
Raksa nggak bosen buat mandangin wajah tunangannya.
"Ada yang salah sama muka gue?" tanya Kalin.
"Nggak ada!"
"Terus ngapain ngeliatnya gitu banget?" Kalin jadi salting.
"Nggak apa-apa, gue suka aja!" ucap Raksa.
"Habis ini kalian mau kemana lagi?"
"Jalan-jalan ke taman atau ke musium!" sahut Kalin.
"Jangan ke taman! banyak orang pacaran, ntar lo pengen gue yang repot!"
"Dih, apaan sih?" Kalin nggak kuat kalau di tatap kayak gini.
"Jangan ngeliatin dengan tatapan kucing garong kayak gitu!" lanjutnya.
Raksa pun tertawa, "Hahaha, oke oke lah!"
"Tapi gue serius! lo berdua jangan ke taman, takutnya ada jambret atau apa,"
"Waktu itu juga lo ngajak gue makan di taman,"
"Lah itu kan ada gue! gue bisa jagain kalau ada apa-apa. Pokoknya jangan ke taman, nonton bioskop kek atau ke musium juga boleh. Biar Nova agak pinteran dikit!" lanjutnya.
"Ya udah, gue duluan!"
"Gue nggak kasih uanng saku ya. Karena kita butuh banyak duit setelah ini," kata Raksa.
"Iya! lagian gue kesini nggak minta duit, wleee!" Kalin julurin lidahnya, ngeledek.
"Ya udah kalau gitu!" Raksa kasih tangannya.
"Apaan?
"Salim dulu!" kata Raksa yang menyuruh Kalin mencium punggung tangannya.
Kalin pun menurut dengan satu sudut yang ditarik ke atas, "Nyebelin!"
"Nah gitu, yuk gue anter ke depan!"
'Kalau dianter ngapain juga gue salim duluan, Mamaaaaang?!!' batin Kalin.
Sedangkan Raksa ngerangkul pundak Kalin, dia menggiring bocah itu keluar. Dan itu nggak luput dari pandangan Rahmi. Dia mengintip dari jauh.
"Udah sampai sini aja! gue bisa jalan sendiri sampai sana!" Kalin menunjuk dimana motor Nova berada.
__ADS_1
"Ya udah kalau gitu," ucap Raksa.
"Oh ya, met kerja!" Kalin mengeluarkan sesuatu dari tas nya.
"Dadah!" lanjut Kalin yang lari menuju Nova.
Sementara Raksa melihat benda yang ada di tangannya, "Kinder joy?"
Pria itu tertawa sambil memegang makanan bocah yang paling dihindari sama emak-emak sejagat raya.
"Bocil ngasih gue kinder joy? dia pikir gue anak SD yang masih maka beginian?" Raksa masih mengawasi Kalin yang baru menghampiri Nova. Dia terus melihat ke arah sana, sampai dua orang itu pergi dengan motor vespa.
Raksa pun berbalik. Dia masuk dengan memegang cemilan dengan bentuk seperti cangkang telur berwarna oranye, yang kini dia masukkan ke dalam saku jasnya.
"Kenapa dia begitu senang? memangnya apa yang sudah diberikan bocah itu?" gunam Rahmi. Hatinya seketika panas.
Rahmi yang bersembunyi dibalik salah satu sudut pun, akhirnya keluar saat Raksa sudah masuk ke dalam lift. Pria itu sepertinya seketika lupa dengan masalahnya. Sementara Rahmi masih terpaku di tempatnya berdiri.
"Nggak, nggak! gue nggak boleh kalah dari bocah ingusan itu!" gumam Rahmi.
Namun, saat kakinya akan melangkah ada panggilan masuk dari ibunya.
"Mi? nanti pulangnya jangan kemaleman! orangtuanya pandu mau ke rumah!"
"Udah berapa kali sih kita omongin ini? Rahmi nggak mau sama pandu, Mah! sekali-kali, mamah ngerti dong perasaan Rahmi..." Rahmi dia belipir ke salah satu sudut.
"Tolong jangan paksa Rahmi terus, kalau nggak mau Rahmi pergi dari rumah!" ancamnya.
"Rahmi capek! Rahmi mau kerja!" ucap Rahmi yang kemudian menutup telepon dari ibunya.
Dia menarik nafas dan menghembuskannya, sebelum dia balik lagi ke atas.
