
Cukup lama Raksa menunggu Kalin.
'Kemana tuh bocah? kenapa nggak naik ke atas?' Raksa yabg daritadi menyenderkan punggungnya di bantal, dia setengah duduk.
Matanya lelah, tapi entah kenapa, dia ngerasa kalau nggak bisa tidur sebelum Kalin balik ke kamar itu.
"Apa dia masih ngobrol sama ayah sama bunda di bawah?" Raksa mengetuk dagunya dengan jari. Dia melihat jam menunjukkan pukul 11 malam.
Dan itu artinya dia sudah menunggu selama 3 jam dalam ketidak pastian.
Sementara Kalin, yang hatinya sakit bagaikan tertusuk duri, memilih tidur di kamar tamu dan merelakan kamarnya yang penuh kehangatan itu untuk Raksa.
Entahlah, cinta yang baru saja tumbuh kini harus layu karema sikap dan kenyataan yang pahit untuknya. Suaminya ternyata memiliki hubungan rahasia dengan sang mantan, mereka malah berani ketemuan di rumah Raksa sendiri. Benar-benarbhal yang memalukan, pikir Kalin.
Dia memeluk bantalnya, dengan air mata yang terus mengalir. Butuh waktu lama untuk akhirnya dia bisa tertidur.
Sementara Raksa turun ke bawah, melihat beberapa lampu sudah dipadamkan. Suasana sepi dan kayaknya nggak ada aktivitas manusia.
"Dimana si bocil?"
Perasaan Raksa mendadak nggak tenang. Dia ngerasa kalau ada hal yang biasa. Hatinya kosong saat nggak ngeliat Kalin padahal dia berada di rumah istri nya sendiri.
Raksa dengan labgkah pelan menyusuri ruang tamu dan ruang tengah. Nggak ada siapa-siapa, lanjut dia ke dapur kuga nggak ada siapa-siapa.
"Apa mungkin dia di kamar itu?" gumam Raksa yang dengan perlahan bergerak ke depan sebuah pintu berwarna hitam.
Dia membuka nya perlahan.
Dan ternyata benar, disana ada Kalin. Suasana gelap, tapi Raksa bisa melihat kalau ada sosok yang sedang memeluk bantal gulingnya.
"Dicari kemana-mana, ternyata dia ada disini," gumamnya lirih.
Perlahan Raksa menutup pintu, dia berjalan mendekat pada Kalin.
Ctekk!
Dia menyalakan lampu tidur yang ditaruh di atas nakas.
Raksa menyeka bekas air mata di tulang hidung Kalin.
"Mimpi apa kamu, Cil? sampe nangis gini?" tanya Raksa.
Pria itu naik ke atas ranjang, menelusup di selimut yang sama dengan Kalin. Dia membalikkan tubuh wanitanya dan mendekapnya sampai dirinya pun ikut terlelap.
Kalin ngerasa kalau saat ini gulingnya bisa bergerak-gerak, hangat dan juga nyaman. Tapi disatu sisi, bisa membuat jantungnya berdebar-debar.
Sampai satu ketukan pintu membuatnya harus terbangun.
"Emmmh, yaaaa!" sahutnya dari dalam.
"Sudah pagi, Sayang?!" seru bunda dari balik pintu.
"Ya, Buuuuun!"
__ADS_1
Mata Kalin terbuka perlahan, dan sesaat setelah kesadarannya terkumpul matanya terbelalak.
"Aaargghh!!" namun teriakan itu segera dibungkam oleh tangan Raksa.
"Jangan teriak, kuping gue pengeng!" bisik Raksa.
"Dan nanti bunda pikir gue ngapa-ngapain lo!" ucap Raksa.
"Ngapain sih lo disini?!" Kalin kesal, karena begitu bangun yang dilihatnya wajah si tukang selekong.
"Ngapain?"
"Gue nggak ngapa-ngapain," kata Raksa yang melihat ke arah tangan Kalin yang memeluknya seperti sedang memeluk guling dengan kaki yang berada di atas paha Raksa.
Kalin pun segera melepaskan tangan dan kakinya yang dengan enaknya memeluk suaminya itu.
"Akhhh!" Kalin memegang kepalanya sendiri.
"Disini gue korban!" ucap Raksa yang menyilangkan tangan di dadanya.
"Cih! gue bggak ngapa-ngapain?!" Kalin menatap Raksa penuh kebencian.
"Kenapa? setelah lo enak-enakan meluk gue, terus lo ngerasa kalau ini semua salah gue? ck, ck, Kalin ternyata---"
"Ternyata apa, hah? Dasar sarap?!" Kalin segera bangun dia mengambil hapenya.
