Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Nggak Masuk Akal


__ADS_3

"Sekarang ayah tanya sama kamu, Kalin. Apa jika seseorang yang sangat dekat sama kamu berbohong, menyembunyikan sesuatu, kamu nggak bakal ngerasain itu? Nggak bakal ngerasain perubahan sikap dari orang itu?" ayah menatap Kalin.


"Ayah sama bunda, orang yang paling dekat sama kamu, Kalin. Ayah sama bunda tau kalau kamu lagi dekat sama seseorang. Dan kamu nggak boleh meragukan intuisi orangtua!" lanjut ayah.


Kalin ngerasa bersalah.


Padahal dia udah janji nggak akan pacaran dulu, tapi sekarang dia malah merobek kepercayaan yang diberikan bokap dan nyokapnya.


"Maafin Kalin, Yah! Kalin tau Kalin salah. Kalin udah ngelanggar larangan ayah sama bunda," ucap Kalin.


"Ayah tau yang namanya jiwa muda pasti pengen mencoba banyak hal, cuma ayah sama bunda khawatir kamu ketemu orang yang salah, yang bikin kamu kecewa. Dan nyatanya udah kejadian kan?"


"Iya, Yah..."


"Sayang, kamu pasti sedih banget habis ngerasain patah hati..." bunda merentangkan tangannya, menyuruh Kalin buat datang dan memeluknya.


Kalin pun beranjak dan duduk disatu sofa yang sama dengan bunda, dia memeluk bundanya, "Hiks...." Kalin nangis.


Sedangkan Raksa disitu melongo,


'Astaga apa gue harus disini?' batin Raksa yang kehadirannya dirasa kurang tepat.


"Laki-laki begitu nggak perlu kamu tangisi, Kalin. Air mata kamu terlalu berharga," kata ayah, dia ngusap kepala anaknya.


'Kalau iya ayah dan bundanya tau, kenapa mereka nggak negur Kalin? dan biarin anaknya digasak duitnya sama si Reno? kenapa? astaga, gue nggak mudeng sampai sini...' Raksa bergumam sendiri dalam hati.


"Maafin Kalin Ayah, Bunda...." Kalin dengan sesenggukan.


Raksa yang merasa kalau situasi ini lebih menjurus padsa pembicaraan intern anatra Kalin dan orangtuanya pun berniat buat pamit, "Maaf, Om dan Tante ... sebaiknya saya permisi, supaya Om dan Tante lebih leluasa ngobrol sama Kalin..."


"Loh? kok permisi? nanti dulu, Nak! paling nggak, sampai orangtuamu datang," ucap ayah.


"Hah? orangtua saya? maaf, Om. tapi apa hubungannya dengan orangtua saya? saya nggak ngapa-ngapain Kalin loh, Om! beneran, saya kenal Kalin aja baru ebberapa hari ini, saya----"


"Hahahha, tenang, Raksa! kamu jangan panik seperti itu!" ayah Diki tertawa kecil pas ngeliat wajah Raksa mendadak pucat.


"Iya tapi---"


"Sudah tunggu saja, paling sebentar lagi mereka datang!" serobot ayah Diki.


'hah? dateng? ngapain? astagaaa, gue nggak ngapa-ngapain si Kalin. Ngapain gue juga ikutan disidang disini. Mana orangtua gue disuruh dateng?'


"Beginbi loh Om, saya bisa jelaskan hubungan saya dan Kalin yang sebenarnya---" ucapan Raksa terpotonng saat ada suara ketukan pintu.


Tok!

__ADS_1


Tok!


Tok!


"Biar ayah saja, Bun..." ayah Diki nggak ngerewes Raksa yang duduk dengan gelisah. Dia berjalan menuju pintu.


Kreeett!


Dan waktu dibuka...


"Waaah, sudah datang kamu, Hen?!! masuk, masuk! tuh anakmu sudah gelisah!" kata ayah Diki yang memberi pelukan selamat datang pada bapak Hendra, bapaknya si Raksa.


"Ayo masuk, Sel...." ayah Diki juga menyapa ibu Raksa dengan panggilan yang terlihat sangat akrab.


dan ternyata bukan hanya orangtua Raksa yang datang, melainkan juga dengan Nova. Kalin yang ngeliat ada rombongan tamu yang dimana itu keluarga sahabatnya pun menghapus air matanya dengan muka yang bingung.


"Lo kok kesini? ada apaan?" gumam Kalin yang daritadi kagak nyimak percakapan antara Raksa dan juga ayahnya.


"Gue???" Nova cuma nyengir.


"Maaf, Yaaa? maafkan anakku ya, Sel..." bunda ngelepasin kalin dan menyambut tamunya.


"Duduk dulu ya? mau dibikinin minuman apa?" tanya bunda , dengan cipika cipiki sama bu Selvy.


"Halah, apa aja lah...." bu Selvy malah ngintilin bunda Lia ke dapur.


ak Hendra buat duduk juga di salah satu sofa single, "Silakan duduk, hen..."


'Astagaaa, ini ada apaan sih sebenrnya? kenapa kejadiannya random banget kayak gini? gue lagi ngimpi atau gimana? yaa, gue pasti lagi ngimpi," Raksa mencubit tangannya sendiri.


"Awwwk, sakit!" Raksa mengaduh.


"Mau gue bantuin, Bang? biar lebih yakin," Nova pun melintir kulit tangan abangnya.


"Wuaakkksss, suaakit, Novaaa!" Raksa neplak tangan Nova dan ngelepasin tangan jahanam itu dari kulitnya.


