
Biasanya kalin yang menginap di rumah Nova, sekarang gantian Nova yang menginap di rumah sahabat yang akan menjadi iparnya itu.
"Kemana si Nova?" gumam Raksa saat sudah sampai di rumah. Dia nggak melihat vespa milik Nova.
"Kan gue udah bilang supaya jangan jalan kesorean!" ucap Raksa. Tapi dia baru menyadari kalau yang dibilangin itu Kalin, bukan Nova. Sedangkan Raksa tau banget kalau Nova udah kecanduan nge-mall. Meskipun hanya lihat-lihat, tapi tuh bocah paling demen ngider di pusat perbelanjaan yang aromanya bikin betah.
"Assalamualaikum!" ucap Raksa yang sampai di rumahnya sekitar jam 7 malam.
"Waalaikumsalam!" sahut bu Selvy.
Raksa mencium tangan ibunya, "Nova belum pulang, Bu?"
"Nggak pulang dia!"
"Nggak pulang gimana?" tanya Raksa yang sengaja melepas jasnya dan menutupinya dengan jaket kulit yang biasa dia pakai. Pria itu menarik salah satu kursi dan duduk menemani ibunya yang lagi menikmati mochi kuah jahe.
Bu Selvy menyeruput kuah jahe yang manis, "Nggak pulang! katanya lagi nginep di rumah Kalin! biasalah, katanya udah lama nggak main kesana! mau marathon drakor katanya," ucap bu Selvy enteng.
"mau nginep? kok dia nggak bilang-bilang?"
"Ya memangnya kenapa? kan Nova nginepnya di rumah Kalin, bukan di luar pulau! lagian mereka baru juga ujian, biarlah mereka menikmati hidup!" ucap bu Selvy yang lain dari biasanya.
"Kenapa? ibu lagi ada masalah?" tanya raksa.
Ibunya bukan menjawab, dia malah mengambil mangkok kecil dengan piring kecil sebagai tatakannya. Menaruh beberapa biji mochi isi wijen hitam, dan mengguyurnya dengan kuah jahe.
"Makan dulu, biar anget badan kamu! kamu ini kan sering lembur, harus sering minum minuman tradisional begini, biar tetap fit! kalau sudah di luar negeri juga jangan lupa, inget disana nggak ada tukang kerok dan tukang urut! kamu harus bisa jaga diri, dan jaga Kalin juga..." ucap bu Selvy yang kemudian duduk lagi berhadapan dengan Raksa.
Raksa menggenggam tangan ibunya, dia mengusap lembut tangan wanita yang sudah mengorbankan dirinya untuk merawat dan membesarkannya.
"Ibu jangan sedih, Raksa bakalan baik-baik aja! anak ibu ini sudah dewasa, sudah bisa menjaga diri..."
Bu Selvy mengangguk, "Sudah! makan mochi jahenya! nanti keburu dingin nggak enak!"
Raksa pun menurut, dia makan bola-bola kenyal itu dengan sesekali bercerita dengan Raksa. Dia nggak tau jika ada seseorang yang merencanakan hal buruk untuknya.
Tiba-tiba pak Hnedra muncul dari arah lain, dia sudah memakai baju santainya.
"Waduh, mochi jahe nih? bapak mau dong, Bu!" kata pak Hendra.
"Sudah baikan, Pak?" tanya Raksa.
__ADS_1
"Sudah, alhamdulillah! mungkin bapak terlalu capek, makanya badan sepertinya meriyang. Tapi sekarang sudah membaik berkat mochi jahe ibu," ucap pak Hendra dengan mengedipkan satu matanya, genit.
"Astaghfirullah!" Raksa geleng-geleng kepala.
"Inget umur, Pak!" lanjutnya.
"Ehhh, justru karena inget umur dan inget kalian! bapak ini harus lebih ekstra menjaga cinta bapak buat ibu! meskipun sudah berumur, tapi kalau soal cinta nomor satu! hal sepele tapi bisa membuat wanita yang kita cintai bahagia," kata pak Hendra.
"Aiishh, kamu harus banyak belajar dari bapak!" lanjut pria itu.
Raksa hanya bisa ketawa.
"Ehhhh, ini bocah malah ngetawain bapak, Bu?!" pak Hendra ngedipin satu matanya lagi pada bu Selvy.
"Bapak ini lebih mirip orang yang lagi sakit mata daripada orang yang sedang menggoda!" ledek ibu.
"Haishhh, Ibu! Ibu kok malah ikutan ngledekin, Bapak? ini bapak kasih roti sobek setiap malam---"
Bu Selvy langsung menutup mulut suaminya, "Bapak ini suka banget keceplosan! malu ada Raksa!"
Pak Hendra pun membuka tangan istrinya, "Biar saja! dia sudah besar. Dia sebentar lagi mau nikah kok!"
