Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Nggak Bisa Mengelak


__ADS_3

Rasa haus yang dirasakan Reno tiba-tiba hilang saat ngeliat Melody dengan tampilan baju sederhana dan juga tas yang isinya sayur.


Reno putar balik, buat mastiin apa yang diliatnya itu benar atau hanya khayalan.


"Makasih!" ucap Melody saat turun dan menyodorkan duit ongkos.


"Mel? Melody?!!" panggil Reno.


Dia nengok dan terkejut saat melihat Reno yang memanggilnya.


Gadis itu menutup wajahnya dengan tangan dan berusaha untuk masuk ke dalam, namun dengan sigap Reno menghentikan aksi Melody.


"Hey tunggu!!" Reno yang menangkap dan memegang kuat pergelangan tangan Melody.


"Lepas!"


"Mel, Mel tunggu! heh, lo kenapa? lo kenapa nggak ada kabar? terus, kenapa penampilan lo kayak gini?" Reno masih memegang tangan Melody. Sementara gadis itu membuang wajahnya, dia berusaha buat kabur.


"Gue nggak kenal lo, gue bukan Melody!" ucap gadis itu.


"Jangan bohong! gue tau kalau lo Melody. Lo kenapa, Mel?! kenapa?! penampilan lo aneh banget!" ucap Reno.


"Apa ini?" Reno mengambil tas yang isinya sayuran.


"Balikin?! sini, itu punya gue!" Melody berusaha mengambil kembali apa yang dirampas Reno dengan wajah yang ditutupi dengan tangan, yang percuma banget. Muka dia itu keliatan.


Reno gelengin kepala, "Gue kira satpam di rumah lo tuh bohong dan kurang ajar, bilang kalau lo lagi pergi kepasar!"


"Tapi logika gue nggak nyampe, mana ada anak majikan yang pergi ke pasar naik ojeg?! kecuali lo lagi dihukum atau lo sebenernya bukan anak dari pemilik rumah itu!" bentak Reno.


"Lo bohongin gue? iyaaa? jawab Mel? jawabb?!" lanjut Reno.


Gadis yang dicurigai sebagai Melody itu pun terdiam, nggak ada perlawanan yang berarti.


"Kenapa? kenapa lo diem aja?! apa yang lo sembunyiin dari gue?! hem?" Reno nggak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Liat gue, Mel?!!" bentak Reno lagi.


Ketika Reno lengah, Melody merampas kembali tas yang isinya sayuran segar itu. Bukannya bisa kabur, wajahnya malah terekspose jelas di mata Reno. Karena dengan sigap pemuda itu menangkap tangan Melody.


Mata gadis itu terbelalak, saat bertabrakan pandangan dengan Reno.


"Lo nggak bisa mengelak lagi?! siapa lo sebenernya!"


"Kenapa?! kenapa emang?!" Melody menatap Reno, dia menjawab dengan lantang.


"Kenapa memangnya kalau gue bukan anak dari pemilik rumah ini?! masalah buat lo?!" lanjutnya.


"****! jadi beneran lo bohongin gue?! lo bohongin gue? hem? lo bilang lo anak orang kaya?!"


"Gue nggak pernah bilang kayak gitu! lo aja yang halu dan nyimpulin sendiri!" Melody masih mengelak.


"Lalu ini? lalu ini apa? ini halu juga? lo beliin ini buat gue?!" Reno keluarin barang yang tadinya dia tinggalin di rumah, tapi dia balik lagi buat ngambil barang pemberian Melody itu bersamanya.


Tiiinnnn!


Tiiinnnn!


Klakson mobil menyela perdebatan dua manusia itu.

__ADS_1


"Ngapain kalian disana?! Melody! bukan pintunya, jangan ngah ngoh aja kamu?!" teriak seirang wanuta yang ngelongok dari kaca jendelanya.


Seketika dia menurunkan kacamatanya dan menatap kedua bocil itu dengan tatapan yang menakutkan.


"Awassss?!!" Melody mendorong Reno dan buru-buru mencetin bell.


"Buka gerbangnya!" teriak Melody.


Dan seketika gerbang itu perlahan terbuka.


Namun, si wanita itu sudah turun dari mobilnya dan menangkap dua bocah yang lagi berdebat di depan rumahnya.


"Siapa kamu?!" tanya wanita itu pada Reno.


"Saya----"


Sreettt!


"Apa ini?" wanita itu merebut apa yang Reno pegang.


Namun tiba-tiba pintu gerbang dibuka oleh satpam rumah.


'Apa dia mengambil kartuku lagi dan mengurasnya kembali?' batin wanita itu.


"Karman! suruh tamu kita masuk!" perintah si wanita itu dengan menggerakkan dagunya, sebelum menyerahkan kembali papper bag yang di tangannya pada Reno.


