Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Sekangen Itu?


__ADS_3

Sesampainya di kantor suaminya, Bu Rini mendapati ayah Reno terbaring lemas di klinik. Kata dokter, ayah Reno itu hanya telat makan dan stress berlebihan. Untungnya nggak ada sesuatu yang serius, Bu Rini pun bisa bernapas lega mendengarnya. Sementara di rumah, perasaan Reno agak lain. Dia ngerasa khawatir pada ayahnya dan pertama kalinya dia menghkawatirkan pria yang sudah membiayai hidupnya selama ini. Reno ngerasa bersalah, apalagi saat ngeliat wajah ayahnya yang kecewa saat menerima kenyataan kalau Reno nggak bisa mempertahankan prestasinya.


"Bukan salah lo, jadi nggak usah terlalu dipikirin!" suara bang Arkan yang datang dari arah ruang tamu.


"Assalamualaikum," lanjutnya.


"Waalaikumsalam," sahut Reno yang lagi nungguin adiknya main masak-masakan.


"Waalaikumsalam, abang!" Nadila bangun dan berhambur memeluk Arkan.


"Udah mandi belom nih?" tanya Arkan sambil mengendus rambut adiknya.


Reno tertegun ngeliat Arkan yang keliatan sayang banget sama Nadila, dia ngerasa kalau selama ini matanya dibutakan oleh rasa benci yang nggak berkesudahan.


"Dah, main lagi, ya?" Arkan menurunkan gadis kecil itu dan duduk lesehan bareng di bawah.


Reno menghadap tivi lagi, dia pura-pura nggak menyadari kehadiran abangnya.


"Ayah udah cerita. Tadi siaang ayah nelpon gue," ucap Arkan, dia naruh tasnya di bawah.


"Lo pasti mau ngetawain gue ya, kan?" Reno ngelirik sekilas.


"Ngetawain? apa yang mau diketawain? adek gue ranking 5 ujian di sekolahnya, apa yang harus diketawain coba? gue malah bangga sama lo!" ucapan Arkan adem banget.


"Ayah sakit bukan karena ngeliat fakta kalau anaknya nggak jadi nomor satu, tapi tekanan kerja yang makin bikin ayah ngelupain kesehatannya. Ayah bahkan sering ngelewatin sarapan dan makan malem," jelas Arkan.


"Nomor satu atau bukan itu nggak masalah, lo bakalan kuliah dengan atau tanpa beasiswa. Ayah bilang tadi kalau tabungan berjangka punya lo bakalan cair dalam minggu ini. Gue disuruh nemenin ayah pas ngambil duit itu..."


"Kenapa lo ngasih tau gue?"


"Supaya lo nggak khawatir!" Arkan tersenyum.


"Meskipun terseok-seok, ayah selalu simpan uangnya buat kita. Ayah emang keras, tapi sebenernya hatinya itu lembut, dia rela kerja ekstra demi menghasilkan duit yang lebih banyak. Kita beruntung punya ayah seperti itu..." Arkan memandang Reno yang menatap ke layar tivi tapi pikirannya mengawang entah kemana.


"Jadi lo nggak usah cemas! oke?" lanjut Arkan yang bangkit dan menepuk pundak adiknya sebagai bentuk dukungannya.


"Apa gue harus minta maaf?" tanya Reno yang kemudian menghentikan langkah abangnya.


"Tentu! minta maaf lebih bagus! gue mandi dulu..." Arkan yang kemudian pergi menuju kamarnya dulu sebelum akhirnya dia pergi buat mandi.

__ADS_1


Sementara Raksa di ruangan barunya agak asing.


"Kok kursinya kurang enak ya? apa gue yang terlalu tegang duduk disini?" Raksa sesekali membenarkan kemejanya.


"Apa gue harus beli jas juga?" gumamnya dengan jari yang menyentuh bibir.


Dan jari itu beralih mengelus meja yang ada di depannya, "Gue rasa gue harus ngajak bocil buat milihin gue jas yang bagus!" dia masih bergumam sendiri.


Sampai akhirnya ada satu chat WA dari Farid mengenai rencana makan malam mereka. Terlintas di benak pria itu buat ngajak tunangannya buat makan bareng temen-temennya. Ya selain mereka semua udah tau Kalin, ya sekalian memproklamirkan bahwa dia udah punya pasangan.


Raksa menempelkan hapenya di telinganya buat menghubungi seseorang, "Assalamualaikum, Tante..."


"Waalaikumsalam, ada apa, Nak?"


"Begini, Tante. Saya mau ngajak Kalin buat makan malam bersama dengan teman-teman satu divisi saya. Kebetulan saya abis dapat promosi jabatan," Raksa sopan.


"Selamat ya, Nak? iya iya boleh, asal jangan terlalu malam ya pulangnya. Nanti tante bilangin sama Kalin biar dia siap-siap. Kayaknya sih udah pulang tadi," kata bundanya Kalin.


