
Raksa sekarang ternganga karena restiran yang rencananya buat candle light dinner-nya pak Tomi, mendadak rame banget kayak pasar ikan.
"Ya ampun?! ini kok bisa rame kayak gini? apa ada pesta dadakan?!" Raksa seketika ngeliat ke sembarang arah.
Namun segera ditarik bapaknya, "Pak? sebentar! aku pastiin sesuatu dulu!"
"Pastiin apa? sudah sini ikut bapak!" pak Hendra narik Raksa buat menemui seseorang.
"Pak Dendi nggak bener, nih! kenapa dia nggak ngomong kalau malam ini juga ada acara. Kalau kayak gini bisa disemprot habis-habisan gue sama pak Tomi!" Raksa nggak bisa ngebayangin gimana sewotnya pak Tomi.
Dan matanya terbelalak untuk kesekian kalinya saat pak Tomi menggandeng seorang wanita yang secara look keliatan jauh banget perbedaan umurnya.
"Dik, nih calon mantu masih roaming!" kata pak Hendra yang mempertemukan Raksa pada ayah Diki yang lagi ngobrol sama pak Tomi.
'Roaming roaming apaan sih bapak?! kagak tau apa ini karir anaknya diujung tanduk!" batin Raksa.
"Om...?!" Raksa menjabat tangan Om Diki, dan pria yang masih gagah diusianya yang hampir menginjak 50 tahun itu pun memeluk Raksa.
"Makin ganteng aja nih calon mantu?!" puji ayah Diki.
"Pastilah, hasil karya bapaknya ini loh!" pak Hendra bikin pak Tomi ikutan ketawa.
"Maaf, Pak! bukannya pak Tomi harusnya di meja yang sebelah sana, yang sudah saya pesankan!" kata Raksa.
"Meja apa? pesanan apa?!" pak Tomi malah seakan nggak tau menau apa yang Raksa bicarakan.
"Astaga, kalian ini suka sekali mengerjai calon mantuku!" ayah Diki sambil ketawa, yang diikuti tawa pak Hendra dan juga pak Tomi.
"Kayaknya gue salah dimensi ini?!" Raksa bergumam sendiri.
"Jangan ngeliat saya! saya hanya disuruh!" pak Tomi menjawab tatapan pria yang menjadi staff nya di kantor.
"Saya yang minta pak Tomi supaya berpura-pura minta tolong buat rancangin candle ligt dinner. Karena malam ini bukan malamnya pak Tomi dengan istri, tapi malam pertunangan kamu dengan Kalin..."
"Meskipun kamu sudah melakukan pertunangan tempo hari, tapi Om rasa adabyang kurang jika belum berbagi kebahagiaan ini dengan teman dan kerabat lainnya," jelas Ayah Diki.
"Tapi kenapa harus bikin Raksa bingung, Om?" Raksa pusing ngadepin orangtuanya dan juga orangtua Kalin yang kompak dan seneng ngerjain dia.
__ADS_1
"Karena kalau nggak ngerjain kalian, nggak seru! lagian, pinter juga itu calon istri kamu, dari sekian hadiah yang terpikirkan dia milih seauatu yang berharga, berlian!" ayah Diki menunjukkan cincin yabg dipilih Kalin.
"Kita mengundang seratus orang untuk ikut berbahagia bersama kita malam ini," lanjut ayah Diki.
Sedangkan keliatan banget pak Tomi agak segan pada ayah Kalin, ya dia tau lah pasti sepak terjang Diki Cayapata, yang berawal dari seorang staff kini bisa berkembang memiliki usaha sendiri, yang bisa dibilang mulai bersaing dengan perusahaan lain yang lebih besar darinya.
Lagi-lagi sistem dadakan mendominasi di keluarga Raksa saat ini.
'Acara kayak gini kenapa harus banget malam jumat? ya ampun, udah nggak tau lagi gue, nggak tauuuuu!' Raksa ngedumel mulu dalam hatinya.
"Sudah, tenang saja! beruntung kamu punya calon mertua baik seperti itu!" bisik pak Tomi.
Raksa cuma ngelirik dan berdecak kesal. Dia nggak habis pikir dengan orangtua yang suka ngerjain anaknya, udah capek-capek ternyata itu acara bukan buat pak Tomi tapi buat dirinya sendiri.