Lanjut dia niupin tangannya, "Huuufttt, huuufhhh, ya ampun tangan gue!" Raksa meniupkan tangannya sendiri.


Sedangkan Nova menahan ketawanya ngeliat muka abangnya yang menurutnya lucu.


"Yang sabar ya, Raksa. Om yakin, banyak pertanyaan yang ada di pikiran kamu. Kita tunggu para bunda kita selesai membuat minuman," ucap ayah Diki.


"ini apa sih?" tanya Kalin pada Raksa tanpa bersuara.


"Mana gue tau!" lirih Raksa.

__ADS_1


"Gimana bisnis kamu? lancar?"


"Lancar alhamdulillah, makin kesini makin rame..." sahut pak Hendra.


"Wahhh, ikut seneng deh kalau gitu..."


Dan nggak lama, bunda lia dan bu Selvy dateng dengan bawa kue basah dan juga minuman dingin dan panas.


"Kok banyak banget," tanya ayah.


"Nggak apa-apa, biar nggak bolak-balik..." ucap bunda.


"Kamu atau aku yang menjelaskan?" tanya ayah Diki pada bapaknya Raksa.


"Kamu aja,"


Setelah semua duduk, ayah Diki mulai membuka pembicaraan, "Jadi begini, Raksa. Sebenarnya saya dan ayah kamu ini sudah saling kenal baik sejak dulu. Dan kami senang ketika Nova dan kalin bisa bersahabat, kami sengaja memasukkan di sekolah yang sama. Nova sengaja kami minta buat ngejagain Kalin, dan ngasih tau apa aja yang Kalin lakukan termasuk siaapa yang sedang dekat dengan anak kami. Maklum anak satu-satunya,kami takut kalin salah bergaul dan menjajaki pergaulan yang nggak sehat..." ucap ayah.


Raksa masih menyimak, dia sekilas ngeliat ke arah ibu dan bapaknya.


"Udah, dengerin aja dulu!" kata pak Hendra.


Sedangkan Kalin juga nggak kalah kaget, soalnya Nova tuh nggak pernah cerita apa-apa. Nggak mencurigakan juga, elah ternyata dia menjadi mata-mata buat bunda Lia.


"Setahun dua tahun, kami masih ngerasa aman karen Kalin masih fokus dengan sekolahnya. Meskipun kata Nova, banyak anak laki-laki yang mencoba pedekate dengan Kalin. Tapi saat itu Kalin masih teguh, dan hati kami begitu cemas saat mendapati kabar kalau Kalin ternyata kesengsem sama satu pemuda bernama Reno, yang kata Nova salah satu teman Kalin di tempat lesnya," ujar ayah diki.


Kalin memejamkan matanya menahan malu. ternyata adegan kucing-kucingannya dengan Reno dalam rangka menyembunyikan hubungan mereka dari orangtua ternyata sia-sia.


"Beruntung kami punya Nova yang mau dimintai tolong, diam-diam mengawasi Kalin dari jauh. Dia ngikutin saat Kalin ketemu Reno di tempat les ataupun jalan berdua,"


Sedangkan kalin beneran nggak nyangka semua aktivitas pacarannya dengan Reno yang paling banter gandengan tangan dan boncengan itu diketahui orangtuanya. Nova beneran mirip paparazzi profesional, jejaknya begitu rapi.


"Maaf Om, tapi apa hubungannya dengan saya?" akhirnya Raksa bertanya, dia nggak kuat buat diem aja tanpa bersuara.


"Kamu salah satu penyelamat kalin terlepas dari jeratan pemuda itu, yang mendekati Kalin hanya karena uang,"


"Maaf Om, saya nggak ngerti..." Raksa beneran bingung.


"Jangan kira pertemuan mu dengan bocah ini seutuhnya karena faktor takdir, nggak Raksa. Pertemuan kamu dengan kalin sudah kami rencanakan dengan matang. Saya sebagai ayahnya Kalin ingin tau bagaimana kualitas tanggung jawab dari orang yang akan mendampingi putri semata wayangku ini,"


"Hah?" Raksa melebarkan matanya, nggak percaya dengan apa yang didengarnya ini.


Saat itu, ayah diki mulai membeberkan bagaimana pak Hendra menyodorkan nama Raksa buat dijodohkan dengan Kalin. Selain pak Hendra yang tau anaknya ini lagi kayak orang yang kehilangan semangat dan semakin mengkhawatirkan, Ayah Diki pun ngeliat anaknya pun makin kesini makin sering bohong, yo wes akhirnya ayah Diki menyetujui permintaan itu. Kartu ATM yang dipegang Kalin itu atas nama bunda, dan dia bisa mnegecek keluar masuknya uang dari mutasi rekening di buku tabungan. Dia makin was-was saat Kalin beberapa kali kedapatan mentransfer sejumlah uang ke rekening seseorang. Dan setelah berembug dengan orangtua Raksa, mereka pun merencakan pertemuan perdana antara Kalin dan Raksa di jalan raya, tentu dengan bantuan pak Abdul yang disuruh berakting seolah mobil yang biasa buat nganterin Kalin ke sekolah itu mogok.


"Sengaja? tapi gimana caranya?" gumam Kalin, karena dia nyetop Raksa itu juga kan karena spontanitas aja.

__ADS_1


"Nah itu, kamu nggak akan pernah tau cara kerja takdir, Kalin! niat kami yang baik ini ternyata sejalan dengan takdir tuhan buat kamu..." ucap ayah Diki.


Raksa dan Kalin, masing-masing udah nggak bisa berkata apa-apa lagi, 'nggak masuk akal' pikir mereka berdua.


__ADS_2