Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Perang Dingin


__ADS_3

Dua hari setelahnya, Raksa ngotot pengen ikut ke kampus. Sementara Kalin ogah diikutin.


"Kita udah ngomongin ini Kalin. Gue bakal jagain lo disini,"


"Iya tapi bukan ngintilin gue kemana-mana. Ini kok gue malah lebih parah daripada di rumah?"


"Ini di negara orang, Kalin. Ini kita bukan di condet atau di pasar minggu! Kita di Manchester. Kita nggak tau keadaan kota kayak gimana? gue janji gue nggak bakal ganggu lo, gue bakal ngawasin lo dari jauh, okey?" ucap Raksa.


"Tapi---"


"Anggap gue kayak bunda atau ayah lo. Dan ini gue lakuin sebagai tanggung jawab gue karena udah minta mereka kasih ijin buat lo kuliah di sini. Lo ngerti kan, Kalin? gue rasa istri gue ini bukan tipe cewek pembangkang, ini demi kebaikan lo..." kata Raksa.


Ya mau gimana lagi. Kerasnya Raksa melebihi kerasnya ayah Diki. Kalin yang masih kesel karena Raksa yang cenderung protective itu,makan dengan nggak berselera.


"Lo pengen makan apa?" tanya Raksa yang melihat Kalin nggak begitu suka dengan makanan yang dibuatnya. Dia persis ngemong bocah, yang kalau ngambek langsung kasih kode GTM (Gerakan Tutup Mulut).


"Omellete bya keasinan apa gimana?" tanya Raksa.


"Nggak ada rasa!" sahut Kalin.


'Boro-boro dibikinin kopi, ini bocil disuruh makan aja susah banget!' Raksa dalam hatinya.


"Terus lo mau makan apa? nasi goreng?" pria iti nanya lagi, padahal dia juga nggak jago masak. Tapi kalau nggak masak, pengeluaran mereka akan membengkak. Apalagi uang asuransi tenaga kerja miliknya belum bisa dicairin.


"Kalin?"


"Gue makan angin aja!" ucap Kalin.


Kali ini kepala Raksa langsung nyut-nyutan.

__ADS_1


"Jujur, Lin. Ini lo nggak mau makan karena, lo emang masih marah soal Rahmi atau lo marah karena kegiatan lo mau gue ikutin?" tandasnya.


"Dua-duanya!"


"Gue harus gimana lagi, Kalin?"


"Gue butuh waktu tau, nggak? kalau lo maksa gue cepet maafin lo, gue jelas belum bisa! Gimana gue mau jernihin pikiran kalau yang gue liat ya lo lo juga!" teriak Kalin.


"Kalin gue ini suami lo!" bentak Raksa.


Mereka berdua seperti memasang toa di tenggorokannya. Semua kenceng dan maunya diturutin dan di dengerin.


Raksa melepas celemeknya, dia membantingnya ke atas meja kompor.


"Oke kalau itu yang lo mau! terserah lo mau pergi kemana!" Raksa dengan tatapan menghunusnya. Dia pergi ke luar.


Sedangkan Kalin yang ikutan jengkel segera menghabiskan apa yang dimasak buatnya meskipun nggak ada rasa, mungkin Raksa lupa menambahkan garam di masakannya.


'Apa semua laki-laki seperti itu? maunya bener sendiri?!' batin Kalin. Matanya berkaca-kaca.


Dia menyeka air matanya dan segera menyambar tas. Berbekal google maps, Kalin mencari alamat kampusnya. Jarak antara rumah yang disewa dengan kampusnya cukup jauh, ya lagi-lagi faktor dadakan. Jafi hari ini selain ngeliat kampus, dia juga mau nenangin pikiran. Kalin nggak tau Raksa bawa kunci duplikat atau nggak, dia juga nggak tau suaminya itu pergi kemana.


Masih terlalu muda buat Kalin memahami arti pernikahan yang sesungguhnya. Yang dia tau hanya, dia harus bersama Raksa jika ingin mimpinya bisa terwujud.


Kampusnya sangat besar, dengan gaya klasik berwarna cokelat terang. Kalin memandangnya dari jarak dekat.


