
Kalin yang sudah selesai perawatan pun tertidur selama sesi menghaluskan kulit wajah itu. Dia bangun setelah terapis menyuruhnya untuk bangun.
"Maaf, Yah? Saya ketiduran!" ucapnya dengan suara yang serak.
"Mau sekalian treatment rambutnya, Kak?" tanya si terapis.
"Lain kali aja, Kak!" ucap Kalin yang bangun dari tidur dengan muka bantalnya.
Selesai membayar, Kalin yang terlepas dari segala macam make up pun mengisi perutnya.
Sekilas dia melihat seseorang seperti Reno yang sedang melayani pelanggan. Dia memakai baju trainee.
"Nggak mungkin Reno, deh!" guman Kalin.
Karena penasaran, Kalin pun menghampiri restoran dimana si cowok itu mempersilakan pelanggannya untuk duduk.
"Selamat dat--tang..." Reno seakan tercekat ketika melihat Kalin di depannya, gadis yang dulu tukus mencintainya namun dia sia-sia kan.
"Selamat datang, silakan, Kak..." ucap Reno yang berusaha bersikap biasa.
Kalin duduk di tempat yang ditunjukkan untuknya.
"Ehm, pesan sekarang atau mau lihat dulu menunya?" tanya Reno yang dengan sigap meletakkan buku menu di atas meja. Dia sudah siap dengan tab untuk menginput pesanan.
"Langsung pesan saja! ayam goreng mentega satu, minumnya strawberry lemon tea!" kata Kalin tanpa melihat buku menu.
Kalin menggeser buku itu dan menatap Reno dengan tatapan biasa.
"Baik, saya ulangi pesanannya ya? Satu porsi ayam goreng mentega dan satu strawberry lemon tea. maaf, ini ada tambahan nasi atau?"
"Nggak pakai nasi!" serobot Kalin.
"Baik, ditunggu pesanannya!" ucap Reno.
Setelah pria itu pergi, barulah Kalin bergumam.
"Udah insaf kayaknya dia, baguslah, Ren! lo udah nggak matre lagi dan lo mau kerja kayak gini," ucap Kalin yang salut pada perubahan mantan pacarnya.
__ADS_1
Sedangkan dirinya kembali mengingat soal penghianatan Raksa. Rasanya dia ingin pergi, tapi nggak mungkin. Doa baru mebikah dua hari, nggak lucu kalau labgsing jadi janda. Lagian mimpinya akan pupus. Hatinya sakit, berikut mimpinya nggak terwujud. Definisi sudah jatuh ketimpa tangga punya tetangga.
Akhirnya dengan segala perdebatan yang ada di hatinya, Kalin punya ide untuk bagaimana membuat semuanya tampak begitu alami di depan orangtuanya, nggak ada masalah. Padahal sebenarnya, pernikahannya dengan Raksa seperti gunung api yang sedang mengeluarkan letusan dan mungkin akan memuntahkan laharnya.
Ternyata berhubungan dengan orang dewasa, nggak seperti yang Kalin pikirkan. Banyak intrik dan rahasia, membuatnya kini dalam kekecewaan yang teramat sangat.
"Silakan," ucap Reno saat mengantarkan makanan yang dipesan Kalin.
"Makasih, Ren! gue seneng lo bisa berubah!" ucap Kalin dengan raut wajah yang datar.
Sementara Reno dengan sebyum penuh ramah juga membalas, "Gue minta maaf atas kesalahan gue yang dulu, gue harap lo bisa bahagia!" ucapnya sebelum berbalik dan meninggalkan Kalin.
Sebuah cara komunikasi yang aneh antar dua orang yang pernah bersama.
Disisi lain, Raksa menuntaskan semuanya supaya besok dia udah nggak ke kantor lagi. Tentu pak Galang yang mendengar itu lantas marah dan memanggil Raksa. Namun Ralsa nggak cukup bodoh, dia tau sedang diperalat oleh dua orang yang entah sedang merencakan apa. Yang jelas, dia udah nggak mau ada akses Tania buat mendekatkan dirinya dengan Rahmi.
Sekitar jam 7, malam, Raksa baru keluar dari perusahaan. Berkat bantuan pak Tomi dan jyga Farid, akhirnya dia resmi resign hari ini. Raksa segera memacu motornya menuju rumahnya, dia akan mandi dan juga berkemas.
Sampai di rumah, ada Nova yang lagi nonton tivi.
"Jangan lo sakitin, Kalin! Atau lo bakal berurusan sama gue, Bang!" ucap Nova dengan matanyang masih nelihat ke arah tivi.
