Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Ke Sekolah


__ADS_3

Dalam perjalanannya, Raksa mikir.


"Mampir nggak yah?" gumamnya.


Tapi sedetik kemudian, dia menolak pikirannya.


"Nggak usah lah ya?! lagian paling udah pada masuk ke kelas, kecuali Kalin mungkin. Kan tuh bocah suka grusa-grusu!"


"Grusa-grusu?" gumamnya lagi.


Raksa yang awalnya mau nganterin Nova akhirnya meruskan niatnya itu. Dia pergi ke sekolah dimana adik dan tunangannya berada, ya daripada penasaran pikirnya. Lagipula sepanjang perjalanan dia mengkhawatirkan sesuatu.


"Ada apa. Mas?!!" tanya seorang satpam yang ngeliat ada mas-mas yang mondar mandir di depan gerbang sekolah.


"Nggak ada apa-apa, Pak!" Raksa dengan senyum sopan.


'Astaga Raksa, kenapa juga lo nyampe kesini? nggak bener nih gue lama-lama!'


Sesaat kemudian, raksa mendekatkan wajahnya di gerbang sekolah, "Pak, mau nanya. Bapak kenal kalin? anak kelas XII yang lagi ujian!"


"Ya, kenapa?


"Dia udah nyampe sekolah belum ya, Pak?" Raksa nanya sopan.


"Saya nggak tau?! nggak liat, mungkin udah!" kata si satpam, jutek. Terkesan nggak peduli.


Raksa yang denger jawaban satpam yang judes, mendadak dongkol.


"Huuufhh," pria itu meniupkan udara dari mulutnya, kesal.


Namun tiba-tiba dari belakang punggungnya berdiri seorang pria, "Nyari siapa, Mas?" nanya si satpam. Kalau ini agak ramah. Di tangannya bawa setumpuk kertas, mungkin dia habis dari fotocopyan.


"Mas nya nyari siapa?" tanya si satpam lagi.


"Oh, ehm. Saya mau mastiin aja Kalin sudah berangkat atau belum. Soalnya dia sering telat!" kata Raksa.


"Oh, Mbak Kalin?" satpam manggut-manggut.


"Sudah kok, sudah berangkat. Dia datang paling awal, sempat lihat tadi...." lanjutnya,

__ADS_1


"Memangnya mas nya ini siapanya mbak Kalin?" pria itu ngeliatin penampilan Raksa dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Saya---"


"Mamangnya?" serobot si satpam.


"Mamang? eh kok mamang, ya? maksud saya abangnya," pak satpam langsung ngeralat ucapannya sebelum bola mata Raksa melotot.


"Begitu, ya?"


"Ehm, apa ada lagi yang bisa dibantu, Mas?" tanya pria yang ngeliatin gerbang sesekali..


"Ini ujiannya sampai jam berapa ya pak kira-kira?"


"Sampai jam berapa ya? mungkin jam 12 an, Mas..." jawab pria itu.


"Oh ya sudah. Terima kasih infonya," Raksa pun menunduk sopan sebelum melesat menunggangi motornya yang perlu diservis akhir bulan ini.


Dalam perjalanannya, Raksa sedikit lega, tapi juga bingung.


"Tapi kenapa gue harus banget mastiin tuh bocah udah berangkat atau belum? mau berangkat atau nggak kan urusan dia, ya? kenapa juga gue harus repot-repot celingukan di sekolah tuh bocah?!! mulai nggak bener nih pikiran gue," gumamnya.


Nggak lama, akhirnya pun Raksa sampai di kantornya. Lumayan nggak tel;at, meskipun jatohnya mefet ya datengnya.


"Ehm," Rahmi berdehem lirih. Dia nyelipin rambut ke belakang kupingnya.


Raksa nggak bergeming, dia mengambil napas dan mengeluarkannya perlahan sampai akhirnya pintu lift terbuka. Namun salah satu diantara mereka berdua nggak ada yang keluar.


"Udah sampai," kata pria yang berdiri dengan santai.


"Hah?"


Raksa nahan tombol pintu, "Lo mau ke lantai ini kan?"


"Oh iya! iya, thanks..." Rahmi gelagepan dan dia keluar. Sepintas dia ngeliat tangan kanan Raksa yang pakai cincin.


