Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Genggaman Tangan


__ADS_3

"Wooeekkk?!! dah, nggak usah diliatin! selain bikin sakit hati, juga sakit mata! sepet liat tuh orang!" Nova yang narik Kalin menjauh.


Dia berbalik membelakangi Reno yang lagi pegangan tangan sama Melody. Tanpa sepengetahuan Reno, gadis yang baru aja diminta jadi pacarnya itu, sengaja mempertontonkan kemesraan mereka di depan cewek yang udah dilabeli mantan sama Reno.


"Lo nggak rugi ninggalin cowok kayak gitu! percaya sama gue!" Nova terus aja ngomong.


Kalin jalan dengan langkah yang lunglai, bukan karena cemburu, tapi lebih pada rasa kecewa karena dengan mudahnya Reno udah berpaling dari dia.


Tapi perasaan itu lenyap saat Kalin inget gimana Reno nuduh dia, bahkan memutarbalikkan fakta yang ada.


"Kita duduk disana!" Nova ngajak Kalin ke tempat makan yang ngejual rice bowl.


"Mending kita makan, biar perasaan lo lebih baik!" Nova yang narik Kalin buat duduk dan milih tuh makanan segambreng.


"Karena ngelupain mantan matre juga perlu tenaga extra, Lin! apalagi lo sekarang ydah jadi tunangan abang gue, gue yakin noh si knalpot racing bakalan nyesel!"


"Gue yakin itu target baru dia?! emang dia mutusin lo buat bisa ngegasak cewek yang saldonya masih banyak!" lanjut Nova.


"Padahal ya, kalau dari tampang cantikan lo kemana-mana!" Nova nyerocos.


"Untung ayah lo, ngasih saldo kagak sampe seratus juta. Beuuh kalau ada duit sebanyak itu di saldo tabungan lo, bisa abis digondol tuh sama mantan lo itu!" lagi-lagi Nova kehilangan kesabarannya.


Sementara Raksa yang gas ngueng ke mall dimana Nova dan tunangannya berada. Dan lagi-lagi ajakan Farid selalu kandas di tengah jalan.


"Lagian udah bangkotan, pacaran selalu ngajak-ngajak orang. Gimana hubungan mereka bisa maju kalau kayak gitu terus. Ngakunya suka, tapi nggak berani ngajak jalan berdua. Bahlul emang si Farid," Raksa bergumam sendiri ketika motornya udah dia parkir di basement.


Tanpa basa-basi, Raksa nelpon Nova dan nanyain posisi mereka sekarang ada dimana.


"Kebetulan, gue juga laper. Makan roti doang tadi siang!" Raksa dengan langkah orang kelaparan berjalan menuju tempat yang Nova pilih buat ngisi perut.


"Nah itu bang Raksa!" ucap Nova.


Seketika Kalin menoleh ke belakang. Dan dengan gerakan slow motion, Raksa berjalan dengan setelan kerja yang slim fit, cool abiss. Kalin yang tadi sempet mikirin Reno seketika langsung nganga ngeliat sebegitu gedenya damage seorang Raksa Kamaludin.


"Udah pesen belom?" Raksa yang udah duduk.


Sementara Kalin yang melongo masih dengan posisisnya ngeliat ke belakang.


"Lagi ngeliatin siapa tuh bocah?" Raksa nunjuk Kalin dengan dagunya.

__ADS_1


Kalin yang baru sadar pun segera balikin badan lurus ke depan, ngeliat Raksa yang duduk di samping Nova. jadi posisinya dia berhadapan dengan kakak beradik itu.


"Lo yang nyuruh dia kesini, Nov?" tanya Kalin.


"Iya, biar sekalian nganterin lo pulang. Kalau dari sini kesorean nggak berani gue. perkakas di rumah gue bisa disebar emak gue di teras rumah!"


"Kan gue bisa pulang sendiri," lirih Kalin, dia nggak berani natap muka Raksa yang masih ada bekas gampangan ayahnya Reno.


"Kan abang gue itu udah jadi tunangan lo, yang berarti dia calon suami lo, Kalin. Jadi wajib bagi abang buat ngejagain lo suka atau pun nggak suka! ya kan, Bang?" Nova nyikut abangnya yang sibuk ngeliat menu makanan.