Sementara Melody, mukanya udah makin pucet.


"Mending lo pergi sekarang, Ren! please lo pergi!" Melody memaksa Reno buat naik motornya.


Tiiiinnnn!


Wanita itu membunyikan klaksonnya.


"Cepet pindahin motor kamu! dan masuk ke dalam, kamu ditunggu nyonya kami!" ucap satpam rumah itu.


"Nggak, Ren! sana pergi!"


Sedangkan Reno bingung, perintah mana yang harus dia turuti.


Tiinnnn!


Tiiiiiiiinnnnnnn!


Maksin keras klakson mobil itu.


"Bocah gendeng! kamu itu denger saya nggak sih! cepetan pindahin motor kamu dan cepetanasuk ke dalam. Kamu juga Melody, cepetan buatkan minuman! jangan sok ngebos! enek kita liatnya!" kata orang yang namanya Karman.


Reno bergerak ke arah motornya dan menyalakan meainnya. Dia masuk ke dalam rumah yang diakui rumah Melody.


Setelah motor Reno parkir, mobil itu juga berhenti saat memasuki pelataran rumah itu.


.


.


Dan kini Reno sedang duduk di sofa super empuk itu untuk yang kedua kalinya.


"Bawakan minuman untuk tamu ku!" ucap Rebecca pada Melody.

__ADS_1


Plakk!


Plakk!


Rebecca menepuk kedua tangannya, membuyarkan Melody yang masih ternganga.


"Ayo? tunggu apa lagi?! cepat buatkan minuman!" Rebecca menunjukkan kekuasaaannya di rumah ini.


"Baik, nyonya!" lirih Melody. Dia pergi ke dalam sedangkan Reno, dia meletakkan papper bag miliknya di lantai.


"Jadi, siapa kamu? kenapa kamu bertamu di rumahku?" tanya Rebecca.


"Saya, ehm---"


"Jawab saja! ngggak perlu ragu!" seroboy Rebecca.


"Saya sudah liat di cctv, kamu pernah kesini, bukan?!" Rebecca menumpangkan satu kakinya diatas kakinya yang lain.


"Ya...?"


Nggak berapa lama Melody bawa minuman dengan gelas berkaki.


"Silakan..." Melody dengan mata sedikit terpejam, dia malu pada Reno.


Ketika Melody akan pergi, Rebecca segera mencegahnya.


"KAMU MAU KEMANA GADIS KAMPUNG?!" teriak Rebecca yang udah diubun-ubun.


"Dan kamu? jawab pertanyaanku tadi! cepat!" Rebecca melotot.


"Saya Reni, pacarnya Melody!"


"Oohh, pacaaarrrrr??? selera kamu tinggi jyga, Mel?!!" Rebecca nyindir gadis yang tertunduk.


Rebecca mengangguk kecil beberapa kali dengan senyum sarkasnya, "Jangan-jangan ini partner kamu, dalam menguras kartu kreditku kemarin? iyaaa?!!"


Deg!!


Jantung Melody seakan ingin melompat. Majikannya ini mengatakan sesuatu mengenai kartu yang kemarin baru dia kembalikan secara diam-diam.


"Kartu kredit? saya, saya nggak tau apa yang anda maksud nyonyaaa!"


"TENTU KAMU SUDAH PAHAM APA YANG SAYA KATAKAN?!!" Rebecca menampar gelas yang ada di hadapannya.


Prangg!!!


Gelas itu terbang dan jatuh ke lantai.


"JANGAN KIRA AKU NGGAK TAU KELAKUANMU PENCURI KECIL!" tuduh Rebecca, dia berdiri dan menunjuk wajah Melody dengan telunjuknya.


"Dengar, bagaimana bisa black card ku bisa muncul secara ajaib di laci meja riasku, hah?!! kamu kira aku bodoh?! dimana saja kartu itu digesek, aku tau semua! hem? mau apa? mau mengelak?" Rebecca menatap Melody, nyalang.


"Bukan, bukan saya, Nyonya! saya---"


"Nggak nyangka, aku sudah memasukkan pencuri ke dalam rumahku sendiri! dasar anak kampung nggak tau diri! dasar bocah kurang ajar!"


Rebecca mengangkat tangannya namun dengan sigap Reno menahan tangan itu.


"Beraninya kamu?!" teriak Rebecca

__ADS_1


Tanpa di duga seseorang datang berlari dari arah dalam dan bersimpuh di kaki Rebecca, "Ampun, nyonya! jangan sakiti Melody, Nyonyaaaaa! semua salah saya, Nyonya... semua salah saya?!" suara parau seorang yang dipanggil bibik oleh Melody saat Reno bertamu di rumah itu.


__ADS_2