
Menyingkirkan rasa penasaran soal kotak makanan yang raib seketika, Raksa turun ke bawah nemuin farid yang udah bete banget mukanya.
"Astaga, lama banget sih lo?" Farid ngeluh lagi.
"Iya, Sorry!" Raksa pun meninggalkan Farid dan pergi buat ngambil motornya.
Farid tipe orang yang kalau udh nyaman nongkrong di satu cafe, maka dia akan balik lagi ke cafe itu dan dijadikan dia buat basecame nongkrong.
Karena Raksa dan farid naik kendaraan yang berbeda, yang satu naik motor dan yang satu naik mobil pun, akhirnya lebih duluan nyampe Raksa yang selap-selip mulu di jalanna.
Dia masuk dan pesen meja.
"Lama banget nih orang?!" gantian Raksa yang ngeluh. Dia masuk ke dalam cafe setelah dirasa Farid nggak nongol juga, sedangkan cuaca lagi super bikin sumuk.
"Silakan, Kak..." salah seorang pelayan yang menyambutnya saat membuka pintu.
Raksa berjalan menuju bangku yang masih kosong dan duduk disana, sengaja dia pilih lokasi yang strategis, supaya tuh orang bisa dengan mudah menbemukannya.
Dan nggak berselang lama, Farid nongol dengan Tania dn juga Rahmi. Sontak hal itu bikin Raksa terperanjat, kaget.
'Ngapain dia bawa Tania sama Rahmi kesini?' batin Raksa.
"Udah lama, Sa? sorry macet banget di perempatan depan!" ucap Tania yang kemudian duduk diiikuti.
"Loh sama lo juga? gue kira nih bahlul mau kesini sendirian," Raksa melayangkan pandangan sindiran pada Farid.
"Lo pada mau pesen apa, biar gue yang antri!" Farid bangkit dan satu persatu mengabsen cake dan minuman yang teman-temannya pesan.
Nggak tau kenapa, Raksa yang biasanya juga nyantay aja kini berubah menjadi nggak enak dan hawanya pengen kabur aja.
"Kenapa? sakit lo?" tanya Tania ngeliat wajah ganteng Raksa.
"Sakit? nggak sih, nggak sakit apa-apa. Sehat walafiat gue!"
"Tapi muka lo itu kayak orang kecapean, dan kayak orang yang habis ditabok sama orang," Tania detail melihat ada yang janggal pada Raksa, dia ngeliat sudut bibir Raksa yang terluka.
"Oh ini? nggak kok! bukan apa-apa..." Raksa mengelak, esdangkan tatapan mata Rahmi tertuju padanya.
"Siapa yang kena tabok?" Farid tiba-tiba duduk.
"Mana pesanannya?" tanya Tania.
"Ntar dianterin katanya, lagi banyak yang order!" sahut Farid.
Dia lanjut dan mengulangi pertanyaannya, "Tadi siapa yang kena tabok siapa?"
"Noh, Raksa. Mukanya kayak abis digampar orang!"
"Lo abis berantem, Sa? emang lo ada musuh di kantor? wah, bener-bener, nggak bisa dibiarin!" Farid udah ngegulung lengan bajunya.
__ADS_1
Raksa nggak ngejawab pertanyaan Farid, dia malah ngalihin topik. "Gue lupa, gue nggak lo pesenin kopi, kan?"
"Kenape emang?"
"Nggak lagi pengen kopi gue," Raksa yang kini benerin posisi duduknya.
"Kenapa kagak ngobrol dari awal, bahlul?!" Farid kesel.
"Ya lo kan nggak nanya, main mesenin aja!" Raksa nggak mau disalahin
"Gue order lagi deh ya, perut gue lagi pengen cokelat panas!" Raksa kemudian bangkit dari dududknya tapi dicegah rahmi.
"Gue aja, gue ... ehm, gue sekalian pengen take away cake buat nyokap!" kata rahmi yang lebih dulu bangkit dan menuju ke kasir.
Sedanmgkan Raksa kembali duduk dengan perasaan yang beda.
"Kenape muke lo?" tanya Farid lagi.
"Kan gue bilang kagak ada apa-apa! oh ya, gimana? progress hubungan kalian? udah ada kemajuan atau malah mengalami kemunduran?" Raksa nunjuk kedua orang berbeda gender itu dengan dagunya.
"Astaga, pertanyaan lo!" Farid mleyat-mleyot.
Raksa menyembunyikan tawanya, dia ngerasa lucu ngeliat muka Farid yang udah merah sedangkan mulutnya mengumpat tanpa suara.
