
Dari sore sampai malem, tuh dua orang masih anteng main ular tangga. Mereka menjeda saat mau sholat aja. dan itu juga harus bareng-bareng. Raksa nggak mau kalau Kalin curang menggeser kotak yang udah miliknya.
"Astaaaagaaa!!! kan udah mau jadi juara jugaaa kenapa mensti kena ular lagiii!" Kalin jengkel saat dirinya gagal menapaki tangga terakhir.
"Hahahahahha, udah gue prediksi, Cil! kamu nggak akan bisa jadi juara karena aku yakin kalau aku yang bakal keluar sebagai juara ular tangga!" Raksa yang kemudian mengocok dadunya.
"Satu, dua tiga, empat lima, enam! yessssss!!!" ucap raksa yang tersenyum dengan penuh kemenangan.
"Akhirnya setelah sekian purnama, keluar juga pemennangnya!" ucap Raksa.
"Sekarang jalani hukuman lo, Cil!" ucap Raksa. dia menepuk kedua bahunya yang pegal.
"Dasar curang!"
"Curang gimana? apanya yang curang?"
"Harusnya kan daritadi aku yang menang!"
Kalin protes.
"Kamu itu kalau kalah ya kalah aja, Cil! trima nasibmu ini looo!"
'Aiishhh, dasar tua bangka! kenapa juga tadi kaki ku nyenggol meja dan mejanya rubuh! mana lupa diposisi mana! kalau kayak gini kan aku yang jadi kalah!' Kalin menggerutu di dalam hatinya.
"Cil...." panggil Raksa dengan alis yang naik turun.
Dia dengan enaknya menggeser bantal diantara kaki Kalin yang bersila.
"Jalani hukuman lo dengan ikhlas ya?" ucap Raksa menepuk bahunya.
"Ini loh, tangan aku capek banget! sama alis sini juga capek banget liatin kotak-kotak mulu!" Raksa menunjukkan keningnya dan juga kedua bahunya. Sesuai perjanjian, yang kalah akan menuruti permintaan si pemenang.
Dengan bibir yang mleyat-mleyot daritadi, Kalin mulai melakukan pijatan di wajah Raksa. Dia bisa melihat wajah tampan yang dimiliki suaminya. Alis yang tebal dan mata tajam yang kini tertutup membuatnya ingin menciumnya.
'Ihhh, apaan sih Kalin?!!! otakmu agak mensle kayaknya yaaa?!!' batin menggelengkan kepalanya.
Dia mencoba terus fokus memijat wajah suaminya.
Namun tanpa Kalin bisa cegah, tangan Raksa menarik kepala Kain buat turun ke bawah. Dia mengecup istrinya dengan posisi kepala yang saling berlainan arah. Mata Kalin membulat saat menyadari apa yang dilakukan suaminya.
"Kenapa?" tanya Raksa yang menarik senyumnya.
Plakkk!!
"Bikin kaget tau, nggak?!!" ucap Kalin yang memukul lengan Raksa.
Pria itu segera bangun dan mengusap lengannya sendiri, "Panas banget tau, Cil?!"
"Syukurin! siapa suruh bikin orang kaget!"
"Aku kan cuma bantu kamu doang! bukannya makasih tapi malah dapet teplakan!"
Kalin bangkit dan membiarkan Raksa sebdirian, tapi tabgan Kalin baru menyentuh handle, Raksa menangkap perut ramping itu. Dia mengunci pintu dan memanggul Kalin dan merebahkannya di atas kasur.
"Jangan lari dari tanggung jawab!" kata Raksa yang menyuruh Kalin buat melanjutkan kembali memijat wajahnya.
"Dasar mamang somplakk!" gumam Kalin.
__ADS_1
Sedangkan orang di bawah udah pada siap buat makan malam.
"Nova, kamu panggil Raksa sama Kalin!" suruh pan Hendra.
"Ya..."
"Ngak usah nggak usah! Nova kamu lanjutin bikin sambel kecapnya. Biar ibu yang naik ke atas!" ucap bu Selvy.
"Tumben?* pak Hendra ngerutin keningnya ngeluat istrinya yang tiba-tiba mau manggilin anaknya yabg masih ngendon di kamar. Padahal mah biasanya boro-boro, yang ada nyuruh si Nova mulu. Apalagi buat naik ke lantai dua, kaki bu Selvy suka males buat naik tangga turun tangga.
Tapi takut Nova mendengar suara-suara ghoib dari kamar Raksa, akhirnya bu Selvy yang harus nyamperin anaknya buat ngajak makan malam.
"Iya bener disituuu!" ucap Raksa dengan syara yang berat.
Baru denger satu kalimat, bu Selvy udah geleng-geleng kepala.
"Bih bocah mau nyiksa istrinya apa gimana? dari siang nggak keluar kamar! bisa pingsan menantuku!" ucap bu Selvy.
