
Kalau dibilang hari ini hari yang panjang ya iya, lha wong seharian ini banyak banget kejadian yang menguras emosi jiwa bukan hanya Raksa dan Kalin, tapi bagi Reno juga.
Sekarang Reno lagi duduk di sebuah minimarket dengan muka Arkan yang udah diobati.
Reno nyerahin kunci motor milknya, "Abang pulang aja, ibu pasti nyariin kalau tau abang pergi nggak ijin!" Reno udah mulai membuka hatinya.
Arkan yang udah lama nggak denger sapaan 'abang' dari mulut adiknya itu pun ngerasa terharu, "Kita pulang sama-sama,"
Reno menggeleng, "Nggak, gue lagi butuh waktu sendiri..."
"Akhir-akhir ini situasi kota lagi nggak baik-baik aja, kita pulang bareng. Abang yakin, ibu juga khawatir kalau tau anaknya yang nomor dua tau-tau nggak ada di kamarnya,"
"Kayaknya lo lebih digarepin daripada gue. Gue yang selalu bawa masalah,"
"Lo masih muda, dan emosi lo lagi nggak stabil. Biasa lah kalau remaja ya begini, abnag pun pernah mengalami fase itu, dan sekarang pun ego abang masih tinggi. Cuma sebisa mungkin abang tekan itu," Arkan menepuk punggung Reno.
"Lo udah gue bikin babak belur aja masih bsa bilang kayak gitu. Terbuat dari apa hati lo itu?" Reno ngeliat abangnya sekilas. Dia ngerasa kalau dirinya nggak lebih baik daripada Arkan.
"Karena lo adek gue, Ren! lo adek gue yang gue sayang, sama seperti gue sayang sama Nadila. Kalau gue tau lo berubah karena nyangka kalau gue jadian sama Vela, gue pasti bakal buat itu semua clear. Lo bebas deketin Vela, Vela itu butuh temen yang bisa dengerin dia. Dan gue yakin, kalau lo mau berusaha lo pasti bisa dapetin hati dia..."
"Kecuali lo udah punya gebetan yang lain," lanjut Arkan, nyinggung cewek yang waktu itu nonton bareng sama Reno di bioskop.
Reno yang denger itu pun cuma senyum kecut, dia bahkan melupakan Melody untuk beberapa saat, "Gue nggak tau dia baik atau nggak, yang jelas lo udah gede. Lo bisa jaga diri lo maupun jaga nama baik keluarga kita,"
"Gue kasih lo waktu buat berpikir, tapi nggak disini. Kita pulang! lo bisa merenung di kamar," kata Arkan.
Akhirnya dengan bicara dari hati ke hati, Arkan bisa membawa adiknya kembali. Meskipun Arkan sendiri nggak yakin akan merubah Reno 100 persen dalam waktu semalam, tapi paling nggak dia udah berusaha. Dan sekian purnama diem-dieman kemudian bisa ngobrol tanpa harus ngeluarin kata sindiran dan mata yang sinis aja udah merupakan suatu kemajuan.
'Pelan-pelan lo pasti bisa balik jadi Reno yang dulu,' batin Arkan
Malam ini, untuk pertama kalinya Reno diboncengin sama abangnya. Meskipun muka udah penuh lebam, Arkan maksa buat nyetir motor milik adiknya. Perasaan hangat langsung bisa Reno rasakan. Sosok pria di depannya ini, yang udah lama banget dia benci, ngeliat Arkan setengah membungkuk dan sesekali pegangin perut, seketika ada sedikit perasaan bersalah yang di hati pemuda yang sebentar lagi meningggalkan bangku sekolah.
Setelah melewati perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mereka sampai di depan rumah. jadi anak cowok harus gentle, jadi Reno udah siapin mental kalau ibu atau ayah nanyain mereka yang ngabur di jam makan malam.
__ADS_1
"Assalamualaikum," Arkan ngucap salam dan buka pintu.
"Waalaikumsalam," suara bu Rini.
"Ya ampun, Arkan?! kenapa muka kamu? kamu habis berantem?" tanya ibuk yang meraih wajah anak sulungnya.
"Loh sama Reno juga?" ibu ngelanjut nanya
Ayah Hakim yang mendengar keributan di ruang tamu pun keluar, dia ngeliat Arkan dan juga Reno bergantian. tatapannya begitu tajam, tapi ayah nggak ngomong apa-apa.
