
"Iya, mah! ternyata kalin sedang hamil, usia kandungannya kurang lebih 4 minggu..." ucap Raksa gentle.
"Aku rasa aku nggak mengingkari janjiku sebagi seorang laki-laki, Yah! Kalin sudah selesai kuliah dan---"
Tanpa berkata apapun ayah mendekat ke arah Raksa dan memeluknya.
"Selamat anakku! selamat!" ucap ayah. Sontak itu membuat Raksa kaget, karena dia nggak akan menyangka reaksi ayah akan begitu.
"Ayah?"
"Kamu memang laki-laki hebat! kamu sudah berhasil menepati janjimu. Ayah bangga Raksa sudah memiliki menantu seperti kamu!" ucap ayah sembari membungkuk, karena sekarang Raksa masih duduk di kursi roda.
"Selamat ya, Sayang!" ucap bunda dia mengelus dan mengecup punggung tangan putrinya.
"Jadi benar ini ayah sama bunda bakalan punya cucu?"
"Doain aja, yah..." lirih Kalin.
"Astagaaa, untuk calon cucu ayah nggak kenapa-napa! Galang harus tau ini, biar dia bisa bertanggung jawab!" kata ayah geram.
"Sudah lah, Yah! bunda nggak mau ada keributan. Sudah cukup hari ini bunda disalah-salahin Mama!" ucap bunda.
dan beberapa saat kemudian, pintu ruang rawat itu terbuka dan masuklah rombongan dari keluarga Raksa. Disitu ada pak Hendra dan bu Selvy, dia nggak lupa bawa Nova. Nova yang lagi magang di perusahaan tempat pacarnya bekerja pun ikut nengokin abangnya yang katanya habis diserang orang yang nggak dikenal.
"Ya Allah!!!!!" Bu Selvy langsung menyerbu Raksa yang kaget dengan kemunculan ibunya yang tiba-tiba.
"Ya ampun, Raksa? anakku! gimana? apa yang diserang? kenapa kamu pakai kursi roda? kaki kamu nggak bisa digerakkan apa gimana? ya ampun? ibu khawatir banget Raksa, huhuhuuhuhuu!" bu Selvy menangis sambil meluk Raksa yang masih belum siap dengan semua ini.
"Buuk sing eling, Buk! ini rumah sakit, ibu jangan berisik!" kata pak Hendra.
"Sini siapa yang berani ngusir Ibuk? ini loh, Pak! anak kamu habis diserang orang!" Bu Selvy melancarkan tatapan mematikan sampai bapaknya Raksa sampai nggak bisa berkutik sama sekali.
__ADS_1
"Huhuhu, anakku!" bu Selvy lanjut meluk anaknya lagi.
"Buk? Ibu? Raksa nggak apa-apa, Buk..." kata Raksa yang mencoba menenangkan hati ibunya.
"Kalin? lo nggak kenapa-napa, kan?" tanya Nova, dia bergerak ke arah ranjang kalin.
Bu Selvy pun baru sadar kalau yang diserang bukan hanya anaknya saja tapi juga menantunya yang rebahan di tempat tidur.
"Kalin? kamu bagaimana, kalin? astagaa! kamu pasti kesakitan ya?" bu Selvy bergeser meninggalkan anaknya dan sekarang di sisi ranjang menantunya.
"Nggak apa-apa, Buk..." Kalin berusaha tersenyum, padahal kepalanya juga lagi sakit.
"Kenapa sampai diperban seperti ini?" Bu Selvy menangis. Dia mengusap kepala Kalin pelan.
"Nggak apa-apa, Buk? alhamdulillah nggak ada yang perlu dikhawatirkan," kata Kalin.
"Alhamdullah semuanya selamat, Jeng! termasuk calon cucu kita..." kata bunda Lia.
"Maksudnya bagaimana, Jeng?" bu Selvy bertanya dengan mengusap air matanya yang udah tumpah sedari tadi.
"Kita akan punya cucu. Karena Kalin sedang hamil, Jeng!" kata bunda Lia.
