
Dua hari setelahnya di kampus Kalin.
Michele datang dengan membawa satu tas besar Kalin. Dia bilang kalau ini tas ketinggalan pas summer camp kemarin, dan Michele juga nanya kemana si Kalin pergi. Kok tiba-tiba nggak ada dan ninggalin tas nya begitu aja.
Kalin hanya menjawab, saaat itu dia lagi ada keperluan yang urgent. Jadi, dia harus secepetnya pergi. Michele pun manggut-manggut aja, percaya aja udah. Cuma katanya temen-temennya pada nanyain, karena Kalin ilang sendiri. Tapi untungnya Arvin bilang kalau Kalin nggak ilang. Klain pergi dengan seseorang, jadi mereka juga nggak khawatir.
Lagi ngobrol-ngobrol sama Michele, tiba-tiba Arvin datang.
MIchele yang tau kedatangan temennya dan udah tau gelagatnya si Arvin yang mau ngomong empat mata sama Kalin pun akhirnya meninggalkan mereka berdua.
"Kalin," panggil Arvin yang kemudian menarik satu bangku dan duduk disamping Kalin.
"Ehm, soal malam itu..." Arvin pun mulai ngomong. Dia ngeliat muka Arvin babak belur, bahkan lebih parah dari suaminya.
"Gue minta maaf! gue tau semua itu hanya kesalahpahaman, gue harap lo nggak mempermasalahkan itu," kata Kalin dia beresin buku-bukunya.
Sekilas dia mendapatkan Chat dari Raksa yang katanya lolos interview, dalam hati Kalin senneg banget.Nggak sadar dia senyum saat mendapat kabar itu.
"Gue belum pernah digebukin kayak gini, padahal waktu itu lo yang merangsek sama gue..." ucap Arvin yang bikin mood Kalin yang udah bagus banget sekarang anjlok dan berganti dengan rasa bersalah.
Dia menoleh pada Arvin, "Gue minta maaf, gue nggak tau kalau yang gue minum itu bukan minuman biasa," ucap Kalin.
Dia kemudian buka botol minuman bersodanya, dia minum beberapa teguk karena dia haus banget.
"Sorry gue haus banget!" lanjutnya yang mau menutup botol minumnya tapi seketika Arvin menatap Kalin yang bikin gadis ikut memandangnya.
"Kalau gue mau gue bisa menuntut laki-laki yang udah gebukin gue kayak gini. Apalagi tuh orang pakek ngaku-ngaku suami lo," kata Arvin.
"Gue minta maaf, Vin! gue harap lo bisa melupakan semuan kejadian malam itu,"
"Termasuk saat lo cium gue?" tanya Arvin.
"Cium?" Alis Kalin terangkat ke atas.
"Iya, lo bilang lo suka sama gue?! maksa gue buat bales cium lo,"
'Hah? apa iya? seinget gue nggak deh? apa iya ada hal yang gue nggak inget?" Kalin dalam batinnya.
Arvin memegang sudut bibirnya yang masih luka.
"Sorry, mungkin gue nggak sadar waktu itu jadi tolong lo nggak usah inget-inget itu lagi. Karena gue nggak ada maksud dan perasaan lain sama lo. Oh ya, buat luka lo itu lo bisa kirim tagihan rumah sakit ke gue, ntar gue ganti duit lo. Gue harap lo itu bisa bikin kita berdamai," ucap Kalin.
Kalin pun berpaling buat ngambil tasnya yang dibawah, rambutnya yang panjang seketika jatuh dan menghalangi wajah Kalin. Dan kesempatan itu dimanfaatkan Arvin buat memasukkan sesuatu ke dalam minuman yang tadi diminum Kalin.
__ADS_1
"Biar gue bantuin," ucap Arvin yang ngeliat Kalin membawa barang kesusahan.
"Nggak usah makasih, " dia menggendong tasnya di belakang.
Dan ketika Kalin akan pergi, Arvin mencegah, "Minuman lo ketinggalan!" ucapnya sambil memberikan botol minuman soda yang tadi ngegeletak di atas meja.
"Thanks," ucapnya.
"Gue duluan," ucap Kalin.
Arvin pun hanya bisa melihat Kalin berjalan meninggalkan ruangan itu. Sedangkan tangannya yang satunya meraih buku catatan yang jatuh di lantai. Itu milik Klain.
Arvin melihat ke arah jam tangannya.
"Huuufh, gue nggak mau lakuin ini sama lo, tapi gue dibayar mahal dan gue nggak bisa lari dari tugas gue ini Kalin. Tenang aja, gue bakal bertanggung jawab jika lo mau!" gumam Arvin.
Pria itu pun mengejar Kalin yang sekarang udah keluar dan ketemu sama Raksa yang udah stay di kampus. Arvin mengejar Kalin, dia ngeliat Kalin habis nutup botol minumannya.
"Dia udah minum?" gumam Arvin, dengan seringai di wajahnya.