Sedangkan Tania yang ngeliat balik lagi ekspresi yang berbeda pun hanya naikin alisnya, dia heran karena beberapa saat yang lalu pria itu begitu marah bahkan meninggalkannya di ruangan. Membuat karyawan yang lain bertanya-tanya. tania yang ditanya kenapa pun, beralsan kalau Raksa marah karena ada keteledoran dirinya soal laporan. Bukannya mau memfitnah, tapi Tania nggak mungkin menceritakan percakapan apa yang membuat raksa begitu marah padanya.
Dan selang beberapa saat, dia melihat Rahmi yang baru masuk. Wajahnya nggak begitu baik. Tania yang lagi puyeng pun, diem aja no comment. Paling rahmi lagi kesel sendiri.
Dari kejauhan rahmi bisa ngeliat Raksa yang mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya dan menggenggam sesuatu di tangannya. Beberapa kali pria itu tertangkap mata Rahmi sedang tersenyum.
Raksa yang baru mendapatkan jabatan baru, bekerja sesuai dengan porsinya. Dia memang kecewa, tapi dia bis apa? Toh sebentar lagi dia akan resign dan soal permintaan farid buat ngegantiin dia, Raksa menjadi pesimis soal itu.
"Nggak mungkin pak galang mau ngedengerin permintaan gue. Sedangkan dia kayak udah kasih tanda supaya bisa ngedepak gue dari kantor ini! Tapi sebelum gue terjengkang, mending gue keluarin diri gue sendiri!" gumam raksa di tengah pekerjaannya.
Dia membuka kacamatanya sesaat, sebelum dia pakai lagi dan mulai bekerja lagi.
Sedangkan di jalanan, Nova dan Kalin ribut soal kemana arah tujuan mereka.
"Kata abang lo kita nggak boleh ke taman!" seru Kalin.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Takut ada jambret!"
"Oh," Nova sembari membagi fokusnya, antara dengerin Kalin ngomong dan ngeliat ke arah jalanan yang lumayan ramai.
"Terus kita kemana?"
"Toko bunga!" ucap Kalin.
"Nanti malam ultahnya bunda, gue pengen kasih dia sesuatu! bunda gue suka sama bunga!" kata Kalin.
"Mending, ke toko bunganya terakhir. Masa iya kita bawa-bawa kembang di mall?"
"Emangnya kita mau ke mall lagi?"
"Lah terus kemana? katanya ke taman nggak boleh?!" seru Nova.
Cyiiit!
Nova mengerem saat mereka harus berhenti di lampu merah.
"Lah katanya lo mau cari kado? gimana sih?"
"Lah katanya kita mau ke musium? yang bener yang mana?" tanya Kalin.
"Astagaaaa! itu kan cuma alesan doang, Kalin! Masa iya gue mau ke musium? mau apa? emang gue lagi study tour?" ucap Nova.
"lah gue kira lo seriusan! ya udah kita puter balik aja. Cari mall yang deket-deket sini!" kata Kalin.
Dan Nova pun tancap gas lagi setelah menggosongkan diri di bawah terik sinar matahari. Mereka putar balik dan pergi menuju sebuah pusat perbelanjaan yang akan menjadi tujuan utama mencari kado buat bunda Lia.
Jadi nanti malem, biasanya ultahnya bunda dirayain bertiga, mungkin malam ini akan berbeda. karena keluarga Raksa bakalan dateng ke rumah.
"Novaa? kamu dimana?" Nova dapat telepon dari bu Selvy.
"Di mall, lagi nemenin Kalin buat nyari kado!"
"Kado? kado buat siapa? tanya bu Selvy penasaran.
"Buat bundanya, tante Lia katanya ulangtahun hari ini!" ucap Nova.
"Oh gitu? pas banget, ntar malem kita semua akan ke rumah Om Diki dan Tante Lia! Jadi kamu pulang cepet ya? bantuin ibu bikinnasi kuning!"
"Maksudnya nasi kuning?"
"Kalau ulang tahun itu bagusnya bikin nasi kuning! udah pokoknya habis nayri kado, kamu langsung pulang! kamu kan jago bikin buletan perkedel! udah ya? inget?! jangan lama-lama!" pesan ibunya.
Sedangkan Kalin yang nggak sengaja denger percakapan Nova dengan ibunya pun akhirnya bertanya, "Ada apaan?"
"Suruh disuruh bantuin ibuk bikin nasi kuning! roman-romannya ibu gue bakal bawa tumpeng ke rumah lo, Lin!" ucap Nova.
__ADS_1
Nasi kuning dan bu Selvy seperti dua elemen yang nggak bisa dipisahkan. Apapun acaranya, nasi kuning makanannya! Begitulah kira-kira...