
Raksa membelokkan mobil ke sebuah hotel dan dengan susah payah dia membawa Kalin. Masih untung dia bawa buku nikah, jadi bisa jadi solusi genting kayak gini. Ya buat jaga-jaga aja, barangkali dibutuhin.
Mereka check ini di salah satu kamar. Dengan sempoyongan, Raksa membawa istrinya ke dalam kamar yang bisa dibilang cukup mewah. Apalagi tadi sore Farid bilang kalau uang asuransinya udah cair. Dan seketika itu juga Raksa minta tolong ditransferin. Beruntung Farid orangnya emang pure baik, jadi dia mau-mau aja dimintain tolong.
Brakk!
Kalin terjatuh ke atas kasur, sengaja Raksa biarin. Toh di kasur ini nggak akan sakit. Dia membuka sepatu Kalin dan menaruhnya di rak sepatu yang udah tersedia. Sedangkan Kalin tidur dengan dua kancing yang sudah terbuka.
"Astagaa! cobaan apalagi ini sih?" Raksa yang melihat kondisi Kalin udah acak-acakan. Kan selama di mobil dia uget-uget mulu kayak cacing kepanasaran.
"Aiiishh," Kalin mendesis.
Dia bangun dan mendekat merayu suaminya.
"Sadar Kalin?!!" ucap Raksa.
"Gue haus, sayang? hahahahah, Sayang?" ucapnya seakan menertawakan ucapan sayang.
Semakin aneh tindakan Kalin.
"Ini bocah kena sawan pasti! kata ibu kalau ada orang ketempelan kayak gini harus diguyur pake air," gumam Raks ayang daritdi diciumin istrinya.
"Kalin, diaam, Kaliiin?!!" Raksa menahan segalanya. Walaupun secara naluri dia menginginkan Kalin, tapi dia nggak boleh melanggar janjinya pada ayah mertuanya kalau dia akan menjaga Kalin sampai dia bis ameraih mimpinya,
Namun karena saking gregetannya, Raksa kemudian menggendong Kalin, mendudukkannya di bath tube dan dia sengaja mengisi bak mandi dengan air dingin.
Byurrr!!
Kalin diceburkan ke dalam sana bersama dirinya. Sontak Kalin yang lagi terbang-terbang ke alam lain menjadi kelabakan. Dia kaget karena badannya yang pengen nempel Raksa mulu jadi dikagetin dengan rasa dingin yang menusuk kulitnya.
"Arrgghh," Kalin memekik.
Kalin yang mengusap wajahnya yang merah karena gelagepan, pun mencoba melihat sekitar disana ada Raks ayang berdiri dengan menatapnya datar.
"Gimana? udah sadar sekarang? hem?" tanya Raksa.
Tapi Kalin yang baru juga kena air dingin, belum konek dengan sempurna. Dia masih nge-lag sesaat. Raksa pun mengangkat badan Kalin. Dia bungkus badan istrinya itu pakai handuk dan dan copotin bajunya Kalin yang basah kuyup. Kalin amsih shock karena kejadiannya begitu cepet dan nggak diprediksi.
"Abis ini lo harus tidur!" ucapnya singkat.
Raksa udah emak yang lagi mergokin anaknya main comberan, terus nyuruh mandi dan ganti baju Dia bawa Kalin langsung ke tempat tidur. Kalin yang baru aja nyebur ya kedinginan. Tapi Raksa nggak sejahat itu. Dia yang pada dasarnya udah dibuat khawatir Kalin, sekarang menaruh Kalin di atas tempat tidur dan nyelimutin badan istrinya itu pakai selimut hotel yang tebel.
Raksa bisa denger suara gemertak dari gigi geligi Kalin. Dia ke kamar mandi lagi dan ambil satu anduk lagi, dia gunain buat ngalasin kepala Kalin. Raksa dengan telatennya ngusek-ngusek rambut itu supaya cepat kering. Semua itu dilakukan Raksa tanpa sepatah kata pun.
__ADS_1
Dia kecewa sama dirinya sendiri yang hampir aja kecolongan ngejagain Kalin. Mau dimarahin juga percuma. Klain belum sadar, belum ngeh apa yang dia lakukan.
"Maaf, ya Sayang? gue harus ngelakuin ini, supaya lo bisa sadar!" gumamnya lirih.
Dia mendekap badan Kalin. Raksa memeluk dan mengoosok tangannya pada tangan Kalin sampai akhirnya mereka tertidur dengan sendirinya.
Pagi harinya, Kalin mengerjapkan matanya. Dia bangun dengan sakit kepala yang luar biasa hebatnya. Namun ada yang aneh, dia ngerasa kalau ada orang yang memeluknya di luar selimut yang membelit badannya. Dia ngeliat wajah Raksa.
"Mamang? suami gue? ssshh," gumam Kalin ditengah desisannya menahan sakit.
Lalu perlahan matanya melihat sekitar, "Dimana gue?"
