Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Kita Pisah Disini


__ADS_3

Mereka semua sudah selesai sarapan. Sekarang pak Abdul mulai menurunkan koper majikannya untuk diangkut ke dalam mobil.


"Biar saya saja, Mas!" ucap pak Abdul saat Raksa akan mengangkat kopernya sendiri.


"Nggak apa-apa, Pak?! biar cepet," kata Raksa yang turun duluan dengan dua koper besarnya. Sedangkan Klain hanya memakan tas punggung kecil yang hanya memuat dompet dan hape.


Kalin pun melihat ke seluruh penjuru kamarnya, dia menarik nafas dan mengeluarkannya secara perlahan sebelum akhirnya dia menutup kamarnya.


Kalin menyusul semua orang yang sudah ada di bawah.


"Akhirnya kamu turun juga, ini loh sudah ada ibu dan bapak mertua kamu. Ayo salaman dulu," bunda menyuruh Kalin untuk menyamai ibu dan bapaknya Raksa.


"Sudah siap semua. Koper kamu sudah masuk ke dalam mobil semua, Kalin?" tanya ayah Diki.


Kalin melongok ke bagasi mobil yang masih terbuka.


"Sudah, Yah! sudah semua, Kalin cuma bawa dua koper," kata Kalin.


Pak Abdul pun menutup bagasinya. Dan mulai memposisikan diri di belakang stir kemudi.


"Nova pindah mobil bareng Raksa dan Kalin ya?" ucap ayah.


"Hen, saya naik mobil kamu saja ya? karena kalau saya bawa mobil satu lagi nanti malah riweuh, pasti saya nggak konsen nyetir. Biar nanti pulangnya saya naik mobil yang itu," ayah Diki menunjuk mobil yang akan membawa Kalin dan Raksa ke bandara.


"Takutnya bundanya Kalin mewek terus, yang ada saya nggak konsen nyetir!" lanjut ayah.


"Ya sudah, kita berangkat sekarang!" ucap pak Hendra.


Kalin minta Nova duduk sebelahan sama dia di belakangdan otomatis Raksa yang duduk di sebelah pak Abdul. Nggak mungkin juga empet-empetan di belakang. Sebenarnya Kalin ngerasa bersalah karena sudah membohongi soal keberangkatan ini, tapi dia pikir ini untuk kebaikan dirinya, meskipun ayah dan bunda pasti akan menentang ide gila yang akan lakukan ini.


Selama diperjalanan, Kalin hanya mengobrol dengan Nova tanpa membalas celetukan-celetukan dari suaminya itu. Nova tentu menangkap sinyal-sinyal ngambek dari Kalin. Gadis itu nggak habis pikir, dua orang yang jarang akur ini akan pergi berdua dan saling bersama untuk saling membantu untuk bertahan hidup di luar sana. Nova sendiri nggak bisa membayangkan, bagaimana ributnya kedua orang itu saat benar-benar bersama nanti.


Akhirnya kedua mobil itu sampai di parkiran bandara. Nova membantu membawakan satu koper Kalin. Sedangkan Kalin membawa satu koper miliknya dan kalau Raksa juga bawa dua koper, dan mereka berhenti saat mereka sudah masuk buat boarding pass.


"Kalin berangkat ya, Bun?" Kalin memeluk bundanya.


"Hati-hati ya, Sayang! kamu jangan lupa telfon ayah sama bunda nanti kalau sudah nyampe! pokoknya begitiu sampai, kamu harus langsung telfon!" bunda yang udah dipastikan nangis.


"Iya, Buuun! hiks..." Kalin jadi ikutan nangis. lalu dia melepaskan ibunya untuk memeluk ayahnya.


"kalin pamit, yah?" ucapnya.

__ADS_1


"hati-hati, nurut sama suamimu! Kamu berangkat karena dia, jadi disana kamu harus jadi anak yang baik! nurut manut apa kata suamimu," ucap ayah.


"Ayah percaya kamu sudah dewasa," lanjut ayah.


Dan kata-kata ayah begitu makjleb di hati Kalin.


Lanjut raksa yang juga memeluk dan menyalami kedua orangtuanya, bersambung dengan kalin. Mereka intinya saling berpelukan dan menangis karena akan berpisah dalam waktu yang lama. terutama Nova yang memeluk Kalin dengan sangat erat.


"Hiks, jangan lupain gue ya, Lin? jangan lupa kalau pulang, lo harus bawa oleh-oleh yang banyak. Kalau ada bule cakep, boleh kenalin sama gue. Biar gue nggak jomblo terus!"


"Oke, siap!" Klain pun melepaskan Nova.


Raksa menggandeng tangan kalin, meskipun hatinya nggak ingin tapi semua orang sedang menatapnya kini, jadi Kalin membiarkan tangan suaminya bertautan dengan tangannya.