"Hamil? Kalin hamil?" mata bu Selvy membulat, dia nggak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Beneran Kalin?" bunda ngeliat ke arah menantunya.
"Baru 4 minggu, Buk. Kalin juga taunya setelah kejadian ini, Buk..." ucap Kalin.
"Alhamdulillah ya Allah. Akhirnya usaha kamu minum jamu akhirnya berhasil juga..." bu Selvy mengusap kepala Kalin sekilas.
"Kita akan punya cucu, Jeng?!!!" seru bu Selvy yang meraih tangan bundanya Kalin yang berada di seberangnya.
__ADS_1
"Ciyeee yang udah baikaaaaan!" seru Nova.
Bu Selvy melepaskan tangan bunda Lia gara-gara diledekin sama anaknya, tapi bunda lIa meraih lagi tangan besannya.
"Mumpung momentnya lagi baik, Jeng! aku mau minta maaf kalau saya dan mas Diki membuat sakit hati Jeng Selvy. Saya dan suami nggak ada maksud buat membuat Raksa nggak mendapatkan haknya sebagai suami.."
"Udah Bun, biar ayah saja!"
"Pak Hendra dan Bu Selvy. Masalah perjanjian itu, istri saya nggak tau apa-apa. Murni ini perjanjian saya dan Raksa. Saya tau itu perjanjian yang dipikir-pikir sangat konyol, tapi dengan perjanjian itu membuat saya menjadi tau karakter Raksa ini begitu gentle dan Kalin pun akhirnya berusaha cepat lulus. Dan kalau dipikir, akan sangat sulit memiliki anak sambil kuliah, apalagi mereka hidup di luar negeri. Sebenernya dengan syarat seberat itu, saya berharap Raksa mundur dan Kalin kuliah di dalam negeri saja. karena istri saya yang tipe nggak bisa jauh dari anak. Dan kalau disini malah nggak masalah kalau Kalin mau punya anak sambil kuliah, karena ada kita yang bisa bantu. Tapi kalau disana? yang ada mereka berdua sengsara. Tapi itu semua kan sudah berlalu, kalau misalkan hal ini membuat bu Selvy sakit hati, saya mohon maaf. Saya nggak ada maksud menyiksa menantu saya..." kata ayah Diki.
"Iya, Buk! semua itu Raksa sendiri yang menyanggupi. Jadi bukan setelah menikah baru ada pembicaraan itu. Raksa sendiri yang maksa Ayah buat ngijinin Kalin buat sekolah di luar negeri. Dan sebagai laki-laki yang gentle, Raksa berusaha menepati janji itu. Jadi disini nggak ada yang salah, Buk..." raksa malah membela mertuanya.
Bu Selvy berjalan menjauhi ranjang Kalin, dia menggeleng melihat ke arah Raksa.
"Buuukkk..." panggil Raksa dengan lembut, berusaha meluluhkan hati ibunya.
Namun siapa sangka, bu selvy malah bergerak menuju besannya dan memeluknya.
"Maafin saya ya, Jeng?!!" kata bu Selvy.
"Maafin saya juga Jeng Selvy!" bunda ikutan nangis.
"Nggak nyangka kita bakal dapet cucu ya, Jeng? ternyata usahaku nyekokin Kalin pakai ramuan jamu akhirnya berbuah hasil juga, huhuhu?!"
"Jadi itu berkat ramuan jamu punya Omanya Kalin, Jeng? Oma Kalin"
"Selain restu Tuhan dan ikhtiar kita, hal ini bisa berbuah manis juga berkat mereka selalu berusaha...." bu Selvy melepaskan pelukannya pada besan.
Mereka melihat Raksa dan Kalin yang wajahnya bersemu merah menahan malu.
"Kita harus mengabari Oma! Oma pasti akan senang dan bisa berdamai dengan ayah juga..." ucap ayah Diki yang ngenes disalah-salahin trus sama Oma.
__ADS_1
Dan yang lain pun tertawa melihat wajah ayah yang nelangsa dan sengsara.