
"Bang?!" sapa Nova pada Farid yang pucet.
"Bang Farid lagi tipes?" Lanjut Nova.
"Emang keliatan?" Farid mengusap pelipisnya.
"Pucet banget!" kata Nova yang kemudian duduk.
"Udah pesen, Bang?" Nova celingukan, mencoba waspada.
"Lo liat dimana?" Farid ikutan mengedarkan pandangannya.
"Di jalan! gue takut kalau diikutin sama penjahat, makanya gue telpon abang.!"
Sementara Kalin masih mode nyimak aja. Dia nggak mau ikut campur urusan Nova. menurutnya, temannya itu hanya kebanyakan nonton fil, makanya apa-apa serba dijadiin ancaman. Padahal, kekhawatiran Nova beralasan, karena dia ngerasa kalau rumahnya sering diawasi orang lain.
Farid masih ngeliatin ke sekeliling, nggak ada apa-a[a.
"Lo yakin? lo tau berapa nomor plat mobilnya?" tanya Farid karena dia lumayan hafal plat mobilnya Rahmi.
"Pesen makanan dulu deh, sambil kita pantau situasi," kata Farid.
"Lo mau makan apa, Lin? ntar gue yang pesenin!" kata Nova.
"Gue es teh tarik aja. Masih kenyang gue,"
"Tarik apa? tarik kolor apa tarik tambang?" celetuk Nova.
"Tarik gigi lo, Nov!" Kalin sebel.
"Dih, yang abis ketemu sama tunangan! nggak boleh marah-marah, ntar cepet tua!"
"Abang mau makan apa?"
"Apa ya? gue pengen soto bening aja. Perut gue lagi bermasalah, kebetulan gue pengen yang anget-anget!"
"Jadi bang Farid beneran lagi sakit? sorry ya? gue malah nyuruh bang Farid kesini!"Nova ngerasa nggak enak.
"Nggak apa-apa, santai aja! tadi gue kebetulan udah deket banget, jadi ya udah sekalian aja gue kesini, kebetulan gue juga belum makan apa-apa, mulut gue hambar banget!" ucap Farid.
"Gue pesenin mochi jahe aja ya? kayaknya bisa bikin anget perut!"
__ADS_1
"Bikin anget hati bisa juga nggak, Nov?"
"Bisa, kalau makannya bareng gebetan!" sahut Nova yang cenderung blak-blakan jadi orang.
"Ya udah, gue tinggal dulu!?" ucap Nova yang kemudian meninggalkan Farid dan Kalin.
Sedangkan Kalin sendiri agak canggung dengan Fariid. Dan kalau beneram ;agi sakit, farid beneran baik banget, mau nolongin Nova. Untungnya tuh orang udah minum obat, jadi dia nggak bakalan kentut sembarangan.
"Ehm, Bang?" Kalin ragu memanggil Farid.
"Ya?"
"Gue ke toilet dulu,"
Farid ngangguk aja, "Iyah,"
Kalin pergi, sedangkan Farid masih menahan gejolak kembung di perutnya sambil nungguin Nova. Nggak di rumah sakit, nggak di food court sama-sama harus nunggu. Dan itu lumayan bikin Farid lemes.
"Adek lo ada-ada aja sih, Sa? gue lagi meriyang gini mendadak kesini gara-gara dia nelpon!" gumam Farid.
Sedangkan Kalin jalan menuju toilet. Ada beberapa cewek yang lagi benerin dandanan mereka. Dan ketika Kalin masuk ke dalam satu bilik, Klain mendengar suara rame-rame tadi mendadak menjauh, mungkin mereka udah pergi.
Kalin pun menekan flush, kemudian keluar dari bilik itu. Dia ngeliat satu cewek yang lagi berdiri dan mengusapkan lipstik berwana soft pink di bibirnya. Warna yang mirip dengan warna lipgloss milik Kalin.
Kalin membuka kran wastafel, dia basahi tangannya dengan sabun.
"Lebih baik lo mundur, karena Raksa masih milik gue tanpa lo tau," kata cewek itu yang menatap Kalin lewat pantulan cermin.
"Raksa?" gumam Kalin.
"Ya, gue pacarnya Raksa?! kita hanya break sesaat, dan dia terjebak perjodohan dengan lo," ucap cewek itu dengan lemah lembut.
"Dia hanya marah sesaat, jadi ... tolong lo pergi," lanjutnya.
"Tapi---" Kalin mencoba menjawab tapi si cewek ini segera menyambar lagi.