Ayah Diki membuat pengumuman, dia mengucapkan selamat datang untuk para tamunya dan memperkenalkan Raksa sebagai calon menantu yang digadang-gadang akan membantunya di perusahaan yang baru dirintisnya. Dan nggak lama, Kalin datang dengan diantar, bunda Lia, bu Selvy dan juga Nova.
"Itu anak saya, kemari sayang!" ayah Diki menyuruh Kalin datang mendejat.
Nggak kalah shock dari Raksa, wajah Kalin pun memancarkan aura kebingungan.
Pesta pun dimulai.
Raksa beberapa kali dikenalkan secara pribadi pada teman dan kolega ayah Diki. Dia nggak bisa kabur, padahal matanya udah sepet banget pengen tidur.
"Ini Kalin anak saya, ini Raksa calon mantu saya!" kata ayah Diki.
"Kenapa cepat sekali? memangnya Kalin ini sudah siap nikah muda?" tanya salah satu teman ayah Diki.
"Kalau pernikahan, belum tau kapan. Yang jelas iket aja dulu, biar kesananya lebih mudah!" kata ayah Diki.
"Oh begitu...."
"Ya, biarkan mereka meraih mimpi bersama-sama," jawaban dari ayah Diki yang begitu diplomatis, sambil ngelirik kedua anaknya yang masih senyum-senyum kepaksa.
Setelah digeret sana sini suruh nemuin tamu, akhirnya ada waktu buat Raksa dan Kalin kabur dari jamuan pesta pertunangan itu.
"Hhhh, akhirrnyaaa! bisa keluar juga gueee!" Raksa ngelonggarin dasinya. Dia pergi keluar diikuti Kalin yang pegel dengan high heels nya.
__ADS_1
"Keluarga gue, kenapa berubah jadi absurd begini, sih?!" gumam Kalin.
"Nah itu pertanyaan yang sama yang ada di kepala gue, sejak ketemu sama lo!" Raksa nyeletuk.
"Dih, kok gue?!"
"Gue nggak tau lagi harus gimana, yang jelas apapun bisa terjadi tanpa sepengetahuan kita berdua. Dam kayaknya baik lo maupun gue, nggak akan ada yang bisa keluar dari jeratan pertunangan ini!" ucap Raksa yang nunjukin cincinnya.
"Nih!" Raksa ngasih cincin berlian yang waktu itu dibeli bersama dengan Kalin.
"Termasuk cincin berlian ini? bukan buat istri bos nya mas Raksa berarti?"
Denger Kalin manggil 'Mas' hati Raksa sedikit menunjukkan getarannya.
"Ehm, ya!" Raksa berusaha bersikap biasa.
"Terus ngasihnya kayak gini doang?!"
"Terus lo mintanya kayak apa? digantung kayak lagi lomba makan kerupuk tingkat RT?" Raksa sinis.
Kalin menerima cincin itu dan menyematkan di jarinya, "Sebenernya gue juga curiga. kenapa ukuran cincinnya persis sama ukuran cincin gue!"
"Tapi nggak apa-apa lah, gue juga suka bentuknya!" Kalin nyerocos sendiri.
Raksa ngeliat ke arah langit, "Lo setuju dengan apa yang orangtua kita inginkan? lo tau kan konsekuensi pakai cincin itu?" tanya Raksa.
Dia memandang Kalin yang saat ini ngeliat ke arahnya juga lalu mengalihkan pandangannya ke langit luas.
"Ini bukan sekedar tukar cincin! disitu ada ikatan yang bikin kita nggak bisa berpindah ke lain hati, dan berusaha untuk selalu bersama apapun keadaannya! Dan kita nggak tau kapan orangtua menginginkan kita menikah," lanjut Raksa.
"Gue sengaja ngomong gini karena gue anggap lo masih bocil. Keadaan kita satu tingkat diatas orang pacaran, dan lo harus tau itu!"
"Ya mau gimana lagi? mau ngelawan? nggak mungkin! apalagi kemarin gue baru aja salah langkah, dan segala gerak-gerik gue pasti dipantau sama ayah dan bunda!" Kalin menunduk.
"Ya jadi mau gimana lagi?" gadis itu nengok ke arah Raksa.
"Yang gue bisa lakuin cuma, menjalani ini meskipun hati gue ngenes abis!" lanjutnya lagi.
__ADS_1