"Berisik lo, Nov!" nih, pesenin abang yang ini!" Raksa nunjukin menu yang dia mau.


Nova lambaikan tangan pada pelayan, supaya nambahin pesanannya. dan makanan mereka pun datang setelah beberapa saat menunggu.


Pas itu nasi dan daging beef masuk ke dalam mulut, dagingnya lumer di dalem dan enaknya berkali-kali lipat. Mungkin efek laper atau emang masakan di resto itu yang emang enak.


"Lo masuk kesini, emang duit jajan lo ada, Nov?" tanya Raksa yang keliatan dia akrab sama adeknya.


"Duit jajan apaan? kan ini mah abang yang bayarin?!"


"Uhuukkk!' Raksa tersedak saat mendengar jawaban nggak tau diri adeknya.


"Ciye yang udah perhatian sama calon su---"


Jlep?!!


Kalin menyumpal mulut nova pakai udang tempura.


Lumayan lama mereka habiskan di restoran itu, dan amsyongnya Raksa yang bayarin semua makanan yang mereka pesan.


"Udah nggak ada yang mau dibeli kan?" Raksa yang jalan dengan tangan dimasukin ke dalam salah satu kantongnya.


"Abang nanya ke siapa?" Nova nimpalin.


"Sama lo lah, kan lo yang nyuruh abang kesini!"


"Nova sih nggak ada, nggak tau Kalin!" Nova ngelirik Kalin yang berada di sisi kanannya, sedangkan abangnya berada di sisi kirinya.


Hape Nova bergetar dan tertera nama ibu memanggil.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Bu?" Nova berhenti, yang otimatis Raksa dan Kalin juga ikutan menghentikan langkah mereka.


"Udah sore, ngandang kamu!" seru bu Selvy.


"Iya, Buk! Nova ini mau pulang," kata Nova sebelum memutuskan sambungan telepon itu.


"Bang, Nova udah diultimatum sama ibuk disuruh pulang, udah waktunya ngandang!" Nova yang masukin hapenya ke dalam tas.


"Abang temenin Kalin, katanya dia pengen beli eskrim!" Nova yang dapet pelototan dari Kalin.


"Loh, dia nggak sekalian pulang sama lo?"


"Kan Nova udah bilang. Kalin nanti pulangnya sama abang!" Nova naik turuni alisnya.


"Kalian tawaf dulu aja! tenang aja, udah gue ijinin sama Om Diki, jadi amaaaaan. Woke nggak?" Nova mundur dan satuin tangan abangnya dan juga sahabatnya.


"Jagain Kalin, Bang! dadah!" Nova seketika ngacir, meninggalkan kedua orang yang kompak memanggil namanya.


"Hey, Novaaaaa?!!" panggil mereka, tapi Nova udah melesat duluan.


Berhubung, tangan udah bertaut. Jadilah Raksa narik Kalin buat jalan lagi.


"Eh?!" Kalin kaget.


Kalin bisa ngerasain kalau ada cincin di sela jari Raksa.


'Dia nggak ngelepas cincin itu?' Kalin dalam relung hatinya.


Sedangkan Raksa sendiri sebagai laki-laki yang udah diamanati seorang gadis pun berusaha gentle, meskipun cukup menyebalkan ya si Kalin ini, tapi dengan sekuat tenaga dan perasaannya Raksa berusaha istiqomah. Semangat ya Raksa yaa....


Tanpa sadar, genggaman tangan itu nggak terlepas sampai mereka ketemu sama pasangan yang baru aja jadian, yang abis ngeborong belanjaan. Mata Raksa dan Kalin pun kompak ngeliat sebuah merk di papper bag yang Reno dan Melody cangking di tangannya.


"Udah dapet mangsa baru neh?!" Raksa nyeletuk dengan muka sinisnya.


"Maksud lo apa, hah?" Reno nggak terima.


"Mending kita pergi, daripada lo sakit hati ngeliat mantan pacar lo jalan sama selingkuhannya!" sedangkan ucapan Melody itu bikin Raksa naik darah.


"Kalau nggak tau jangan suka sotoy bocil!" Raksa geram.

__ADS_1


__ADS_2