"Ayaaahhh!" panggil Nadila dari arah meja makan.
"Iya, Sayang! sebentar, ayah kesitu!" sahut Ayah yang kemudian meninggalkan kedua anak lelaki dan juga istrinya disana. Bu Rini sebenernya masih kecewa sama suaminya, tapi sebagai seorang istri semarah apapun dia sekecewa apapun dia, Bu rini tetap menajlankan kewajibannya sebagai seorang istri.
Ibu Rini sebenernya udah ngetuk pintu kamar Arkan, manggil buat ikut makan malam. Tapi Arkan sama sekali nggak nyaut. Dan saat ngetok pintu kamar Reno juga sama, nggak ada jawaban plus pintunya dikunci. Jadi Bu Rini pikir, Reno lagi marah dan emang nggak mau diganggu. Jadilah mereka makan malam duluan karena si kecil Nadila udah kelaperan.
"Kamu kenapa Arkan?"
"Hem, nggak kenapa-napa, Buk! biasa jatuh dari motor. Udah nggak apa-apa, ibu nggak usah khawatir," kata Arkan yang kemudian mengusap lengan ibunya dan pergi ke kamarnya.
Tanpa kata Reno juga ikutan pergi dan masuk ke akamarnya, sedangkan bu Rini ngerasa sangat sedih ngeliat Reno berlalu begitu saja.
Sedangkan di rumah Kalin, suasana begitu ramai.
Terutama pak Hendra dan juga ayah Diki yang ngobrol begitu akrab. Sedangkan Raksa dan Kalin cuma duduk di teras depan dengan sesekali saling melirik dengan pandangan yang kurang mengenakkan.
"Yang udah tunangan mbok ya senyum, jangan pasang muka asem gituuu..."
"Berisik!" ucap Raksa dan Kalin kompak.
Nova yang lewat dengan minuman kaleng di tangannya pun sampai tersedak saking kagetnya, "Uhuukkk!"
"Ya ampuuun, kompaknya yang habis tunangan!" Nova ngibrit langsung ke dalam rumah, takut disemprot lagi.
__ADS_1
Sedangkan Raksa yang habis diledekin mencoba membangun lagi moodnya. Namun entah apa pertimbangannya, Kalin membuka suatu obrolan.
"Ehm, buat cincinnya. gue makasih banget..." kata Kalin.
Mata Raksa pun menyipit, dia menyangka hal yang lain.
"Maksud gue bukan cincin tunangan ini, tapi cincin gue yang lo beli!" ucap Kalin.
"Gue nggak tau apa pertimbangan lo buat beli cincinku itu, tapi gue makasih banget. Dan sekarang gue udah punya uang jadi---"
"Lo mau beli cincin ini balik?" serobot Raksa.
Kalin mengangguk.
"Nggak usah!" ucap Raksa.
"Tapi gue nggak mau utang,"
"Gue nggak pernah ngutangin gue bilang," Raksa sekarang noleh ke arah Kalin.
"Tapi ini dibeli pakai duit lo. Dan gue kan udah punya duit ganti dari abangnya Reno..."
"Tapi gue nggak biasa kayak gitu. Kalau cincin itu berharga buat lo, ambil dan pakai. Gue beli cincin itu karena gue pengen. Anggap aja cincin lo yang ilang lalu balik lagi,"
Dan dari situ ada satu hal baik yang bisa Kalin tangkap dari sikap Raksa, meskipun cara penyampaiannya yang terkesan cuek dan nggak peduli dan nyebelin, tapi Kalin tau sebenernya raksa ini tipe cowok gentle yang nggak suka dibayarin cewek.
"Kalau gitu makasih. Cincin ini berarti banget buat gue," kata kalin.
"Gue nggak akan lupa kebaikan Om,"
"Gue jepret pakai karet, mau?!" Raksa sebel.
Sedangkan Kalin bukannya marah dia malah ngekek. Ternyata dengan panggilan Om bisa bikin prioa itu senewen terhadapnya.
__ADS_1
Jjangan ketawa, nggak ada yang lucu!" kata Raksa yang nggak suka dipanggil om.
"Iya iya, sorry! intinya gue makasih, cincin ini bisa balik lagi menghiasi jari jemari gue!" kata Kalin yang disambut senyuman tak terlihat dari Raksa.