
Ternyata kalau dihitung-hitung banyak juga yang harus dibelinya, bukan cuma bahan makanan tapi cemilan buat dia dan Kalin pun sepertinya semakin menipis.
Dia kembali setelah hari sudah menunjukkan pukul 7 malam, karena kebetulan supermarket yang dia kunjungi itu jaraknya lumayan jauh dari rumahnya. Niatnya dia hanya ingin ke toko Asia tapi ternyata ada yang ingin dia beli tapi nggak tersedia di toko itu. Alhasil Raksa pergi ke tempat yang lain lagi.
Tok tok tok!
"Kalin ini aku, Raksa. Buka pintunya!" ucap Raksa setelah menyadari kalau dia lupa bawa kunci rumah.
Tok tok tok!
"Kaliiiiin?!!!!"
"Yaaaa sebentaaaaarrrrr!" sahut Kalin dari dalam.
Semenatra Kalin yang baru selesai menyiapkan makan makam yang nggak tau enak apa nggak pun bukannya emmbuka pintu untuk suaminya, melainkan dia pergi ke kamar mandi. Dia mengambil handul dan segera membasahi badannya dengan air.
"Kaliiiin?"
"Yaaaa sebentaaaaarrr!" kata Kalin yang menjawab nggak kalah kencengnya dari Raksa.
Raksa mulai pegel dengan belanjaan yang berada di tangannya, "Aishh, lagi ngapain sih dia?"
Lima menit, sepuluh menit berlalu tapi Kalin nggak kunjung bukain pintu...
"Kaliiin? bukain pintuuuu!" ucap Raksa untuk kesekian kalinya.
"Yaaa sebentar," begitulah ucapan Kalin setiap dipanggil suaminya.
Namun sepertinya kata sebentar hanyalah janji manis yang nggak kunjung ditepati. Sampai akhirnya Raksa menaruh belanjaannya di depan pintu dan melihat jam di arlojinya.
"Ini Kalin gimana sih konsepnya? daritadi dia bilang sebentar-sebentar tapi nggak dibukain pintu juga.
Satu jam kemudian...
"Yaaaa sebentaaaarrrr?!!!" ucap kalin yang kemudian membuka pintunya.
"Kalin kamu ini---"ucapannya terhenti saat melihat Kalin yang sangat berbeda malam ini.
Tatapan Kalin tajam mengarah padanya sampai Raksa sendiri hampir kayak orang kena gendam.
"Selamat malam suamiku," ucap Kalin.
Raksa menggelengkan kepalanya, takut dia berhalusinasi. Tapi sosok itu masih berdiri di depannya.
"Astagaaa, Kalin!" Raksa memekik saat menyadari kalau Kalin mengenakan pakaian yang kurang sopan dan kurang bahan.
Buru-buru Raksa mengambil barang belanjaannya dan menyuruh Kalin untuk masuk ke dalam.
"Ya ampun?! apa yang kamu---"
__ADS_1
"Ssshhhutt! jangan protes!" Kalin menempelkan telunjuknya di bibir suaminya yang kini tangannya melepaskan belanjaan.
"Kamu pasti capek ya? aku udah masak buat makan malam kita," kata Kalin.
'Ni bocah kenapa sih? nggak biasanya kayak begini? jangan-jangan dia kesambet setan di kampusnya?' batin Raksa.
Darimana dia mendapatkan baju seperti itu, perasaan Raksa nggak pernah melihat Kalin berpakaian seperti orang dewasa.
"Jangan kebanyakan mikir, Sayang. Nanti kamu cepet tua! masa aku masih cantik tapi kamu udah punya keriput dimana-mana?" ucap Kalin.
"Duduk disini," lanjutnya mendorong bahu Raksa ke bawah.
"Oke?"
"Malam ini kita akan makan menu spesial buatan istri kamu yang bukan hanya pintar di kampus, tapu juga pintar di dapur," Kalin membisikkan kalimat itu di telinga Raksa.
"Oke. Jadi makan malam---"
"Shhhuuuttt, jangan kebanyakan protes, Sayang!" Kalin kali ini mencium pipi suaminya.
Tapi Raksa yang daritadi nggak kuat mendengarkan Kalin bicara dengan cara bisik berbisik pun, meraih pinggang istrinya. Dia mendudukkan Kalin di pangkuannya dan mencium istrinya itu.
"Kamu sengaja mau ngerjain aku ya, Kalin? hmmp?" tanya Raksa yang membelai rambut Kalin yang terurai.
"Darimana kamu belajar kayak gini, Cil?" lanjut Raksa yang beneran nggak kuat menahan gejolak dalam dirinya.
"Stop panggil aku bocil. Karena aku, bukan bocil lagi, mengerti?" ucap Kalin.
"Sangat sangat dewasa, Tuan! bahkan aku, bisa lebih dewasa dari wanita manapun!" Kalin mengendus, dia mencoba mencari parfum Rahmi. Tapi beruntungnya Raksa mengenakan baju seragam kerjanya, jadi yang sekarang dipakainya baju biasa yang ngga ada jejak bau parfum lain selain wangi parfum maskulin milik Raksa sendiri.