"Gimana, Tan? lo berdua kan udah jalan bareng sekian abad. Jadi, lo sama farid udah sampai mana?" Raksa to the point.
"Sa lo bener-bener yak,"
"Loh gimana sih, Rid? berarti lo nggak lagi naksir Tania?!" sengaja mancing farid.
"Ya gue sih tergantung ya, Sa! tergantung ama dia nih, mau dibawa hubungan ini. Kalau dia nya aja kagak nembak-nembak, ya pasti jalan ditempat mulu lah! mungkin masih terjebak cinta nostalgia," sindir tania.
"Kagak lah, Tan! Cinta nostalgia darimaneeee? kagak ada gue?!" muka Farid memerah.
Drrrtttt!
Drrrtttt!
Seketika hape yang dikantongi Raksa bergetar.
"Ada apa, Nov?" tanya Raksa yang diliatin Farid dan juga Tania.
"Loh, abang dimana? kok nggak nyampe-nyampe?"
"Astagaaaa, abang lupa, Nov! ya ya ya, bentar lagi abang kesana!" Raksa yang kemudian nurup telepon.
Dan saat pria yang sering ngomong bahlul sebagai jargonnya itu menurunkan tangannya dan ngantongi hapenya lagi, sebuah celetukam keluar dari mulut Tania.
"Lo udah tunangan?" ucapan Tania itu membuat Raksa terdiam sesaat.
__ADS_1
Sebelum dia ambil jaketnya dan berdiri, "Eh, gue pergi dulu ya? adek gue minta dijemput!"
"Jangan lama-lama, jadian aja udah! gue tunggu traktirannya!" kata Raksa yang kedipin mata pada Tania dan juga Farid.
"Lo liat dia pakai cincin kan?" Farid yang dijawab anggukan kepala oleh Tania.
"Gue bilang sih apa, ada yang disembunyiin sama dia!" gumam Farid yang ngeliat Raksa pergi gitu aja.
Rahmi yang nggak tau apa-apa, dateng ke meja itu dengan kedua alis yang saling bertaut, "Ehm..." dia berdehem dan celingukan nyari sosok Raksa.
"Buat gue aja, Mi! si Raksanya udah out! kembung-kembung dah gue!" kata Farid yang kemudian duduk, dia mengambil pesanan cokelat panas punya sahabatnya.
Sementara Rahmi bertanya-tanya dalam htinya, 'Sejak kapan dia suka jemput adeknya?'
Disisi lain, ada sepasang muda-mudi yang sibuk beli baju.
"Menurut lo bagus nggak, Ren?" tanya Melody yang mengangkat satu gantungan baju yang tergantung kaos yang simple tapi harganya selangit.
"Bagus tuh! apalagi di kulit kamu yang putih!" puji Reno.
"Masa sih?" Melody malu-malu.
"Ya udah gue ambil yang ini dan yang tiga tadi, ya?!" Melody ngasihin tuh kaos.
"Kita bayar habis itu kita belanja punya lo, ya?" ucap Melody.
"Gue? nggak usahlah, lo aja yang belanja. Gue kan udah bilang gue belum dikasih jatah lagi. Kemarin banyak pengeluaran yang diluar dugaan!" kata Reno.
"Nggak apa-apa, lo pilih aja apa yang lo mau! gue kan punya kartu sakti!" kara Melody yang kemudian ke kasir.
"Dia kemudian membawa belanjaannya yang segambreng.
Reno yang ngeliat kalau Melody kerepitan pun berinisiatif bantuin.
"Kita kesana ya?!" ajak Melody pada salah satu store yang menjual pakaian pria.
Tapi Reno menahan tangan cewek itu, "Gue nggak biasa dibayarin kalau bukan sama cewek gue!"
"Maksudnya?" Melody menatap kedua mata Reno yang indah.
"Simpen aja kartu lo! gue nggak biasa dibayarin kalau bukan sama cewek gue sendiri," kata Reno.
Tatapan Reno bikin satu celetukan di bibir Melody, "Ya udah jadiin gue cewek lo!"
"Lo yakin dengan apa yang lo ucapin itu?" Reno sekarang menggenggam kedua tangan Melody. Mereka berdiri berhadapan.
Melody mengangguk, "Gue rasa gue nyaman sama lo, dan kalau kita sama-sama nyaman, kenapa kita nggak bersatu aja?"
Reno pun tersenyum, "Gue rasa gue nyaman sih sama lo, gue juga seneng saat jalan sama lo kayak sekarang. Jadi, Melody lo mau nggak jadi cewek gue?"
__ADS_1
Melody ngangguk, dan mengiyakan permintaan Reno, "Gue mau!"