"Bocil ngomong apa, sih? ngancem-ngancem gue? lagian itu nggak mungkin! udah ah, gue mau mandi, gerah!" Raksa mengusek kepala Nova lalu dia lanjut naik tangga menuju kamarnya.
Raksa melihat hapenya lagi, "Kenapa si bocil belum bales? ck, kebiasaan suka nyuekin WA gue!"
Raksa pun menyambar handuk dan keluar dari kamarnya, namun tanpa dia ketahui ada seseorang yang sengaja menyelinap dan membuka hape yang belum terkunci.
"Untung aja, belum mati!" gumam Nova.
"Gue perlu ngobok-ngobok hape lo, Bang! awas aja kalau lo bikin Kalin sedih, gue bakal jambak-jambak kepala lo sampe li minta amoun sama gue!" ucap Nova yang kadar setia kawannya di atas rata-rata.
Apalagi karena dia yang ikut andil dalam perjodohan antara sahabat dengan abangnya, seakan Nova punya beban berat di pundaknya semisal Eaksa menyakiti hati Kalin.
Mata Nova melihat apa saja yang ada di hape Raksa, dan dia mengambil sebuah fot yang ternyata sempat tertinggal, lupa di hapus.
"Kayaknya ini mantan terindah abang gue!" gumam Nova. Jarinya semakin lancar mengirimkan sesuatu ke hapenya.Selain melihat apakah ada chat tersembunyi yang abangnya lakukan.
__ADS_1
"Apa gue bilang. Feeling Nova nggak pernah salah. Abang gue nih, cari penyakit! udah tau mantan masih nagrep bukannya diblokir, malah dibiarin..." Nova kesel sendiri.
"Tenang, Lin! kita berantas nih orang, kalau perlu kita kasih pelajaran sama abang gue!" ucap Nova yang setelah selesai dengan apa yang dia butuhkan, segera meletakkan hape milik abangnya ke tempat semula dengan kemiringan dan posisi yang akurat.
Dari luar terdengar siulan abangnya, Nova yang kaget langsung masuk ke dala kolong, tapi apa daya tempat tidur abangnya itu kolongnya cuma muat buat kecoa sembunyi. Sedabgkan dia, akhirnya hanya bisa pasrah ketangkap tangan.
Brak!
"Ngapain lo ke kamar gue?" tanya Raksa saat ada Nova mencoba meraih remot ac.
"Gue mau pinjem. Remote di kamar mati, belum ganti batre!" ucap Nova yang otaknya paling cepet kalau buat ngeles.
"Cepet balikin! kebiasaan," ucap Raksa.
"Iya, bawel banget sih!" Nova keluar dari kamar itu.
Diluar, dia langsung mengusap dadanya lega, "Astagaaaa, untung ajaaaaa gue bisa ngeles katak bajay!" gumam Nova.
Sementara Raksa sama sekali nggak mencurigai perihal keberadaan adiknya di d
kamarnya. Dia berganti berganti pakaian dan melihat ada satu koper lain di samping kopernya yang sudah dia packing tadi pagi.
"Kayak koper ibuk? jangan bilanf ibuk mau nginep juga di rumahnya Kalin!"
Setwlah gagah dengan kemeja dan jeansnya, Raksa duduk di lantai parket, dia buka koper berwarna biru.
"Apaan, nih? astagaa? ini pasri kerjaan ibuk!" gumam Raksa saat melihat negitu banyak makanan yang ada di koper.
"Ibu pikir gue pergi ke hutan apa ya? pake dibawain, cemilan! Apaini lanting pedas manis, kopi, sambel? ya ampun, ang gue mau buka warung! ih, si Ibu mah suka diluar prediksi BMKG!" Raksa masukin lagi makanan yang sempat dia obrak abrik.
"Kamu udah siap? turun ke bawah, makan dulu!" suruh Ibu.
"Bu? ini kenapa ada koper isinya makanan?" Raksa lanjut nanya.
"Ya memang kenapa?" tanya Ibu dengan intonasi yang membuat Raksa kicep.
"Nggak apa-apa, Buk! Makasih ya, Buu udah disiapin?!" ucap Raksa bak anak nurut.
__ADS_1
"Turun, terus makan! Ibu sudah masak," ucap wanita itu yang kemudian menutup pintu membuat Raksa bingung mau diapain nih koper. Mau ditinggal takut dikutuk, mau dibawa riweuh banget.
"Ya Allaaaah, gini amat jadi anaaak!" keluh Raksa.