Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Suram


__ADS_3

Paginya Raksa berangkat dengan hati yang lebih bahagia dari biasanya. Bahkan naik motor pun senyum Raksa nggak luntur dari wajahnya. Berbeda dengan Raksa, FSuramarid justru suram dan mendung. Suasana hatinya lagi nggak baik. Bahkan semalaman dia nggak bisa tidur.


"Pagi, Rid!" Raksa nyamperin Farid.


"Muka lo kenapa? sakit lo?"  Raksa ngerutin keningnya ngeliat Farid yang sedikit pucet.


"Nggak! lo kayaknya seneng banget? abis kejatohan durian runtuh lo?" Farid yang menghentikan aktivitasnya, dia ngeliat ke arah temannya yang datang dengan wajah yang bersinar.


"Nggak juga. Cuma hari ini kayaknya lebih cerah dan hati gue rasanya lebih plong," Raksa emmegang dadanya, dia pun menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Baguslah, gue ikut seneng kalau gitu. Nggak liat lo galau mulu," Farid dengan datarnya.


"Kenapa lo? Muka lo kayak baju yang belum dicuci, kucel!"


"Mau gue jawab jujur atau nggak?"


"Jujurlah! pake ditanyain segala. kenapa lo?"


"Yuk?!!" Farid bukannya jelasin, dia malah gered raksa turun ke kantin. Sampai sana, farid pesen makanan dan minuman dingin, mungkin sebelum menangis minimal dia makan dulu biar ada tenaganya.


"Ini kalau kita keciduk makan jam segini, bisa amsyong karir gue?!"


"Gue mah udah nggak peduli karir," Farid dengan datarnya.


"Terus cicilan mobil lo mau pakai bayar pakai apa? Pake ****** dukun?" Raksa geleng-geleng kepala, dia nyeruput kopinya yang panas.


"Tar gue ceritain, biar gue makan dengan tenang. Mumpung perut mulut dan perut gue mau nerima..."


Berhubung cuma nasi pecel yang baru buka sedangkan yang lain mah baru nata-nata dagangan mereka. Jadi Farid cuma bisa makan lontong dan sayuran disiram bumbu kacang buat menuhin perutnya yang daripagi ogah diiisi. Makan angin doang dari pagi.


Selesai makan dan mengakhirinya dengan minum es kopi, Farid pun mulai duduk dengan sikap yang benar tapi muka ngenes abis.


"Jadi, semalem gue..." Farid berhenti sejenak, dia ambil napas lalu menghembuskannya perlahan. Sedangkan Raksa mencoba menyimak apa yang akan Farid katakan, dia memeperhatikan raut wajah sahabatnya.


"Jadi, semalem tania udah ngejawab perasaan gue, Sa!"


"Lo ditolak?" Raksa langsung nebak.


"Kok lo tau?"


"Ya muka lo surem kayak gitu?!! mana ada orang baru jadian pasang muka ngenes kayak lo, yang ada tuh sumringah seneng..."

__ADS_1


"Lo nggak ada emaptinya sama temen lo," Farid pundung.


"Nggak ada empatinya begimane si Bahlul? lo kayak baru kenal gue sehari dua hari lo?" Raksa nggak habis pikir dengan Farid yang sangat sensitif, gampang banget tersinggungnya.


"Emang kenapa dia nggak bisa balas perasaan lo? kan setau gue kalian sering banget tuh jalan bareng," Raks ajadi kepo.


Farid mikir dua kali buat ngomong yang sebenernya, dia jadi salah tingkah sendiri. karena kedekatannya dengan Tania emang berawal karena mau comlangin raksa dan rahmi, biar mereka bisa CLBK lagi gitu.


Brakkk!!


Raksa gebrak meja.


"Woy?!! malah bengong. Kena sawan lo?" Raksa bingung ngeliat Farid yang tiba-tiba aja diem.


"Ehm, nggak. Tadi lo nanya apaan?" Farid mencoba bersikpa biasa aja.


"Kenapa Tania nolak lo?" Raksa langsung ke poin utama.


"Dia cuma bilang dia udah milik orang lain, dan dia udah nggak bisa jalan lagi sama gue. Itu aja sih, terus dia main pergi gitu aja di warung nasi goreng," farid hanya mengatakan seperlunya.


"Dan dia ninggalin duit ini, buat bayar makanannya sendiri. Sebegitunya dia sama gue, sa!" farid nunjukin selembar uang seratus ribuan pada Raksa.


