
Setelah makan malam, Farid pulang ke rumahnya. Sedangkan Nova ikut satu mobil sama abangnya karena mereka satu arah dan satu tujuan. Udah ketebak juga, Kalin dateng disambut hangat oleh ibu nya Raksa. Kalau nggak distop mungkin Kalin bakal diajak ngobrol sambil ngeronda sampai subuh.
"Akhirnyaaaa, gue ketemu kasur empuk juga..." kata Kalin yang ngerasain punggungnya enak banget, dia udah pakai kaos gombrang dan juga celana pendek punya Nova. Sedangkan baju yang dia bawa, mau dipake buat besok.
Nova masuk kamar dengan rambut yang basah. Kalin aja sampai heran, si gampang banget masuk angin, mandi mlagi padahal jam udah mau jam 11 malem.
"Ati-ati rematik lo?!!" Kalin ngingetin.
"Tadinya juga nggak, Lin! gara-gara ketemu air jadi pengen basahin badan," kata Nova.
Nova keringin rambutnya paki handuk, dia pun tiduran di ranjangnya dengan rambut yang masih terbungkus. Takut spreinya basah, bisa kena omel emak pagi-pagi yang ada.
"Gue nggak nyangka, bentar lagi kita lulus, Nov!" Kalin mulai pembicaraan.
"Gue nggak tau deh, kalau nanti gue kuliah terus nggak ada lo disana, gue pasti bakal ngerasa asing banget, pasti kurang seru," kata Kalin.
Tapi nggak ada jawaban dari Nova.
Pas Kalin nengok ke samping," Lah, udah molor dia..."
"Gimana nggak gampang sakit? Tidur tapi rambut masih kayak gini..." Kalin megang rambut Nova yang masih dibungkus handuk.
Kalin keluar buat ke kamar mandi. Kan di kamar Nova kan nggak ada kamar mandi dalem, ada nya kamar mandi bersama. Suasana udah sepi, takut juga sebenernya dia. Tapi karena udah pengen ke toilet, jadi diberani-beraniin aja udah daripada ntar ngompol di celana.
Kalin buka pintu pelan-pelan, dia ngeliat sekitar. Sebagian lampu udah dimatiin.
Dan saat dia buka handle...
Ternyata ada makhluk lain juga yang buka pintu dari arah dalam.
"Aaaa---" Kalin yang kaget mau teriak, tapi segera dibekep sama makhluk yang dia temui itu.
"Astagaaa?!!" lo mau bangunin orang satu rumah?!!" Raksa mendorong Kalin keluar, punggungnya menyentuh tembok.
"Harusnya gue yang kaget bukan lo, ya ampun!" ucap Raksa lagi.
Kalin ngangguk-ngangguk, lagi-lagi matanya ketemu satu garis lurus dengan tunangannya. Gadis itu menelan salivanya dengan susah payah, saat dia sadar kalau saat ini dia memegang sesuatu yang keras, perut kotak Raksa!
__ADS_1
Raksa yang dipegang pun ngerasa ada hal lain yang di dalam tubuhnya. Dia membuka bekepan di mulut Kalin dan menyapu lembut wajah gadis itu dengan perlakuannya yang lembut. Raksa menjauhkan wajahnya saat Kalin mendorong dada nya, karena dia hampir saja engep dan butuh oksigen tambahan.
"Lo tunggu disini, gue mau pakai ganti baju!" kata Raksa yang melepaskan Kalin dan pergi dengan dada yang terbuka. Dia habis mandi.
Kalin pun memukul kepalanya, "Geblek! kenapa gue tadi nggak ketok pintu dulu! astagaaa..."
Sedangkan Raksa masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan yanga aneh, "Astagaaa, kenapa gue jadi kang sosor begini?!!!' Raksa geleng-geleng kepala.
Sesuatu dalam dirinya terdesak.
Raksa mencoba mengalihkan pikirannya, dia ganti baju setelah keluar kamar mandi dengan handuk doang di lilit di pinggang, bikin shock seseorang yang nggak sengaja ingin masuk kamar mandi juga.
