
Dan mulai hari itu Kalin dan Raksa dicekoki ramuan buatan Oma Nilam hampir setiap hari. Kalin merasa sebuah keberuntungan kalau ibuk lagi ada acara kondangan atau apapun itu yang bikin Kalin mangkir dari minum jamu yang bikin getir di lidah.
Udah sekitar semingguan, kedua pasangan itu meminum ramuan jamu yang enak di badan tapi nggak enak dilidah mereka. Dan Raksa yang awalnya mau ngomongin sama orang menguntit mereka, mengurngkan niat itu karena dinilai
Sementara malam ini Raksa lagi menyiapkan dokumen yang diperlukan buat ngelamar kerja.
"Mas, aku boleh kerja juga?"
"Boleh..."
"Bener ya, boleh?"
"Iya, boleh. Kan kemarin ayah minta CV kamu..."
"Ayah? ayah siapa?" tanya Kalin..
"Emang ayah kamu ada berapa?"
"Ya satu!"
"Huufh, kemarin ayah minta CV kamu..." ucap Raksa lagi.
"Aku kira kamu udah tau. Emang ayah belum nanya sama kamu?"
"Belum! ayah belum bilang apa-apa. Emang mau buat apa?" tanya Kalin.
"Mana aku tau. Emang CV biasanya buat apa?" Raksa mancing Kalin.
"Buat ngelamar kerjaan?" Kalin lirih.
Daripada bertanya-tanya, Kalin telfon ayahnya sendiri.
"Halo, Yah? assalamualaikum!" sapa Kalin.
"Waalaikumsalam, ya kenapa Kalin? tumben telfon ayah malam-malam kayak gini?"
"Maaf ganggu ya. Yah? kata mas Raksa kemarin minta CV nya Kalin. Emang buat apa?"
"Oh iya, kemarin ayah kemarin minta sama Raksa. Katanya dia punya Cv kamu..."
"Iya buat apa, Yah?"
__ADS_1
"Buat ayah masukin ke perusahaan ayah!" kata ayah Diki.
"Ayah pengen kamu kerja di perusahaan ayah! kamu ini kan anak ayah," lanjutnya.
"Kok ayah, maksudnya kok ayah nggak tanya dulu sama Kalin sih, Yah?"
"lah memangnya kenapa? kamu sudah lulus kuliah. Daripada kamu kerja di perusahaan lain? lebih baik kamu kerja di perusahaan ayah, Kalin! perusahaan ini kan nantinya juga buat kamu..." kata ayah.
"Iya, tapi kan..."
"Daripada kamu kerja di perusahaan lain, nanti kamu diomel-omelin orang. Mending kamu kerja di perusahaan ayah, Kalin! Dan ayah harap kamu menerima itu. Ayah udah ijin kok sama Raksa, Raksa setuju aja!" kata ayah Diki.
"Mas Raksa setuju?" tanya Kalin, dia ngelirik ke arah suaminya yang lagi obrak-abrik ijazah dan yang lainnya.
"Iya udah setuju. Besok kamu udah bisa dateng, ya?"
"Iya, Yah. Ya udah kalau gitu. Maaf gangu istirahat ayah. Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam!" ucap ayah Diki sebelum panggilan itu terputus.
Kalin mendekat pada suaminya, "Kok ayah ijin sama---"
"Sama aku!" serobot Raksa.
"Yang minta ayah kamu sendiri. Masa iya aku tolak?"
"Iya tapi kan nggak langsung kirim CV ku segala, kan? harusnya mas itu tanya dulu sama aku! jangan mentang-mentang jadi suami, terus main memutuskan sesuatu!" suara Kalin naik.
Raksa pun cuek aja, dia lagi beresin dokumen dia.
"Mas, aku tuh lagi ngomong sama kamu bukan sama tembok!"
"Aku nggak akan ladenin kalau cara bicara kamu nggak sopan kayak gitu!" sahut Raksa. Dia laly menyimpan kumpulan dokumen yang dia simpan di satu tas besar, dan dia pindahkan tas itu ke dalam lemari.
"Gimana aku mau sopan. Kalau kamu aja, main kasih CV aku!"
Raksa nggak mau ngeladenin. Dia yang pakai celana pendek dan kaos oblong pun nyari setelan kerjanya yang besok mau dia pakai.
