Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Siapa Yang Pikun?


__ADS_3

Lepas malam itu, Raksa pun ngomong sama orangtuanya perihal rencana pernikahan mereka, tepatnya dua hari setelah malam pembicaraan dengan ayah Kalin.


"Pokoknya sah secara agama dan negara, selebihnya itu dilakuin nanti kalau kita udah siap!" kata Raksa.


"Maksudnya gimana sih, Sa? mau nikah secara diam-diam?" tanya pak Hendra yang udah duduk-duduk di depan teras sambil ngopi.


"Maksudnya ya, Raksa nikahin Kalin. Tapi ya gitu, legal. Sah secara agama maupun negara, dan kalau urusan rame-ramenya nanti pas Kalin udah selesai kuliah!"


"Astaghfirllah! lama amat? kayak cicilan mobil, Sa?! 5 tahun dong kalau gitu?" tanya pak Hendra, dia hampir aja nyemburin kopi yang baru diseruputnya.


"Nggak bakal nyampe 5 tahun lah! kan Kalin anaknya pinter dan di luar mah nggak kayak disini, Pak!"


"Di luar dimana?"


"Luar negeri, Pak!" Raksa yang udah cakep dengan outfit olahraganya.


"Maksudnya gimana? Kalin sekolah di luar setelah nikah sama kamu? bapak pusing, Sa!"


"Gini loh, Pak! Kalin sebenernya udah keterima di beberapa universitas di luar, dan dia nggak bisa lanjut kesana kalau nggak ada yang jagain. Ya makanya Raksa nawarin diri buat jagain Kalin disana, buat ngeraih cita-citanya. Itu syarat dari tante Lia dan juga Om Diki. Kasihan, Pak! kalau nggak diambil kesempatan itu, lagian nggak akan lama, kan? hanya 3 sampai 4 tahun doang!" jelas Raksa.


"Berarti kamu juga ikut pindah? bapak ngertinya ya kuliah disini," pak Hendra diam sesaat.


"Lalu gimana kamu bertahan hidup disana?" lanjut pak Hendra.


"Berarti kamu mulai lagi dari nol?" tanya pak Hendra pada anaknya.


'Untung gue belum cerita kalau gue udah jadi kepala divisi! pasti bapak tambah mikir lagi,' Raksa dalam hatinya.


"Gimana? kamu harus berpikir mateng dulu, Sa! terus kuliahnya Kalin gimana? siapa yang biayain?" mendadak pak Hendra jadi jelimet sendiri. Dia sengaja ngetes sampai dimana anaknya kuat dengan keputusan yang dia ambil.


"Aku ya cari kerja lah! masa iya jadi pengangguran? tenang aja banyak jalan menuju Roma," Raksa mencoba menenangkan hati bapaknya.


"Bapak nggak usah khawatir! aku udah tau resikonya, Pak!" lanjutnya kemudian.


"Ya sudah, kalau kamu sudah mantep. Bapak hanya bisa merestui, dan bapak yakin ibu pun sama. Maju ke depan, bantu Kalin buat meraih cita-citanya!" pak Hendra pun menepuk bahu bidang anaknya.


"Makasih ya, Pak! Raksa pergi dulu!" Raksa yang memegang kunci mobil.


"Pinjem mobilnya!" ucap pria itu sambil menunjukkan kunci mobil yang dipegangnya.


"Haisssh, sejak kapan dia suka minjem mobil bapaknya?" pak Hendra bergumam sambil ngeliatin mobilnya yang kemudian dibawa pergi anaknya.


Sedangkan Raksa meluncur ke rumah Kalin, dia berniat buat ngajakin tuh bocah car freeday. Selama di perjalanan, Raksa mencoba menghubungi bocah itu.


"Halooww, hoamp!" suara serak Kalin bikin Raksa tertegun sesaat.


"Eh, bocil. Cepetan mandi, bentar lagi gue nyampe di rumah lo! kita pergi jogging!"

__ADS_1


"Hah?"


"Gue tunggu!" ucap Raksa setelah menutup teleponnya.


Jam baru menunjukkan pukul 6 pagi saat mobil hasil pinjaman sudah berada di depan gerbang rumah Kalin.


"Gue udah di depan, tapi gerbang lo masih di kunci!" ucap Raksa.


"Iya iya, bentar! rewel amat jadi cowok!" Kalin dengan suara tergesa-gesa.


'Pembantu gue aja belom dateng, tapi si Om malah udah stay dengan mobil bapaknya!' ngedumel mulu si Kalin dalam hati. Dia pakai baju olahraga lanjut turun ke bawah.


"Mau kemana kamu, Kalin?" tanya bunda, lagi nyiapin sarapan di dapur.


"Mau jogging!"