Greppp!


Pintu lift ketutup dan mata Rahmi sekali lagi fokus pada jari manis Raksa yang saat itu kayak ke zoom di mata dia sedetik sebelum pintu lift itu bener-bener tertutup rapat dan membawa sang mantan jauh naik ke lantai atasnya lagi.

__ADS_1


"Apa bener Raksa udah tunangan? tapi sama siapa?"


"Dia nggak pernah pakai cincin, dan sekarang jari itu udah ada yang mengisis. Apa itu artinya apa yang diomongin Farid itu bener?" gumam Rahmi, seaat hatinya ngerasa tercabik.


Dengan langkah tanpa semangat, Rahmi pun berjalan menuju meja kerjanya yang cuma dibatasi sekat dengan teman disamping kanan dan kirinya.


Dia duduk dan ngeluarin hapenya, "Tapi sama siapa? apa iya secepat itu dia dapet pengganti gue? atau jangan-jangan dia udah punya hubungan sama cewek lain waktu pacaran sama gue. jadi saat kita putus, dia---"


"Nggak nggk nggk! Raksa bukan cowok kayak gitu!" Rahmi pegang kepalanya dengan kedua tangan.


"Raksa itu cowok setia, dan gue yakin itu!" wanita itu menyenderkan punggungnya di kursi.


"Tapi beneran, gue nggak nyangka kalau dia bisa cepet banget move on nya. dan nggak main-main, dia langsung tunangan..."rahmi bergumam sendiri. dia berhenti saat beberapa orang udah mulai ramai masuk ke dalam ruangan dan duduk di meja kerjanya masing-masing.


Dorongan kepo pun akhirnya menguasai Rahmi, dia buka instagram raksa yang dulu pernah di unfollow sama dia. tapi beruintung IG pria itu nggak di private, jadi meskipun nggak berteman rahmi masih bisa ngeliat apa aja yang di post Raksa.


Selain foto-foto pemandangan, nggak ada foto lain lagi. paling banter, foto Raksa yang lagi ngeliat sunrise itu pun cuma dari arah belakang, jadi sama sekali nggak madep kamera.


Boro-boro foto cewek, foto kucing atau sapi juga nggak ada. Yang diposting all abiut nature dan wisata yang pernah dikunjungi pria itu.


"Selain hubungan kita yang berubah, tampilan IG kamu juga berubah!" gumam Rahmi yang menyadari kalau Raksa udah menghapus foto-foto yang menampilkan wajah ganteng pria itu. Bahkan foto wefie antara dia, Tania dan juga Farid pun lenyap. Sebegitunya Raksa menghilangkan jejak Rahmi di hatinya.


Ngerasa nggak ada apa-apa yang didapetin, rahmi pun menutup sosial medianya dan beralih pada komputernya sendiri.


Sedangkan Raksa yang baru duduk, ngeliat kotak makanan yang baru lagi dengan warna yang beda lagi.


Raksa mengetukkan jarinya di meja, "Siapa sih yang ngirimin gue makanan tiap pagi. Jangan-jangan Rahmi juga yang kirimin ini? ngapain sih? bukannya kita udah selesai? terus tujuannya apa dia berbuat kayak gini?" Raksa dibikin pusing sama satu kotak makanan yang hadir dengan menu yang berbeda setiap harinya.


Tangan pria itu meraih note dan menulis sesuatu.


Please, stop kirimin gue sarapan pagi***.


Dia tempel note itu di kotak makanan yang nggak pernah dia makan. Raksa berharap si pengirim akan berhenti karena dia mulai terganggu.


Raksa mulai dengan aktivitasnya, dia mencoba fokus meskipun nyatanya pikirannya melayang pada seseorang, "Haisshhh, stop mikirin si bocil, Raksaaa?!"


"Tuh, kerjaan lo gue tambahin!" Farid yang tina-tiba nongol dan ngasih setumpuk berkas.


"Mau dibumi hanguskan apa gimana nih?!!"

__ADS_1


"Buat diloakin!" sambung Farid.


"Apa yang mau diloakin?" suara pak Tomi tiba-tiba nyamber aja kayak bensin.


__ADS_2