"Ya salah lo sendiri kurang sat set. Gue kan udah ngewanti-wanti dari dulu, kalau lo cepet nyatain perasaan lo sama Tania. Minta dia supaya jadi cewek lo, akhirnya kayak gini kan? ngeyel sih lo jadi orang..." Raksa bukannya ngademin malah nyalahin.


"Kayak lo nggak pernah patah hati aja!" Farid setengah nyindir.


Raksa ketawa kecil, "Gue? ya pernah lah! makanya gue bisa ngomong kayak gini. Mungkin jodoh lo atau orang yang disiapkan buat lo itu seseorang yang nggak pernah lo sangka sebelumnya..." kata Raksa


"Dan Tuhan dengan baiknya nge-keep itu buat lo, jauhin lo dari orang yang kurang baik buat lo, supaya bisa ngedeketin lo sama jodoh lo yang sebenernya," lanjut pria itu dengan sangat mengena di hati Farid.


"Gitu ya? jadi gue nggak perlu galau lama-lama?" Farid merasa energinya kembali pulih.


"Betul!" Raksa lipet tangannya di depan dada.


Farid mengangguk mantap, "Oke kalau gitu! gue bakal bekerja dengan sebaik mungkin hari ini! thanks bro, berkat lo gue kembali semangat! Gue kerja dulu, gue nggak mau dipecat!" Farid ngeloyor pergi ninggalin Raksa.


"JANGAN LUPA BAYARIN MAKANAN GUEEE, NTAR GUE GANTIIIIIII?!!!" seru pria itu lagi.


"Bahlul emang!" Raksa pun ketawa sendiri sembari berjalan buat bayarin makanan Farid.


Sementara itu, Farid yang udah pergi duluan, nggak langsung menuju ruangan tempat dia bekerja. Tapi dia melipir ke ruang divisi operasional. Dia temuin tuh Tania.

__ADS_1


"Pagi, Tan?" farid nyapa Tania seperti biasa.


"Farid? kok lo ada disini? ini kan jam kerja?!" Tania setengah berbisik.


"Sorry gue ganggu lo sebentar. Gue cuma mau kembaliin ini," Farid ngeluarin duit milik Tania yang semalam ditaruh di atas meja sebelum wanita itu pergi dengan taksi yang udah dipesannya.


"Gue--"


Farid nyerobot, "Gue balik ke ruangan gue! Daaah?!" Farid pasang senyum yang sama kayak biasanya. Seolah nggak pernah ada apa-apa diantara mereka.


Pas dia neken tombol di lift, dan pintu besi itu kebuka. ada Raksa di dalem sana.


"Ngapain lo ke sono?" kening Raksa mengerut.


"balikin duit?!" farid dengan masukin tangan ke dalam kan kantong celana bagian depan. Dia sok cool banget.


Sementara Raksa mencoba maklum aja, karena kemungkinana Farid baru mengalami guncangan batin. Dia menyembuhkannya dengan caranya sendiri, dan itu lebih baik daripada harus merana sebulan, kayak dia dulu.


Sementara di sekolah. Kalin udah deg-degan menunggu bunda nya keluar dari ruang rapat.


"Gue yakin lo mah lulus, Lin?! nagapain lo pake acara gemeteran kayak kita?" tanyaNova.


"Kan biar samaan kayak lo, Nov?!" sahut kalin lugu.


"Buju buneng! emang lo sahabat gue, Lin?!!" Nova pegangan tangan kalin, mereka lagi harap-harap cemas.


"Gue bisa diusir dari rumah nih, kalau gue nggak lulus?!!" ucap Nova.


"Nggak akan. Gue yakin! Paling mentok lo disuruh negepel rumah sebulan penuh!" celetukan Kalin bikin yang lain ketawa ditenagh kekhawatiran mereka soal kelulusan hari ini.


"Lo mah bakaln lulus Lin, lah kalau kita?" sahut yang lain.


"Iya bener tuh! mana gue banyakan nyontek sama si Malik. Tau dia ngasih jawaban gue bener apa nggak?" temen sesama cewek yang sekelas sama Kalin pun ikut menimpali.


Dan tiba-tiba....


Pintu aula pun telakhhhhh dibuka. Bagi para orangtua murid yang udah ambil amplop berisi keputusan kelulusan pun keluar teratur.


Begitu juga dengan bunda Lia dan bu Selvy yang masing-masing udah pegang amplop panjang berwarna putih.


"Novaaaa..." panggil bu Selvy dengan tatapan yang tajam

__ADS_1


"Mampus gueee?!!! tolongin gue, Lin?!!" Nova ngeliat ibunya ngeri.


__ADS_2