Namun setelah dia memegang handle, Raksa pun mencegahnya.
"Ini!" Raksa menunjuk celananya yang menggembung.
"Dasar nggak waras?!!" Kalin menggeleng lalu keluar dari kamar dengan muka bantal dan hanya memakai piyama panjang.
Sedangkan Raksa mencoba menjinakkan belutnya, "Kasian! bocil nggak mau tanggung jawab! tidur lagi sono!" ucapnya yang kemudian mengejar Kalin yang udah keluar duluan.
"Kok cuci muka disini? emang kamu tidur dimana, Sayang?" tanya bunda.
"Di kamar tamu!" sahut Kalin singkat.
"Kenapa?"
"Ac nya kurang dingin! kayaknya harus diservis tuh ac nya!" jawab Kalin ngasal.
"Masa sih udah nggak dingin? perasaan baru kemarin-kemarin dibersihin,"
Kalin mengambil dan mengucurkan susu ke dalam gelasnya, dan nggak sengaja Raksa lewat.
"Pagi, Bun!" ucap Raksa.
"Eh, udah bangun? kalian tidur di bawah semua ya?" tanya bunda.
"Iya, Bun..."
"Kalin, aku ke atas duluan!" ucap Raksa, sedangkan yang dipamitin diem aja pura-pura nggak denger.
__ADS_1
"Kaliiin..." Bunda manggil dengan lirikannya.
"Iya, nanti aku nyusul ke atas!" ucap Kalin.
Raksa pun tersenyum dan lanjut naik ke lantai dua. Dia merasa pagi itu sangat cerah, karena Kalin memeluknya dengan sangat erat dan penuh penghayatan. Meskipun itu dalam keadaan nggak sadar, tapi Raksa udah cukup senang.
Dia mengambil anduknya dan pergi ke kamar mandi. Sedangkan Kalin masih minum susunya, dia sengaja memperlambat.
"Katanya mau berangkat jam 11 siang, sekarang kamu cepetan mandi dan sarapan," kata bunda.
"Iya, Buuuun!" ucap Kalin yang mebaruh gelasnta di wastafel.
"Tinggal saja, biar mbok Sinah yang cuci,"
Kalin pun dengan langkah gontai, naik ke kamarnya.
Dan dia membuka handle dengan pelan-pelan. Maranya menelisik ke seluruh penjuru kamarnya.
"Nggak ada?! apa mungkin lagi di kamar mandi?" gumam Kalin.
Dia pun segera menfambil handuk dan baju. Berniat untuk ikut mandi di kamar mandi bawah.
"Bodo amat, yang penting gue nggak liat muka dia!" gumam Kalin.
Baru aja berbalik di depannya sudah ada Raksa yang bertanya dengan hanya memakai handuk di pinggangnya.
"liat muka siapa?" tanya Raksa dengan air yang menetes dari rambutnya tang masih basah.
"Aaaaa---" Raksa membungkam mulut Kalin lagi dan karena gerakan cepat itu ada sesuatu yang melorot ke bawah.
"Aaahhhhhhhrrggg!!!" Kalin menjerit kali ini.
"Heh? Kalin?! suara lo, ya ampuun?!" Raksa gelengin kepala.
Saat ini Kalin merem, dia tau apa yang tadi jatuh.
"Jangan teriak kalau kamu nggak pengen kita disamperin sama ayah dan bunda!" Raksa ngingetin.
Raksa baru ini menyadari ada yang semriwing, dia lihat ke bawah.
"Anduk gue?!" Raksa refleks melepas Kalin dan meraih handuknya yang jatuh.
"Gue masih pakai celana kali, Cil! liat nih kalau nggak percaya!" ucap Raksa yang kini mengeringkan badannya dengan handuk.
Kalin yang semula merem seketika melek, "Ya ampuuuuunn!!!"
Matanya membelalak saat melihat suaminya yang katanya masih memakai celana. Iya celana tapi celana yang ketat dan memperlihatkan sesuatu yang bikin Kalin mengumpat.
"Dasar nggak waras!" ucapnya sambil berlalu menuju kamar mandi.
"Nggak waras? siapa yang nggak waras? kan emang bener aku masih pakai celana? apa yang salah?" gumam Raksa yabg kini dengan santai nya memakai baju.
Sedangkan Kalin menahan amarah yang bergemuruh di dadanya. Dia segera membasahi kepalanya dengan air dari shower, minimal dengan itu dia bisa mendinginkan kepalanya yang hampir kehilangan akal sehatnya gara-gara menghadapi super menyebalkan.
__ADS_1