Sedangkan kalin masih kedip-kedip. Semenit kemudian dia tersadar, kalau dia butuh toilet saat ini.Setelah menuntaskan apa yang sempet tertahan tadi, Kalin ragu buat keluar.
"Kalau dia ada di luar gimana?" ucap Kalin saat udah kelar.
Tangannya sempet menyentuh handle pintu, tapi dia tarik. Dia memegang bibir nya yang baru saja mengalami hal yang mengejutkan tadi.
"Gue keluar nggak ya?" Kalin ragu-ragu.
Dia pun membuka pintu pelan-pelan, dan matanya mulai mengintip keluar.
Namun pas berbalik, sudah ada Raksa disana.
"Aaa----" Kalin yang kaget buat kedua kalinya pun membekap mulutnya sendiri.
"Ya ampun, ngagetin tau nggak?!" ucap Kalin yang salah tingkah.
Tapi Raksa nggak nanggepin. Dia berdiri ngeliatin gadis yang berdiri canggung di hadapannya.
"Kenapa ngeliatin gue kayak gitu?" ucap Kalin lirih, dia nggak berani ngeliat orang yang udah mencuri tiuman pertamanya.
"Ehm, gue ... gue permisi, gue mau---" Kalin yang mau pergi segera ditangkap tangannya.
"Eh," Kalin kaget saat dia ditarik menuju tangga.
Raksa kemudian duduk di anak tangga paling atas, sementara kakinya terjulur ke bawah, dia mnepuk lantai di sampingnya,
__ADS_1
"Ini kagak ada tempat duduk yang lebih serem dari ini gitu," gumam Kalin lirih banget.
Pemandangan lantai satu yang gelap bikin Kalin over thingking, takut dijorokin dan gelinding ke bawah.
"Atau mau duduk di meja makan, tapi resiko ibu gue bisa denger apa yang bakal kita omongin," kata Raksa.
Di lantai dua emang nggak ada sofa atau kursi yang buat duduk dan ngobrol santai. Karena baik Raksa dan Nova nggak ada kebutuhan untuk itu, mereka naik buat ke kamar masing-masing dan molor sampai pagi.
Kalin pun kemudian duduk dengan memberi jarak, dia ngeri-ngeri sedap ngeliat ruangan yang minim cahaya.
"Mau ngomongin soal apa? gue udah ngantuk," ucap Kalin.
"Ngantuk?" Raksa naikin satu alisnya, dia agak nyerong supaya bisa ngeliat Kalin yang duduk tanpa alas kaki.
"Nggak apa-apa, kayaknya gue harus terbiasa ngadepin bocil macam lo yang banyak tanya," kata Raksa.
"Bocil, bocil, gue bukan bocil?!!" Kalin jengkel.
Raksa malah ketawa kecil, terkesan ngeledek. Beberapa saat mereka terdiam. Cuma ada suara angin yang bertiup di luar.
"Seandainya..." Raksa mulai pembicaraan.
Kalin menantikan lanjutan ucapan tunangannya itu, agak deg-deg ser.
"Seandainya orangtua kita, mau menikahkan kita dalam waktu dekat..."
"Hah?!?" Kalin ternganga, nggak nyangka akan mendengar hal itu dari Raksa.
"Kenapa? harusnya lo nggak kaget gitu dong? nggak mungkin kita diiket kayak gini kalau nggak akan dinikahin?!!" Raksa nunjukin cincin di tangan Kalin.
"Cepat atau lambat hari itu bakalan dateng. Semuanya udah diatur sama keluarga kita, gue dan lo nggak bisa apa-apa kecuali menerimanya dengan lapang dada..." kata Raksa tanpa nada sinis yang biasa melekat pada dirinya.
"Jadi---" Raksa menggantung ucapannya.
"Jadi apa?" Kalin deg-degan lagi, apalgi tangannya menempel dengan tangan Raksa.
"Jadi mulai sekarang, kita harus belajar saling mencintai. Gue nggak mau menikah tanpa dilandasi rasa cinta. Gue nggak mau menciptakan neraka di rumah tangga kita nanti..." ucap Raksa.
__ADS_1
'What the hell? gue baru lulus SMA dan gue harus mikirin soal pernikahan?' batin Kalin.