"Bukannya gue lagi camping?" lanjutnya lagi dia mencoba bangun, dia melepaskan tangan Raksa. Tapi alangkah kagetnya saat dia melihat badannya hanya terbungkus dua handuk di balik sebuah selimut tebal yang juga melindungi dirinya dari hawa dingin. Di kepala dan setengah badannya, persis kayak orang abis mandi terus ketiduran.
"Arrrkkkkkhhhh!!!" Kalin sontak menjerit. Dia ketakutan.
Raksa yang denger suara jeritan istrinya pun akhirnya bangun.
"A-apa y-yang k-kita lakuin disini?" tanya Kalin gugup.
Bersama Raksa emang udah biasa, tapi masalahnya dia bangun saat dunianya belum terkonek dengan sempurna.
"Mabbok lo?" gumam Raksa dengan suara seksoynya.
"Gue bakal tinggalin lo diisini, biar lo bisa inget apa yang udah lo lakuin kemaren!" ucap raksa datar, nggak ada ekspresi marah atau p[un kesal. Dia lebih mirip orang yang nggak peduli.
Raksa ke kamar mandi dan mencuci mukanya, lalu dia pergi gitu aja.
Sedangkan kalin mulai mencerna sebenernya apa yang terjadi semalam.
"Astaga, gue sama dia kan udah nikah. Kalau dia mau ngapa-ngapain gue nggak perlu juga dia bawa gue kesini. Kan kita udah satu rumah, shhhh..." Kalin yang duduk sambil bengong, dia pijitin keningnya sendiri.
"Astagaa!!!" Kalin memekik saat ingatannya mulai kembali.
Dia yang awalnya kaget, marah dan bingung. Akhirnya sekarang cemas dan takut.
"Apa dia bakal ninmggalin gue?" Kalin udah mikir kemungkinan terburuk.
Di tempat tidurnya Kalin baru bisa mencerna apa yang sudah terjadi, sekarang dia nangis karena tadi dia ngbiarin suaminya pergi dengan muka yang babak belur. Dia inget kalau Raksa dateng dan menghajar Arvin habis-habisan. Semua hal yang Kalin lakukan, dia inget termasuk tindakan anehnya saat di mobil bareng Raksa. Sampai dia inget juga mau nyium Arvin yang disiitu dia lihat segaia suaminya.
Kalin nangis. Dia memeluk dirinya sendiri.
Ternyata kekhawatiran Raksa akhirnya terbukti. Ketika Kalin diberi kebebasan sedikit saja, ada hal buruk yang terjadi.
__ADS_1
"Hiks, dia pasti kecewa banget sama gue?" ucap Kalin yang sesenggukan.
"Apa dia bakal bilang sama ayah dan bunda? apa dia bakal bikin kita berdua pisah? terus disini gue sama siapa?" Kalin terus aja ngomong.
Namun tiba-tiba....
Ada suara pintu dibuka.
Ceklek!
Kalin yang tadinya takut, gemeteraan, karena takut barangkali itu petugas hotel atau siapa yang masuk pun akhirnya merasa lega saat melihat sosok suaminya yang ternyata kini masuk dan menutup pintu.
Kalin sontak membuka selimutnya, dia lari memeluk suaminya.
"Gue kira lo nggak bakalan balik kesini lagi, huhuhuhuuh!" Kalin nangis.
Pria itu mengelus kepala belakang Kalin, dia membalas pelukan istrinya itu.
"Gimana? udah inget semua sekarang?" tanya Raksa.
Kalin ngangguk.
"Maafin gue, gue udah bandel dan nggak nurut!" Kalin nangis.
"Bukan salah lo! salah gue yang udah kecolongan! harusnya gue ngikutin lo terus seperti biasanya," ucap Kalin yang kaget.
"Ngikutin?"
Raksa menjarak badannya dia mendudukkan Kalin di pinggir ranjang. Lantas dia berjongkok dengan papper bag yang di taruh di lantai beralaskan karpet itu.
"Jadi selama ini gue selalu ngikutin lo ke kampus, gue mastiin lo baik-baik aja. Meskipun istri gue ngambek, nggak mau dianter, tapi gue tetep nganterin dan nungguin dia kelar kuliah. Gue udah mirip penguntit," ucap Raks ayang membuat Kalin terbelalak.
"Ternyata...." ucap kalin terjeda.
"Sekarang mending lo mandi pakai air anget dan pakai pakaian ini!" gue tunggu disini!" ucap Raksa yang menyerahkan stu papper bag untuk Kalin.
"Tapi muka lo?" Kalin mencoba meraih pipi Raksa.
"Awkkh, jangan dipencet!" protes Raksa. saat tangan Kalin menyentuh wajahnya.
"Ups, sorry!"
"Udah nggak apa-apa, lo mandi aja! kita pulang sekarang!" suruh Raksa yang kali ini nggak dibantah Kalin.
__ADS_1