
Pagi harinya...
Kalin berangkat dengan langkah gontai, dia sama sekali nggak bersemangat. Nova yang udah duduk duluan, tau betul kenapa sahabatnya ini kayak kerupuk dikasih air, melempem!
"Pagi, Nov..." Kalin saat duduk dan melepaskan tas di punggungnya.
"Kenapa lo lemes gitu? terus mata kenapa gede tampah?"
"Tampah? tampah apaan?" Kalin mencoba melek, meskipun matanya berat banget saking sembabnya.
"Tampah aja nggak ngerti. Gerabah yang bentuknya bunder dari anyaman bambu. Orang dulu pakai tampah buat menampi beras atau misahin beras dari kotoran atau batu sebelum beras itu dicuci. Bisa juga naruh kue atau tumpeng. Intinya barang multifungsi, noh di rumah gue banyak. Ntar kalau lo main lagi gue tunjukin,"
"Loh kita malah bahas tampah?" Nova garuk kulit kepalanya yang sama sekali nggak gatel.
"Kenapa? lo masih nangisin Reno? iya?" lanjut Nova yang badannya miring ke kanan dan nyanggah kepalanya sambil ngeliatin Kalin.
Kalin pun mengangguk.
"Alemoooooong, cowok matre begitu aja lo tangisin? apalagi cowok yang emang mencintai lo dengan tulus?"
"Kalau mencintai gue dengan tulus, nggak mungkin lah dia mutusin gue! nggak mungkin kan cinta tapi menyakiti?" Kalin lemes.
"Eiitss, jangan salah. kelakuan orang jaman sekarang tuh ngeri-ngeri tau! banyak yang terjerat sama hubungan yang toxic, mereka disakiti tapi mereka nggak sadar. karena si pasangan bersembunyi dibalik kata cinta dan sayang. Bener kata abang gue yang bilang kalau mending gue sekolah yang bener. Suka sama orang boleh asal pakai logika," jelas Nova.
"Abang lo bilang kayak gitu?"
"Iya, meskipun gualak. Tapi bang Raksa itu sebenernya perhatian loh sama gue. Dia beneran jaga gue yang jadi anak bontot di keluarga gue, Lin! yang pada tebar pesona di sekolah emang pada berani ke rumah? kagak ada!"
"Kenapa?"
"Ya gue kasih paitnya di awal! gue bilang abang gue galak, emak gue cerewet, bapak gue tegas. Kalau mau ngajak pergi harus ngadep dulu sama dua wakilnya bapak, ya ituu ibuk sama bang Raksa!" jelas Nova.
"Kata abang, kalau cowok itu gentle, dia bakalan berani buat ngadepin rintangan yang ada di hadapannya. Tapi kalau dia punya niat jahat, pasti dia bakal ciut dan pergi. Hanya orang yang tulus yang mau memperjuangkan!" Nova tersenyum.
Kalin begitu tertohok dengan ucapan Nova. Apa mungkin yang dia terima sekarang tiada lain karena ulahnya sendiri yang main backstreet dari orang tua. Menutupi satu kebohongan dengan kebohongan yang lain, yang sekarang mengantarkan dia pada rasa kecewa. Dan obrolan mereka pun harus berhenti saat ada guru yang masuk ke dalam kelas.
__ADS_1
Selama pelajaran berlangsung, Kalin nggak bisa konsen. Dia terngiang dengan ucapan Nova. Entah kenapa, rasa bersalah menggelayut dalam hatinya saat ini. Nova yang tau kalau Kalin lagi galau pun mencoba memberi ruang tersendiri buat Kalin.
Kalin sesekali ngeliat temen sebangkunya yang sibuk nulis dan memperhatikan papan tulis, Kalin bergumam sendiri di dalam hatinya, 'Tumben banget Nova pikirannya bener! apa yang Nova bilang tadi relate banget sama apa yang gue rasain sebenernya,'
"Kalin! coba kamu kerjakan soal di papan tulis!" ucap salah satu guru wanita yang ngajar mapel matematika.
Kalin udah tau kalau gurunya itu manggil karena daritadi pasti 'ngeh' kalau salah satu muridnya ini nggak memperhatikan penjelasannya.
Gadis itu berdiri dan berjalan menuju papan tulis, dia ngambil spidol dan menatap deretan angka yang bikin kepala cenat-cenut. Beberapa detik kemudian, Kalin mulai menuliskan jawaban. Nova senyum dari belakang kursinya.
