Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Jangan Bikin Gue Pengen Nyium!


__ADS_3

Malam itu dilewati oleh dua keluarga yang saling berbahagia. Mereka makan bersama, sementara Nova udah nggak kuat buat melek lagi, Dia tepar di kamar Kalin.


"Saya belum pernah makan nasi tumpeng seenak ini!" kata  bunda Lia.


"Kami semua yang membuatnya. tentu lebih enak karena dibuat dengan penuh cinta dan perhatian," kata bu Selvy.


Sementara pak Hendra membuat celetukan lain, "Sudah dapat hadiah spesial dari Diki, Lia?" pak Hendra lebih santai memanggil besannya, akrena kebetulan mereka seumuran dan juga sudah kenal baik.


"Itu? sudah tadi sore. Ternyata sesuai prediksiku, dia sangat takjub dengan otot perutku yang semakin mempesona ini! kalau nggak ingat kalian akan datang, mungkin sampai malam kita nggak akan selesai!" kata ayah Diki.


"Ayah!" bunda mencubit perut suaminya.


Raksa pun menutup telinga Kalin, "Lebih baik kita pergi! sebelum telinga kamu ternodai oleh perbincangan para orangtua?!"


Pak Hendra dan Ayah Diki pun tertawa. Mereka lupa kalau masih ada Kalin di tengah-tengah mereka.


Raksa mengajak Kalin keluar, menikmati bintang yang ada di kursi taman depan.


Dia kemudian melepaskan telinga Kalin. "Duduk sini!" ucap Raksa yang pakai batik panjang pun menyuruh kalin buat duduk di sampingnya.


"Kenapa harus lusa? bukannya keberangkatan ku masih dua minggu lagi?" tanya Kalin.


"Besok, lusa atau pun dua minggu lagi juga sama saja, Kalin. Kan gue udah bilang, kalau kita harus adaptasi. Lagian, kalau sudah menikah, kan gue juga tenang..."


"Tenang kenapa?" Kalin masih aja nanya.


"Ya tenang aja! karena gue udah bisa bareng sama lo. Dan ada hal lain yang harus diurus, seperti pekerjaan gue..." Raksa melihat ke arah Kalin.


"Gue akan ajukan resign! dan peraturan kantor, minimal pengajuan 2 minggu sebelum berhenti. Jadi menurut gue, lusa adalah hari paling baik buat kita..." ucap Raksa.


"Kita mau tinggal lama di luar negeri, gue pengen menghabiskan banyak waktu dengan keluarga gue disini, Kalin. Dan gue pikir lo juga harus melakukan hal yang sama..." raksa dengan nada yang lembut.


"Ya gue nggak mikir sampai kesitu," ucap Kalin.


"Dan buat menjaga nama baik keluarga lo, gue akan sembunyikan pernikahan kita ini, Kalin. Karena kita menikah juga bukan karena gue DP duluan. Kita nikah karena emang kita harus nikah, dan ini kondisi yang lain daripada yang lain!" Raksa serius.


"Dp? emang gue motor? pake DP segala?!"


Raksa mencubit gaa hidung Kalin, "Itu cuma istilah aja. Maksudnya DP itu ya ... argg! dijelasin juga lo nggak ngerti. Percuma, pikiran lo belum nyampe kesana. Intinya gue pengen milikin lo dan gue nggak mau orang di luar yang nggak tau apa-apa, ngasih komentar yang nggak enak. Terutama buat keluarga lo, Kalin!" ucap Raksa.


"Dan gue kayaknya udah pernah bilang ini sebelumnya, iya kan?"


"Iya mungkin. Gue lupa..." sahut Kalin.


"Lo percaya kan sama gue?"

__ADS_1


"Percaya ? soal apa?" Kalin memutar bila matanya.


Raksaencubit pipi Kalin, "Astaga, pake mikir lagi!"


"Ih, kenapa harus cubit-cubit? btar pipi gue kendor kayak kolor punya lo!"


"Emang lo pernah luat kolor gue?! nggak ada sejarahnya kolor gue pada kendor!" Raksa bela diri.


"Ck, kenapa malah bahas kolor, sih?!" pria itu mijit kepalanya.


Dia berharap akan membahas hal-hal yang romantis. Kenapa malah bahas daleman yang kendor?


Raksa memandang langit, rasanya malam ini begitu indah. Apalagi dari luar kedengeran suara tawa orangtua mereka. Betapa bahagianya keluaga mereka, dan nggak akan ada istilahnya Kalin akan disiksa ibu mertua kalau ibu mertuanya macam bu Selvy yang begitu sayang dan perhatian dengan Kalin.


"Oh ya, gue simpen kinder joy lo di kantor!' ucap Raks atiba-tiba.


Kalin malu. Dia sempat memalingkan wajahnya.


"Tapi gue penasaran, kenpa dari sekian jajanan bocah, lo kasih gue kinder joy?"