Raksa membelai wajah Kalin, "Jam berapa kita akan makan malam?"
"Baiklah, Tuan! jika anda sudah lapar, aku akan menyajikan makanan untuk anda. Tunggu dan jangan kemana-mana, cekidot!" ucap Kalin.
Sontak saja Raksa ingin tertawa, dia nggak habis pikir dengan istrinya yang berubah 180 derajat.
Ketika Kalin akan bangkit, Raksa menariknya dan memberikan satu kecupan lagi. Barulah dia melepaskan Kalin yang bergerak ke arah dapur.
"Astagaa, ngapain si bocil? lagi latihan main teater apa gimana nih bocah?" gumam Raksa yang merasakan celananya sempit.
"Hadeeeuuh, Cil Cil! nguji kesabaran banget nih bocah! pantesan sejam ditungguin nggak dibuka-buka pintunya, jadi ini toh alasannya!" Raksa yang tadinya udah keluar tanduk sekarang nurut seperti bayi. Dia ngeliat Kalin sibuk menata makanan di meja.
"Baiklah, Tuanku! ini adalah meu makan malam kita.Kamu sudah cukup sering makan nasi, jadi salad sayur dengan sentuhan kearifan lokal yang akan membuat badanmu semakin sehat. Dan ini citong, untuk menambah cita rasa pedasssss yang sesungguhnya," ucapnya dengan mendayu-dayu.
"Citong? apaan citong?"
"Aci dipotong!" bisik Kalin di telinga Raksa.
"Oh oke, ini sangat luar biasa!"
__ADS_1
"Luarrr binasaaah, Sayang!" protes Kalin.
"Iya iya luar biasa! wow, mimpi apa aku semalam ya? dimasakin istriku untuk yang pertama kalinya," kata Raksa.
"Sshhhuuuuutt! biar aku yang membantumu Tuan!" kata Kalin yang mencegah Raksa untuk menyentuh sendok dan garpunya.
Raksa beneran terhipnotis dengan apa yang dilakukan Kalin. Istrinya itu duduk dipangkuannya sembari menyuapkan pecel sayur yang udah pasti enak, karena Kalin bikinnya pakai bumbu instan. Ini adalah menu terakhir yang ada di otaknya, karena beberapa kali dia gagal membuat pasta dan dia memutuskan menyerah.
Kalin menyuapkan makanan ke mulut Raksa, "Bagaimana? apakah sesuai dengan seleramu?"
"Sangat sesuai!"
"Baguslah!" Kalin mencoba membenarkan duduknya, tapi itu membuat sesuatu malah membuat siksaan lain untuk Raksa.
"Kalin!"
"Sshuuuutt! makan yang benar, karena aku sudah cukup mengerahkan tenaga untuk membuat makanan ini," ucap Kalin.
Jarak yang terlalu dekat membuat Raksa bisa mencium bau parfum milik istrinya.
Kalin tetap menjejalkan makanan ke mulut suaminya, "Minum Sayang! jangan sampai kamu keselek!" ucap Kalin.
Ucapan itu membuat Raksa tertawa terbahak-bahak, bisa-bisanya Kalin mengatakan jangan sampai keselek. Itu kalimat yang udah nggak bisa Raksa tolerir lagi. Dia ketawa sampai mukanya merah.
Tapi Kalin nangkapnya berbeda. Usahanya membuatkan makanan dan berdandan semenarik mungkin ternyata hanya ditertawakan Raksa.
Brak!
Kalin menaruh piringnya dan mencoba untuk bangkit.
Namun secepat kilat, Raksa menariknya.
"Hey? kenapa? kenapa kamu malah marah?"
"Awas ah! aku mau ganti. Tolong cuci piringnya ya! awas kalau masih ada piring yang kotor!" Kalin berubah jadi galak.
"Loh? kenapa ganti? kan aku belum selesai makannya!" Raksa buruan minum, dia menyadari telah membuat satu kesalahan.
"Tadi aku bukam ngetawain kamu!" Raksa membela diri.
"Terus ngetawain setan gitu?!" Kalin ketus.
"Setan? mana ada setan disini? makasih ya udah disambut dengan sangat menarik. Kalau bisa setiap hari seperti ini," kata Raksa.
Dia menyelipkan jari jemarinya di rambut Kalin, matanya memandang istrinya dengan penuh cinta.
"Diamlah jangan bergerak, aku sedang mengalami siksaan yang berat!" ucap Raksa.
"Apa makananku nggak enak?" tanya Kalin.
__ADS_1
"Bukan makanan itu tapi kamu?!" ucap Raksa yang kemudian memberikan Kalin kecupan bertubi-tubi. Dia menggendong Kalin dan menutup pintu dengan kakinya.
"Aku sudah cukup bersabar dan aku ingin makan malam yang sesungguhnya!" ucap Raksa kemudian.