"Hati lo boleh galau, tapi nggak dengan otak, Kalin! makanya gue heran, kenapa cewek cerdas kayak lo bisa dikibulin cowok recehan kayak Reno," gumam Nova memperhatikan sahabatnya dari bangkunya.
"Sudah?" tanya guru saat Kalin sudah berhenti menulis.
Kalin mengangguk, "Sudah, Bu..."
"Lain kali perhatikan saat ibu mengajar, meskipun kamu pintar bukan berarti kamu boleh menyelepekan pelajaran ibu. Kecuali kamu ingin belajar di luar dua jam ke depan!" ucap guru itu, tegas.
"Maaf, bu..." Kalin mengangguk sopan.
Kalin kembali ke tempat duduknya, dan disambut acungan jempol Nova yang tersembunyi di kolong bangku mereka.
"Lo keren tau, nggak!" lirih gadis yang duduk dengan Kalin.
"Nooov...." Kalin berbisik, dia memperingatkan Nova supaya jangan ngajak ngomong dulu. Takutnya sekali lagi dia bikin masalah, dia bisa dikeluarin dari kelas.
Sebenernya Kalin bukan murid yang belagu, mentang-mentang pinter terus nganggep remeh pelajaran di sekolah. Meskipun dia udah ikut bimbel yang bayarannya nggak murah, tapi dia juga masih ikut les di sekolahnya yang diwajibkan bagi seluruh warga kelas XII (Dua belas) tanpa terkecuali. Dari situ aja, udah bisa dinilai kalau Kalin ini bukan tipe pembangkang, tapi entah kenapa akhir-akhir ini dia makin aneh dan terjebak pada situasi yang sangat merugikan dirinya sendiri.
Nggak jauh beda dengan Kalin, Raksa saat ini lagi menghadapi kondisi yang lumayan bikin dasinya berasa seret di leher.
"Kamu tahu kan Raksa? kemarin itu presentasi yang sangat berarti untuk saya?" pak Tomi duduk berwibawa di kursinya
"Tahu, Pak!" sahut Raksa.
"Lalu kenapa kamu membuat satu kesalahan yang hampir membuat saya ditendang dari perusahaan ini?"
__ADS_1
"Itu karena ada hal diluar prediksi BMKG, Pak?!"
"Apa ada hubungannya kamu bolos di hari senin dengan prediksi BMKG, Raksa?!!" pak Tomi gregetan.
"Saya tidak mbolos, pak! saya ijin mendadak,"
"Ituuuu samaaa sajaaaaaa?!!!" pak Tomi naik intonasinya, dia keliatan banget nahan suaranya supaya nggak terlalu menggelegar.
"Kalau kemarin kamu tidak datang, saya sudah terjengkang dari kursi jabatan ini, Raksa! kamu kerja itu yang fokus, jangan segala bayi saudara jadiin alasan buat mbolos kerja!"
"Iya, Paaak..." sahut Raksa, dia jawab dengan muka ngantuk.
"KAMU ITU DENGERIN SAYA, RAKSAA!" pak Tomi ngebentak.
"Ya ampun, pak! ini saya serius dengerin, Bapak! jangan sampai suara bapak direkam dari balik pintu ini dan dilaporkan karena mengintimidasi karyawan loh, pak! itu bisa berbahaya buat jabatan bapak saat ini," Raksa nakut-nakutin.
Pak Tomi yang sempet emosi pun benerin dasi dan jasnya, dia mencoba mengatur napas dan bicara dengan intonasi normal, "Tidak ada alasan buat mangkir dari tanggung jawab, Raksa. Saya tidak akan mentolerir kesalahan seperti ini lagi. Tidak ada ijin saat ada rapat, mengerti?"
"Mengerti, pak..."
Pak Tomi menyodorkan sebuah amplop di meja, "Ini surat peringatan kedua!"
Raksa menerima surat itu dengan muka yang lempeng aja.
"Berusahalah dengan baik, supaya saya tidak mengeluarkan surat peringatan yang ketiga. Sekarang kamu boelh kembali ke tempat kerja kamu!" ucap pak Tomi.
"Baik, terima kasih, pak..." Raksa bangun dan berjalan dengan cool nya, keluar dari ruangan itu.
"Haiiiizzh, padahal dia yang salah sendiri. Kan udah gue kasih salinannya, kenapa juga dia merong-merong minta sama gue?" gumam Raksa di depan pintu.
Ceklek!
"Perusahaan tidak membayar kamu untuk ngedumelm di depan ruangan saya, raksa!" sosok pak Tomi muncul dari balik pintu.
"Baik, pak! permisi..." Raksa secepatnya ngibrit ke kubikelnya.
__ADS_1