
Paginya Nova masih di rumah Kalin. Sedangkan Raksa udah pergi ke kantor sejak pagi. Rencananya dia mau beli keperluan buat kasih seserahan gitu buat Kalin. Bukan karena apa-apa, bapaknya tadinya mau ke rumah Kalin lusa tapi Raksa maksa buat nemuin Om Diki malam ini aja.
Buat Raksa makin cepat makin baik. Dan semuanya dilakukannya sendiri. Pertemuan nanti malam hanya untuk formalitas aja, sedangkan Raksa kan sudah mengantongi ijin dari calon mertuanya.
Pagi ini dia bekerja seperti biasa, dia buka semua tirai. Jadi walaupun di dalam ruangan, Raksa bisa tetap mengawasi gerak-gerik karyawannya.
Tok tok tok !
"Masuk!" jawab Raksa, dia sedang mengetik sesuatu di leptopnya, inventaris dari perusahaan.
Ternyata yang masuk Tania.
"Pagi, Pak..."
"Pagi, Tan..." sahut Raksa datar.
Tania mendekat, dia berdiri dengan jari tangan yang memegang sandaran kursi.
"Ada apa?"
"Boleh saya duduk?"
"Tentu!" Raksa kemudian melepas kacamata anti radiasinya.
Sreet!
Tania menggeser kursi dan duduk dengan tangan yang dia taruh di atas paha.
"Ada apa?" Raksa tanya lagi, soalnya si Tania nggak bawa dokumen apa-apa.
"Ngomong aja, Tan!" lanjutnya.
"Ini soal kejadian di tangga darurat," lirih Tania.
"Kenapa? ada apa di tangga darurat?" tanya Raksa, seolah nggak mengingat kejadian yang membuatnya shock.
"Saya dan pak Galang, ehm..." Tania ragu.
Raksa menghela nafasnya,sebelum dia lanjut ngomong, "Saya nggak tau ada hubungan apa kamu dengan pak Galang, Tan!"
"Hanya saja, saya penasaran. Apa benar, posisi saya sekarang atas dasar rekomendasi dari kamu? kenapa? buat apa?"
Tania kaget, "Ehm, ah ... itu---"
"Saya bukan tipe orang yang punya ambisius. Saya nggak munafik kalau dapat promosi jabatan itu sesuatu hal yang bisa membahagiakan. Tapi bukan dengan cara seperti ini. Lagipula untuk apa kamu merekomendasikan saya? memanfaatkan kedekatan kamu dengan pak Galang,"
"Maksud gue nggak kayak gitu, Sa!" Tanua nyerobot.
Menyadari dia kelepasan, Tania pun meralat ucapannya, "Maaf..."
"Lanjutin aja, Tan! lo mau ngomong apa? gue butuh penjelasan dari lo!"
"Maksud gue nggak kayal gitu! gue cuma ngeliat ada peluang doang, gue juga taunya dari pak Galang..."
"Jangan bohong, Tan!" Raksa menatapnya penuh intimidasi.
"Ya, selain supaya lo bisa deket sama Rahmi. Posisi ini emang cocoknya buat lo, Sa..."
__ADS_1
"Kayaknya lo udah terlalu ikut campur masalah gue dan Rahmi, Tania. Gue nggak ngincer jabatan ini, apalagi ternyata gue duduk nyaman disini karena lewat jalur orang dalam yang deket sama pak direktur!" Raksa nggak melepaskan tatapan matanya.
"Gue nggak bermaksud jahat, dan mengenai hubungan gue sama pak Galang itu nggak sesuai apa yang lo liat kemaren,"
"Gue akui, gue punya kedekatan dengan pak Galang---" ucapan Tania segera di potong Raksa.
"Lo tau, pak Galang itu udah punya istri, Tania! lo tau, apa yang lo lakuin itu sangat beresiko," Raksa menahan gemertak giginya, dia gemas dengan perempuan yang ada di hadapannya ini.
"Kenapa lo peduli?"
"Karena lo temen gue!" kata Raksa.
"Alasan yang sama buat gue juga. Kenapa gue ajuin nama lo, karena lo temen gue. Dan sayang banget kalau kesempatan ini terlewat gitu aja!"
"Tapi gue nggak menginginkan ini, Tania! apalagi dengan cara kayak gini," Raksa kecewa.
"Nggak usah munafik lah, Sa! jaman sekarang, kalau nggak pakai jalur lain, lo mau nunggu sampai rambut lo ubanan juga nggak bakal duduk enak jadi atasan! lo itu harusnya bersyukur dengan posisi lo sekarang. Banyak orang yang pakai jalur-jalur rahasia buat melancarkan semua keinginan mereka. Lo kira semua yang naik jabatan itu murni karena dilihat dari potensinya?"
Tania menggeleng, "Nggak ada! semuanya pakai jalur orang dalam!"
"Tapi gue nggak mau! gue nggak pengen kursi ini!"
Raksa pun bangkit, dia berjalan ke arah pintu.
"Urusan gue sama pak Galang. Biar jadi urusan gue, Sa! asal lo tau, gue bukan perebut suami orang!" kata Tania.
Namun Raksa membuka pintu dan keluar dari ruangannya, meninggalkan Tania yang masih ada di dalam sana.
Dan hal itu nggak lepas dari mata Rahmi.