Tok tok tok!
"Raksa?!! makan malem udah siaaaap?!" ucap bu Selvy.
Raksa yang dipanggil pun keluar dengan wajah yang berwarna putih.
"ASTAGHFIRULLAAAAH!!!" pekik bu Selvy saat melihat wajah anaknya seperti memakai topeng berwarna hitam.
Plaakkkk!!!
"Kamu ini apa-apaan, sih?!! kamu sengaja bikin ibu mau jantungan, iya?!!" bu Selvy merepet.
"Itu kenapa pakai masker begitu!"
"Ini Kalin yang nyuruhhhh! katanya muka aku biar kenceng, jadi disuruh pakai beginian!" kata Raksa.
Kalin yang mendengar suara ibu mertuanya pun turun dari ranjang dan melihat apa yang terjadi.
"Ada apa, Buk?"
"Ini loh Kalin, Raksa muncul dengan muka yang kayak gini. Bikin ibu kaget, untung ibu nggak punya sakit jantung!"
Kalin cuma cengar-cengir, ngerasa bersalah suaminya dimarahin ibunya.
"Iya, mas Raksa lagi maskeran, Bu! biar kulitnya kencengan dikit!"
"Oh ini buat ngencengin lulur?" suara bu Selvy 180derajat beda banget. Dia mebyentuh wajah Raksa yang di te pel masker charcoal.
"Iya Buk. Itu masker dari charcoal, dan bisa narik muka. Jadi nanti efeknya kayak dipijet gitu," kata Kalin yang juga menyentuh wajah suaminya menunjukkan masker yang udah mengering.
"Wah, boleh tuh! ibu juga pengen coba!" kata bu Selvy.
"Boleh, Buk! nanti Kalin maskerin,"
"Tapi nanti aja, ya! sekarang kita makan dulu. Ibu sudah bikin sop iga super buat kamu, enak deh!" bu Selvy membawa Kalin bersamanya.
Sedangkan Raksa ditinggal dengan keadaan yang mengenaskan.
"Kalin? Kalin? ini loh muka aku gimanaaa? kok kamu main tinggal aja?!" teriak Raksa.
__ADS_1
"Kalin Kalin? bersihin sendiri! udah bagus dimaskerin, jangan manja! udah bersihin sendiri!" balas bu Selvy.
"Ayo, Sayang! Keburu sopnya dingin!" kata bu Selvy yang menggandeng menantunya buat turun ke bawah.
Sedangkan Raksa masuk ke dalam kamarnya denfan rasa jengkel.
"Ini kenapa gue yang ditinggalin? mana lengkt bangt ini masker!" Raksa yang melihat wajahnya di cermin.
"Gimana cara ngeleteknya?!" Raksa mulai memeriksa masker di wajahnya buat menentukan di bagian mana yang dia harus keletek duluan.
Sementara Kalin bergabung dengan tang lainnya di bawah, mereka udah duduk anteng di meja makan.
"Akhirrrnyaa turun juga!" ucap Nova.
"Loh? bang Raksa mana?" tanya Nova lagi.
"Masih di kamar!" sahut Kalin.
"Kalian habis ngapain, sih?" tanya Nova.
"Habis ngapain? emang kenapa?!"
"Itu loh ibu sampai---"
"Novaaa! duit jajan kamu ibuk potong ya?!"
"Maksudnya itu loh ibuk sampai harus repot-repot nyusulin kalian ke atas!" ucap Nova cepat.
"Oh? aku? nggak ngapa-ngapain sih?! cuma mas Raksa ngajak main!" kata Kalin polos.
"Ehm, Sayang! kamu mau sambal kecapnya nggak?!" ucap bu Selvy memotong ucap an menantunya, biar nggak kebablasan.
"Main apa? kok nggak ngajak-ngajak?!"
"Main ular---"
"Jangan ngobrol terus. Ini Kalin mau makan jadi nggak tenang, Novaa!" ucap bu Selvy.
"Raksa bawa ular ke rumah?!" tanya pak Hendra.
"Bukan, Pak! bukan ular beneran!" kata Kalin ambigu.
"Bapaaakkk?!!" bu Selvy menaruh telunjuknya di bibirnya, tandanya menyuruh suaminya buat diem dan jangan melanjutkan pertanyaannya.
"Terus ular apaan? jadi penasaran!" ucap Nova.
"Ular tangga, Nov! abang yang menang tadi!" ucap Raksa yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka.
"Dari sore aku terjebak main ular tangga l, Nov!" tambah Kalin.
"Dari sore? ular tangga? jadi kalian itu main ular tangga?!" tanya bu Elvy.
"Iya? emang kenapa, Buk?" tanya Raksa balik.
"Nggak, ngak kenapa napa! udah udah sekarang kamu duduk dan makan!" ucap bu Selvy, yang memberikan Raksa piring yang sudah diberi nasi.
"
__ADS_1