"Massss?!!!" Kalin jengkel.
"Turunkan suara kamu, Kalin!" Raksa dengan tegas, dia sudah menetukan setelan mana yang akan nanti akan dia pakai.
__ADS_1
Kalin mendekat, "Aku pengen kerja, tapi bukan di perusahaan ayah..."
"Kamu ngomong sendiri aja sama ayah kamu," jawaban dari Raksa.
"Katanya kamu pengen kerja? Nah ini kamu udah dikasih peluang. Aku nggak bisa menolak karena itu ayah kamu sendiri yang minta. Akhir-akhir ini dia merasa kurang sehat, dia ingin anaknya suatu saat bisa menggntikan posisinya. Terus kalau alasannya kayak gitu aku bisa menolak? Dan ayah bilang kalau ayah akan ngomong langsung sama kamu," lanjutnya.
Nggak biasanya suaminya itu marah kayak gini. Apalagi selama di Manchester, hampir empat tahun ereka adem ayem. Hanya beberapa kali memang ada salah paham, tapi Raksa nggak pernah bersikap acuh seperti ini.
Boro-boro mau memproduksi bayi, malam ini aja Raksa sibuk di depan leptopnya sampai tengah malam. Sedangkan Kalin tidur dengan hati yang dongkol.
Memang benar dia pengen kerja, dan itu ydah ditanyain ke Raksa seminggu yang lalu. Tapi bukan berarti di perusahaan ayahnya juga. Dia pengen berusaha dengan kemampuannya sendiri tanpa ada channel dari orangtuanya. Lah kalau kerja di perusahaan ayahnya, nggak mungkin dia merangkak dari bawah. Dia pasti langsung di tempatkan di posisi penting.
Mata Raksa melihat tampilan cctv yang dia setting di leptop dan juga hapenya.
Dan saat dia mendapati sebuah mobil yang lewat di depan rumahnya Raksa pun bergumam, "Siapa lo sebenernya? mau apa lo ngawasin rumah gue beberapa hari ini?"
Pria itu melipat tangannya di depan dadanya, dia mengklik kamera yang lainnya. Dan kemudian tertangkap no plat mobil itu.
"Yes, dapat! Gue akan cari tau pemilik mobil ini!" Raksa menuliskan nomor plat di atas kertas.
Raksa sedang mengamati rumahnya yang kini dia taruh cctv di beberapa titik.
Bukan tanpa alasan, tapi ketika dua hari setelah kepulangannya dengan Kalin, dia ergi ke minimarket dengan Kalin malam harinya. Karena tiba-tiba aja, Kalin pengen mie pedas katanya lidahnya eror setelah minum ramuan jau yang dikasihkan ibu nya Raksa. Liat istrinya yang gulang-guling nggak jelas, akhirnya di jam 10 malam, Raksa keluar. Tapi anrhnya Kalin nggak mau ditinggal. Dia takut sendirian di kamar. Masih asing katanya.
Malam itu Raksa ngeboncengin Kalin dengan motor dan pergi ke minimarket terdekat.
'Mas? kamu pengen yang mana?' tanya Kalin yang udah mengubah panggilannya.
'J-jjang myeon!' ucap Raksa.
Kalin mengambil mie yang bertuliskan 'J-jajang'.
Setelah membeli minum dan beberapa cemilan lainnya, mereka ke kasir. Tapi Raksa ngerasa kalau ada satu orang yang memperhatikan mereka dari balik rak-rak yang dipenuhi oleh barangbjualan di minimarket itu.
'Ada apa, Mas?' tanya Kalin.
'Nggak ada apa-apa...'
'Totalnya 155 ribu, Kak!' kata si Kasir.
Raksa segera membayar nya. Setelah dapet kembalian, Raksa ngajak Kalin pulang.
__ADS_1
Di kaca spion, Raksa bisa melihat ada lampu mobil yang ada di belakang mereka. Tapi anehnya si mobil ini nggak langsung nyalip. Raksa langsung feeling kalau beneran ada orang yang lagi mngikuti mereka sejak mereka di pesawat.
Sekarang, Raksa menutup leptopnya dan mencoba untuk tidur datu selimut dengan Kalin.