"Ada apa? kenapa Raksa keluar dengan wajah seperti itu?" gumamnya liih.
"Mau kemana dia? sebenernya ada apa? kenapa mukanya pada tegang begitu?"
Sedangkan Rahmi diam-diam mengikuti kedua orang yang membuatnya penasaran. Namun sayangnya, Raksa dan Tania masing-masing memasuki lift yang berbeda. Dan Rahmi gagal mengikuti salah satunya karena pintu lift keburu ketutup.
"Sial!" umpatnya.
Disisi lain, Raksa nampak terburu-buru keluar saat kotak besi itu membawanya turun ke lobby. Matanya melebar saat melihat Kalin baru masuk ke dalam gedung kantornya.
"Kalin?" Raksa mengerutkan keningnya, senyumnya mengembang seketika saat melihat kalin berdiri di depan meja receptionist.
"Hey!" Raksa mendekat.
Dan betapa terkejutnya Kalin melihat tunangannya tiba-tiba ada disampingnya.
"Ikut gue!" Raksa menarik kalin buat menjauh. Dia menyuruhnya buat duduk.
"Ada apa? kenapa pagi-pagi kesini? kangen?" tanya Raksa.
Kalin pun menggeleng, "Bukan..."
"Bukan?" Raksa jadi heran sendiri.
"Bukan gimana? terus buat apa lo pagi-pagi dateng ke kantor gue kalau bukan karena kangen?" lanjutnya.
"Buat minta duit!" ucap salah seorang gadis yang kemudian berjalan mendekat.
__ADS_1
Mata Raksa membulat sempurna saat melihat adiknya ada di kantor sepagi ini, "Heh? kenapa lo ada disini, Nov?"
"Wahhh, keren juga abang gue pakai jas kayak gitu? kok kalau di rumah gue nggak pernah liat abang dandan begini? mana klimis banget lagi! bapak dan ibu pasti seneng banget kalau tau anaknya udah naik jabatan!" Nova nyerocos.
"Lo jangan ember, Nov!"
"Lah emang kenapa?" Nova ikutan duduk di samping Kalin.
Raksa melihat ke arah Kalin, dan gadis itu pun menunjukkan kedua telapak tangannya.
"Bukan gue yang ngasih tau! dia tau sendiri!" kata Kalin.
Lagi pula, Kalin sebenernya nggak tau kalau Raksa menyembunyikan perihal promosi jabatannya ini. Kalaupun Kalin yang keceplosan, sebenernya itu juga bukan salah gadis itu. hanya dia kaget, saat Nova tanya ini itu soal Raksa. terutama soal kerjaan abangnya itu. Ya, Kalin jawab setau dia aja. Dan karena saking penasarannya, Nova minta ditemenin buat nengokin Raksa ke kantor. Niatnya cuma mau nanya ke receptionis doang, nggak sampai ketemu orangnya begini.
"Jadi?" Nova dengan alis yang naik turun.
"Lo mau berapa?" tanya Raksa.
Nova nyengir, "Ya ampun! abang gue pengertian banget sih? padahal kalau bapak sama ibu tau, mereka bakal seneng banget loh! gue yakin, itu tetangga pada dapet nasi kuning lagi!"
"Udah nggak usah rese! lo mau berapa duit buat nyumpel mulut lo yang ember itu!" raksa emosi.
"Berapa ya?" Nova mikir.
Raksa ngasih duit seratus ribuan, "Nih, sana pergi! gue mau kerja!"
"Dih? emang gue mbak-mbak minta sumbangan?"
"Astagaaa, kecil-kecil dah belajar malak!" raksa kesal.
"Kan sama abang sendiri! nggak apa-apa, dong?" ucap Nova.
Raksa pun ngeluarin dua lembar lagi, dia kasihin ke Nova, "Udah segini! bocil nggak boleh pegang duit banyak! bahaya!"
Nova pun menerimanya dengan sennag hati, "Nah gitu dong?!!" ucapnya.
"Makasih, Bang! gue jamin, bapak ibu nggak bakalan tau!" lanjutnya.
Sedangkan Kalin sendiri menyimpan tanya, 'Kenapa juga hal bagus kayak gini disembunyiin dari orangtua. Aneh-aneh aja emang si Mamang!'
"Yuk, Lin! kita let's go!" ucap Nova setelah mengantongi uang.
"Eeeh, kenapa ngajak Kalin?" Raksa melepaskan tangan Nova dari Kalin.
"Ya balik, lah?!"
"Lo duluan sana! gue mau ngomong dulu sama Kalin!" Raksa menunjuk pintu keluar dengan dagunya.
Nova pleyotin bibirnya, "Deuuh yang lagi bucin?! paham deh paham!"
"Gue tunggu di depan, Lin!" lanjutnya
Setelah Nova pergi, Raksa pun mendekat, "Ntar malem gue ke rumah lo!"
"Loh bukannya lusa?"
Raksa menggeleng, "Gue nggak bisa nunggu sampe lusa!" ucapnya.
__ADS_1
Sementara rahmi yang berusaha mengejar Raksa, nggak sengaja ngeliat pujaan hatinya itu lagi duduk di sofa lobby dengan tangan yang sesekali membelai rambut gadis kecil yang duduk disampingnya.
"Ngapain dia kesini?" gumam Rahmi.