"Nggak nyangka gue bisa nyampe kesini..." ucapnya sambil memandang bangunan super megah itu.


Lanjut dari kampusnya, dia ke heaton park. Sengaja Kalin searching taman terdekat dari kampusnya itu. Dia merogoh koceknya buat naik taksi. Sepertinya masalah yang ada di otaknya saat ini yang kepalanya sakit, mendadak disembuhkan dengan pemandangan taman hijau yang nyegerin mata. Kalin berjalan sendian. dia duduk di salah satu bangku kosong. Memandang hijaunya rumput dan pohon-pohon.

__ADS_1


Dalam keheningan dia melihat jauh menerawang kemana sebenarnya tujuannya berlabuh. Menikah ternyata nggak sesimple yang dia pikirkan. Ada banyak hal yang perlu dia pahami dan sesuaikan. Tanpa terasa air matanya mengalir saat mengingat pertengkarannya tadi pagi.


Nggak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Kalin. gadis itu hanya diam sementara air matanya turun deras. Sedangkan ada seorang pria yang sedari tadi mengikutinya.


"Astaga, apa gue terlalu keras sama Kalin? Raksa, Raksa apa yang lo lakuin, Sa!" gumam Raksa yang melihat kalin dari kejauhan.


Sebenarnya sewaktu Kalin keluar dari rumah, Raksa sedang mencoba menenangkan pikirannya. Tapi ketika melihat Kalin yang pergi, Raksa tergerak untuk mengikutinya, bahkan dia menaiki trem yang sama dengan istrinya itu. Tapi karena Kalin yang sedang galau, dia nggak ada ekspektasi kalau Raksa akan membuntutinya. Raksa terus melihat Kalin yang memandangi tempat nya menggapai impian. Bahkan pria itu masih berdiri dan menyembunyikan dirinya, melihat kalin yang duduk di bangku berwarna hitam, dia sesekali menyeka pipinya.


"Seharusnya gue nggak bentak dia! astagaaa, ternyata sulit banget menjalin hubungan dengan perempuan yang lebih muda!" ucap Raksa yang tetap berdiri di posisinya. Dia bergerak saat kalin sudah kenyang menangis. Gadis itu kembali pulang dengan mantel cokelat yang membalut badannya.


Raksa sengaja melihat kalin dari sisi yang nggak terlihat, dia pengen kasih ruang buat Kalin tapi dia juga nggak bisa melepas Kalin gitu aja di negara orang. Bagaimanapun Kalin datang bersamanya, dan dia harus memastikan keamanan istrinya itu.


Ceklek!


Kalin masuk ke dalam rumah yang masih sangat sepi.


Dia melepas sepatu boot dan mantelnya. Dia melatakkan tasnya dan bergerak ke arah kulkas. Dia mengambil satu botol minuman. Dia melihat ke arah sekutar, sepertinya Raksa belum pulang. Kalin duduk di sofa dengan memandang lurua ke arah tivi.


Saat mendengar langkah kaki, Kalin sontak menoleh dan ternyata itu Raksa yang datang. Dia melepas alas kakinya dan pergi untuk mencuci tangannya. Mungkin diam akan menjadi solusi untuk saat ini.


Pria itu masuk ke dalam kamar mandi, tanpa menyapa ataupun minimal bertanya kemana saja istrinya itu pergi. Buat apa nanya kalau dia sendiri yang mengantar istrinya meskipun secara nggak langsung.


Kalin pun masuk ke dalam kamar. Dia meneguk habis minumannya.


"Kenapa dia yang marah? harusnya kan gue! gue yang dibentak loh!" Kalin mulai merepet. Dia melepas syall dan menggantungnya di tempat khusus dia menggantung tasnya.


Nggak berapa lama, Raksa datang dengan hanya menggunakan handuk. Dia dengan santainya mengambil baju dan pergi keluar lagi.


Kalin hanya bisa tersenyum kecut.

__ADS_1


"Kenapa? kenapa dia yang jadi aneh?! dasar Om-Om freak!" gumam Kalin.


Dia pun merebahkan dirinya di atas kasur, dan nggak memperdulikan apapun yang akan suaminya lakukan.


__ADS_2