
"Nggak usah! aku nggak perlu penjelasan! sebagai laki-laki kamu harus tanggung jawab, dan aku bakal pergi dari kehidupan kalian!" kata Kalin sesenggukan.
"Kamu nggak boleh kayak gitu, Kalin! apapun yang terjadi kamu bakal jadi satu-satunya istriku!"
"Kamu egois! kamu itu kejam!"
"Kok egois? emang aku harus tanggung jawab untuk apa?"
"Untuk bayi kamu sama Rahmi!"
"Ngawur kamu! aku sama Rahmi itu hanya mantan,"
"Aku ngeliat kalian pelukan di restoran, Di tempat umum aja kalian bisa kayak gitu apalagi di tempat yang tertutup? aku nggak bisa membayangkan apa yang sudah kalian lakukan sampai punya bayi," ucap Kalin.
"Kamu liat aku sama Rahmi di tempat kerjaku?" Raksa mengerutkan keningnya.
Wajah tanpa dosa Raksa membuat Kalin semakin geram. Bisa-bisanya dia berselingkuh dengan mantan pacarnya. Wanita itu menangis sesenggukan.
"Kamu beneran salah paham, Kalin!"
"Aku kira kamu hanya sekedar beroaling. Makanya aku berusaha membuat kamu kembali sama aku. Aku belajar menjadi istri yang baik, tapi ternyata usahaku sisa-sia! ternyata suamiku bermain api di belakangku...huhuhuuhu!" Kalin nggak bisa pura-pura kuat. Dia sesekali membenarkan selimutnya.
Raksa menepuk pelan punggung Kalin, tapi tangan itu segera ditepisnya.
"Jangan sentuh aku, huhuhuhu!" ucap Kalin.
"Kenapa kamu nangisin bayi orang lain?" tanya Raksa.
"Terus ini kenapa kamu bales 'iya'? ini hape aku loh Kalin..." lanjut Raksa.
"Aku nangisin nasibku yang jelek. Bukan nangisin bayi orang!"
Raksa membawa Kalin ke pelukannya tapi lagi-lagi dia ditolak.
"Kamu mengira itu bayi yang ada di kandungan Rahmi itu bayiku?" tanya Raksa.
"Memang itu bayimu kan?" tuduh Kalin.
"Kalau aku pengen bayi itu harus berasal dari kamu, Kalin. Kan kamu istriku, masa iya dari Rahmi? "
"Tapi nyatanya kamu memang memiliki bayi itu huhuhu..."
"Jangan lawak deh, Kalin! itu bukan bayiku. Itu bayi Rahmi dan suaminya...."
"Apa?"
__ADS_1
"Aku bilang itu bayi Rahmi sama suaminya..." ucap Raksa.
"Dan suaminya itu kamu? iya?"
"Bukan, Sayang! suaminya itu namanya Zaki..." Raksa pun akhirnya berecerita tentang pertemuannya dengan Rahmi berikut juga dengan Zaki. Kalin menmcoba mencerna informasi apa saja yang dia tangkap dari Raksa. Dan seketika dia malu sudah menuduh suaminya macam-macam.
"Kenapa kamu nggak bilang dari awal?! aku kan nggak jadi salah paham gini?!!!" Kalin pundung.
"Aku mau cerita gimana? pulang-pulang udah disambut sama istriku dengan cara yang nggak biasa. Aku jadi lupa semuanya, aku pikir aku bisa membahas itu besok pagi dengan situasi yang lebih enak. Lah kalau semalem, boro-boro mau ngomong itu, aku nanya dikit udah kamu 'Shuuut jangan banyak bicara, Tuan!', ya udah aku nurut aja..." ucap Raksa yang menirukan ucapan Kalin semalam.
"Dan siapa sih yang bisa nolak kalau digoda terus sama istri sendiri?" lanjut Raksa.
"Udah deh. Jangan bahas itu. Aku malu," ucap Kalin, dia menyembunyikan wajahnya yang merah.
Raksa mengangkat wajah kalin dengan tangannya, "Nggak mungkin lah aku selingkuh dari kamu. Kalau kamu pengen kita kayak gini tersu sampai tua karena kamu yang takut hamil dan melahirkan, aku juga fine-fine aja. Banyak kok yang bisa hidup berdua tanpa anak,"
"Nggak! aku nggak kayak gitu..."