"Karena ya?" Kalin pura-pura mikir.


"Karena dulu gue suka aja pas lko bilang 'Kinder joy' waktu gue suruh lo nebak, anak kecil yang gue belanjain di minimarket. Anak kecil yang nemuin hape Reno..."


Raksa melemparkan senyumannya, dia memandang wajah calon tunangannya.


"Inget ya, kita di depan rumah gue! jangan sampai syndrom soang lo muncul disaat kayak gini ya?" celetuk Kalin.


"Hahhahaha, syndrom soang?"


"Ya kebiasaan lo suka .. tium-tium gue..." lirih Kalin.


"Ishhh, bocil gue mikirnya sampe kesitu ya? mana mungkin gue cium lo di tempat terbuka kayak gini?! tapi nggak apa-apa sih, jalur cepat menuju sah. Iya kan? biar cepet dikawinin kita..." kata Raksa dengan menaik turunkan alisnya.


"Ihhhhhh, kalau ngomong!" Kalin mencubit dada raksa yang keras.


"Awwww awwww! kok lo gemesnya disitu sih? sakit tau!" Raks mengusap dadanya yanag dipelintir Kalin.


"Kalau mau disini nih!" Raksa mengarahkan tangan Kalin ke arah perutnya, namun gadis itu menarik kembali tangannya.


"Ihhhh, tangan gue masih suci!" ucap kalin.


"Astaga, bocil gue mikir apaan? gue cuma mau ngasih tunjuk kalau lo mau nyubit tuh disini nih?!" Raksa menunjuk perutnya sendiri.


"Ayah lo kan kerja keras buat ngebentuk perut kayak gue ini!" lanjut Raksa.

__ADS_1


"Ih, apaan sih?" Kalin memerah.


Tapi wajah malu Kalin justru membuatnya kesengsem. Gadis itu begitu menggemaskan.


'Kayaknya gue harus ekstra ngajarin kalau kita berdua udah nikah! resiko nikah sama bocil!' batin Raksa.


Raksa meraih tangan Kalin yang dingin, "Ntar lo harus biasain pagi siang malem liat muka gue terus! dan lo pantang bosen, ngerti?" Raksa mengarahkan wajah merona itu ke arahnya.


Mata mereka bertemu. Kalin langsung memalingkan wajahnya, dia nggak tahan saat pipinya mulai memanas.


"Ya tergantung! kalau setiap detik ngeliat lo mulu ya gue bosen!"


"Ngak boleh! lo nggak boleh bosen!" Raksa membuat wajah Kalin menoleh padanya lagi.


"Gue satu-satunya yang ada di hati lo, Kalin!"


"ya nggak bisa! kan ada ayah sama bunda yang bertempat juga di hati gue..."


"Ya, maksud gue selain ayah sama bunda lo, Kalin! jangan bikin gue gemes dan pengen nyium lo, ya?" ancam Raksa.


"Raksa Kalin, masuk! semuanya sudah aman!" seru pak Hendra.


"Yuk, kesana! sudah aman dari pembicaraan orang dewasa katanya!" ucap Raksa. Dia menggenggam tangan kalin buat jalan dan masuk lagi ke dalam rumah.


"Hahahah, maaf ya? kalian jadi harus ngungsi!" ucap ayah Diki sedangkan bunda hanya geleng-geleng kepala.


"Oh ya, Bun! bunda garus bilang makasih sama calon mantu kita ini. Ayah bisa berhasil begini kan karena sering ditemenin nge-gym sama Raksa!" ucap ayah Diki.


"Nggak usah Tante! Om Diki emang udah niat banget kok! semangat banget latiannya, sya hanya nemenin sesekali aja, ya itung-itung momong bapak-bapak! termasuk bapak saya sendiri..."


dan mereka pun tertawa mendengar celetukan raksa.


"Oh ya? Raksa tolong kamu bangunin si Nova, bilang kalau kita mau pulang!" ucap bu Selvy.


"Jangan dibangunin, jeng! kasihan. Biar saja Nova tidur disini. Mumpung masih liburan, lagian sebentar lagi Nova dan Kalin kan nggak akan ketemu lama. Biar Nova main disini dulu. Besok saya minta tolong pak Abdul buat nganterin Nova pulang..."


"Oh ya sudah kalau begitu, maaf merepotkan ya jeng?" kata bu Selvy.


"Sudah malam, kami pamit dulu..." kata pak hendra yang dilanjut menjabat tangan besannya bergantian.


Semua orang pulang kecuali Nova. Sedangkan Kalin rasanya nggak bisa melepaskan pandangannya  dari Raksa sampai proa itu naik ke mobilnya dan pergi meninggalkan pelataran rumahnya.


"Ayo masuk, Kalin..." suruh bunda.


"Iya, Bun..." kalin pun ikut masuk dan menutup pintu

__ADS_1


__ADS_2