"Kami pamit!" ucap Raksa yang diikuti lambaian tangan semua orang yang mengantarnya.


Pas Kalin dan Raksa masuk buat ngurus koper yang harus masuk bagasi pesawat tiba-tiba Kalin mengambil dua kopernya.


"Gue duluan! kita pisah disini!" ucap Kalin yang memperlihatkan tiket yang ada di tangannya.


"Maksudnya gimana?" tanya Raksa.


"Ya kita pisah disini, karen ague naik pesawat yang berbeda!" ucap Kalin yang mau geret koper tapi segera dicegah Raksa.


.


"Lepas!" gadis itu menghpaskan tangan Kalin.


"Jagan sentuh gue," Kalin menunjul wajah suaminya.


"Lo kesurupan setan mana sih?"


"Kesurupan? haha," Kalin malah mencibir pertanyaan suaminya.


"Kita pisah disini! Gue bakal ke manchester sendiri. Pesawat gue jam 1 nanti, jadi sorry to say lo akan gue tinggal disini," lanjur Kalin.


"Nggak nggak bisa! gila lo, ya?" Raksa merampas tiket pesawat yang ada di tangan Kalin.


"Kita berangkat bareng, no debat! lagian kenapa sih? main neli tiket lagi? buang-buang duit lo?!" Raksa marah.


"Karena gue nggak sudi satu pesawat sama orang yang tukang selingkuh!" Kalin dengan mata yang berkaca.

__ADS_1


"Siapa yang selingkuh, sih? gue nggak ngerti!"


"Halah pura-pura nggak ngerti! nih, liat sendiri!" Kalin memperlihatkan vidio yang diambil saat Raksa keluar rumah dengan Rahmi. Si cewek naik mobil dan suaminya utu naik motor. Mereka beda kendaraan tapi menuju tempat yang sama.


"Astaga? Lo buntutin gue?"


"Iya, kenapa? Tuhan begitu baik, sampai gue diliatin secara langsung siapa suami gue yang sebenernya. Nggak lebih dari tukang sosor dan tukang bohong!" kata Kalin yang menyimpan kembali hapenya.


"Kayaknya lo salah paham, Kalin. Gue bisa jelasin,"


"Gue nggak butuh!" tegas Kalin.


"Tapi lo harus denger penjelasan gue!"


"Tapi gue nggak mau, bgerti nggak sih lo?! mau bilang apa? mau bilang kalau vidio sosor sosoran itu hanya editan? iya?"


"Vidio sosor?" Raksa segera berpikir, dan dia baru ingat vidio yang digunakan Rahmi untuk mengancamnya.


'Sial, jangan-jangan Rahmi udah nemuin Kalin?! dasar mantam siallan!' Eaksa mengumpat dalam hatinya.


"Itu vidio bggak seperti yang lo liat. Rahmi itu mantan pacar gue, dan nggak sengaja gue jadi kepala divisi dimana dia kerja. Dan---"


"Dan lo main belakang sama dia, padahal lo udah tunangan sama gue. Dan kasih gue harapan setinggi langit," sambung Kalin.


"Bukan itu, Kalin!" Raksa meraih tangan Kalin tapuli dia menepisnya.


"Gue dijebak! gue nggak tau dia ada disana dengan segala kamera.


"Dijebak? tapi nggak ada perlawanan?" Kalin mencibir, dia menghapus air maranya yang udah tumpah.


"Vidio itu nggak utuh, Kalin!" ucap Raksa, dia mencoba meluruskan benang yang udah terlanjur ruwet.


"Gue nggak seperti yang lo pikirkan, gu cinta sama lo dan cuma lo Kalin! gue nggak ada niatan buat selingkuh, Rahmi cuma masa lalu guu, sedangkan lo masa depan gue. Kalau gue suka sama dia, nggka mungkin gue resign, ninggalin kerjaan hanya untuk pergi sama lo, Kalin. Yang gue pertaruhkan itu masa depan gue sendiri," lanjutnya mencoba meraih hati Kalin lagi.


"Bodo amat! karena gue bakal pergi ke Manchester sendirian!" Kalin yang ydah kebakar api amarah.


"Nggak?! nggak bisa! gue syami lo dan lo harus nurut sama gue, ngerti!" bentak Raksa.


Kalin tersenyum kecut dia segera berbalik dan merebut paksa tiket yang ada di tangan suaminya.


"Gue nggak peduli!" Kalin memunggungi Raksa.

__ADS_1


Dia baru akan melangkah, terdengar suara bentakan Raksa, "Selangkah lagi lo melangkah, demi apapun gue nggak ridho. Lo udah ngelawan suami, Kalin! selangkah lagi kaki lo pergi tanpa seizin gue, lo udah jadi istri yang durhaka, ngerti! jadi kalau ada apa-apa, itu balasan dari Tuhan atas apa yang lo lakuin hari ini!"


__ADS_2