa menanggapi ekspresi wajah Kalin.
"Sekarang, bunda tanya. Dimana cincin kamu, Kalin? coba jawab yang jujur..." tanya bunda yang sedari tadi diem.
"Bunda nggak mau kamu bohong, Kalin. Bunda mau kamu mulai jujur sama bunda..." bunda menatap anaknya.
"Sudah Kalin jual, Bunda..." lirih Kalin.
Nova cuma geleng-geleng kepala mendengar jawaban Kalin. Kalau soal cincin, Nova emang nggak tau, tapi setelah ada coret-coretan hitungan uang, Nova ngefoto kertas itu dna dikirim ke bundanya Kalin sebelum kertas itu dia kasih ke abangnya buat pancingan.
Tapi wajah bunda nggak kaget, dari situ aja Kalin udah ngebatin, 'Jangan-jangan bunda udah tau sebenernya, cuma bunda pengen gue ngaku aja.'
"Tapi besok, Kalin bakal beli tuh cincin lagi, Bunda..."
"Cincin yang sama?" tanya bunda.
"Cincin yang sama yang bunda kasih sama kamu atau cincin lain yang modelnya sama?" lanjut bunda.
"Cincin yang sama, yang Kalin jual..."
"Nggak akan!" ucap bunda.
__ADS_1
"Maksudnya? maksud bunda apa?" Kalin beneran udah puyeng dengan teka-teki hari ini.
"Cincin itu udah dibeli sama orang!"
"Hah? udah dibeli smaa orang? kok bund atau? atau bund ayang beli cincin itu? Kalin dengan wajah yang cemas.
"Bukan bunda..." jawab bunda, sedangkan Kalin langsung lemas.
"Lalu siapa, Bun?" Kalin mulai berkaca-kaca. Dia ngerasa bersalah, hatinya beneran rapuh saat ini ngeliat raut wajah bunda yang kecewa.
"Bunda pasti kecewa, sama Kalin..." ucap Kalin.
"Ya..." bunda singkat.
"Maafin kalin, Bun. Kalin nggak maksud buat ngejual itu, Kalin terpaksa saat itu..."
"Kalin..." Kalin nggak bisa ngelanjutin ucapannya.
"Bunda nggak nyangka kamu bisa berbuat sejauh itu, Kalin. Kamu menjual sesuatu yang bunda kasih..." bunda dengan menggeleng pelan ngeliat tingkah laku anaknya.
"Bunda udah nggak kenal kamu lagi," lanjutnya.
"Buuun, Bundaaaa. Bunda maafin Kalin Buuun, Kalin bakalan cari cincin itu lagi. kalau perlu Kalin datengin itu orang dan beli itu cincin lagi..."
"Kamu mau datengin?" tanya bunda.
"Kalin ngangguk.
"Beneran?"
kalin mengusap air matanya yang jatuh, "Beneran, Bun hiks..."
Bunda nunjuk Raksa dengan dagunya, "Tuh, orangnya ada disitu!"
Semua orang menatap ke arah Raksa dengan tatapan penuh tanda tanya.
'Alamaaaakkk, apa lagi ini ya Allah!!' Raksa dalam hatinya.
__ADS_1