"Jadi kamu pengen punya anak?"
Kalin terdiam.
"Aku ngerti, Kalin. Kamu masih muda, kamu pengen mencoba banyak hal selagi bisa. Aku paham soal itu..." kata Raksa.
"Bukan itu maksudku,"
Tapi masih belum mau tidur.
"Apa perlu kita telfon Rahmi sekarang? mereka pasti sedang istirahat, Kalin!" kata Raksa.
Tapi melihat gelagat Kalin yang emang keras kepala dan sulit menerima penjelasan kalau nggak ngeliat buktinya sendiri, akhirnya Raksa pun menelepon Rahmi. Sebelumnya Kalin memakai pakaian yang pantas dulu, itu juga yang nyuruh Raksa. Ya udah Kalin nurut aja. dan sekarang Raksa menghubungi mantan pacarnya.
"Halo, Rahmi. Ini Raksa..."
"Iya? kenapa, Sa?" tanya Rahmi.
"Suami kamu mana?" tanay Raksa.
"Suamiku? ada. Dia lagi bikinin aku susu. Tiba-tiba aku laper. Kamu mau ngomong sama mas Zaki?"
"Kita bisa video call nggak?" tanya Raksa.
"Video call? bisa sih. Bentar ya..." kata Rahmi dengan suaranya yang berat.
Raksa pun mengalihkan panggilan itu pada panggilan video. Dan sekarang terpampang nyata wajah Rahmi.
__ADS_1
"Halo, Rahmi. Sorry ganggu malem-malem... " ucap Raksa.
"Hai..." Rahmi agak kaget saat Raksa menjauhkan kameranya dan memperlihatkan wajah seseorang yang ada di sampingnya. Raksa yang mengenakan piyama berwarna biru nggak bisa menyembunyikan wajah ngantuknya.
"Siapa, Sayang?" suara Zaki.
"Raksa sama istrinya..." ucap Rahmi.
Dan disitu Kalin baru percaya kalau Rahmi ini udah punya suami. Setelah mendengar suara seseorang yang kemudian nongolin mukanya di kamera.
"Maaf, Rahmi. Tadi yang baca pesan kamu itu Kalin dan dia menyangka kalau kita ada hubungan..." Raksa langsung ngejeplak.
"Oh itu? maaf ya, Kalin. Istriku memang aku suruh tanya sama Raksa. karena tiba-tiba dia ngidam dan aku nggak tau harus cari dimana," kata Zaki.
Kalin bertambah malu saat laki-laki itu tersenyum padanya.
"oh iya, ehm. Besok pagi kami akan kirimkan. Karena sudah malam, selamat beristirahat!" ucap kalin yang segera mematikan sambungan vidio call.
"Loh kok dimatiin? katanya kamu mau bukti? ini aku mau buktiin loh," ucap Raksa.
Kalin menggeleng, dan memeluk suaminya.
"iya iya aku percaya!"
"loh kok udah percaya! kan kamu belum liat buku nikah mereka atau tes DNA anak itu," kata Raksa.
Kalin menggeleng, dia memeluk suaminya erat.
Raksa mengelus kepala Kalin dengan lembut, "Aku nggak minta hak ku bukan karena aku nggak cinta sama kamu apalagi punya wanita lain di luar sana. Aku menjagamu, aku menghargai janji aku sama kedua orangtua kamu, Kalin. Dan setelah ini jangan harap kamun bisa lepas dari suamimu ini" kata Raksa.
"Sekarang kita tidur lagi, ya? karena kamu udah membalas permintaan Rahmi , berarti kamu harus tanggung jawab buat bikinin dia tahu gejrot!"
"Besok?"
"Aku juga nggak tau itu ada apa nggak bahannya," kata kalin.
"Hahahhahaha!" Raksa ketawa.
"Kenapa malah ketawa?"
"Ya iyalah ketawa. Kamu nggak inget kita dimana? mana ada yang jual tahu sumedang disini. Itu tahu gejrot kan dibikin dari tahu sumedang, nah kamu mau beli dimana? mau ngubek-ngubek kota aja belum tentu dapet!"
"Terus gimana?"
"Besok dipikirin lagi! sekarang kita tidur atau mau mulai lagi?"
__ADS_1
"Mulai apa?" tanya Kalin.
"Menghasilkan bayi!" kata Raksa yang kemudian menaikkan selimut mereka lagi.