"Terimakasih sebelumnya, Tante. Assalamualaikum..."Raksa pun nutup telponnya.


"Udah pulang? atau baru pulang?" Raksa ngecek jam tangannya. Dia ngerutin alisnya.


Sementara bunda Lia yang baru ditelpon calon mantu pun segera menyampaikan amanat yang baru aja diterimanya.


"Kalin?" bunda Lia yang ngetokin pintu.


"Masuk aja, Buuuun?!" suara serak dari dalam kamar mengijinkan wanita itu buat masuk ke dalam.


Bunda Lia ngeliat anaknya masih goleran masih pakai kaos kaki dan juga seragam putih abu-abu yang penuh dengan coretan.


"Kenapa, Bun?" tanya kalin yang bangun dengan rambut yang berantakan.


"Bunda habis dapet telpon dari Raksa, katanya nanti malem dia mau jemput kamu buat makan malam!" jelas bunda yang ikutan duduk di pinggir ranjang anaknya.


"Makan malem?" Kalin nautin alisnya.


'Apa sekangen itu? sampe pengen ketemu sama gue terus? perasaan tadi udah ketemu dan makan siang bareng?' batin Kalin.


"Kamu nanti mandi, lagian ini juga udah sore. Nggak baik buat tiduran..." kata bunda dia mengusap kepala anaknya sebelum keluar dari kamar itu.

__ADS_1


Sedangkan Kalin masih males-malesan, mukanya agak kucel. Badannya beneran capek banget, kayaknya yang dia butuhin sekarang cuma tiduran yang lama buat ngembaliin tenaga yang udah ilang tadi.


Sampai akhirnya beberapa jam kemudian, raksa pun datang dengan tampilan yang udah seger. Dia sempetin pulang buat mandi dan pakai baju yang lebih santai. Karena ini makan malam biasa bukan acara formal jadi dia lebih sreg pakai jeans dan kemeja warna hitam yang sengaja di gulung bagian tangannya sesiku.


Dan dengan erat hati Raksa harus menolak ajakan sang calon mertua buat nge-gym bareng. Dan kebetulan ayah Diki telpon, sekalian dia minta ijin buat ngajak anaknya pergi. ya sekalian ngerayain naik jabatannya dan juga kelulusannya Kalin. Sama ayahnya Kalin ya boleh-boleh aja, nggak dilarang. dan dia malah seneng akhirnya dua anak yang dijodohkan sekarang tambah deket. tapi ya itu syarat pulang jam malam kalin dibatesin. Nggak boleh lebih dari jam 10 malem. Meskipun dia udah lulus sekolah, tapi aturan jam malem itu udah jadi peraturan baku yang nggak boleh dilanggar selama Kalin tinggal sama mereka.


"Sebentar ya, Nak? tante liat dulu..." Bunda LIa yang tadinya duduk di ruang tamu bareng suaminya dan juga calon mantu yang baru dateng pun memilih buat pergi. Ngecek kok si Kalin nggak muncul-muncul, kenapa?


Biasa, bunda ngetok pintu dulu sebelum masuk. Tapi nggak ada sahutan dari dalem.


"Kalin? bunda masuk ya?" seru bunda dari balik pintu. Dia ijin siapa tau anaknya itu lagi di kamar mandi apa gimana.


Namun setelah dibuka...


Jreng jreng jreng!


Anaknya ketiduran habis sholat! jadi Kalin ngegeletak di kasurnya dengan mukena yang tergeletak di bawah, belum sempet diberesin.


"Ya ampun?!! ditungguin daritadi ternyata malah tidur?!" Bunda ngambil sajadah mukena, lalu disampirin di kursi meja belajar Kalin.


"Kalin? Kalin? kok malah tidur sih kamu?" bunda berusaha menggoyang-goyangkan badan anaknya.


"Kenapa sih, Bun?" suara Kalin serak.


"Malah nanya kenapa?! itu loh Raksa udah dateng! kok kamu malah tidur lagi?"


Mendengar nama Raksa, kalin pun terkejut. Dia bangun seketika.


"Hah?" Kalin menatap bundanya dengan muka bantal.


"Raksa udah di depan! kamu siap-siap, gih! cuci muka dulu, biar segeran, terus ganti baju! jangan kelamaan, kasian dia udah nungguin kamu daritadi!" ucap bunda.


Tanpa kata Kalin pun lari ke kamar mandinya buat sikat gigi dan cuci muka lagi, padahal beberapa saat yang lalu dia udah mandi. tapi karena ketiduran, muka dia jadi sembab lagi.


"Jangan lama-lama ya, Kalin? langsung ke depan kalau udah selesai!"


"Yaaaa, Buuuuun!" seru Kalin dari dalam kamar mandinya.


Setelah keluar, si bocil bergerak ke lemarinya.

__ADS_1


"Pakai baju apa gueeeee?" ucapnya saat nggak ada ide buat make baju yang mana.


__ADS_2