"Tolong mengertilah, kita sesama perempuan. gue yakin lo orang yang baik, lo bakal terluka jika menikahi orang yang masih mempunyai perasaan dengan orang lain. Tolong, beri kami waktu..." ucap cewek itu lagi.
'Apa iya? apa benar yang diomongin sama nih perempuan? gue kok sakut hati ya dengernya," Kalin dalam hati.
"Gue bakal buktikan, kalau lo hanya figuran dalam kehidupan Raksa. Gue nggak mau nyakitin lo, tapi kalau lo masih mempertahankan ego lo itu, gue bisa apa?" ucap cewek itu.
__ADS_1
"Gue Rahmi, lo pikirkan baik-baik perkataaan gue ini..." ucap Rahmi dengan senyum kalemnya.
Dia pergi meninggalkan Kalin yang masih ada di toilet memandang dirinya dengan semua kenangan yang pernah dilewati dengan Raksa. Dia menyentuh wajahnya yang baru aja di tayang-tayang Raksa beberapa saat yang lalu.
"Apa iya dia masih terjebak perasaan dengan cewek tadi? tapi semua yang dia lakuin sama gue? apa itu semua nggak berlandaskan perasaan?" Kalin bertanya-tanya dalam hatinya.
"Apa dia pura-pura? tapi nggak mungkin, kayaknya si Mamang punya perasaan kok sama gue! buktinya jantungnya dan jabtung gue kalau kita lagi deketan, deg-degannya aja barengan! gue yakin cewek tadi cuma orang dimasa lalu yang pengen muncul lagi setelah lama keluar dari hati Mamang!" ucap Kalin meyakinkan dirinya. Dia keluar toilet dan pergi meninggalkan tempat yang tanpa disadari, kalau Rahmi mendengar semua ucapannya.
"Keras kepala juga nih bocah!" Rahmi jengkel ketika Kalin nggak ngerewes peringatannya tadi.
Sementara Kalin balik ke tempat dimana Nova dan Farid sudah menunggunya.
"Astaga, gue kira lo ilang tau, nggak?" kata Nova.
"Gue ke toilet. Gue udah bilang kok tadi,"
"Kayaknya yang lo khawatirin nggak terjadi deh, Nova! habis makan gue pulang ya?" ucap Farid, slengeannya udah ilang. Perutnya daritadi udah nggak kondusif.
"Iya, ya udah..." kata Nova yang sebenernya pengen Farid stay agak lama.
Setelah makan dan bayarin cewek-cewek ini, Farid pamit pulang. Kepalanya udah kliyengan, lagian nggam ada apa-apaan. Padahal Kalin udah ketemu sama orang yang ngikutin mereka daritadi. Rahmi tau kalau yang jalan dengan Kalin ini, adeknya Raksa. Jadi dia nggak mau reputasinya jelek dimata adik ipar.
"Lo kenapa? wajah lo murung terus daritadi?" makananya nggak sesuai apa gimana? biasanya lo paling suka kwetiaw siram kayak gini," ucap Nova yang masih belum beranjak dari food court sementara Farid udah balik ke rumahnya.
"Nov, gue pengen tanya..."
"Apaan? jangan soal pelajaran karena gue males mikir!" kata Nova.
"Ya nggak soal pelajaran juga! gini, misalnya lo jalan sama orang terus orang itu kalau deket sama lo suka deg-degan, itu tandanya oeang itu beneran suka atau cuma pura-pura?"
"Abang gue, ya?" tebak Nova.
"Kok abang lo sih?"
"Udah ngaku aja! Hahahah," Nova ngeledekin, sementara Kalin ngerasa percuma juga tanya pakai kode-kodean, karena ujung-ujungnya Nova bisa nebak juga.
"Satu hal yang lo tau ya, Lin?" Nova mencondongkan badannya, dia mendekat pada es serut yang dia pesen, dan dia makan sedikit.
"Sebelumnya, gue nggak pernah liat abang gue segitu pedulinya sama cita-cita orang! tapi malem itu gue bisa liat, abang serius minta bapak sama ibuk buat secepetnya nemuin orangtua lo! Jadi, seandainya pernikahan itu terjadi, itu bukan karena dorongan orangtua lo ataupun orangtua dari pihak abang gue, tapi murni dari keinginan abang gue sendiri! jadi lo nggak usah ngeraguin apapun," kata Nova ngomong panjang lebar.
Lagi ngobrol serius gini, tau-tau ada chat what's up yang masuk dari Mamang Raksa.
__ADS_1
Jangan sore-sore pulangnya!
Kalin pun hanya membalas dengan emoticon jempol 👍🏻