Namun disisi lain, Kalin yang baru aja nutup botol minumannya yang abis diminta Raksa pun menyimpan botol itu lagi untuk dia buang ke tempat sampah.
Kalin pun bergandengan tangan dengan Raksa, "Kita harus rauayin ini , dong?! gue traktir makan di restoran kemaren!"
"Ada! duit jajan yang ditransfer tiap bulan sama ayah! kan banyak tuh, jarang gue pake malah!" kata Kalin yang masih jalan anteng, kayaknya dunia terasa begitu indah tanpa percekcokan diantara mereka berdua.
"Ehmm?" Raksa pura-pura mikir.
"Ini kan hari spesial, jadi kita harus rayakan. Kalau besok-besok kan lo udah kerja, terus kalau besok-besok euforianya udah beda," kata Kalin.
"Ehmm?"
"Ya ya ya , mau ya? pleaseee?" kata kalin.
"Oke oke!" ucap Raksa yang nggak kuat ngeliat wajah imut istrinya. dan mereka pun jalan, namun beberapa saat dia ngerasain ada hawa aneh di dalam badannya.
Matahari emang cerah banget saat itu.
"Cuacanya kok mendadak kaya Indonesia?" gumam Raksa yang berjalan bersama dengan Kaln.
"Kenapa?" tanya Kalin ngeliat Raksa yang berkeringat.
"Nggak apa-apa, cuma agak panas aja..." ucap Raksa.
__ADS_1
Mereka berdua pergi ke restoran dan tetep diikuti sama Arvin.
"Mau kemana Kalin? astaga, aku kira dia bakal balik ke rumah. Bukannya tiap hari kayak gitu? kenapa ini jadi random begini?" tanya Arvin dia mulai cemas.
Dia ngikutin trem yang dinaikin kedua orang itu.
"Bukannya kemarin-kemarin dia selalu pulang pergi sendirian?" gumam Arvin sembari tangannya memegang stir kemudi, dia mengikuti trem yang dinaiki oleh Kalin.
Tapi di perjalanan, Raksa ngerasa badannya kebakar.
"Kamu nggak apa-apa?" tanay kalin yang udah mulai menggunakan bahasa yang lebih lembut pada suaminya.
"Kayaknya aku nggak enak badan, Klain!" ucap Raksa. Dia ngerasa udah nggak konsen banget, padahal hanya duduk di dalam trem.
Ngeliat wajah Raksa yang udah merah, Kalin pun memutuskan, oke kita tunda makan di restonya. Mereka turun di pemberhentian trem yang di dekat rumah mereka.
Kalin memegang lengan Raksa, "Bentar lagi kita pulang ke rumah! kamu kenapa sih bisa menddak sakit begini? perasaan tadi sehat-sehat aja?" tanya kalin.
Tapi lidah Raksa rasanya kelu, dia nggak snaggup mendengar repetan suara Kalin. Meskipun bahasanya sekarang udah mulai agak enak didenger bahasanya. Cuma ya kalau dia lupa, balik lagi lo gue lo gue. Padahal konteksnya Raksa ini lebih tua dari dia.
"Gue seneng lo udah bisa bilang aku kamu, kayak gitu terus ya?" ucap Raksa saat mereka udah smapai di rumah.
"Ya kalau gue nggak lupa!"
"Tuh kan balik lagi!" protes Raksa.
"Mulai sekarang, dilarang pakai gue lo. Yang melanggar harus membersihkan rumah, termasuk nyiapin makanan berturut-turut selama 3 hari!" ucap Raksa, bikin peraturan dadakan.
"Nggak maauu!" ucap Kalin sambil nutup pintu rumah.
"Nggak ada bantahan, Cil?!"
Senyuman Kalin pun membuat Raksa berdebar.
"Aku ke dalam dulu," ucap Raksa.
Namun entah ada apa, bukannya masuk ke dalam kamar, dia memalikkan badan Kalin yang sedan membuka lemari pendingin, dan menciumnya.
Kalin kaget, awalnya dia ikutin Raksa, tapi lama kelamaan Raksa seperti orang yang kesetanan. Kalin sampai nggak bisa nafas. Lantas dia mendorong badan Raksa sampai punggung pria itu membentur tembok.
"Hhhh, hhh, kamu kenapa, sih?" ucap Kalin yang sengaja menggigit bibir Raksa hingga berdarah.
Raksa yang seketika sadar pun melihat Kalin yang berantakan. Dia ngerasa kalau saat ini dia lagi nggak bisa mengontrol dorongan yang ada di dalam diri yang selama ini selalu berhasil dia taklukan. Tapi kali ini berbeda, dengan hanya bersentuhan dengan Kalin, mampu membangkitkan hawa yang lain, dia merasa kalau dia ingin lebih dari sekedar menyentuh.
__ADS_1
"Maaf, Kalin!" Raksa meninggalkan Kalin di dapur dan masuk ke dalam kamarnya.