"Sama siapaaa?!"


"Yang semalem dateng ke rumaaaahhh!" teriak Kalin.


"Assalamualaikum, Buuuun!" lanjutnya.


Dia segera pergi dengan kunci yang disakuin, "Kenapa datengnya pas gue pengen leha-leha di rumah, sih?" mulut Kalin nggak berhenti buat ngedumel.


Greeeeekkk!


"Tengkyuuu!" ucapnya.


Mobil Raksa masuk, sementara Kalin ngebiarin aja pintu yang terbuka lebar.


Brukk!


Suara Raksa menutup pintu mobilnya.


"Om sama Tante ada?" ranya Raksa.


"Ada, mau apa?"


"Mau pamit lah! Emang lo? kalau mau pergi-pergi suka nggak pamit orangtua?!" Raksa ngeloyor ninggalin Kalin yang masih berdiri di tempat.


"Tunggu-tunggu! emang ini hari apa? kok car freeday?!" Kalin coba inget-inget.


"Faktor usia nih si Mamang!" Kalin gelengin kepalanya, dia ngejar Raksa yang udah mau nyampe di depan pintu.


"Mang?! kan ini haru sabtu! mana ada car freeday!" Kalin yang gagal meraih tangan si Mamang yang ternyata udah disambut hangat sama bunda.


"Mau pergi sekarang?!" tanya bunda yang kebetulan bukain pintu saat Raksa ngetok tadi.

__ADS_1


"Iya, Tante..." Raksa menyalami tangan calon mertua.


"Deuh, calon mantu jam segini udah ngapel. Mau olahraga?"


"Mau jogging aja, Tan!"


"Bagus tuh, biar Kalin nggak tiduran dan main hape terus di rumah! jarang olahraga juga dia," Bunda tersenyum.


"Om mana Tante?"


"Om masih di kamar, semalem kerja sampai jam 3 pagi. Jadi masih males-malesan! mau ketemu sama Om?" bunda Lia nunjuk ke arah belakang.


"Nggak usah, Tan! titip pamitin aja, Raksa ajak Kalin olahraga!" ucap Raksa.


"Eh tapi---" Kalin mau menyela ucapan Raksa tapi pria itu segera menariknya keluar.


"Pergi dulu, Tan..." ucap Raksa sembari membungkkukkan badannya buat yang terakhir kali sebelum dia memasukkan Kalin ke dalam mobil.


Raksa sengaja yang menutup kembali gerbang yang lumayan cukup berat itu, kemudian dia pergi meneruskan pergi ke tempat tujuannya.


"Ini hari sabtu, mana ada car freeday?! adeuuh emang kalau udah tua suka jadi pelupa ya?!!" Kalin mencoba mengingatkan.


Raksa membuka hapenya dan menunjukkan tanggal hari ini, "Noh, hari minggu! lo masih muda tapi udah pikun!" kata Raksa nggak mau disalahin.


Kalin pun melihat dengan seksama, "Kok hari minggu sih? bukannya ini hari sabtu?" lirihnya.


Raksa pun kembali merebut hape yang ada di tangan tunangannya itu, "Masih ngeyel aja! ini akibat begadang nih, daya ingat jadi menurun!"


Raksa iseng mencet hidung mancung Kalin.


"Awwwwkk!" sontak gadis itu memekik kesakitan.


"Kok aku jadi lupa ya? kebanyakan libur apa ya?" Kalin bergumam sendiri sambil memegang hidungnya yang merah.


Nggak lama mereka sampai di tempat car freeday. Raksa cari tempat parkir dan ngajak Kalin buat lari keci sebelum akhirnya dia mengajak gadis itu lari dari kenyataan yang pahit ini, cmiwiw!


Segitu banyaknya orang, sampai Raksa harus ngeliatin terus Kalin yang cepet banget ngos-ngosannya, "Jarang olahraga sih lo! baru lari bentar aja, napas udah kayak gitu!


Kalin berhenti, dia memegang lulutnya, "Guwehh, hh ... nggak biasa lariih!" ucapnya dengan tersengal-sengal.


"Emang di sekolah nggak pernah ada pelajaran olahraga?" tanya Raksa.


"Adaaahh! aduuh, guweh hauuussh!" Kalin merasakan tenggorokannya kering, dia butuh air sekarang juga.


"Jalan bentar, sampai disana kita beli air! tanggung!" kata Raksa yang tanpa aba-aba menggendong Kalin di punggungnya.


Kalin pun shock, dia berasa lagi naik manusia kuda. Was wes wos, cepet banget nih orang lari sambil ngegendong orang di punggungnya, "Ya ampuuun! gue ngeriiii!" ucap Kalin yang takut Raksa nggak bisa ngerem.

__ADS_1


__ADS_2