"Kalau mau mesra-mesraan mending di dalem aja sih, Pak?! kuping Raksa ternodai nih!"
"Halah ternodai ternodai! kamu ini!" ucap pak Hendra yang tadi memukul bahu kekar anaknya.
Raksa dan bu Selvy pun tertawa melihat wajah pak Hendra yang marah tapi dibuat-buat, sampai akhirnya sebuah pertanyaan muncul dari mulut pria paruh baya itu.
"Sa? kita ke rumah Om Diki lusa saja, ya? sepertinya Ibu sudah membeli beberapa barang yang akan kita jadikan seserahan dadakan..." kata pak Hendra.
"Kata bapak, jangan buru-buru?" Raksa sudah memakan semua mochinya, dia tinggal menyeruput kuahnya.
"Iya, ini bapak sama ibu sudah sedikit-sedikit menyiapkan. Bapak hanya berpikir kalau kamu sudah mantep, tugas bapak sam ibu hanya meujudkan keinginan kamu. Dan alhamdulillah, Bapak sudah sehat!" kata pak henra.
"Atur saja, baiknya gimana, Pak!"
Plakk!
"Halah, bilang saja kamu itu seneng banget! pake acara atur segala-atur segala..." pak Hendra yang kemudian dismbut tawa anak dan istrinya. Dalam hati, Raksa mungkin akan merindukan hal seperti ini dalam beberapa tahun ke depan.
Setelah mendapatkan kesepakatan, dia masuk ke dalam kamarnya. Dia mulai menyiapkan dokumen yang diperlukan buat menikah dengan Kalin.
__ADS_1
"Kebetulan! aku nggak boleh melewatkan kesempatan ini. Apalagi sikap Rahmi yang sekarang bikin gue nggak tennag! gue harus waspada dengan dia," ucap Raksa yang mengingat kejadian beberapa saat yang lalu di kantornya.
Meskipun nggak sengaja dan bukan Raksa yang meminta, Raksa merasa sudah menghianati Kalin. Sepertinya menerima tawaran sebagai kepala divisi bisa jadi salah satu keputusannya yang keliru. Karena itu membuka peluang yang lebih besar untuk membuat Rahmi bisa menemuinya kapan saja dia mau.
"Gue nggak bisa kayak gini terus! gue harus percepat semuanya. Gue nggak mau kehilangan bocil gue!"
Sedangkan di rumah yang lain.
Kalin dan Nova lagi bersihin muka, lanjut mereka nempelin masker wajah yang berbentuk topeng dingin dengan serum yang akan membuat wajah mereka cerah dan merona.
"Kita harus sering-sering kayak gini, Lin! biar muka kita bisa glowing in the dark!"
"Glowing in the dark? nakutin amat!" sahut Kalin dengan gerakan bibir terbatas.
Mereka berdua lagi tiduran dan merasakan sensasi dingin di wajahnya. Kalin pun meregangkan sendi-sendi di tangannya yang pegal dan mengeluarkan bunyi-bunyi yang bikin dia tambah rileks.
"Cemilannya apa nih, Lin?"
"Ada! tenang aja! gue udah siapin, tinggal ambil ke dapur,"
"Ok, siiip!" Nova lalu melepas maskernya. Dia menepuk-nepuk wajahnya supaya serum itu bisa mauk dan meresap.
Kalin pun melakukan hal yang sama, dia melepas maskernya dan memijat wajahnya. Dia merasakan kalau kulitnya jauh lebih segar dari sebelumnya.
"Gue bakalan kangen maskeran bareng lo lagi deh, Lin!" ucap Nova tiba-tiba melow.
"Hempp!" Kalin merangkul bahu Nova.
"Samaaa! gue pasti kangen banget sama lo, Nov! tapi nggak apa-apa, nanti gue bakal sering telpon lo!"
"Jangan! biaya telpon ke luar negeri mahal! ntar lo bangkrut lagi,"
"Nggak apa-aapa kan ada abang lo?! ntar gue telpon dari hapenya dia! jadi biar aja dia yang tekor!" celetukan Kalin membuat kedua sahabat itu ketawa bareng.
"Setuju sih kalau itu!"
"Kita nonton sekarang!" ucap Kalin yang menyiapkan tivi di kamarnya buat acara nonton mereka.
Mereka berdua kemudian turun ke bawah buat ngambil makanan dan minuman yang sengaja ydah Kalin siapkan. Dengan langkah jinjit kedua gadis itu memboyong amunisi buat nemenin mereka nonton.
Kalin dengan pelan menutup pintunya lagi dan menaruh semua makanan itu di atas kasur.
__ADS_1
"Nah, kalau kayak gini kan perfect!" ucapnya pada Nova.
Dan mereka pun mulai mempersiapkan diri, mencari posisi ternyaman buat nonton.